Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Pesankan aku sesuatu yang bisa membuatku lupa kalau aku punya harga diri.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Alisha. Ia tidak menatap sang bartender. Matanya tertuju pada pantulan dirinya di permukaan meja marmer yang mengkilap. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini lepek karena air hujan.
Gaun koktail berwarna krem miliknya terkena noda kopi di bagian lengan. Noda itu adalah kenang-kenangan dari pertengkarannya dengan sang atasan dua jam yang lalu.
Bartender itu menatapnya dengan iba. “Sesuatu yang kuat, Nona?”
“Sangat kuat sampai aku tidak bisa mengeja namaku sendiri,” jawab Alisha getir.
“Dua gelas whiskey murni. Letakkan di sini.”
Sebuah suara berat memecah kebisingan musik jazz yang mengalun di ruangan itu. Alisha menoleh. Di sampingnya, seorang pria baru saja duduk. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal. Namun, penampilannya tidak rapi. Dasi pria itu sudah ditarik longgar. Kancing teratas kemejanya terbuka. Ada aura dominasi yang terasa dingin di sekitar pria itu.
“Aku tidak memesan untukmu,” ujar Alisha sambil mengerutkan kening.
“Aku yang memesan untukmu,” balas pria itu tanpa menoleh.
“Kau terlihat butuh teman minum yang tidak akan menceramahi hidupmu.”
Pria itu adalah Damian Sagara.
Malam ini, ia seharusnya berada di lantai bawah, berjabatan tangan dengan kolega ayahnya. Ia seharusnya tersenyum di samping wanita pilihan ibunya untuk dijodohkan. Namun, Damian lebih memilih melarikan diri ke lounge pribadi ini. Ia muak menjadi bidak di papan catur keluarganya sendiri.
Gelas pertama diletakkan di depan mereka. Alisha tidak ragu. Ia langsung meneguk cairan emas itu dalam sekali sentak. Rasa panas langsung membakar tenggorokannya. Ia terbatuk kecil, namun kemudian tertawa hambar.
“Pelan-pelan. Itu bukan air mineral,” tegur Damian.
Alisha menatap Damian dengan mata yang mulai berkabut. “Apa urusanmu? Kau juga terlihat seperti orang yang ingin tenggelam.”
Damian tersenyum tipis. “Aku hanya sedang menghindari sebuah transaksi.”
“Transaksi apa? Saham? Properti?” tanya Alisha sinis.
“Transaksi manusia. Mereka menyebutnya pernikahan bisnis,” jawab Damian dingin.
Alisha mendengus. Ia kembali memberi isyarat pada bartender untuk menuang gelas kedua.
“Setidaknya kau punya nilai untuk dijual. Aku? Atasanku baru saja mencuri seluruh sketsa desainku untuk koleksi musim gugur. Dia menyebutnya kontribusi tim. Lalu dia memecatku karena aku keberatan.”
“Kau desainer?” Damian mulai tertarik.
“Hanya asisten yang malang. Tidak punya nama. Tidak punya kuasa.”
Alisha menopang dagunya dengan tangan. “Dunia ini hanya milik orang-orang yang punya nama besar di belakang mereka, kan?”
Damian menatap Alisha dengan intens. Biasanya, orang akan mencoba merayunya begitu tahu siapa dia. Namun, wanita di depannya ini benar-benar tidak tahu siapa dia. Alisha hanya melihatnya sebagai sesama jiwa yang tersesat di tengah badai Jakarta.
“Nama belakang hanyalah kutukan jika kau tidak bisa mengendalikannya,” gumam Damian.
“Kalau begitu, mari kita buang kutukan itu malam ini,” tantang Alisha.
Damian mengangkat gelasnya.
“Tanpa nama?”
“Tanpa nama. Tanpa latar belakang. Tanpa esok hari.” Alisha mendentingkan gelasnya ke gelas Damian.
Cairan alkohol itu perlahan mengambil alih logika mereka. Percakapan mereka mengalir tanpa saringan. Alisha bercerita tentang impiannya membangun label mode sendiri. Damian bercerita tentang rasa sesak berada di puncak gedung yang terasa seperti penjara emas.
Di luar, badai petir semakin menggila. Kilat menyambar, menerangi wajah mereka secara bergantian melalui kaca jendela besar yang menghadap kerlap-kerlip lampu kota.
“Kenapa kau tidak marah padaku karena tidak mengenali siapa kau?” tanya Alisha tiba-tiba. Suaranya mulai melantur.
“Karena itu hal terbaik yang terjadi padaku sepanjang tahun ini,” jawab Damian jujur.
Jarak di antara mereka terkikis. Damian bisa mencium aroma mawar dan hujan yang menguar dari kulit Alisha. Alisha bisa merasakan panas tubuh Damian yang mengundang. Ketertarikan itu tidak logis. Itu bukan sekadar gairah, melainkan kebutuhan untuk merasa hidup setelah mati rasa terlalu lama.
“Kau punya mata yang indah,” bisik Damian. Tangannya bergerak menyisipkan sehelai rambut Alisha ke belakang telinga.
Alisha merasakan sengatan listrik dari sentuhan itu. “Jangan katakan itu jika kau tidak bermaksud menyimpannya.”
“Aku tidak menjanjikan apa pun selain malam ini,” ujar Damian pelan.
“Malam ini sudah cukup,” balas Alisha.
Damian berdiri dan mengulurkan tangannya. Alisha menyambutnya tanpa ragu. Mereka berjalan menuju lift, meninggalkan kebisingan bar yang perlahan memudar. Di dalam lift yang berdinding cermin, mereka saling menatap dalam diam. Ada tarikan magnet yang tak terbantahkan. Begitu pintu lift terbuka di lantai kamar presidential suite milik Damian, tidak ada lagi kata-kata yang diperlukan.
Lampu kamar yang temaram menjadi saksi bisu pertemuan dua orang asing itu. Damian melepaskan jasnya dengan gerakan yang penuh kendali. Alisha membiarkan gaun kremnya jatuh ke lantai. Di bawah dentuman guntur yang menggetarkan kaca jendela, mereka bersatu. Semua rasa sakit hati Alisha dan tekanan hidup Damian lebur dalam keintiman yang liar namun putus asa.
Waktu seolah berhenti berputar. Di tempat tidur luas itu, mereka saling mendekap. Damian menciumi pundak Alisha, menghirup aroma yang ingin ia hafal selamanya. Alisha memejamkan mata, membiarkan dirinya merasa dicintai untuk sekali ini saja, meski ia tahu ini semua adalah ilusi.
Pukul empat pagi, hujan telah reda menjadi gerimis tipis.
Alisha terbangun lebih dulu. Cahaya remang lampu jalan masuk dari celah gorden. Ia menoleh ke samping dan melihat sosok Damian yang masih terlelap. Wajah pria itu terlihat lebih tenang saat tidur. Alisha menyentuh permukaan bantal dengan ragu. Logikanya yang sempat hilang kini kembali dengan rasa hantam yang menyakitkan.
“Apa yang telah aku lakukan?” bisiknya pada kesunyian.
Ia tahu siapa pria ini sekarang. Tadi malam, di meja bar, ia melihat dompet pria itu terbuka sekilas. Kartu nama berwarna hitam emas bertuliskan Damian Sagara. CEO Sagara Group. Alisha merasa bodoh. Pria ini berada di tingkat yang bahkan tidak bisa ia sentuh di dalam mimpinya. Bagi Damian, ia mungkin hanya hiburan malam yang menarik. Bagi Damian, ia tidak lebih dari sekadar pelarian singkat.
Alisha bangkit dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin membangunkan singa yang sedang tidur itu. Ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia mengenakan gaunnya kembali, meski kainnya sudah kusut. Ia tidak mencari alas kaki atau tasnya yang mungkin tertinggal di bar bawah. Ia hanya ingin pergi.
Ia berdiri sejenak di samping tempat tidur. Ia menatap Damian untuk terakhir kalinya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena penyesalan atas apa yang mereka lakukan, tapi karena ia tahu kebahagiaan ini hanya bertahan beberapa jam.
Alisha melangkah keluar kamar tanpa alas kaki. Ia berjalan cepat menyusuri koridor hotel yang dingin. Di lobi yang sepi, ia langsung menerobos keluar menuju udara pagi yang lembab. Ia tidak memanggil taksi hotel. Ia terus berjalan sampai kakinya terasa perih, menjauh dari gedung pencakar langit itu sejauh mungkin.
Di dalam kamar suite, satu jam kemudian, Damian membuka matanya.
Ia meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Dingin. Kosong. Damian langsung terduduk. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang mewah itu. Tidak ada siapa-siapa. Ia segera bangkit dan memeriksa kamar mandi, namun hanya menemukan handuk yang masih terlipat rapi.
Ia kembali ke tempat tidur dan melihat selembar nota kecil dari meja rias. Nota itu kosong, tidak ada tulisan apa pun. Alisha benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak.
Tidak ada nama. Tidak ada nomor telepon. Tidak ada akun media sosial.
Damian mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia berjalan menuju jendela besar dan menatap jalanan Jakarta yang mulai sibuk. Ia adalah pria yang bisa mendapatkan apapun di dunia ini hanya dengan satu jentikan jari. Namun, wanita dengan mata coklat yang jujur itu baru saja membuatnya merasa kehilangan untuk pertama kali.
“Siapa kau sebenarnya?” gumam Damian pada pantulan dirinya di kaca.
Ia tidak tahu bahwa malam itu bukan hanya sekedar pelarian. Malam itu berakhir, namun dampaknya baru saja dimulai. Di bawah langit Jakarta yang mulai terang, Alisha menangis di dalam bus kota, sementara Damian berdiri di puncak dunianya dengan rasa hampa yang baru.