"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: KABAR GEMBIRA DI WAKTU YANG SALAH
Dinding ruang kerja itu seolah mulai menghimpitku. Di balik gorden beludru yang berat, aku memeluk perutku dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Suara tawa Maya di telepon tadi masih terngiang, tajam seperti pisau yang mengiris gendang telingaku.
Skenario kecelakaan. Menyingkirkanku secara permanen. Bayi mereka.
Setiap kata itu seperti paku panas yang ditancapkan ke jantungku. Jadi, selama ini aku bukan hanya istri yang tidak dicintai, aku hanyalah penghalang bagi rencana besar mereka. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa pria yang baru saja menanamkan benih di rahimku, juga sedang menyiapkan liang lahat untukku.
Aku menunggu hingga suara sepatu hak tinggi Maya menjauh dan pintu ruang kerja tertutup kembali. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, aku keluar dari persembunyian. Kakiku terasa seperti jeli, tidak sanggup menopang berat badanku sendiri.
Aku harus lari. Kalimat itu bergema di kepalaku. Tapi ke mana? Seluruh aset keluargaku sudah dirampasnya dengan surat kuasa palsu itu. Aku tidak punya uang, tidak punya sekutu, dan sekarang... aku memiliki nyawa kecil yang bergantung padaku.
Aku kembali ke kamarku, mengunci pintu, dan jatuh terduduk di depan pintu. Aku mengusap perutku yang masih rata.
"Maafkan Ibu, Nak..." bisikku di sela isak tangis yang tertahan. "Ibu sangat menginginkanmu, tapi Ibu takut kamu tidak akan pernah melihat dunia jika kita tetap di sini."
Tiba-tiba, terdengar suara mesin mobil memasuki garasi. Itu Stevanus. Tubuhku secara otomatis bereaksi dengan ketakutan yang luar biasa. Setiap kali dia pulang, itu berarti awal dari babak baru penderitaanku. Tapi kali ini berbeda. Kali ini, nyawa di rahimku menjadi taruhannya.
Aku segera mencuci wajahku, mencoba menghapus jejak air mata. Aku memakai syal sutra tebal untuk menutupi memar di leher dan bekas siraman kopi di tanganku. Aku harus bersikap normal. Aku harus menjadi "si bodoh" yang mereka tertawakan, setidaknya sampai aku menemukan cara untuk keluar.
Pintu kamar terbuka. Stevanus masuk dengan wajah yang terlihat sedikit lebih cerah dari pagi tadi mungkin karena rencana pembunuhanku sudah matang di kepalanya.
"Yati, kamu sudah bangun?" tanyanya dengan nada yang berpura-pura lembut, namun matanya tetap sedingin es.
"Sudah, Mas," jawabku sambil menunduk, mencoba menghindari kontak mata yang bisa membongkar rahasiaku.
Dia mendekat, mengusap kepalaku dengan gerakan yang seharusnya mesra, namun bagiku terasa seperti predator yang sedang memeriksa mangsanya sebelum diterkam. "Maafkan aku soal tadi pagi. Aku hanya sedang stres dengan proyek tol itu. Kamu tahu kan, aku melakukan semua ini demi masa depan kita?"
Masa depan kita? Atau masa depanmu dengan Maya? teriakku dalam hati.
"Iya, Mas. Aku mengerti," hanya itu yang sanggup kukatakan.
"Bagus. Nah, sebagai permintaan maaf, akhir pekan ini aku akan mengajakmu berlibur ke vila di puncak. Kita butuh waktu berdua, hanya kita, tanpa gangguan," dia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
Jantungku berdegup kencang. Vila di puncak. Jalannya curam dan rawan kecelakaan. Itulah tempatnya. Itulah saat di mana dia berencana menghabisi nyawaku.
Aku merasa harus mengatakannya. Mungkin, jika dia tahu aku hamil, sisa-sisa kemanusiaannya akan muncul. Mungkin dia akan membatalkan niat jahatnya demi anaknya sendiri. Itu adalah pemikiran paling bodoh yang pernah kupunya, namun sebagai seorang wanita yang terpojok, aku mencari pegangan pada harapan sekecil apa pun.
"Mas..." aku meraih tangannya yang besar dan kasar. "Sebenarnya, ada sesuatu yang harus aku sampaikan."
Stevanus menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku. "Aku... aku sudah terlambat bulan. Tadi aku tes, dan hasilnya positif. Mas, aku hamil."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Aku menatap matanya, mencari binar kebahagiaan, mencari air mata haru, atau setidaknya keterkejutan yang tulus.
Namun, yang kutemukan hanyalah kebencian yang murni.
Wajah Stevanus berubah menjadi pucat, lalu merah padam. Dia tidak memelukku. Dia justru mendorongku hingga aku tersungkur ke atas ranjang.
"Hamil?!" suaranya meledak, bukan karena senang, tapi karena murka. "Bagaimana mungkin kamu hamil sekarang?! Sialan!"
Dia mulai mondar-mandir di kamar seperti singa yang terkurung. "Aku sudah bilang berkali-kali, aku belum mau anak dari wanita seperti kamu! Kamu itu lemah, penyakitan, dan hanya bisa merengek! Bagaimana mungkin kamu berani memasang jebakan ini untuk mengikatku?!"
"Ini bukan jebakan, Mas! Ini anugerah..." isyakku, melindungi perutku dengan kedua tangan.
Stevanus berhenti di depan ranjang. Dia menatapku seolah-olah aku adalah kutu yang menjijikkan. "Anugerah? Bagiku ini adalah bencana. Kamu tahu berapa banyak rencana yang akan berantakan karena kehamilan bodohmu ini?"
Dia tiba-tiba mencengkeram rahangku dengan sangat kuat, memaksaku menatap matanya yang dipenuhi kegilaan. "Siapa ayahnya, Yati? Aku tahu aku sering memakai pengaman. Jangan-jangan kamu berselingkuh dengan sopir atau penjaga kebun di belakangku untuk mendapatkan warisanku, ya?!"
"Tega sekali kamu bicara begitu, Mas! Aku tidak pernah sekalipun mengkhianatimu meskipun kamu menyiksaku setiap hari!"
"Bohong!" dia berteriak dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Aku memejamkan mata, menunggu tamparan atau pukulan yang biasa datang. Namun, kali ini lebih buruk. Stevanus melepaskan cengkeramannya dan tersenyum dengan cara yang membuat jiwaku merinding.
"Baiklah. Kalau itu memang anakku, maka dia harus pergi bersamamu," bisiknya dengan suara yang begitu tenang namun mematikan.
Dia berjalan menuju lemari, mengambil koper kecil, dan mulai memasukkan baju-bajuku secara asal.
"Apa yang kamu lakukan, Mas?"
"Kita berangkat ke vila sekarang. Tidak perlu menunggu akhir pekan," katanya tanpa menoleh. "Udara gunung akan sangat baik untuk... 'ketenangan' mu."
Aku tahu itu adalah ajakan menuju kematian. Dia ingin mempercepat rencananya karena berita kehamilanku ini membuat segalanya menjadi lebih rumit baginya. Dia tidak ingin ada ahli waris yang akan menghambat jalannya bersama Maya.
"Aku tidak mau pergi, Mas! Aku sakit, aku butuh istirahat!" aku mencoba bangkit dan lari menuju pintu.
Namun Stevanus jauh lebih cepat. Dia menyambar rambutku dan menyeretku menuju pintu kamar.
Saat aku berjuang melepaskan diri dari seretannya, ponsel Stevanus yang tergeletak di atas ranjang berbunyi nyaring. Ada panggilan masuk yang terhubung ke speaker mobil yang sudah menyala di garasi karena dia baru saja mematikan mesin tapi Bluetooth masih terhubung. Suara Maya terdengar sangat jelas memenuhi seluruh koridor rumah melalui sistem audio canggih itu:
"Stev! Cepat habisi dia! Hasil tes DNA-ku sudah keluar. Bayi yang kukandung ini memang benar anakmu, dan orang tuaku menuntut pernikahan bulan depan. Jika istrimu masih hidup saat itu, karir politikmu akan hancur karena skandal perselingkuhan!"
Stevanus terpaku. Aku terpaku. Kini rahasia itu bukan lagi bisikan, tapi lonceng kematian yang berdentang keras di telingaku.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...