NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 25: BAYANG-BAYANG LAMA

Matahari belum sepenuhnya muncul ketika Aisha terbangun dengan perasaan aneh di perutnya. Bukan sakit, tapi semacam getaran halus yang membuatnya tersenyum tanpa sebab. Di sampingnya, Glenn masih terlelap dengan tangan melingkar di pinggangnya kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak malam pertama mereka menikah enam bulan lalu.

Aisha menatap langit-langit kamar, mencoba mengidentifikasi perasaan itu. Mual? Tidak tepat. Lebih seperti... ada sesuatu yang hidup di dalam dirinya. Sesuatu yang kecil dan hangat.

Dia duduk perlahan, tak ingin membangunkan Glenn. Kakinya menyentuh lantai kayu yang sedikit dingin karena AC semalaman. Kamar ini dulu milik ibunya Bu Darmi dan setelah kepergiannya, Aisha memutuskan untuk tidak mengubahnya terlalu banyak. Lemari kayu tua masih di sudut yang sama. Jendela masih dengan gorden bunga-bunga lusuh yang ibu pilih entah kapan. Hanya tempat tidurnya yang diganti dengan yang lebih besar, untuk Glenn dan dirinya.

Aisha berjalan ke kamar mandi, mencuci muka, dan menatap bayangannya di cermin. Usia 38 tahun terlihat jelas di sudut matanya garis halus yang tidak ada lima tahun lalu. Tapi ada juga sesuatu yang baru di matanya itu: ketenangan.

Setelah semua badai, akhirnya dia sampai di sini. Menikah dengan pria yang mencintainya apa adanya. Tinggal di rumah yang penuh kenangan pahit sekaligus manis. Memiliki yayasan yang terus berkembang. Dan yang terpenting, memiliki Arka yang sehat dan bahagia.

Arka.

Pikirannya melayang pada anaknya. Usia 11 tahun sekarang, sudah kelas 5 SD. Tingginya hampir mencapai bahu Aisha. Suaranya mulai pecah sedikit masih lucu, kadang fals kalau bernyanyi. Dan dia masih sama: terlalu dewasa untuk usianya, terlalu peka, terlalu baik.

Aisha meletakkan tangan di perutnya. Mungkin kali ini, Arka tidak akan sendiri.

Glenn menemukannya di dapur setengah jam kemudian, sedang membuat kopi sambil memegang perut.

"Bangun pagi sekali," sapa Glenn, menghampiri dari belakang, mencium puncak kepalanya. "Ada apa? Mimpi buruk?"

Aisha menoleh, tersenyum. "Mimpi indah justru."

"Oh ya? Mimpi apa?"

Dia berbalik, menatap mata suaminya yang masih setengah mengantuk. "Glenn, aku pikir... aku hamil."

Glenn butuh tiga detik untuk memproses. Lalu matanya membelalak. "Hamil? Serius?"

"Aku belum tes. Tapi rasanya... berbeda."

"Tunggu di sini. Jangan bergerak."

Glenn bergegas ke kamar mandi, kembali dengan test pack yang masih tersegel entah sejak kapan dia menyimpannya di lemari. Aisha tertawa melihatnya.

"Kamu stok test pack?"

"Untuk jaga-jaga. Sudah kubeli sejak dua bulan lalu. Tapi tidak mau memaksa, jadi kusimpan saja."

Aisha mengambilnya, masuk ke kamar mandi. Glenn menunggu di luar dengan jantung berdebar. Dia mondar-mandir di kamar, membayangkan kemungkinan-kemungkinan. Sebagai duda dengan satu anak, dia sudah pernah melalui fase ini. Tapi kali ini berbeda. Kali ini dengan Aisha. Dengan wanita yang dia pilih dengan sadar, bukan karena kebetulan atau keterpaksaan.

Pintu kamar mandi terbuka. Aisha keluar dengan test pack di tangan. Wajahnya tidak terbaca.

"Gimana?" tanya Glenn, suaranya bergetar.

Aisha menunjukkan test pack itu. Dua garis. Merah dan jelas.

Dia tersenyum. Air mata mengalir di pipinya.

Glenn langsung memeluknya erat. "Kita punya bayi. Kita punya bayi, Aish!"

"Kita punya bayi," ulang Aisha, suaranya tercekik haru.

Mereka berpelukan lama, di kamar yang dulu milik Bu Darmi, di pagi yang baru saja mulai cerah. Di luar, burung-burung berkicau menyambut matahari. Di dalam, dua garis merah mengubah segalanya.

Kabar itu tidak bisa disimpan lama. Glenn ingin berteriak ke seluruh dunia. Tapi Aisha memintanya menahan diri sampai trimester pertama aman. Usianya 38, risiko tinggi, mereka harus hati-hati.

Tapi Glenn terlalu bahagia untuk diam total. Dia setidaknya harus memberi tahu Kayla.

Kayla, 9 tahun, menerima berita itu dengan cara yang sangat Kayla: analitis dan penuh pertanyaan.

"Berarti Bunda Aisha akan punya bayi? Bayi sungguhan? Yang nangis tengah malam dan bau popok?"

Glenn tertawa. "Iya, sayang. Kamu akan punya adik."

"Kalau adik, berarti aku kakak ya, Pa? Seperti Arka?"

"Kakak yang baik, semoga."

"Aku akan jadi kakak terbaik sedunia!" Kayla melompat-lompat. "Aku akan ajari dia main catur. Dan baca buku. Dan—"

"Pelan-pelan, Nduk. Masih lama. Masih di perut Bunda."

Kayla menepuk perut Aisha dengan lembut, lalu berbisik: "Halo adik. Aku Kayla. Nanti kita main bareng ya."

Aisha tersentuh. Keluarga kecilnya bertambah. Dan Kayla, anak tiri yang langsung dia cintai sejak pertama bertemu, akan menjadi kakak yang sempurna.

Arka mendengar kabar itu sore harinya, sepulang sekolah. Aisha menjemputnya, seperti biasa, dan di perjalanan dia berkata:

"Arka, Bunda mau kasih tahu sesuatu."

"Bunda hamil?" tanya Arka datar.

Aisha kaget, hampir menabrak motor di depan. "Kok bisa tahu?"

"Ya bundanya Kayla cerita. Tadi di sekolah Kayla bilang, 'Arka, kita mau punya adik!'"

Aisha menghela napas. Glenn rupanya sudah cerita pada Kayla, dan Kayla tidak bisa diam. Anak itu.

"Kamu senang?" tanya Aisha hati-hati.

Arka berpikir sejenak. "Senang. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Ayah gimana?"

Aisha menoleh. "Maksud kamu?"

"Ayah Rafa. Kalau Bunda punya anak sama Om Glenn, Ayah jadi... apa?"

Aisha merasakan dadanya sesak. Arka, dengan segala kedewasaannya yang tidak wajar untuk anak 11 tahun, sudah memikirkan hal ini. Tentang ayah kandungnya, yang tidak tinggal serumah, yang mungkin merasa tergantikan.

"Ayah tetap ayah kamu, Ark. Tidak ada yang bisa menggantikan dia."

"Iya, Bunda tahu. Tapi Ayah... kadang Ayah sedih."

"Sedih?"

"Iya. Waktu Bunda nikah sama Om Glenn, Ayah diam aja di kamar. Bunda Laras cerita. Kata Bunda, Ayah lagi sedih. Tapi nggak apa-apa, katanya. Itu wajar."

Aisha tidak tahu itu. Rafa tidak pernah menunjukkan. Tapi tentu saja mereka punya sejarah panjang. Pernikahan yang gagal. Luka yang sembuh tapi meninggalkan bekas. Dan sekarang Aisha memulai hidup baru dengan pria lain. Wajar jika Rafa merasa... apa? Kehilangan? Cemburu? Takut?

"Kamu jangan khawatir soal Ayah, Nak. Ayah baik-baik saja. Dia punya Bunda Laras, Nadia, Arkana. Dia bahagia."

"Iya," kata Arka, tapi nadanya tidak yakin.

Malamnya, Aisha tidak bisa tidur. Perkataan Arka terus berputar di kepalanya. Ayah kadang sedih.

Apakah Rafa benar-benar baik-baik saja? Atau selama ini dia hanya pandai menyembunyikan?

Dia memandang Glenn yang terlelap di sampingnya. Lelaki itu tidur dengan posisi miring, menghadapnya, satu tangannya di atas perut Aisha seperti melindungi calon anak mereka. Glenn adalah pria terbaik yang pernah dia kenal. Sabar, pengertian, mencintainya tanpa syarat.

Tapi Rafa... Rafa adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa dihapus. Bukan sebagai cinta romantis lagi, tapi sebagai sejarah. Sebagai ayah dari anaknya. Sebagai keluarga.

Aisha memutuskan: besok dia akan bicara dengan Rafa. Bukan tentang kehamilannya itu bisa menunggu. Tapi tentang perasaan yang tidak pernah diungkapkan. Tentang kecemasan Arka. Tentang memastikan bahwa keluarga besar ini tetap utuh.

Di rumah Rafa, di seberang kompleks yang hanya berjarak lima menit jalan kaki, Rafa juga tidak bisa tidur.

Dia duduk di teras belakang, memandangi kolam ikan koi yang diam-diam dia rawat sendiri. Lampu taman redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di halaman. Ikan-ikan itu berenang lambat, sesekali muncul ke permukaan mencari oksigen.

"Masih bangun?"

Rafa menoleh. Laras panggilannya sekarang Bunda Laras untuk membedakan dengan Aisha yang dipanggil Bunda berdiri di ambang pintu, mengenakan daster tidur dan cardigan tipis.

"Belum ngantuk," jawab Rafa.

Laras duduk di sampingnya. Diam beberapa saat. Lalu berkata pelan:

"Kayla cerita pada Nadia. Katanya Aisha hamil."

Rafa menegang. Tidak menjawab.

"Kamu tahu?"

"Baru tahu sekarang."

Laras meraih tangannya. "Kamu kenapa, Raf?"

"Enggak apa-apa."

"Bohong."

Rafa tersenyum getir. Laras selalu bisa membaca dirinya, seperti Aisha dulu. Dua wanita ini yang satu masa lalu, yang satu masa kini punya kemampuan yang sama: menembus topengnya.

"Aku senang buat dia," kata Rafa akhirnya. "Glenn pria baik. Mereka pantas bahagia."

"Tapi?"

"Tapi... aku takut."

"Takut apa?"

Rafa menghela napas panjang. Ini pertama kalinya dia mengakui pada dirinya sendiri, apalagi pada Laras.

"Aku takut kehilangan Arka."

Laras diam. Dia sudah menduga ini.

"Arka anakku, Lar. Anak kandungku dari pernikahan dengan Aisha. Nadia dan Arkana juga anak kandungku, mereka darah dagingku, aku sayang mereka sama seperti Arka. Tapi Arka... dia tidak tinggal dengan kita setiap hari. Dengan kehadiran Glenn, dengan bayi baru itu... aku takut perlahan Arka akan lebih dekat dengan keluarga barunya. Aku hanya ayah akhir pekan. Glenn ayah setiap hari."

Rafa berhenti sejenak, menatap kolam yang gelap. "Bukan berarti aku kurang sayang Nadia dan Arkana. Mereka anak-anakku. Aku ada setiap hari buat mereka. Tapi justru karena aku setiap hari dengan mereka, aku tahu mereka baik-baik saja. Sementara Arka... aku tidak selalu tahu apa yang dia rasakan."

Laras memegang kedua bahu suaminya. "Rafa, dengar. Arka itu anak paling peka sedunia. Dia tahu kamu ayahnya. Dia sayang kamu. Tidak akan ada yang bisa menggantikan itu. Tapi dia juga berhak punya lebih banyak orang yang sayang dia. Glenn bukan pengganti. Glenn tambahan."

"Aku tahu. Tapi hatiku tetap takut. Untuk Arka. Bukan untuk diriku."

"Kamu takut dia sakit hati?"

"Iya. Aku tahu rasanya tumbuh dengan perasaan tidak cukup diinginkan. Aku tidak mau Arka merasakan itu."

Laras memeluknya. "Kita akan pastikan dia tidak pernah merasa begitu. Kita semua kamu, Aisha, Glenn, aku kita akan jaga dia."

Rafa mengangguk, meski hatinya masih berat. Mereka diam di teras itu, ditemani suara jangkrik dan gemericik air kolam. Di dalam rumah, Nadia 9 tahun dan Arkana 7 tahun tidur nyenyak di kamar mereka, tidak tahu ayah mereka sedang bergulat dengan ketakutan yang dalam.

Keesokan harinya, Sabtu pagi, Arka datang seperti biasa. Ini hari mereka Ayah dan anak, sarapan bersama di warung langganan, lalu main futsal atau sekadar jalan-jalan.

Tapi kali ini Arka datang dengan wajah berpikir.

"Kenapa, Nak?" tanya Rafa begitu mereka duduk di warung, memesan nasi uduk dan telor balado favorit Arka.

"Ayah, Bunda hamil."

Rafa mengangguk pelan. "Ayah tahu."

"Oh." Arka terdiam, memainkan sendok. "Ayah sedih?"

Pertanyaan langsung seperti ini hanya bisa datang dari Arka. Anak-anak lain mungkin bertanya dengan cara memutar. Arka tidak. Dia langsung ke inti.

Rafa menatap anaknya. Wajahnya sudah tidak seperti balita dulu. Ada garis-garis remaja mulai terbentuk sedikit jerawat di dahi, suara yang kadang pecah. Tapi matanya masih sama: cokelat bening dengan sorot ingin tahu yang tidak pernah pudar.

"Ayah tidak sedih, Nak. Ayah senang Bunda bahagia."

"Tapi sedih dikit?"

Rafa tersenyum. Tidak bisa bohong pada anak ini.

"Sedih dikit, iya."

"Kenapa?"

"Karena... Ayah takut Arka lupa sama Ayah. Kalau Bunda punya keluarga baru, punya anak baru, Arka mungkin sibuk dengan mereka. Nggak sempat lagi sama Ayah."

Arka menatapnya serius. Lalu berkata dengan suara yang membuat Rafa hampir menangis:

"Ayah, Arka punya dua tangan. Satu buat pegang Ayah, satu buat pegang Bunda dan Om Glenn. Nggak bakal lepas kok."

Rafa tertegun. Anak ini... dari mana dia belajar bicara seperti itu?

"Ayah tahu kenapa Arka bisa punya ginjal Ayah?" lanjut Arka. "Karena Ayah sayang Arka. Dan Ayah kasih ginjal. Itu artinya, di dalam perut Arka, ada Ayah terus. Jadi nggak mungkin Arka lupa."

Air mata Rafa akhirnya tumpah. Tidak malu-malu lagi. Dia menarik Arka ke dalam pelukan, di warung nasi uduk yang ramai, di antara suara orang memesan dan asap wajan. Dia memeluk anaknya erat-erat.

"Maaf, Nak. Ayah hanya..."

"Ayah nggak usah takut. Arka di sini. Arka nggak ke mana-mana."

Mereka menghabiskan pagi itu dengan lebih ringan. Setelah sarapan, mereka main futsal di lapangan dekat rumah Rafa sengaja mengalah, membiarkan Arka menang 5-3. Arka tertawa sombong, Rafa tertawa melihatnya.

Saat makan siang di rumah, Nadia dan Arkana sudah menunggu. Nadia, langsung berlari menyambut Arka.

"Kak Arka! Kak Arka! Aku dapat nilai bagus!" teriak Nadia.

"Wah, pinter! Dapat apa?"

"Matematika! Seratus!"

Mereka berdua bersalaman lalu Nadia menarik Arka untuk menunjukkan lembar nilai yang ditempel di kulkas. Arkana, 7 tahun, ikut meramaikan dengan membawa gambar kuda-kudaan.

"Kak, lihat gambarku!"

Rafa tersenyum melihatnya. Tiga anaknya Arka, Nadia, Arkana berbeda ibu, tapi akrab seperti tidak ada sekat. Arka, sebagai kakak tertua, selalu menjadi panutan dan pelindung bagi kedua adiknya.

"Pa, Kayla bilang Bunda Aisha hamil. Bener?" tanya Nadia dari dekat kulkas.

"Iya, Na."

"Wah, Kak Arka bakal punya adik lagi dong. Saingan lo," goda Nadia.

"Biarin. Aku udah biasa punya adik banyak," balas Arka sambil mencubit pipi Nadia yang menggeliat tertawa.

Mereka tertawa bersama. Rafa merasa dadanya hangat. Ini keluarganya. Tidak sempurna, tapi saling menerima.

Sore harinya, saat Rafa mengantar Arka pulang, dia bertemu Aisha di depan rumah. Glenn sedang di dalam, mungkin menemani Kayla belajar.

"Aku mau bicara sebentar," kata Rafa.

Aisha mengangguk. Mereka duduk di teras, di kursi rotan yang dulu sering mereka tempati bersama masa lalu yang tidak bisa dihapus.

"Arka cerita kalau kamu takut kehilangan dia," buka Aisha langsung.

Rafa tersentak. "Dia cerita?"

"Dia cerita banyak hal. Dia khawatir sama kamu."

Rafa diam.

"Aku hamil, Raf. Glenn anak pertama, Kayla anak tiri, dan sekarang anak biologis kami. Aku tahu mungkin ini berat buat kamu. Tapi aku janji: Arka tetap anak kita berdua. Tidak ada yang berubah."

"Kita berdua?" Rafa menatapnya. "Kita sudah tidak bersama, Aish. Kamu punya Glenn. Aku punya Laras. Arka bukan anak 'kita berdua' lagi. Dia anak aku dan kamu, dengan pasangan masing-masing."

"Itu yang aku maksud. Kita tetap orang tuanya. Bersama-sama, meski tidak bersama."

Rafa tersenyum kecil. "Kata-katamu seperti dulu."

"Aku masih sama, Raf. Hanya hidupku yang berubah."

Mereka diam sejenak. Lalu Rafa berkata:

"Arka punya ide. Sarapan bertiga, katanya. Kamu, aku, dia. Seperti dulu. Kadang-kadang."

Aisha berpikir. "Bagaimana dengan Glenn dan Laras?"

"Mereka bisa ikut kalau mau. Tapi mungkin kadang perlu hanya kita bertiga. Bukan sebagai mantan suami istri, tapi sebagai orang tua Arka."

Aisha mengangguk perlahan. "Aku setuju. Tapi kita harus bicara dengan Glenn dan Laras dulu. Tidak enak kalau mereka merasa dikecualikan."

"Tentu."

Mereka berjabat tangan formal, tapi hangat. Sebuah kesepakatan baru. Untuk Arka.

Glenn, ketika diberi tahu, menunjukkan reaksi yang membuat Aisha lega.

"Menurutku itu ide bagus," katanya. "Arka perlu waktu dengan kedua orang tuanya. Aku tidak merasa terancam."

"Kamu yakin?"

"Kamu lupa aku menikahimu setelah tahu semua ceritamu, Aish. Aku menerima kamu dengan seluruh masa lalumu. Termasuk Rafa."

Aisha memeluknya. "Aku tidak pantas dapat kamu."

"Justru kamu yang pantas."

Laras, di sisi lain, sedikit lebih hati-hati.

"Aku tidak keberatan," katanya pada Rafa. "Tapi aku ingin kamu jujur sama aku. Jangan sampai ada perasaan lama yang muncul lagi."

"Tidak akan. Aku sudah selesai dengan Aisha. Sekarang dia keluarga, bukan cinta."

"Kamu yakin?"

"Kamu lihat aku kemarin hampir nangis karena takut kehilangan Arka. Bukan karena cemburu pada Glenn. Itu bukti. Aku mencintaimu, Lar. Dan aku mencintai Nadia dan Arkana sama seperti aku mencintai Arka. Mereka semua anak-anakku. Tidak ada yang lebih atau kurang."

Laras memandangnya lama. Lalu mengangguk. "Baik. Aku percaya."

Minggu berikutnya, Sabtu pagi, sarapan bertiga dilaksanakan. Mereka memilih warung langganan dulu—tempat Rafa dan Aisha sering bawa Arka kecil. Warungnya masih sama, bahkan mbok penjualnya masih ingat mereka.

"Loh, paket komplit lagi? Seneng lihatnya," sapa mbok itu ramah.

Mereka tersenyum, tidak perlu menjelaskan kerumitan hubungan mereka.

Arka duduk di tengah, memesan nasi uduk telor balado seperti biasa. Rafa pesan bubur ayam. Aisha pesan bubur juga karena hamil muda, mual masih suka datang.

"Ini enak banget," kata Arka dengan mulut penuh. "Kenapa kita nggak dari dulu-dulu aja ya?"

"Karena dulu-dulu kita sibuk," jawab Aisha halus. "Sekarang kita luangkan waktu khusus."

"Setiap Sabtu ya?"

"Setiap Sabtu, insya Allah."

Arka tersenyum lebar. Lalu tiba-tiba berkata:

"Ayah, Bunda, kalian tahu nggak? Arka bersyukur kalian pisah."

Rafa dan Aisha terkejut. "Maksud kamu?"

"Dulu, waktu kalian masih sama-sama, kalian sering bertengkar. Arka nggak suka. Sekarang kalian pisah, tapi malah baik terus. Aneh ya?"

Anak-anak memang punya cara melihat dunia yang berbeda. Apa yang orang dewasa lihat sebagai kegagalan, anak-anak bisa lihat sebagai perbaikan.

"Kami tetap baik karena kamu, Ark," kata Rafa. "Kamu alasan kami selalu ingat untuk saling menghormati."

"Berarti Arka pahlawan dong?"

"Pahlawan kecil," Aisha mengacak rambutnya.

Mereka tertawa bersama, di warung sederhana itu. Dan untuk pertama kalinya sejak perceraian, Rafa dan Aisha duduk bersama tanpa beban. Sebagai orang tua Arka. Sebagai keluarga.

Di rumah, Glenn menunggu Aisha pulang dengan perasaan campur aduk. Dia percaya pada istrinya. Tapi tetap saja, ada cemburu kecil yang tidak bisa dihilangkan. Bukan cemburu romantis, tapi cemburu karena Aisha punya sejarah panjang dengan Rafa sejarah yang tidak pernah dia bagi.

Kayla menghampirinya. "Pa, kok melamun?"

"Enggak, sayang."

"Bunda sama Ayah Rafa ya?"

Glenn mengangguk.

"Pa, aku tahu Papa cemburu."

Glenn terkejut. "Kok bisa tahu?"

"Aku juga cemburu kalau Papa main sama anak orang lain. Tapi Papa kan tetap papa aku. Sama kayak Bunda. Bunda tetap bunda kita. Iya kan?"

Glenn tertawa. Anaknya, 9 tahun, sudah bisa memberi nasihat.

"Iya, kamu benar."

"Jadi Papa jangan sedih. Bunda pulang kok nanti."

Dan benar saja, setengah jam kemudian Aisha pulang dengan senyum cerah. Dia langsung memeluk Glenn.

"Makasih sudah mengizinkan."

"Kamu tidak butuh izinku. Kamu butuh dukunganku. Dan itu selalu ada."

Aisha menatap matanya. "Aku mencintaimu, Glenn. Jangan pernah ragu."

"Aku tahu. Aku hanya... perlu waktu terbiasa."

"Kita semua perlu waktu."

Malam harinya, di rumah Rafa, suasana hangat tercipta. Laras memasak kesukaan Rafa iga bakar, menu spesial yang hanya dibuat di malam Minggu. Nadia membantu menyiapkan meja, Arkana sibuk mengambil sendok garpu.

"Pa, hari ini Kak Arka pulang seneng banget ya?" tanya Nadia sambil menata piring.

"Iya. Mereka sarapan bertiga."

"Seru gitu? Kok Kak Arka seneng?"

"Dia seneng bisa sama Ayah dan Bunda Aisha bareng."

Nadia diam sebentar. Lalu berkata: "Aku juga seneng kalo bisa sama Papa dan Bunda Laras bareng. Tapi kan kita setiap hari bareng. Jadi biasa aja."

Rafa tersenyum. "Kamu nggak iri Kak Arka punya waktu khusus sama Papa?"

Nadia menggeleng. "Nggak. Kak Arka kan cuma bisa sama Papa akhir pekan. Aku setiap hari. Kasihan Kak Arka kalau aku iri."

Rafa terharu. Anaknya yang 9 tahun itu sudah punya empati yang besar. Sebagai adik, dia justru merasa perlu memahami kakaknya.

Arkana, yang tidak mau kalah, ikut nimbrung. "Pa, kapan kita main bareng Kak Arka? Aku kangen main bola."

"Besok aja, yuk? Kita jemput Kak Arka, main di lapangan."

"Asyik!"

Laras keluar dapur, membawa iga bakar yang mengepul harum. "Pada ngomongin apa?"

"Rencana main bola besok sama Kak Arka," jawab Rafa.

"Boleh. Aku masakin bekal buat kalian."

Rafa memandang keluarganya Laras, Nadia, Arkana. Dan di hatinya, ada rasa syukur yang dalam. Dia punya tiga anak yang saling menyayangi. Arka sebagai kakak yang jadi panutan. Nadia dan Arkana sebagai adik yang mengagumi kakaknya. Dua istri dalam dua fase hidupnya, yang kini bisa hidup berdampingan. Ini bukan keluarga ideal versi orang kebanyakan. Tapi ini keluarganya. Dan dia tidak akan menukarnya dengan apa pun.

Malam itu, Aisha menulis di jurnalnya kebiasaan yang dia mulai sejak terapi dulu.

Hari ini sarapan dengan Rafa dan Arka. Aneh rasanya, tapi juga hangat. Seperti pulang ke rumah lama, tapi rumah itu sudah bukan milikku lagi. Aku hanya tamu. Tamu yang diterima baik.

Arka bilang dia bersyukur kami pisah. Mengejutkan, tapi mungkin benar. Jika kami tidak pisah, aku tidak akan pernah jadi diriku yang sekarang. Tidak akan menemukan Glenn. Tidak akan punya yayasan. Tidak akan tahu arti memaafkan.

Ibu, jika kamu di sana, tolong jaga aku dan bayi ini. Aku takut. Tapi juga bahagia. Usia 38, hamil pertama dengan Glenn, anak kedua dengan Rafa hidup memang tidak pernah sederhana.

Tapi mungkin, tidak perlu sederhana. Yang perlu adalah: dicintai.

Di rumah Rafa, Laras menulis catatan kecil di buku hariannya sesuatu yang dia lakukan setiap malam sebelum tidur.

Hari ini Rafa bercerita tentang ketakutannya kehilangan Arka. Awalnya aku kira dia cemburu pada Glenn. Tapi ternyata dia takut Arka merasa tidak diinginkan. Bukan tentang dirinya, tapi tentang anaknya. Itu membuatku makin cinta padanya.

Nadia bilang dia tidak iri pada Arka. Anakku itu bilang, "Kasihan Kak Arka kalau aku iri." Aku tidak tahu dari mana dia belajar sebanyak itu.

Arkana minta main bola dengan kakaknya. Keluarga ini memang campuran, tapi tidak ada yang merasa kurang.

Aku bersyukur.

Di kamarnya, Arka menulis di buku harian yang mulai dia tulis terinspirasi bundanya. Halaman terakhir yang dia tulis malam ini berbunyi:

Hari ini sempurna. Sarapan dengan Ayah dan Bunda. Ayah tidak sedih lagi. Bunda hamil, tapi tetap sayang Arka. Om Glenn baik. Bunda Laras baik. Nadia baik. Arkana baik.

Aku punya keluarga paling aneh sedunia, tapi paling seru. Ada ayah di dua rumah. Ada bunda di dua rumah. Ada adik-adik di mana-mana Nadia, Arkana, Kayla nanti satu lagi. Tapi aku tidak bingung. Aku tahu siapa ayahku, siapa bundaku. Sisanya... bonus.

Menjadi kakak tertua itu kadang berat. Tapi seru. Aku harus jagain Nadia, Arkana, Kayla, dan adik baru nanti. Tapi aku siap.

Oh iya, Bunda bilang kalau adik lahir nanti, aku boleh pilih nama. Aku sudah punya ide: "Bintang". Karena dia akan jadi bintang baru di keluarga kami.

Selamat tidur, Bintang. Nanti kita ketemu.

SELESAI

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!