NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:513
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Tersembunyi

“Shen Yi, jangan lupa bawa botol kecil itu. Yang sisa Air Teratai Abadi itu. Kalau noda hitam makin kuat di jalan, mungkin butuh setetes lagi untuk bertahan.”

Lian'er bicara pelan sambil memasukkan botol kristal ke dalam keranjang bambu Shen Yi. Pagi itu cerah, tapi kabut tipis masih menyelimuti lereng gunung, membuat suara burung terdengar samar seperti dari kejauhan. Api tungku sudah padam, tapi aroma sup jahe madu dari malam sebelumnya masih menempel di udara gubuk.

Shen Yi mengangguk, tangannya menyentuh botol itu sebentar sebelum menutup keranjang.

“Sudah aku simpan di tempat aman. Dan ini—” Dia mengeluarkan gulungan kain kecil berisi jarum akupunktur cadangan dan ramuan penghangat baru. “Untuk jaga-jaga. Kau juga bawa daun teratai keringmu, kan?”

Lian'er mengangkat sabuk kecil di pinggangnya. “Sudah. Sepuluh lembar. Cukup untuk buka jalan kalau kabut pulau terlalu tebal.”

Xiao Feng bersandar di tiang pintu, mulutnya masih mengunyah roti kukus sisa malam tadi. “Kalian berdua ini romantis banget pagi-pagi. Aku aja yang bawa arak dan pedang, kalian bawa ramuan dan cinta. Pasti kita selamat deh.”

Shi Jun, yang sedang memeriksa tali pelana kuda di luar, menoleh masuk. Wajahnya serius. “Jangan remehkan noda hitam itu. Elder Mei Ling bilang, semakin dekat ke pulau, semakin kuat pengaruhnya pada Shen Yi. Karena pulau itu sumber teratai asli. Energi murni akan tarik noda hitam keluar, tapi juga bisa mempercepat pertumbuhannya.”

Shen Yi menghela napas. “Aku tahu. Malam tadi noda itu bicara lagi. Bilang kalau aku tak akan sampai pulau. Bilang kalau aku akan berubah sebelum kita sampai gerbang tersembunyi.”

Lian'er langsung memegang lengan Shen Yi. “Jangan dengarkan. Itu cuma trik. Kita sudah lewati lebih buruk dari ini.”

Xiao Feng menepuk bahu Shen Yi. “Benar. Kalau noda itu berani keluar, aku hajar pake pedang anginku. Shi Jun bantu tebas, Lian'er summon teratai, kau… tusuk pake jarum akupunktur. Kita tim imbang.”

Shi Jun tersenyum tipis. “Tim imbang yang paling aneh di jianghu. Tabib miskin, dewi teratai, petualang cerewet, dan anak sekte yang dulu sombong. Kalau Xue Han tahu komposisi kita, dia mungkin mundur sendiri.”

Shen Yi tertawa kecil—tawa pertama yang tulus sejak noda itu mulai sering bicara. “Mungkin. Tapi kita nggak boleh lengah. Kalau noda ini makin kuat, aku mungkin… tak bisa kendalikan diri. Kalau itu terjadi—”

Lian'er memotong cepat. “Kalau itu terjadi, aku yang akan pegang kau. Aku yang akan tarik kau kembali. Aku sudah janji.”

Shen Yi memandang mata Lian'er lama. “Baik. Aku percaya kau.”

Mereka mulai kemas barang terakhir. Keranjang bambu Shen Yi penuh ramuan, jarum, dan makanan kering. Lian'er membawa tas kecil berisi daun teratai kering dan botol air suci dari danau kecil mereka—air yang sudah terkena cahaya teratai selama berbulan-bulan, mungkin bisa jadi pelindung sementara. Xiao Feng membawa pedangnya, arak cadangan (katanya “untuk obat darurat”), dan peta kasar pelabuhan timur yang dia gambar sendiri. Shi Jun membawa token jade sekte dan sepucuk surat dari Elder Mei Ling—petunjuk cara buka Gerbang Teratai Tersembunyi.

Sebelum berangkat, mereka berempat berdiri di tepi danau kecil. Teratai putih mekar sempurna, kelopaknya seolah mengucapkan selamat jalan.

Shen Yi berlutut, menyentuh air danau. “Danau ini… kau jaga rumah kami ya. Kalau kami nggak kembali… tolong lindungi desa bawah.”

Kelopak teratai bergetar pelan, seolah menjawab.

Lian'er berlutut di sampingnya. “Kami akan kembali. Pegang janjiku.”

Xiao Feng dan Shi Jun berdiri di belakang, memberi ruang. Xiao Feng menghela napas. “Aku nggak biasa emosional gini. Tapi… gubuk ini, danau ini… terasa seperti rumah juga buat aku sekarang.”

Shi Jun mengangguk. “Kita akan pulang ke sini. Semua.”

Mereka naik kuda—Shen Yi dan Lian'er satu kuda, Xiao Feng dan Shi Jun masing-masing. Empat murid sekte yang dikirim Shi Jun mengawal dari belakang.

Perjalanan dimulai. Jalur menurun gunung masih familiar. Mereka melewati desa bawah, Pak Li melambai dari kejauhan sambil berteriak “Hati-hati ya, Tabib! Nona Lian!” Anak-anak desa berlari mengantar sampai ujung desa, melempar bunga liar ke arah mereka.

Saat keluar dari wilayah gunung, pemandangan berubah. Jalan tanah lebih lebar, tapi kabut mulai muncul lagi—bukan kabut biasa, tapi kabut yang membawa dingin samar.

Shen Yi merasakan noda hitam di bahunya berdenyut lebih cepat. Dia menahan napas, tak ingin Lian'er khawatir.

Tapi Lian'er tahu. Dia memeluk pinggang Shen Yi lebih erat dari belakang. “Kalau terasa sakit, bilang ya. Aku bisa pakai teratai untuk tahan sementara.”

Shen Yi mengangguk. “Masih bisa ditahan. Tapi… semakin dekat ke laut, semakin kuat denyutnya.”

Xiao Feng, yang menunggangi kuda di depan, menoleh. “Kita akan sampai pelabuhan timur dalam tiga hari kalau tak ada hambatan. Dari sana, kita cari kapal nelayan yang tahu Gerbang Tersembunyi. Shi Jun, token jade sekte bisa bantu cari kapten yang terpercaya?”

Shi Jun mengangguk. “Bisa. Ada kapten tua di pelabuhan yang pernah bantu sekte dulu. Dia tahu cara masuk kabut tanpa hilang.”

Hari pertama perjalanan berlalu relatif tenang. Mereka melewati desa-desa kecil, menginap di penginapan pinggir jalan, dan makan malam bersama di api unggun. Xiao Feng cerita konyol untuk ringankan suasana, Shi Jun cerita tentang perubahan di sekte setelah kejadian danau, Lian'er cerita tentang rencana masa depan—tanam lebih banyak teratai, buka warung obat kecil di desa, ajar anak-anak cara meramu herbal.

Shen Yi mendengar semua dengan senyum, tapi malam itu, saat yang lain tidur, dia terbangun karena dingin menusuk dada.

Dia keluar dari penginapan pelan, duduk di bawah pohon di halaman belakang. Noda hitam di bahunya kini sebesar koin besar—garis hitam tipis mulai menyebar seperti urat kecil ke arah dada.

Bisikan Xue Han terdengar lagi, lebih jelas dari sebelumnya.

“Kau tak bisa tahan selamanya. Setiap hari, aku semakin kuat. Saat kau lelah, saat kau ragu… aku akan ambil alih. Dan yang pertama kuhancurkan adalah dia… Lian'er.”

Shen Yi mengepalkan tangan. Cahaya emas samar muncul dari meridiannya, menekan noda itu mundur sedikit. Tapi noda itu tak hilang—hanya diam, menunggu.

Lian'er muncul dari pintu penginapan, selimut di tangan. “Shen Yi lagi?”

Shen Yi mengangguk. “Dia bilang… dia akan ambil alih saat aku lemah. Dan yang pertama… kau.”

Lian'er duduk di sampingnya, menyelimuti mereka berdua. “Kalau dia mau ambil alih, dia harus lewati aku dulu. Aku nggak akan biarkan. Aku akan panggil teratai sampai habis kalau perlu. Kau… jangan takut sendirian.”

Shen Yi memeluknya. “Aku nggak takut kalau ada kau.”

Mereka duduk seperti itu sampai fajar. Saat matahari terbit, noda hitam diam lagi—tapi Shen Yi tahu, perjalanan ke pulau ini bukan cuma untuk bersihkan noda. Ini juga pertarungan terakhir melawan sisa Xue Han… dari dalam dirinya sendiri.

Di pelabuhan timur, tiga hari kemudian, kapal nelayan sudah menunggu. Kapten tua yang dikenal Shi Jun menyambut mereka dengan hormat.

“Gerbang Tersembunyi sudah lama tak dibuka. Kabut sekarang lebih ganas. Tapi kalau darah teratai murni ada di kapal, mungkin kita bisa masuk.”

Shen Yi mengangguk. “Aku siap.”

Saat kapal berlayar meninggalkan dermaga, Lian'er berdiri di haluan, memandang kabut di ufuk. Shen Yi di sampingnya, tangan saling genggam.

Xiao Feng dan Shi Jun di belakang, siap dengan pedang.

Kabut mulai menyelimuti kapal. Dingin semakin menusuk.

Dan di dalam tubuh Shen Yi, noda hitam berdenyut lagi. lebih cepat, lebih lapar.

“Waktu semakin dekat…” bisik suara itu di kepala Shen Yi. “Pulau itu akan jadi kuburmu atau takhtaku.”

Shen Yi menarik napas dalam, memandang Lian'er. “Kita pasti akan menang.”

Lian'er mengangguk. “Bersama.”

Kapal menghilang ke dalam kabut. Perjalanan terakhir dimulai.

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!