Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Lydia menggigit bibir bawahnya, lalu tiba-tiba tertawa dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Ia tidak percaya Calvin setuju memecatnya hanya karena Arion menginginkan hal itu.
Ia tidak ingin menangis, namun air matanya tidak bisa ditahan. Rasanya usahanya untuk tetap tegar menghadapi ujian hidup percuma. Ia menjadi orang yang rapuh dan menyedihkan sekarang.
"Ma, Pa, kenapa kalian meninggalkanku secepat ini? Hidupku tidak pernah baik-baik saja setelah kalian pergi," lirihnya.
Tangannya yang memegang kotak berisi barang-barang pribadinya mendadak lemas. Ingatannya melayang pada kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya saat ia masih kecil. Tanpa sadar, ia menjatuhkan kotak itu, membuat isinya berserakan di parkiran.
Lydia hanya bisa menatap nanar barang-barang itu. Ia yakin siapapun yang melihatnya akan menganggapnya menyedihkan. Beruntung sekarang ia berada di parkiran, dan jauh dari tatapan kasihan orang lain.
Namun, sepertinya Lydia salah. Ternyata ada orang yang melihatnya. Ketika ia hendak memunguti barang-barangnya, tiba-tiba ada sepasang kaki menghampirinya dan membuatnya spontan mendongak.
"Pak Jevan?" gumamnya, melihat siapa yang ada di depannya.
Entah mendapat kekuatan dari mana, tubuh yang sempat lemas itu langsung bergerak cepat membereskan barang-barangnya dan memasukkannya kembali ke dalam kotak. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya dalam keadaan rapuh seperti sekarang, termasuk sahabat bosnya.
"Lydia, ada apa? Kenapa kamu menangis di sini?" tanya Jevan bingung dengan tangannya yang membantu Lydia memungut barang.
Lydia buru-buru menghapus air matanya. Ia tidak ingin Jevan mengasihaninya, meski sadar keadaannya saat ini layak untuk dikasihani.
"Maaf, saya duluan," ucap Lydia sambil mengambil barangnya dari tangan Jevan, lalu memasukannya ke dalam kotak sebelum melangkah pergi.
"Eh?" Jevan terkejut melihat Lydia meninggalkannya.
Lydia yang ia kenal tidak seperti itu. Meskipun bukan tipe orang yang banyak bicara, perempuan itu tidak pernah pergi begitu saja saat ada yang mengajaknya bicara.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa Lydia menangis dan membawa banyak barang?" gumam Jevan tidak mengerti.
Tidak ingin hanyut dalam rasa penasaran, ia memilih segera menemui Calvin sesuai tujuan awalnya datang ke sana. Mungkin sahabatnya itu memiliki jawaban yang dibutuhkannya sekarang.
Sementara itu, mobil milik Lydia yang belum satu jam berada di parkiran Adhivara Grup sudah tidak terlihat di tempatnya. Mobil itu melaju cepat menelusuri jalanan yang mulai lengang karena telah memasuki jam masuk kantor.
"Kenapa harus menangis?" omelnya pada diri sendiri.
Tidak akan ada yang peduli dengan air matanya. Mereka yang bertanya keadaannya sering kali hanya sekadar basa-basi, jarang ada orang yang benar-benar peduli dan tulus.
"Pak Jevan pasti akan memberi tahu Pak Calvin, dan aku akan menjadi bahan tertawaan mereka," katanya, sambil membayangkan dirinya hanya akan menjadi lelucon setelah Jevan melihatnya menangis di parkiran.
Lydia tidak kembali ke apartemennya. Ia berniat menemui Marvin dan melampiaskan amarahnya. Andai Marvin berhenti bermain perempuan, Lydia pasti tidak akan dipecat dengan alasan konyol seperti ini.
***
"Hah? Serius Lydia dipecat? Bukankah selama ini lo selalu muji pekerjaan dia?" tanya Jevan setelah Calvin menceritakan yang terjadi pada Lydia.
Jevan, Calvin dan sahabat mereka yang lain masih sering berbagi cerita meskipun sudah tidak muda lagi, dan salah satu hal yang sering Calvin bicarakan adalah pekerjaan Lydia. Aneh rasanya jika sekarang tiba-tiba saja Lydia dipecat.
"Iya, tapi..." Calvin menggantungkan kalimatnya. Ia ragu menjelaskan alasan dibalik keputusannya.
Lydia tidak melakukan kesalahan apa pun. Alasannya membiarkan perempuan itu dipecat hanya karena ia tidak bisa menolak permintaan keponakan kesayangannya.
Sudah menjadi rahasia umum, Calvin sangat menjaga dan menyayangi Arion sejak keponakannya itu berada dalam kandungan. Bahkan, ia sampai mendapat julukan “ayah kedua” bagi Arion.
Calvin sempat bingung ketika Arion mengatakan ingin memecat Lydia. Namun, ia langsung setuju setelah bertukar tatapan dengan keponakannya itu.
"Aku yang meminta Lydia dipecat," sambar Arion.
Jevan berdehem pelan. Ia tidak menyangka bayi yang dulu sering memakai kostum beruang itu sekarang sudah bisa menggunakan kekuasaannya di perusahaan dan memecat orang lain.
"Kamu serius, Kak?" tanyanya memastikan.
Ia bukan hanya saksi tumbuh kembang Arion, tapi juga membantu merawatnya sejak masa mengidam ibunya. Ia masih sulit percaya Arion bisa memecat seseorang di perusahaan.
"Ya," jawab Arion singkat.
Meski mengetahui jasa sahabat-sahabat ayahnya terhadapnya, Arion cukup sensitif jika bicara dengan mereka, termasuk Jevan.
"Ah, Paman mengerti. Kamu memang berhak untuk memecat orang di Adhivara Grup," ucap Jevan, seakan memaklumi keputusan Arion.
Ia kemudian menoleh ke arah Calvin, tatapannya mengisyaratkan bahwa mereka tidak perlu menanyakan apa pun. Keduanya percaya Arion tidak akan sembarangan memutuskan sesuatu. Pasti ada alasan kuat mengapa anak itu ingin Lydia dipecat.
"Aku hanya ingin memberi orang yang sudah menyakiti adikku pelajaran. Berani sekali dia berebut laki-laki dengan keponakan bosnya," ucap Arion, secara tidak langsung menjelaskan alasannya memecat Lydia.
"Loh? Laki-laki siapa yang kamu maksud? Lydia kan sudah tunangan," kata Jevan menyambar.
Suara decihan terdengar begitu saja dari mulut Arion. Ia tidak percaya orang yang sudah berselingkuh dengan pacar adiknya ternyata sudah bertunangan.
"Kalau begitu dia memang pantas dipecat," sahut Arion menimpali.
"Tunggu dulu," Calvin menyela. Ia masih belum sepenuhnya mencerna perkataan Arion.
"Maksud kamu Airin sudah punya pacar dan sekarang pacarnya selingkuh dengan Lydia, begitu?" tanyanya, memastikan dirinya tidak salah menangkap maksud keponakannya.
Jevan menatap Calvin dan Arion bergantian. Ia juga penasaran apakah benar Airin sudah berhubungan dengan laki-laki.
"Memang Papa mengizinkan adik kamu pacaran?" tanyanya tidak bisa menahan diri.
"Siapa nama pacar Airin? Dari keluarga mana dia?" sambar Calvin, bahkan sebelum Arion sempat menjawab pertanyaannya sebelumnya.
Ia terlalu terkejut mengetahui keponakannya memiliki pacar dan diselingkuhi. Airin sudah berusia 21 tahun, tapi bagi Calvin, keponakannya itu masih anak-anak dan belum pantas pacaran.
"Apa kalian tidak bisa bertanya satu-satu?" cibir Arion, kesal mendapat pertanyaan beruntun.
Lagipula, kenapa harus berlebihan hanya karena tahu Airin pacaran?
"Aku juga tidak mengenal pacar Airin. Aku hanya tahu namanya Marvin," jelasnya.
Nama yang baru saja Arion sebut membuat mata Jevan dan Calvin membelalak. MARVIN ITU NAMA TUNANGAN LYDIA!
***
Lydia menerobos masuk ke dalam ruangan Marvin. Ia tahu tunangannya sedang menerima tamu, tapi tetap memaksa untuk masuk.
"Ada yang perlu kita bicarakan!" ucapnya pada Marvin, tanpa memperdulikan orang lain di ruangan itu, yang tampak bingung dengan kehadirannya.
"Maaf, Pak. Saya sudah memberitahu Ibu Lydia bahwa Anda sedang menerima tamu," ucap sekretaris pribadi Marvin, menyusul Lydia masuk.
Marvin hanya menatap sekilas sekretaris pribadinya itu. Ia sedang mengobrol dengan klien penting, tapi Lydia masih jauh lebih penting. Apalagi Lydia tampak tidak baik-baik saja sekarang.
"Maaf, saya harus bicara dengan tunangan saya sebentar," ucap Marvin meminta izin pada kliennya untuk bicara dengan Lydia.
Setelah mendapat anggukan, ia langsung menghampiri Lydia dan menanyakan apa yang terjadi.
"Kenapa, Sayang? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya setelah berdiri di hadapan Lydia.
Lydia tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah klien Marvin dengan tatapan kosong. Jika ia meledak di sini sekarang, pasti ia akan di cap buruk, tapi ia juga tidak sanggup menahan amarahnya.