NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 28

Kepulangan dari St. Mary’s Hospital tidak disambut dengan tawa. Apartemen mereka di Greenwich yang hangat mendadak terasa dingin. Sasya yang sudah mulai pulih secara fisik, kini justru mengalami luka batin yang dalam. Di dalam kamarnya, ia menggendong Aidan dengan tatapan kosong, sementara Alkan berdiri di ambang pintu, tampak seperti terdakwa yang menunggu vonis.

"Mas, jawab jujur. Apa aku cuma 'subjek' pengganti untuk riset Mas yang gagal itu?" suara Sasya bergetar, menahan tangis.

Alkan berjalan mendekat, berlutut di depan Sasya. Ia mengeluarkan sebuah harddisk tua dari brankas kecilnya. "Sya, demi Allah, kamu bukanlah pengganti bahan riset. Elena—kakak dari wanita yang menemuimu, Clara—meninggal karena kecelakaan sistem yang saya coba cegah. Saya menikahimu karena kamu adalah Sasya, mahasiswi saya yang ceroboh tapi punya hati paling tulus yang pernah saya temui."

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi kasar. Clara, adik dari almarhumah Elena, berdiri di sana dengan wajah penuh kebencian. Alkan keluar menemuinya, diikuti Sasya yang menggendong Aidan di belakang.

"Kau membunuhnya, Alkan! Kau hidup bahagia dengan anak dan istri ini, sementara Elena membusuk di tanah karena ambisimu!" teriak Clara sambil menodongkan dokumen Proyek Icarus.

Alkan menatap Clara dengan tenang namun tegas. "Clara, Elena meninggal karena ia memaksakan override sistem saat saya sudah melarangnya. Ini data log aslinya. Saya menyimpannya bukan untuk mencuri hasil risetnya, tapi untuk membersihkan namanya jika suatu saat militer menyalahkannya."

Alkan menyerahkan tablet berisi rekaman suara terakhir Elena yang mengakui kesalahannya sendiri. Clara membaca data itu, tangannya gemetar, hingga akhirnya ia jatuh terduduk sambil menangis histeris. Seluruh tuntutannya luruh saat menyadari bahwa Alkan justru adalah pelindung reputasi kakaknya selama sepuluh tahun ini.

"Pergilah, Clara. Selesaikan masa lalumu. Saya sudah memaafkan Elena sejak lama," ujar Alkan lembut.

Setelah Clara pergi dan kesalahpahaman itu terkubur bersama masa lalu, suasana rumah mendadak hening. Sasya menatap Alkan dengan rasa bersalah yang besar. "Mas... maafkan aku karena meragukanmu."

Alkan mendekat, mengusap air mata Sasya. "Wajar, Sya. sesuatu yang mengganggu memang akan kacau. Tapi sekarang, semuanya sudah bersih."

Malam itu, Aidan tertidur sangat lelap di boks bayinya setelah menyusu kenyang. Ini adalah malam ke-41. Masa nifas telah usai, dan luka fisik Sasya telah dinyatakan sembuh total oleh dokter.

Alkan membimbing Sasya ke tempat tidur besar mereka. Di bawah cahaya lampu tidur yang keemasan, Alkan menatap istrinya dengan lapar yang sudah tertahan selama berbulan-bulan.

"Boleh saya menyentuhmu kembali, Sasya?" bisik Alkan dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Sasya meremang.

Sasya hanya menjawab dengan melingkarkan tangannya di leher Alkan.

Keintiman malam itu pecah dengan intensitas yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Alkan tidak lagi ragu. Ia mencumbu Sasya dengan panas, menjelajahi setiap inci tubuh Sasya yang kini lebih berisi pasca-melahirkan.

Ronde pertama adalah ledakan kerinduan yang mendalam. Alkan bergerak dengan tempo yang stabil namun kuat, membuat Sasya tak henti melenguh panjang. Suara Sasya yang biasanya lembut, kini terdengar serak dan menggoda, memenuhi kamar yang kedap suara itu.

"M-Mas... ah, pelan..." rintih Sasya, namun tangannya justru menarik Alkan lebih dekat.

Tidak ada jeda yang lama. Ronde kedua hingga keempat menjadi ajang pembuktian cinta Alkan. Penyatuan mereka terasa begitu sinkron. Alkan seolah ingin menghapus semua trauma Sasya melalui sentuhan-sentuhan kulitnya yang membara. Sasya sangat menikmatinya, suaranya naik turun mengikuti ritme gerakan Alkan yang tak kenal lelah.

"Mas... lebih lagi... kumohon," Sasya memohon di tengah napasnya yang memburu.

Ronde kelima dan keenam berlangsung saat fajar mulai mengintip. Tubuh mereka sudah berkeringat, namun Alkan seolah memiliki cadangan energi tak terbatas. Ia memastikan Sasya mencapai puncak berkali-kali. Suara lenguhan kepuasan Sasya menjadi musik paling indah bagi telinga Alkan.

Luar biasanya, seolah mengerti orang tuanya sedang melakukan sesuatu yang penting, Aidan tidak terbangun sedikit pun. Ia tetap tertidur lelap dengan napas yang stabil di boksnya.

Pagi itu, saat matahari London mulai menyinari kamar, Alkan dan Sasya tertidur dalam posisi saling mendekap erat. Sistem mereka kini benar-benar stabil, terenkripsi oleh cinta yang sudah melewati uji coba paling berat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!