NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pecahnya Memori Sang Kunci

Gelap. Dingin. Dan suara bising seperti ribuan lebah yang terjebak di dalam tempurung kepala. Alana merasa tubuhnya melayang di ruang hampa, namun di saat yang sama, ia merasakan beban berton-ton menekan kelopak matanya. Angka-angka koordinat perbankan di Swiss, kode sandi brankas di Cayman Islands, hingga daftar nama pejabat yang tersembunyi di balik nama samaran, berputar-putar layaknya badai di dalam ingatannya.

"Alana! Bangun, Lana!"

Suara Arkan terdengar seperti gema dari kejauhan. Alana berusaha membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah reruntuhan atap rumah lamanya yang hitam terbakar, lalu wajah Arkan yang penuh kecemasan. Arkan mendekapnya erat di tengah kekacauan gang sempit itu.

"Mas... kepalaku... kayak mau meledak," bisik Alana parau.

Di depan mereka, suasana masih sangat mencekam. Malik berdiri mematung, menatap tangannya yang gemetar. Perangkat pemutar frekuensi itu hancur berkeping-keping di atas tanah. Di hadapannya, Ariel berdiri tegak dengan mata yang memancarkan kemarahan sekaligus kesedihan.

"Ayah... lihat apa yang Ayah lakukan!" teriak Ariel. "Ayah hampir membunuh kembaranku demi kebohongan yang ditanamkan Kakek!"

Kakek Waluyo, yang berdiri di bawah kawalan ketat polisi internasional, tertawa kecil. Tawa itu terdengar sangat iblis di tengah keheningan malam Jakarta yang pengap. "Malik, kamu memang bidak yang paling sempurna. Mudah dipicu, mudah dimanipulasi. Kamu pikir kamu adalah sang pemain? Kamu hanyalah senjata yang aku simpan untuk hari pembalasan ini."

Malik menoleh ke arah Kakek. Matanya yang tadinya dingin dan kosong, perlahan mulai menampakkan binar kesadaran—dan rasa sakit yang luar biasa. "Aku... aku menyerang putriku sendiri?"

Larasati merangkak mendekati Malik, memegang kaki suaminya. "Malik, lawan pengaruh itu! Ingat saat kita pertama kali bertemu di panti asuhan tempat Alana dibesarkan. Ingat janji kita untuk keluar dari kegelapan ini!"

Tiba-tiba, Malik berteriak histeris sambil memegangi kepalanya. Ingatan-ingatan yang saling bertabrakan—antara Malik sang intelijen dingin dan Malik sang ayah penyayang—membuat sarafnya seolah terbakar.

"Arkan! Bawa Alana pergi dari sini!" perintah Ariel sambil menyiapkan senjatanya. Pasukan pribadi Malik yang tadi agresif kini tampak bingung karena pemimpin mereka kehilangan kendali.

"Enggak!" Alana tiba-tiba berdiri dengan sisa tenaganya, meskipun ia harus berpegangan pada bahu Arkan agar tidak jatuh. "Aku nggak mau pergi! Ayah harus sadar! Ayah, lihat aku!"

Alana melangkah maju, mendekati ayahnya yang sedang limbung. "Ayah bilang aku ini hard-drive, kan? Oke! Kalau gitu, Ayah harus tahu isi hard-drive ini yang sebenarnya. Isinya bukan cuma kode suap atau koordinat emas! Isinya itu kenangan saat Ayah kasih aku kunci Phoenix ini! Isinya itu janji Ayah buat jagain aku!"

Alana merogoh saku hoodie-nya, ia mengeluarkan kunci kuno itu dan melemparkannya ke arah Malik.

Ting.

Bunyi logam yang beradu dengan semen itu memicu sesuatu di otak Malik. Bunyi yang sama dengan yang ia dengar saat memberikan kunci itu kepada Alana bertahun-tahun lalu dalam sebuah pertemuan rahasia yang singkat.

Malik terdiam. Ia memungut kunci itu. Air mata perlahan jatuh dari matanya yang merah. "Alana... maafkan Ayah..."

Namun, Kakek Waluyo tidak membiarkan momen haru itu berlangsung lama. Ia memberikan isyarat mata kepada salah satu pengawal pribadinya yang ternyata menyamar sebagai polisi internasional.

Dor!

Tembakan dilepaskan ke arah Malik.

"AYAH!" jerit Alana dan Ariel bersamaan.

Malik terjatuh, namun tembakan itu hanya mengenai bahunya. Kekacauan pecah seketika. Polisi internasional yang asli segera menyadari adanya pengkhianat di barisan mereka dan mulai melakukan pembersihan. Arkan segera menarik Alana berlindung di balik tembok beton.

"Ariel! Amankan Kakek!" perintah Arkan.

Ariel melesat layaknya bayangan, ia melumpuhkan pengkhianat itu dengan satu tendangan telak dan menekan Kakek Waluyo ke tanah. "Cukup, Kek! Permainan Kakek benar-benar sudah berakhir!"

Di tengah baku tembak singkat itu, Alana merasa memorinya kembali bergejolak. Namun kali ini berbeda. Angka-angka yang tadi menyakitkan kini mulai tersusun rapi, membentuk sebuah pola.

"Mas Arkan... aku tahu," ucap Alana mendadak tenang.

"Tahu apa, Lana? Kita harus keluar dari sini!"

"Aku tahu di mana data itu sebenarnya bisa diakses tanpa harus menghancurkan otakku. Ayah Malik nggak salah, kode itu ada di kepalaku, tapi itu cuma setengahnya. Setengahnya lagi... ada di dalam struktur bangunan ini!"

Alana menunjuk ke arah sisa-sisa sumur tua di belakang rumah mereka. Sumur yang tidak pernah kering meskipun kemarau panjang.

"Ayah Malik selalu bilang, 'Jangan pernah buang sampah ke sumur, karena itu air kehidupan kita'. Aku pikir itu cuma nasehat kebersihan, ternyata itu instruksi!"

Alana berlari menuju sumur tua itu, mengabaikan seruan panik Arkan. Ia meraba bagian dalam dinding sumur yang berlumut. Di sana, tertanam sebuah lempengan logam kecil yang sangat canggih, tersembunyi di balik batu bata merah yang sudah rapuh.

"Mas Arkan, senter!"

Arkan memberikan senter kecilnya. Alana memasukkan kunci Phoenix ke dalam celah di lempengan logam tersebut.

Klik. Bzzzzt.

Sebuah proyektor hologram mini keluar dari dinding sumur, memancarkan data digital ke udara malam. Bukan data suap, bukan koordinat emas. Melainkan sebuah rekaman video dari Ibu Arkan yang asli.

Dalam video itu, Ibu Arkan tampak cantik dan tenang. "Jika kalian melihat ini, berarti sistem pertahanan 'The Board' sudah runtuh. Data yang kalian cari bukanlah senjata untuk menghancurkan, tapi bukti untuk memulihkan. Seluruh kekayaan Arkananta yang berasal dari jalur ilegal telah dipindahkan ke dana perwalian global untuk pembangunan fasilitas kesehatan dan pendidikan di seluruh dunia. Waluyo tidak bisa menyentuhnya. Julian tidak bisa menyentuhnya. Hanya pewaris yang memiliki kunci Phoenix dan ingatan Larasati yang bisa mengaktifkannya."

Video berakhir dengan sebuah kalimat yang membuat Arkan tertunduk lesu: "Arkan, maafkan Ibu karena harus membebanimu dengan ini. Tapi dunia butuh orang jujur untuk mengelola kegelapan."

Kakek Waluyo yang melihat hologram itu dari kejauhan berteriak histeris. "TIDAK! ITU MILIKKU! SEMUANYA MILIKKU!"

Polisi internasional menyeret Kakek pergi, kali ini ke sel isolasi yang paling dalam di Den Haag. Malik, yang terluka di bahu, didekati oleh Larasati dan Ariel. Tim medis mulai memberikan pertolongan pertama.

Alana terduduk di pinggir sumur tua itu, napasnya terengah-engah. Rasa sakit di kepalanya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa hampa yang aneh.

"Jadi... semuanya sudah beres, Mas?" tanya Alana lirih saat Arkan duduk di sampingnya.

Arkan merangkul Alana, menyandarkan kepala istrinya ke dadanya. "Iya, Lana. Datanya sudah otomatis terkirim ke dana perwalian itu. Kakek tidak punya apa-apa lagi. 'The Board' sudah resmi mati malam ini."

"Terus kita?"

Arkan tersenyum, ia mencium kening Alana yang penuh debu. "Kita punya panti asuhan yang harus diurus. Kita punya ayah yang harus kita sembuhkan. Dan kita punya kembaranmu yang sepertinya bakal jadi saingan bisnis paling berisik sedunia."

Ariel mendekat, ia menggendong Mochi yang entah dari mana muncul lagi dengan santainya. "Saingan bisnis? Aku pikir kita bakal jadi rekan bisnis, Arkan. Aku butuh investor buat proyek energi terbaruku di Bali."

Alana tertawa, tawa "julid"-nya kembali terdengar. "Dih, Mas Ariel! Baru aja selamat dari bom udah bahas investasi! Traktir mie ayam dulu buat orang se-kecamatan, baru kita bahas bisnis!"

Ariel terkekeh, ia menyerahkan Mochi ke pelukan Alana. "Kesepakatan diterima, Kembaran."

Saat mereka semua mulai meninggalkan reruntuhan rumah itu, Malik tiba-tiba memegang tangan Alana. Matanya kini sudah kembali normal, penuh kehangatan namun ada rahasia di dalamnya.

"Alana, ada satu hal yang Ibu Arkan tidak sebutkan di video tadi," bisik Malik pelan agar tidak terdengar oleh Arkan.

"Apa lagi, Yah? Please, jangan ada plot twist lagi!" rintih Alana.

Malik mengeluarkan sebuah koin emas kecil dari sakunya. "Dana perwalian itu bukan cuma buat sosial. Ada satu akun rahasia yang hanya bisa diakses dengan sidik jari suamimu... dan sidik jari anak pertama kalian nanti. Sepertinya, Kakek Waluyo benar soal satu hal: Arkananta tidak akan pernah benar-benar lepas dari takdirnya."

Alana melongo, menatap perutnya sendiri yang masih rata. "AYAH! AKU BELUM MAU HAMIL SEKARANG! AKU MAU LIBURAN DULU!" teriak Alana yang suaranya menggema di seluruh gang.

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!