"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: DINASTI ABADI
27 Januari 2046. Tokyo telah bertransformasi menjadi kota masa depan yang sepenuhnya dikendalikan oleh sistem kecerdasan buatan Matsuda-Sato. Di puncak gedung pencakar langit yang menembus awan, sebuah taman gantung yang luas dan asri menjadi saksi bisu kebahagiaan sebuah dinasti yang tak tergoyahkan.
Kenzo Matsuda, yang kini berusia lebih dari enam puluh tahun namun tetap tampak gagah dan berwibawa berkat teknologi regenerasi sel yang dikembangkan perusahaannya, berdiri di balkon. Di sampingnya, Hana Sato—sang Ratu yang tetap mempesona dengan keanggunan abadi—bersandar di bahu suaminya.
"Dua puluh tahun, Kenzo," bisik Hana, jemarinya yang masih mengenakan cincin Mahkota Duri mengusap tangan Kenzo. "Kita berhasil melewati badai, dan lihatlah apa yang kita bangun."
Kenzo mengecup kening Hana dengan penuh pengabdian. "Ini bukan hanya sebuah perusahaan, Hana. Ini adalah bukti bahwa cinta yang lahir dari kegelapan bisa menciptakan cahaya yang paling terang bagi dunia."
Langkah kaki yang mantap terdengar dari arah aula. Seorang pria muda berusia dua puluh tahun, dengan bahu lebar dan tatapan mata perak yang tajam namun penuh ketenangan, melangkah masuk. Ia adalah Renji Matsuda, sang pewaris yang kini telah tumbuh menjadi sosok pemimpin yang paling disegani di dunia.
Renji memiliki ketampanan ayahnya dan insting predator ibunya, namun ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang—sesuatu yang tidak pernah dirasakan orang tuanya dulu.
"Ayah, Ibu," suara Renji berat dan berwibawa. ia membungkuk hormat. "Seluruh dewan direksi dan pemimpin dunia telah berkumpul di bawah. Mereka menunggu pengukuhan suksesi hari ini."
Hana mendekati putranya, merapikan kerah jas hitamnya yang sempurna. "Renji, hari ini takhta ini resmi milikmu. Gunakan kekuasaanmu bukan untuk menindas, tapi untuk menjaga agar dinasti ini tetap abadi."
Renji tersenyum tipis—sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar. "Aku tahu, Ibu. Aku belajar dari yang terbaik. Tidak akan ada yang berani menyentuh apa yang kalian bangun."
Di aula utama, ribuan pasang mata menatap ke arah panggung saat Kenzo secara resmi menyerahkan lencana otoritas tertinggi kepada Renji. Dunia tidak lagi mengingat Miyu, Shizuka, atau Renzo; nama-nama itu telah terhapus dari sejarah, digantikan oleh narasi tentang kebangkitan dinasti yang murni dan kuat.
Rena Sato, yang kini menjadi penasihat senior di balik layar, menatap dari kejauhan dengan senyum puas. Ia telah melihat garis keturunannya mencapai puncak tertinggi yang bisa diraih manusia.
Setelah acara resmi berakhir, sebuah perjamuan pribadi diadakan untuk keluarga inti. Kenzo, Hana, dan Renji duduk bersama, berbagi tawa dan rencana masa depan. Kehangatan yang terpancar di antara mereka adalah sesuatu yang sangat nyata—sebuah kebahagiaan yang dibangun di atas pengampunan dan kekuatan bersama.
Malam semakin larut, Renji telah pergi untuk memimpin pertemuan pertamanya sebagai pemimpin tertinggi. Kenzo membimbing Hana kembali ke kamar pribadi mereka yang mewah.
Kenzo menarik Hana ke dalam pelukannya, menatap mata wanita yang telah menemaninya melewati neraka dan surga. "Hana... meskipun Renji kini memegang takhta, bagiku, kau tetaplah satu-satunya ratu yang menguasai hatiku."
Kenzo mencium Hana dengan penuh kemesraan, sebuah ciuman yang masih memiliki gairah yang sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Di bawah cahaya bulan yang indah, mereka kembali menyatu dalam keintiman yang mendalam. Penyatuan mereka malam ini bukan lagi tentang kemenangan atas musuh, melainkan perayaan atas cinta yang telah menang melawan waktu.
"Aku mencintaimu, Kenzo," bisik Hana di tengah pelukan intim mereka.
"Dan aku memujamu, Hana, selamanya," jawab Kenzo.
Fajar menyingsing di Tokyo. Dari jendela kantor eksekutifnya, Renji Matsuda melihat matahari terbit, menyinari kekaisaran yang kini berada di tangannya. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah mengalami penderitaan seperti yang dialami orang tuanya, karena mereka telah membersihkan jalan baginya dengan darah dan air mata.
Di kediaman pribadi, Kenzo dan Hana duduk bersama di taman, memperhatikan cucu pertama mereka yang sedang belajar berjalan di rumput yang hijau. Bayi itu tertawa, suara yang jernih dan penuh harapan.
Kenzo menggenggam tangan Hana, dan Hana menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo. Mereka telah mencapai Happy Ending yang mereka dambakan. Musuh-musuh mereka telah lenyap, kekayaan mereka tak terbatas, dan cinta mereka semakin kuat setiap harinya.
Dinasti Matsuda bukan lagi sekadar nama; ia adalah simbol keabadian. Sebuah kerajaan yang dibangun oleh Sang Ratu Sato dan Sang Diktator Matsuda, yang kini diwariskan kepada putra mereka yang sempurna. Kegelapan telah berlalu, menyisakan fajar abadi bagi keluarga yang telah menaklukkan takdir itu sendiri.
BERSAMBUNG...