NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

"BUNDAAAAA!"

Teriakan Araluna di pagi buta itu sudah seperti sirene darurat yang memecah ketenangan dapur. Dengan rambut yang masih berantakan seperti sarang burung dan nyawa yang baru terkumpul separuh, Luna berlari menuruni tangga hingga nyaris terpeleset di anak tangga terakhir.

Bunda yang sedang asyik membolak-balikkan nasi goreng di wajan sampai tersentak kaget. "Astagfirullah, Luna! Masih pagi, Sayang. Kamu ini baru bangun atau baru mau demo?"

Luna tidak memedulikan teguran Bundanya. Matanya menyipit, mengitari seluruh penjuru dapur dan ruang makan dengan gelisah. "Kak Arsen mana, Bun? Dia digondol pocong? Kok udah nggak ada di kamarnya? Biasanya juga masih molor!"

Bunda tertawa kecil, menggelengkan kepala melihat tingkah anak tirinya yang sudah terlampau obsesif itu. "Arsen sudah berangkat setengah jam lalu, Luna. Katanya ada urusan organisasi di kampus. Tadi dia mau bangunin kamu, tapi katanya takut kamu langsung gigit karena nyawanya belum kumpul."

"Ih! Kenapa nggak dipaksa aja banguninnya? Dasar Kak Arsen curang!" Luna menghentakkan kakinya. Tanpa mencicipi nasi goreng yang sudah disiapkan, ia langsung melesat kembali ke atas. "Luna berangkat sekarang! Nggak pakai sarapan!"

Misi Penyelamatan Arsen

Luna tiba di gerbang kampus dengan napas terengah-engah. Penampilannya hari ini benar-benar mencolok—representasi sempurna dari seorang "cegil" yang sedang dalam misi pengamanan wilayah. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang ukurannya sedikit kebesaran (milik Arsen yang ia curi diam-diam semalam), dipadukan dengan rok hitam selutut yang menonjolkan kaki jenjangnya.

Matanya menyapu area parkir hingga ke selasar gedung Seni Budaya. Dan di sana, di dekat bangku taman bawah pohon rindang, targetnya ditemukan.

Namun, pemandangan di depannya membuat suhu tubuh Luna naik seketika. Arsen sedang duduk santai, sementara di sampingnya ada seorang mahasiswi yang pakaiannya sangat minim—rok mini yang sangat ketat dan atasan tanpa lengan yang mengekspos bahunya. Gadis itu tertawa sambil sesekali menyentuh lengan Arsen dengan genit.

"Oh, berani ya main di kandang macan," bisik Luna dengan mata melotot.

Luna melangkah dengan dentuman sepatu yang sengaja dikeraskan. Ia tidak menunggu, tidak basa-basi. Ia langsung masuk ke tengah-tengah percakapan mereka, berdiri tepat di antara Arsen dan gadis seksi itu.

"Halo, Kakak Cantik!" ucap Luna dengan senyum yang sangat manis, tapi matanya memancarkan kilat permusuhan yang nyata. "Kayaknya kakak harus geseran dikit deh. Jangan deket-deket Kak Arsen ya, Kak. Nanti virus kakak nempel ke dia."

Gadis itu ternganga, wajahnya berubah merah padam. "Hah? Virus apa ya maksud kamu? Sopan dikit ya sama kakak tingkat!"

Luna berpura-pura terkejut, menangkupkan kedua tangan di pipinya sendiri. "Eh, Kakak nggak tahu? Kak Arsen itu alergi sama yang 'terbuka-terbuka' begini. Kasihan nanti dia gatel-gatel seluruh badan kalau kena kulit kakak yang... emm, terekspos itu. Mending kakak cari cowok lain aja yang imunnya kuat sama godaan, oke?"

"Araluna!" bentak Arsen, suaranya berat dan terdengar sangat kesal. Ia bangkit berdiri, meraih pundak Luna untuk menariknya mundur. "Lo apa-apaan sih? Dia ini sekretaris himpunan, kita lagi bahas proker!"

Luna menoleh ke Arsen, matanya mendadak berkaca-kaca—akting andalannya. "Kak, aku cuma jagain lo. Lo kan berharga banget buat gue, masa mau dibiarin deket-deket sama 'virus' begini? Lagian, kalau bahas proker kenapa harus sambil pegang-pegang lengan? Memangnya prokernya cara meramal lewat urat nadi?"

Gadis sekretaris itu akhirnya berdiri dengan perasaan terhina. "Tau ah, Sen! Urusin tuh adek lo yang nggak waras! Gue balik!"

Setelah gadis itu pergi dengan langkah terburu-buru, Arsen memijat pangkal hidungnya. Ia menatap Luna yang kini justru asyik merapikan jaket kulit hitam yang ia kenakan—jaket milik Arsen.

"Itu jaket gue, kan?" tanya Arsen dingin.

Luna nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Hehe, habisnya bau Kak Arsen di jaket ini enak banget. Berasa lagi dipeluk lo terus."

Arsen tidak tertawa. Ia menarik kerah belakang jaket itu hingga Luna tertarik mendekat. "Lo itu bener-bener makin gila ya, Lun? Lo bikin malu gue di depan anak-anak himpunan. Lo pikir ini lucu?"

Luna menatap mata Arsen dalam-dalam. "Gue nggak bercanda, Kak. Gue emang gila kalau itu menyangkut lo. Lo mau marahin gue? Silakan. Lo mau hukum gue? Boleh. Tapi jangan pernah biarin cewek lain nyentuh lo pas gue nggak ada."

Arsen tertegun sejenak melihat keseriusan di mata Luna. Ia tahu Luna "cegil", tapi terkadang intensitas perasaan gadis itu membuatnya kewalahan. Arsen akhirnya mendengus, melepaskan kerah jaket Luna dengan kasar tapi tidak menyakiti.

"Duduk lo di sini. Jangan ke mana-mana sampai kelas gue selesai. Kalau gue denger lo berulah lagi, gue bakal minta Papa buat pindahin lo ke kampus luar kota," ancam Arsen, walau sebenarnya ia tahu dia tidak akan pernah sanggup melakukannya.

Luna duduk di bangku taman dengan patuh, memberikan hormat ala prajurit. "Siap, Kapten Arsen! Gue bakal nungguin lo kayak anjing peliharaan yang setia!"

Arsen berjalan pergi sambil mengumpat pelan dalam hati, mencoba mengabaikan debaran aneh di jantungnya yang muncul setiap kali Luna bertingkah seberani itu. Sementara Luna, ia justru mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret punggung Arsen secara diam-diam.

"Target diamankan. Hari ini: Luna 1, Virus 0," tulisnya di buku catatan rahasia di ponselnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!