Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aspal Yang tak pernah Tidur
Reza terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi. Badannya terasa pegal luar biasa; efek dari perkelahian semalam dan aktivitas maraton sebagai kurir dadakan. Ia menoleh ke samping, melihat Anya yang masih terlelap dengan tangan memeluk perutnya secara protektif. Dalam remang cahaya lampu jalan yang masuk lewat celah jendela, Anya terlihat sangat rapuh.
Reza bangkit perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia menghitung sisa uang di sakunya. Setelah membayar kamar
Losmen ini, uangnya hanya tersisa cukup untuk ongkos bus menuju gudang Budi dan membeli satu porsi bubur ayam tanpa sate-satean.
"Aku harus dapat lebih banyak hari ini," bisik Reza pada bayangannya di cermin buram.
Ia menulis pesan singkat di secarik kertas untuk Anya: 'aku pergi kerja dulu . jangan keluar kamar sampai aku pulang , Ada roti di Meja'.
Perjalanan menuju gudang distribusi pagi itu terasa berbeda. Reza tidak lagi berjalan dengan kepala tertunduk. Ia berjalan dengan mata yang mengamati setiap rute, menghafal persimpangan, dan menandai jalan-jalan tikus yang kemarin ia lewati. Jika ia ingin bertahan hidup sebagai kurir, ia harus menjadi yang tercepat. Di dunia logistik, waktu bukan sekadar angka; waktu adalah uang sewa kamar dan biaya USG.
Sampai di gudang, Budi sudah berdiri di sana dengan kopi hitam di tangan kanan dan sebatang rokok di tangan kiri.
"Masih hidup ternyata," sapa Budi sambil melemparkan kunci motor bebek tuanya ke arah Reza. "Kulihat lehermu makin merah. Kena cakar kucing atau apa?"
"Kena cakar kenyataan, Bud," jawab Reza sambil menangkap kunci itu di udara. "Ada berapa paket hari ini?"
Budi menunjuk sebuah palet kayu yang penuh dengan barang. "Ada delapan puluh paket". Dua kali lipat dari kemarin. Sebagian besar barang elektronik kecil dan pakaian. Daerahnya lebih jauh ke pinggiran, banyak kompleks perumahan yang satpamnya rewel , kamu sanggup? .
"Kasih saya seratus kalau ada," tantang Reza.
Budi terkekeh. "Jangan sombong, Mas Drama. Kecepatan itu penting, tapi keselamatan itu nomor satu. Kalau motor saya hancur, saya nggak punya cadangan buat narik sore."
Reza mulai memuat paket-paket itu ke dalam tas besar yang dipasang di jok belakang. Ia menyusunnya berdasarkan rute: terjauh di paling bawah, terdekat di paling atas. Insting akuntannya dulu ternyata berguna untuk urusan logistik seperti ini. Efisiensi adalah segalanya.
Sepanjang hari itu, Reza menjadi bagian dari mesin besar Jakarta. Ia membelah kemacetan di bawah terik matahari yang mulai menyengat kulit. Keringat membasahi kaosnya, dan debu jalanan menempel di wajahnya yang lelah. Namun, setiap kali ia menyerahkan paket dan mendengar kata "terima kasih", ada rasa kepuasan kecil yang tumbuh. Dulu, saat ia bekerja di balik meja, ia tidak pernah merasa sehebat ini saat menyelesaikan laporan keuangan. Sekarang, melihat wajah lega seorang ibu yang menerima paket susu anaknya, atau seorang remaja yang menerima sepatu barunya, Reza merasa ia punya peran di dunia ini.
Namun, pekerjaan kurir bukan tanpa rintangan. Di tengah hari, saat ia sedang mencari sebuah alamat di gang sempit daerah Tambora, sebuah mobil mewah tiba-tiba mundur tanpa melihat spion.
BRAKK!
Stang motor Budi tersenggol hingga Reza terjatuh. Motor itu miring, paket-paket berserakan di jalanan yang becek. Reza meringis kesakitan, sikutnya terkelupas bersentuhan dengan aspal.
Seorang pria muda berpakaian rapi keluar dari mobil, wajahnya tampak kesal bukan karena menabrak orang, tapi karena bumper mobilnya sedikit lecet. "Woi! Kalau jalan pakai mata dong! Lihat nih mobil saya jadi lecet!"
Reza berdiri perlahan, memandangi motor Budi yang untungnya hanya lecet ringan di bagian sayap plastik. Ia menarik napas panjang, menahan amarah yang sempat meledak semalam. Ia teringat Anya di losmen. Ia teringat Budi yang sudah mempercayainya.
"Bapak yang mundur tanpa lampu sein," kata Reza dengan nada tenang tapi tegas. "Motor saya rusak sedikit, dan barang-barang pelanggan saya jatuh. Saya tidak butuh uang Bapak untuk sikut saya, tapi tolong minta maaf supaya saya bisa lanjut kerja."
"Minta maaf? Kamu tahu harga mobil ini berapa? Gaji kamu setahun juga nggak cukup buat cat ulang bumper ini!" pria itu mulai membentak.
Orang-orang di sekitar mulai berkerumun. Biasanya, dalam situasi seperti ini, kurir akan kalah suara karena status sosialnya. Namun, Reza tidak gentar. Ia mengeluarkan ponselnya, memotret plat nomor mobil itu dan posisi mobil yang melintang di jalan.
"Saya punya foto posisi mobil Bapak. Di sini ada saksi. Kalau Bapak mau saya panggil polisi, silakan. Tapi saya harus antar paket ini sekarang. Waktu saya berharga, Pak. Mungkin tidak seharga mobil Bapak, tapi nyawa yang bergantung pada obat di dalam paket ini tidak bisa menunggu Bapak selesai marah-marah,"
Kata Reza sambil menunjuk sebuah paket berlogo apotek.
Mendengar kata "polisi" dan "obat", pria itu mendengus kasar. Ia merogoh dompetnya, melempar selembar uang seratus ribu ke arah Reza, lalu masuk kembali ke mobilnya dan tancap gas.
Reza tidak mengambil uang itu dengan sombong. Ia memungutnya, membersihkan debu di atasnya, lalu mulai merapikan paket-paket yang jatuh. Seorang tukang ojek pangkalan di dekat sana membantunya mendirikan motor.
"Sabar ya, Mas. Memang begitu orang-orang di sini," kata si tukang ojek.
"Nggak apa-apa, Pak. Yang penting motornya masih bisa jalan," jawab Reza tersenyum tipis.
Reza menyelesaikan paket terakhir tepat pukul 18.30 WIB. Badannya terasa remuk, tapi saku celananya penuh dengan komisi hari itu, ditambah uang "damai" dari pria sombong tadi. Ia kembali ke gudang, menyerahkan motor pada Budi, dan langsung menuju warung makan untuk membelikan Anya makanan yang bergizi.
Ia membeli ayam bakar, sup sayur (kali ini ia memastikan ada banyak sayur untuk kesehatan bayi Anya), dan dua botol susu kacang hijau.
Saat sampai di losmen, ia melihat Anya sedang duduk di depan jendela, menatap lampu-lampu kota.
"Sudah pulang?" tanya Anya, wajahnya terlihat lebih cerah saat melihat Reza membawa bungkusan makanan.
"Sudah. Maaf agak telat, tadi ada sedikit drama di jalan," Reza meletakkan makanan di atas meja kecil. Ia melepas plester di lehernya yang sudah mulai lepas karena keringat. Bekas merah itu kini berubah menjadi keunguan, memudar perlahan seperti sisa-sisa keinginan matinya.
"Za , aku tadi berpikir," kata Anya sambil membuka bungkusan sup. "Aku tidak bisa hanya diam di sini menunggu kamu pulang setiap malam. Aku harus bantu. Tadi aku lihat di bawah ada lowongan cuci piring di warung sebelah. Mungkin aku bisa..."
"Jangan," potong Reza lembut. "Kesehatanmu dan bayimu nomor satu sekarang. Aku masih kuat. Jakarta masih luas, paket masih banyak. Kamu cukup pastikan kamar ini tetap hangat saat aku pulang."
Anya menatap Reza lama. "Kamu berubah, Za, Dulu, kalau ada masalah sedikit saja, kamu akan mengurung diri di kamar dan mengeluh berhari-hari. Sekarang... kamu kayak batu karang."
Reza tertawa kecil, suara tawa yang tidak lagi mengandung kepahitan. "Mungkin karena aku sudah pernah mencoba untuk hancur, Anya. Dan ternyata, menjadi batu karang itu lebih tidak melelahkan dari pada menjadi abu."
Malam itu, mereka makan bersama. Di luar, hujan mulai turun lagi, tapi kali ini suaranya tidak lagi terdengar seperti ejekan bagi Reza. Suara hujan itu terdengar seperti musik latar dari sebuah awal yang baru.
Reza tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti. Tapi malam ini, ia tahu satu hal: ia sangat senang bahwa kurir ayam geprek itu datang ke pintunya tepat pada waktunya.