NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama / Playboy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - My Dangerous Kenzo

...****************...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...****************...

Di kelas, Naya duduk sebangku dengan Citra. Begitu suasana agak tenang sebelum guru masuk, Citra langsung mencondongkan badan, suaranya dibuat setengah berbisik.

“Gila yaa,” kata Citra. “Kemarin dia jalan sama Intan kelas sebelah, sekarang udah sama Gisel aja.”

Naya mendengus kecil. “Emang kebiasaan cowok playboy.”

Citra menaikkan alisnya. “Kakak lo nggak gitu kan, Nay?”

Naya langsung menoleh, wajahnya refleks ketus.

“Ehh, sorry ya. Kakak gue mah bukan playboy kayak dia. Najis banget liat mukanya.”

Citra nyengir. “Awas lo ngomong gitu. Lama-lama malah demen.”

“Gak,” jawab Naya cepat, hampir refleks.

“Jangan jilat ludah sendiri, Nay,” goda Citra santai.

Naya memutar bola mata. “Tapi serius deh, Kenzo tuh udah kayak karakter film romance yang sering lo tonton. Tinggi, ganteng, kaya, bad boy dikit.” Citra menyenggol lengan Naya. “Aah, lama-lama suka dah lo.”

“Nggak ihh, amit-amit,” Naya bergidik kecil.

Belum sempat Citra membalas, seseorang berdiri di samping meja mereka.

“Nay.”

Naya mendongak. “Iya, Ga?”

“Pulang bareng mau nggak?” tanya Angga, suaranya dibuat santai tapi kelihatan jelas groginya.

Citra langsung memutar bola mata, lalu menoleh ke arah lain.

'Jijik', pikirnya.

'Soknya doang jadi cowok', lanjutnya dalam hati.

Naya nutup bukunya pelan.

“Enggak, Ga. Gue ada urusan.”

Naya tersenyum tipis, berusaha sopan.

Angga masih berdiri di situ, senyumnya maksa, kayak nunggu Naya berubah pikiran.

“Urusan apa?” tanya Angga refleks.

Citra langsung nyelutuk duluan, suaranya manis tapi menusuk.

“Urusan hidup, Ga. Penting.”

Angga melirik Citra sebentar, jelas nggak suka.

“Oh… yaudah.”

Nada suaranya turun, kecewa tapi sok santai. “Kalo berubah pikiran kabarin.”

Naya cuma mengangguk tanpa senyum.

Begitu Angga pergi, Citra langsung nyenggol lengan Naya.

Begitu Angga menjauh, Citra langsung mendengus.

“Liat gak sih cara dia berdiri? Sok banget.”

“Udah ah, jangan diributin,” Naya menutup bukunya. “Capek dengerin cowok sok pahlawan.”

Citra nyengir miring.

“Syukurlah. Selera lo masih normal.”

Bel pelajaran berbunyi. Guru masuk, suasana kelas kembali tenang. Tapi fokus Naya buyar. Pikirannya malah melayang ke pagi tadi—tatapan Kenzo di meja makan, kedipan mata menyebalkan itu.

Naya menggeleng cepat, seolah mau ngusir pikirannya sendiri.

Najis. Gue nggak mungkin suka cowok kayak gitu.

“Najis, Nay. Vibe-nya tuh sok jago.”

“Udah ah, jangan dibahas,” Naya menghela napas. “Bikin capek.”

Bel tanda istirahat berbunyi. Kelas mulai ribut, kursi diseret, suara tawa pecah di mana-mana. Citra berdiri sambil nyangkutin tas ke pundak.

“Ke kantin?” tanya Citra.

“Iya,” jawab Naya cepat. “Laper.”

Mereka baru keluar kelas saat dari arah seberang lorong, Kenzo kelihatan lagi berdiri santai sambil ngobrol sama Reno. Entah kebetulan atau enggak, Kenzo langsung nengok pas Naya lewat.

Tatapan mereka ketemu sedetik.

Cuma sedetik.

Tapi cukup bikin Naya reflek nengok ke depan lagi.

“Eh,” Citra nyengir miring. “Tuh kan.”

“Apa sih,” Naya berdecak.

“Tatapan lo barusan tuh nggak bohong.”

“Nggak ada apa-apa,” Naya mempercepat langkah.

Citra melirik ke arah Kenzo, lalu ke Naya.

“Nay.”

“Apa?”

“Itu lo deg-degan atau gue yang halu?”

Naya mendengus, pura-pura tidak peduli.

“Lo kebanyakan nonton drama.”

Citra cuma senyum penuh arti.

Di belakang, Kenzo sedikit mencondongkan badan ke Reno.

“Itu temen sebangkunya Naya?” bisiknya santai.

Reno melirik sekilas.

“Iya. Citra.”

Kenzo mengangguk pelan, matanya balik ke arah Naya yang makin menjauh.

“Adek lo rame juga.”

“Berisik,” jawab Reno datar. “Tapi kalo ada apa-apa, mulutnya paling depan.”

Kenzo tersenyum tipis.

Sementara itu di depan, Citra nyenggol bahu Naya lagi.

“Gue taruhan ya, Nay.”

“Apaan lagi?”

“Lo bilang sekarang ‘amit-amit’, nanti yang nyebut nama Kenzo paling sering juga lo.”

Naya berhenti jalan, menatap Citra tajam.

“Gue nggak segila itu.”

Citra ketawa.

“Kita lihat aja.”

Bell berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran terakhir telah usai. Suasana kelas langsung riuh. Naya membereskan bukunya dengan gerakan cepat, berharap bisa langsung pulang tanpa drama tambahan.

“Nay, pulang sama Kenzo ya,” kata Reno sambil menyampirkan tas ke bahu. “Gue ke kantor Pappi dulu.”

“Hah? Kok gitu?” Naya langsung menoleh.

“Nggak ah, gue sama Citra aja.”

Kenzo yang berdiri tak jauh dari mereka menyahut santai, “Citra udah pulang duluan, Nay.”

Naya menegang. “Serius?”

Kenzo hanya mengangkat bahu, lalu berjalan ke mobilnya dan membuka pintu depan.

“Ayo masuk.”

“Nggak—” Naya belum selesai bicara ketika Reno sudah menuntunnya pelan ke arah mobil.

“Nggak apa-apa. Ayo,” kata Reno meyakinkan sambil mendorong ringan bahu Naya.

Pintu mobil ditutup dari luar. Naya terdiam di kursinya, jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

Reno mencondongkan badan ke jendela yang masih terbuka. “Jangan diapa-apain adik gue.”

Kenzo menyeringai tipis. “Takut banget sama gue.”

“Bukan takut. Ngingetin,” balas Reno datar.

“Hati-hati nyetir.”

“Oke,” jawab Kenzo singkat.

Kenzo masuk ke balik kemudi, menyalakan mesin, lalu mobil mulai melaju pelan meninggalkan area sekolah. Dari kaca spion, Reno terlihat berjalan menjauh, memesan Grab menuju kantor Pappi.

Di dalam mobil, suasana mendadak canggung. Hanya suara AC dan mesin mobil yang terdengar.

Naya menatap lurus ke depan, tangannya saling menggenggam di atas paha.

Kenapa rasanya kayak dijebak gini sih… batinnya kesal.

Kenzo melirik sekilas ke arah Naya. “Santai aja. Gue nggak gigit.”

Naya mendengus pelan. “Siapa juga yang takut.”

Kenzo tersenyum kecil, senyum yang bikin Naya makin nggak nyaman entah kenapa. Mobil terus melaju, membawa mereka berdua dalam keheningan yang terasa jauh lebih ribut dari suara mana pun.

“Ke rumah gue dulu bentar,” kata Kenzo sambil tetap fokus ke jalan.

“Hah? Ngapain?” Naya refleks menoleh.

Kenzo melirik sekilas, senyum jail muncul di sudut bibirnya.

“Nggak rela gue pulang?”

“Apaan sih!!” Naya langsung nyamber, kesal.

Kenzo tertawa pelan. “Tenang aja. Gue nginep lagi kok.”

“Hah??” mata Naya langsung melotot. “Nginep lagi?!”

Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan elite. Gerbang rumah besar berwarna hitam perlahan terbuka. Seorang satpam membungkuk sopan saat mobil Kenzo lewat. Begitu masuk halaman, Naya melihat garasi luas dengan deretan mobil mewah yang terparkir rapi.

Jujur aja, pemandangan kayak gini bukan hal asing buat Naya. Rumahnya juga besar, hidupnya juga berkecukupan. Tapi entah kenapa, rumah Kenzo terasa… dingin. Terlalu sepi. Terlalu luas.

Mobil berhenti.

“Ayo turun dulu,” kata Kenzo sambil melepas seatbelt.

Naya langsung menggeleng. “Gue di sini aja.”

Kenzo menoleh, menatap Naya agak lama.

“Serius? Sepi gini lo nggak takut emang?”

Naya refleks menoleh ke sekeliling. Halaman luas. Rumah besar. Sunyi.

Iya juga ya… sepi banget.

Bayangan aneh langsung muncul di kepalanya.

‘Kalau ada setan…? Ih anjir…’ batin Naya merinding sendiri.

Ia menelan ludah, lalu buru-buru membuka pintu mobil.

“Yaudah deh, gue turun. Tapi bentar doang.”

Kenzo tersenyum menang. “Nah gitu dong.”

Begitu kaki Naya menginjak lantai garasi, hawa dingin langsung menyelimuti. Rumah itu megah, tapi terasa kosong. Tidak ada suara televisi, tidak ada orang lalu-lalang, hanya langkah kaki mereka berdua.

“Orang rumah lo ke mana?” tanya Naya pelan.

Kenzo mengangkat bahu. “Biasa. Kerja. Meeting. Luar kota.”

Naya mengangguk, tiba-tiba merasa… aneh.

Rumah sebesar ini, tapi kosong.

Kenzo berjalan duluan, sementara Naya mengikuti dari belakang, menjaga jarak aman.

Dan untuk pertama kalinya, Naya berpikir:

cowok se-ribut, se-hyper, dan se-playboy Kenzo…

ternyata hidup di rumah yang sunyinya kebangetan.

Kenzo dan Naya masuk ke dalam rumah.

Belum sempat Naya komentar, Kenzo sudah meraih pergelangan tangannya—nggak kasar, tapi cukup bikin Naya refleks menegang. Kenzo menuntunnya naik tangga menuju lantai atas.

“K–Ken, pelan dikit,” protes Naya.

“Takut?” Kenzo menoleh sambil nyengir.

“Takut sama rumah lo yang gede dan sepi, bukan sama lo,” Naya mendengus.

Mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu besar berwarna abu gelap. Kamar Kenzo.

Naya otomatis berhenti melangkah.

Kenzo menoleh. “Ayo masuk. Ngapain diem?”

“Gue nunggu di bawah aja deh,” jawab Naya cepat.

Kenzo menyilangkan tangan. “Di bawah nggak ada yang nemenin.”

“Ya emang gue nggak minta ditemenin,” Naya manyun.

Kenzo mendekat setengah langkah, nada suaranya dibuat main-main.

“Ayo masuk. Gue nggak macem-macem… paling satu macem doang.”

“Sinting!” Naya spontan nyolot.

Kenzo ketawa kecil. “Tenang aja.”

Lalu, tanpa sadar—atau justru sengaja—

“Ayo, Naya sayang, masuk.”

Jantung Naya langsung loncat.

Sayang?

Anjir.

‘Emang cowok playboy paling bisa bikin sakit jantung,’ batinnya sambil mengumpat pelan.

Ia mendengus, berusaha menutupi gugup. “Jangan manggil gue gitu.”

Kenzo mengangkat alis. “Kenapa? Lo keliatan kaget.”

“Biasa aja!” Naya memalingkan wajah.

Akhirnya, dengan langkah ragu tapi gengsi yang lebih besar, Naya melangkah masuk ke kamar Kenzo.

Kamar itu luas, rapi, dominan warna gelap. Jendela besar dengan tirai abu-abu, rak buku, meja kerja, dan ranjang besar yang tampak terlalu… nyaman.

Naya berdiri canggung di dekat pintu.

Kenzo menutup pintu di belakang mereka.

Klik.

Suara itu terdengar terlalu jelas di telinga Naya.

Dan entah kenapa, detik itu juga, ia sadar—

masuk ke kamar Kenzo mungkin keputusan paling ceroboh hari ini.

“Lo boleh duduk di sofa, boleh tiduran, atau tidur beneran di kasur gue,” kata Kenzo santai.

“Gila lo,” Naya nyolot.

Kenzo cuma nyengir. “Gue mandi dulu bentar.”

Pintu kamar mandi tertutup.

Naya menghembuskan napas pelan, lalu mulai melihat-lihat kamar Kenzo. Semuanya rapi—terlalu rapi untuk ukuran cowok. Di salah satu rak ada foto Kenzo kecil bersama mama papanya. Senyumnya lebar, beda jauh dari Kenzo yang sekarang. Di sudut lain, bola basket tersusun rapi. Buku-buku berjajar, sebagian tebal dan berbahasa Inggris.

Walk-in closet terbuka sedikit. Di dalamnya, baju sekolah, baju kantor, jam tangan mahal, sepatu berderet rapi.

Hidupnya kayak lengkap banget… tapi rumahnya sepi, pikir Naya.

Ia duduk di pinggir kasur, awalnya cuma niat nunggu. Tapi kasur itu empuk. Terlalu empuk.

Tanpa sadar, Naya merebahkan tubuhnya… dan tertidur.

Beberapa menit kemudian, Kenzo keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, kaus hitam tipis menempel di tubuhnya.

Langkahnya terhenti saat melihat Naya tertidur di ranjangnya.

Kenzo mendekat pelan, berdiri di sisi kasur. Ia menatap wajah Naya dari dekat. Nafasnya tertahan sesaat.

“Cantik…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Tetesan air dari rambut Kenzo jatuh ke pipi Naya.

Naya mengerjap, lalu membuka mata—dan refleks langsung menegang.

Naya terduduk kaget. “Ngapain?”

Kenzo refleks mundur setengah langkah. “Lo bangun.”

“Ya iyalah, muka lo sedeket itu siapa juga yang nggak bangun!” Naya reflek menutup jarak dengan bantal.

Kenzo terkekeh kecil. “Santai. Gue cuma ngecek doang.”

“Ngecek apaan?” Naya melotot.

“Lo beneran tidur apa pura-pura,” jawab Kenzo ringan.

“Dasar cowok aneh,” Naya mendengus, jantungnya masih balapan.

“Next time, jangan berdiri di atas orang tidur. Jantungan tau.”

Kenzo menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya, lalu memalingkan wajah.

“Oke. Salah gue.”

Naya terdiam.

Sunyi.

Dan entah kenapa… sunyi itu terasa jauh lebih berisik daripada keributan tadi.

...****************...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

...****************...

1
tamara this there!
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara this there!
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!