Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan
Sudah tiga hari Bimo tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Rasa gatal yang menyerang area selangkangannya bukan lagi sekadar gatal biasa; rasanya seolah ada ribuan jarum kecil yang menari-nari di bawah lapisan kulitnya. Ia sudah mendatangi dokter spesialis kulit paling mahal di pusat kota, namun dokter itu hanya menggeleng bingung.
"Secara fisik, kulit Anda bersih, Mas Bimo. Tidak ada iritasi, tidak ada jamur, apalagi penyakit menular seksual. Mungkin ini hanya masalah psikis, stres pekerjaan," begitu kata dokter itu sambil memberikan resep salep penenang.
Bimo mengumpat dalam hati. Psikis kepalamu! batinnya. Ia tahu ada yang tidak beres, tapi ia terlalu sombong untuk mengakui bahwa ini mungkin ada hubungannya dengan klenik. Baginya, rasa sakit dan gatal ini harus dilawan dengan kesenangan. Ia merasa jika ia bisa memuaskan nafsunya malam ini, ketegangan di saraf-sarafnya akan mengendur dan rasa gatal itu akan hilang terbawa keringat nikmat.
Maka, dengan semangat yang meluap sebuah semangat yang dipicu oleh keputusasaan Bimo berdandan necis. Ia mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru gelap, menyemprotkan parfum mahal ke leher dan pergelangan tangannya, lalu memacu motornya menuju Glow Disco. Malam ini, ia sudah memesan seorang "pendatang baru" yang menjadi pembicaraan di kalangan teman-temannya. Namanya Cindy, wanita yang kabarnya memiliki kecantikan luar biasa dan kulit sehalus sutra.
Di belakang motor Bimo, dengan jarak sekitar lima puluh meter, sebuah motor ojek melaju dengan tenang. Penumpangnya adalah seorang wanita dengan jaket hitam besar dan tudung yang menutupi separuh wajahnya. Ratih.
Ia tidak melepaskan pandangannya dari punggung Bimo. Di bawah masker hitamnya, bibir Ratih menyunggingkan senyum tipis yang mengerikan. Ia tahu persis ke mana Bimo pergi. Ia tahu bahwa malam ini adalah malam "panen" bagi ulat-ulat sengkolo yang telah ia tanam.
"Ikuti terus motor itu, Pak. Jangan sampai kehilangan jejak," bisik Ratih pada tukang ojek.
"Siap, Mbak," jawab tukang ojek itu tanpa curiga.
Ratih merasakan debaran jantung yang aneh. Bukan debaran cinta seperti dulu, melainkan debaran seorang pemburu yang melihat mangsanya masuk ke dalam lubang jebakan.
Sesampainya di Glow Disco, Bimo langsung menuju meja bar. Ia memesan dua gelas wiski kuat untuk meredam rasa gatalnya yang mulai berdenyut seiring dengan dentuman musik techno. Tak lama kemudian, seorang wanita dengan gaun mini merah menyala menghampirinya. Cindy.
"Mas Bimo ya? Sudah lama nunggu?" suara Cindy terdengar manja, jemarinya yang lentik dengan kuku merah panjang merayap di pundak Bimo.
Bimo menelan ludah. Hasratnya seketika meledak. Namun, tepat saat gairah itu naik, rasa gatal di bawah sana berubah menjadi rasa panas yang membakar. Bimo meringis sejenak, memegang pinggiran meja.
"Kamu kenapa, Mas? Kok keringatan?" tanya Cindy heran.
"Nggak apa-apa, cuma gerah. Ayo, kita nggak usah lama-lama di sini. Aku sudah pesan kamar di hotel melati depan," ajak Bimo dengan suara serak.
Mereka berjalan keluar dari bar. Ratih, yang berdiri di kegelapan gang seberang jalan, melihat pemandangan itu dengan mata yang berkilat. Ia melihat Bimo merangkul Cindy dengan penuh nafsu. Ratih segera bergerak, mengikuti mereka menuju sebuah hotel kelas melati yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari bar.
Ratih masuk ke dalam lobi. Mengikuti jauh di belakang orang yang sedang di mabuk nafsu. Setelah pasangan dirjana itu masuk,dia berdiri di balik tembok, kamar nomor 204 kamar yang baru saja dimasuki Bimo dan Cindy.
Di dalam kamar 204, bau parfum murahan dan udara pengap AC tua menyambut mereka. Bimo tidak sabar. Ia melempar kunci motornya ke meja dan langsung memeluk Cindy dari belakang.
"Aduh, Mas... sabar dong," Cindy tertawa genit sambil melepaskan kaitan bajunya.
Bimo duduk di pinggir tempat tidur yang spreinya sudah agak kusam. Ia mulai melepaskan celananya. Namun, saat kain celana itu bergesekan dengan kulitnya, rasa panas yang tadi hanya berdenyut kini berubah menjadi sensasi seperti kulitnya sedang disiram air keras.
"Argh!" Bimo mengerang, wajahnya memerah.
"Mas? Kenapa?" Cindy mendekat, tangannya hendak membantu membuka pakaian dalam Bimo.
Hasrat Bimo berada di puncaknya. Dan itulah pemicunya. Sesuai janji Mbah Suro, nafsu adalah makanan bagi Ulat Sengkolo /grayak ini.
Begitu pakaian dalam Bimo terlepas, Cindy yang tadinya tersenyum menggoda tiba-tiba mematung. Matanya melotot lebar, tangannya menunjuk ke arah selangkangan Bimo dengan gemetar hebat.
"Mas... itu... itu apa yang bergerak-gerak di bawah kulitmu?!" jerit Cindy.
Bimo menunduk. Dunianya runtuh seketika. Di bawah cahaya lampu neon kamar yang berkedip, ia melihat pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya. Kulit di area pribadinya tidak lagi rata. Ada ribuan tonjolan kecil yang bergerak-gerak di bawah permukaan dagingnya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang berontak ingin keluar.
"Panas! PANAS SEKALI!" jerit Bimo.
Detik berikutnya, kulit yang tadinya menegang itu mendadak melepuh. Gelembung-gelembung besar berisi cairan hitam bernanah muncul dan pecah secara bersamaan. Bau busuk yang sangat menyengat bau daging busuk yang sudah dikerubungi lalat selama berhari-hari langsung memenuhi ruangan.
Dari balik luka yang terbuka itu, muncul kepala-kepala kecil berwarna abu-abu. Ulat grayak. Satu per satu mereka merangkak keluar dari dalam pori-pori Bimo, menggeliat lincah di atas paha pria itu. Tak hanya ulat, belatung-belatung putih berukuran besar tampak berpesta pora di jaringan daging yang mulai menghitam.
"TOLOOOONG! SAKIIIIIT!" Bimo menjerit histeris. Ia mencoba menarik ulat-ulat itu dengan tangannya, tapi setiap kali ia menarik satu ulat, dagingnya justru ikut terkelupas seperti bubur. Darah hitam kental bercampur nanah mengalir membasahi sprei hotel.
"SETAN! KAMU MANUSIA SETAN!" teriak Cindy histeris. Ia tidak peduli lagi dengan bajunya yang belum terpakai sempurna. Ia menyambar tasnya dan berlari kencang menuju pintu. "TOLOOOONG! ADA MAYAT HIDUP! BAUUUU!"
BRAK!
Pintu terbanting. Cindy lari tunggang langgang di koridor hotel, teriakannya bergema di seluruh bangunan.
Bimo jatuh terjungkal dari tempat tidur ke lantai. Ia merangkak, mencakar-cakar karpet, mencoba menghentikan ulat-ulat yang kini mulai merayap naik ke arah perutnya. Setiap kali ia berteriak karena kesakitan, ulat-ulat itu justru semakin ganas menggigit saraf-sarafnya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah jiwanya sedang diparut pelan-pelan.
"Ratih... ini pasti Ratih..." raung Bimo di tengah tangis dan jeritannya.
Di luar, di gedung parkir yang gelap, Ratih berdiri mematung. Ia mendengar jeritan Bimo yang menembus kaca jendela. Ia melihat Cindy lari ketakutan.
Ratih tidak merasa ngeri. Ia tidak merasa kasihan. Ia justru merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa, seolah-olah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya mendadak terbang.
Ratih maju satu langkah ke tepi pagar beton. Di bawah cahaya remang, ia menatap Bimo yang sedang meregang nyawa dalam kehinaan.
"Dulu aku memberimu cinta, kamu membalasnya dengan belatung pengkhianatan," bisik Ratih pada angin malam. "Sekarang, makanlah belatung-belatung itu sampai kamu kenyang, Bimo."
Ratih berbalik. Ia berjalan pulang menuju kontrakan barunya. Di sepanjang jalan, ia melihat banyak pasangan muda yang sedang berkencan. Ratih hanya tersenyum tipis. Ia sudah tidak butuh cinta. Ia sudah menemukan kepuasan yang jauh lebih dalam daripada sekadar kasih sayang.
Malam itu, Jakarta menjadi saksi bahwa keringat seorang buruh cuci tidak bisa dianggap remeh. Bahwa di balik daster lusuh dan tangan yang kasar, ada kekuatan yang bisa memanggil neraka ke dunia bagi siapa saja yang berani bermain-main dengan ketulusan.
Ratih sampai di kamarnya, merebahkan diri di kasur busa yang tipis. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur dengan senyuman yang sangat tulus. Sementara di sebuah kamar hotel melati, seorang pria sedang memohon pada Tuhan agar ia segera dimatikan, namun ulat-ulat itu tidak akan membiarkannya mati secepat itu. Mereka akan terus makan, selama Bimo masih memiliki setetes nafsu.