fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mano
"Maafkan saya telah menggaggu waktumu Ser. aku Mano." kata pemuda itu sambil mendekati Owen .
"Apa yang bisa aku bantu anak muda."
"Tidak ada Ser, aku yang ingin membantu tuan saat ini, jika berkenan." jawab Mano lagi.
"Oh, maaf aku baik-baik saja saat ini. tak ada yang menghawatirkanku... " jawab Owen acuh tak acuh. Ia merasa pemuda ini, adalah pemuda pada umumnya disekitar village-nya yang butuh pekerjaan padanya. Tatapannya dialihkannya ditempat lain, dihamparan perkebunannya yang luas.
"Aku ada kabar untukmu Ser.." Mano memancing lagi pembicaraan.
Owen memalingkan wajahnya lagi. Menatap lurus pada Mano. memastikan lagi, bahwa pemuda ini bukanlah ancaman untuknya.Mano kemudian menceritakan kejadian seminggu yang lalu di tempatnya bekerja. dimana ia mendegarkan pembicaraan beberapa prajurit yang seperti biasa datang memperbaiki senjata mereka. dalam pembicaraan itu secara tak sengaja ia mendengar ada informasi yang menyatakan bahwa Lord Owen , seorang mantan perwira ketentaraan kekaisaran berniat kembali ke The Horn Land untuk memimpin pemberontakan disana. menurut cerita, pihak kekaisaran saat ini sedang mengatur usaha untuk menghentikan niat itu, bahkan mereka akan menangkap Owen dan memenjarakannya lagi jika itu terjadi. untuk sementara ini, pihak kekaisaran menyebar mata-mata disekitaran rumah Owen untuk memantau situasinya. meskipun yang mereka temui adalah kesendirian sang perwira.
"Bagaimana cerita semacam itu beredar. saat aku bahkan tak lagi punya keinginan untuk melangkahkan kaki, bahkan untuk keluar perkebunanku" Owen termenung mendengarkan cerita Mano, mencoba menerka siapa yang bisa menyebarkan informasi yang sebenarnya rahasia itu. apakah orang-orang The Horn Land itu? tapi apa tujuannya jika mereka yang menyebarkan informasi. Karena yang tahu rencana itu hanya dia, istrinya dan dua utusan The Horn Land. Owen tak punya jawaban…tidak mungkin pula istrinya menceritakan itu pada orang lain.
"Kamu sendiri siapa anak muda?" tanya Owen lagi pada Mano.
Mano kemudian bercerita, ia adalah pemuda sebatang kara yang kini tinggal pada seorang pengusaha pandai besi di pusat kota. ia bersuku Sangi. satu suku pesisir di Lemuria dan tak berperan apapun dalam pemerintahan. mereka adalah komunitas pekerja dan nelayan. yang tak dianggap oleh pemerintah. juga jarang mereka masuk dalam ketentaraan kekaisaran. ia lahir dari keluarga miskin yang kemudian terpisah saat ia baru menginjak usia 10 tahun. kemudian ditampung oleh seorang pengrajin pandai besi sampai pada saat ini. pengalamannya sejauh ini adalah menemani tuannya menjelajahi negara-negara bagian kekaisaran termasuk The Horn Land.
"Itu adalah pulau besar yang indah, aku dan majikanku mengelilingi pulau itu selama hampir 3 tahun lamanya. mengunjungi tempat-tempat yang eksotis untuk mengumpulkan biji besi disana. The Horn adalah tempatnya biji besi berkualitas dan beraneka ragam. aku sendiri menyimpan 4 jenis biji besi yang diambil dari 4 lokasi berbeda disana, baik di pulau utara maupun pulau selatan. dari pesisir timur dan barat. aku menyimpannya dan berniat membuatkan pedang terbaik dengan biji besi itu.. aku terpesona dengan alamnya, dan penduduk lokalnya yang ramah. namun ketimpangan terjadi disana. aku melihat sendiri bagaimana kekaisaran memperlakukan mereka. dalam keadaan miskin, tak ada kesempatan dan akses pada pekerjaan yang layak dan hukum yang timpang. Bahkan setahuku, warga lokal sering dijadikan buruh dalam perang-perang yang terjadi di wilayah lain. Hanya untuk kepentingan kekaisaran. Dan setiap usaha dari warga lokal untuk mempertanyakan keadilan dan usaha perlawanan selalu di lawan dengan pembunuhan oleh pemerintah. Disatu kota, aku melihat langsung eksekusi pada seorang pemimpin keluarga dan dua orang anaknya, yang dianggap membangkang." kata Mano.
Owen dengan seksama mendengarkan ceritanya, dan membayangkan semua cerita Jhuma dan Regen juga sepertinya sama dengan anak muda ini.
"Kami pulang setahun lalu, namun The Horn Land masih terus terbayang padaku. suatu saat nanti jika sudah tak bekerja lagi aku punya impian untuk mengunjunginya lagi. sepertinya aku akan tinggal disana, ada yang aneh pada perasaanku di sepanjang perjalanan kami... sampai munculnya para prajurit itu, menyatakan bahwa ada keturunan asli kepala suku Adara yang tinggal di Lemuria. dan berniat pulang untuk merebut kekuasan disana . dan para prajurit itu ditugaskan menggagalkan rencana itu." kata Mano lagi.
Owen menatapnya dengan tajam. Dan menemukan kebenaran dalam setiap kata yang disampaikan Mano, juga perlahan timbul rasa simpatinya pada setiap ceritanya. Rasa yang pernah ia dapatkan. Tentang kecintaan pada The Horn Land dan keinginannya untuk pulang.
"Aku tak yakin bisa kesana saat ini, aku sudah tua. istriku juga sudah tiada. sepertinya aku kelak akan meninggal di Lemuria. dan tak akan pernah menjejakan kaki di tanah nenek moyangku, The Horn Land. Aku juga tak pernah bermimpi untuk menjadi pemimpin apapun.." kata Owen .
“Maaf Ser, aku melihat anda bukan dilahirkan untuk menerima warisan, tapi untuk memberi warisan. ” Kata Mano.
Owen sekali lagi tertegun dengan kata-kata pemuda ini, namun ia mengabaikan perasaannya.
"Aku tertarik dengan ceritamu dengan pedang hasil karyamu itu, aku ingin melihatnya.." Kata Owen .
"Oh maaf Ser, pedang itu sedang aku kerjakan masih jauh dari sempurna., butuh waktu 10 hari lagi untuk bisa selesai. aku berjanji jika sudah selesai aku akan memperlihatkannya padamu ser.. aku juga berpesan untuk berhati-hati mulai saat ini. ada banyak mata-mata di sekitar rumahmu" kata Mano, ia kemudian pergi.
***