Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
“Turunkan aku di perempatan depan, atau aku akan melompat keluar saat mobil ini masih melaju.”
Suara Alisha terdengar parau namun tajam. Ia mencengkeram pegangan pintu mobil dengan buku jari yang memutih. Di kursi depan, Damian Sagara tetap memandang lurus ke arah jalanan Jakarta yang basah.
Lampu jalanan yang kuning berpendar di kaca jendela, menyinari wajahnya yang tampak seperti pahatan batu dingin. Tidak ada emosi yang tersisa di sana.
“Duduk yang tenang, Alisha. Jalanan di luar tidak aman untukmu malam ini,” sahut Damian tanpa menoleh.
“Keamanan versimu adalah penjara baru bagiku. Aku tidak sudi kembali ke mansion itu!”
“Kita tidak akan kembali ke rumah Ibu. Aku membawamu ke tempat yang tidak diketahui oleh sistem keamanan Sagara.”
Mobil limosin hitam itu berbelok masuk ke sebuah gedung apartemen mewah yang tersembunyi di kawasan Jakarta Selatan.
Bangunannya tidak mencolok, namun gerbang bajanya sangat tebal. Arka, yang duduk di samping Alisha, tetap diam sambil memeluk laptopnya. Matanya yang cerdas memindai monitor kecil di dasbor, mengamati setiap pergerakan di belakang mereka.
Damian menghentikan mobil di lobi bawah tanah yang sunyi. Ia mematikan mesin, membiarkan keheningan yang mencekik menguasai kabin mobil selama beberapa saat. Hanya suara napas Alisha yang terdengar memburu karena amarah yang belum padam.
“Turunlah. Ini apartemen pribadiku. Ibu tidak punya akses kesini,” perintah Damian sambil membuka pintu.
Alisha tidak bergerak. Ia menatap Damian dengan pandangan penuh penghinaan. “Apartemen rahasia? Apa bedanya ini dengan kandang yang kau siapkan untukku enam tahun lalu?”
“Ini adalah perlindungan, bukan pengawasan. Ibu sudah melewati batasnya malam ini.”
“Kalian semua adalah monster yang sama, Damian. Kau, ibumu, bahkan Clarissa. Kalian memanfaatkanku untuk kepentingan bisnis dan ego kalian sendiri!”
Alisha akhirnya keluar dari mobil, namun ia tidak berjalan menuju lift. Ia justru melangkah ke arah gerbang keluar yang masih tertutup. Gaun hitamnya yang elegan kini tampak kontras dengan lantai beton lobi yang kotor.
“Aku ingin kembali ke pesisir! Biarkan aku dan Arka hidup miskin, asalkan tidak ada satupun dari kalian yang melihat kami!” teriak Alisha.
Damian mengejarnya dan
menangkap pergelangan tangannya.
“Pesisir bukan lagi tempat aman setelah skandal di ballroom tadi! Clarissa akan memburumu! Ibu akan memburumu!”
“Setidaknya mereka musuh yang nyata! Kau adalah musuh yang menyamar jadi pahlawan!”
Alisha mencoba meronta, namun tenaga Damian jauh lebih besar. Ketegangan di antara mereka memuncak. Alisha merasa dikhianati dua kali lipat setelah melihat video Nyonya Raina di hotel tadi. Ia tidak bisa lagi membedakan mana kebetulan dan mana manipulasi.
Tiba-tiba, Arka keluar dari mobil. Ia tidak menangis atau ketakutan. Bocah itu berjalan dengan tenang mendekati kedua orang tuanya. Ia memegang sebuah tablet yang layarnya menampilkan barisan data keuangan yang rumit.
“Ayah, ada satu folder yang belum dibuka Ibu,” ujar Arka dengan suara datar.
Alisha berhenti meronta. Ia menatap putranya dengan dahi berkerut. “Apa lagi, Arka? Rahasia apa lagi yang ingin kau tunjukkan?”
Arka menyodorkan tablet itu ke arah Damian, namun matanya tetap tertuju pada Alisha. “Ibu selalu bertanya kenapa tidak ada bantuan yang sampai ke desa. Ibu pikir Ayah membiarkan kita kelaparan dengan sengaja.”
Damian terdiam. Ia melepaskan tangan Alisha perlahan. Wajahnya menunduk, menghindari tatapan mata istrinya. Arka menekan sebuah ikon folder bernama Penerimaan Anonim. Di sana tertera daftar pengiriman uang bulanan selama enam tahun terakhir.
“Lihat tanggalnya, Ibu,” bisik Arka.
Alisha mengambil tablet itu. Ia melihat daftar transfer yang ditujukan ke sebuah yayasan kecil di dekat desa nelayan tempatnya tinggal dulu. Nominalnya cukup besar untuk menghidupi sepuluh keluarga. Namun, di setiap baris transaksi, terdapat stempel merah digital bertuliskan Gagal/Dikembalikan.
“Apa ini?” tanya Alisha, suaranya mulai bergetar.
“Aku mengirimkan uang itu setiap bulan lewat perantara pihak ketiga,” jawab Damian akhirnya. Ia menoleh ke arah Alisha dengan mata yang letih.
“Aku ingin kau dan Arka hidup layak tanpa harus tahu aku yang membiayainya. Aku ingin kau punya harga diri untuk tetap mandiri di sana.”
“Lalu kenapa uangnya dikembalikan?”
“Lihat kode penolakannya, Ibu,” Arka menyela. “Semua uang itu dicegat oleh sistem perbankan internal Sagara. Seseorang menandainya sebagai dana pencucian uang agar kembali ke rekening pusat.”
Alisha membaca nama otorisator penolakan di bagian bawah dokumen digital tersebut. R. Sagara. Ibunya Damian.
Raina telah mencegat setiap sen yang coba dikirimkan Damian untuk anak dan istrinya sendiri.
“Dia ingin kalian tetap menderita,” ujar Damian dengan nada pahit. “Dia ingin kau merasa putus asa sehingga suatu saat kau akan datang padanya untuk memohon bantuan.”
Alisha merasa dadanya sesak. Kenyataan ini jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Clarissa.
Damian ternyata mencoba menolong, namun ia sendiri adalah tawanan di bawah kekuasaan ibunya yang absolut.
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?” tanya Alisha.
“Karena aku terlalu sombong untuk mengaku bahwa aku tidak punya kendali penuh atas uangku sendiri di depanmu.”
Damian melangkah mendekati Alisha. Kali ini ia tidak menggunakan paksaan. Ia hanya berdiri di depan Alisha dengan pundak yang merosot.
“Aku pikir aku bisa melindungimu dari jauh. Ternyata aku hanya memberi Ibu kesempatan untuk menyiksamu lebih lama.”
Keheningan kembali menyelimuti lobi bawah tanah tersebut. Alisha menatap Damian dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebagian darinya ingin memaafkan, namun sebagian besar darinya masih merasa jijik dengan permainan keluarga ini.
“Tetaplah di sini malam ini, Alisha,” pinta Damian. “Besok kita akan memikirkan cara untuk benar-benar bebas dari Sagara.”
Alisha menatap Arka yang sedang menanti jawabannya. Ia tidak punya pilihan lain. Di luar sana, dunia sudah berubah menjadi hutan rimba yang dipenuhi pemburu. Ia mengangguk lemah dan berjalan mengikuti Damian menuju lift.
Namun, baru saja kaki mereka menyentuh lantai lift, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang masuk apartemen. Suaranya cukup keras hingga membuat alarm beberapa mobil di lobi berbunyi serentak.
BOOM!
Damian segera menarik Alisha dan Arka ke balik pilar beton. “Jimmy! Apa yang terjadi?” teriaknya melalui ponsel.
“Ada mobil hitam menabrak pembatas jalan di depan gerbang, Tuan!” suara Jimmy terdengar panik dari pengeras suara.
Damian mengintip dari balik pilar. Sebuah sedan hitam tampak ringsek di depan pintu masuk. Tidak ada ledakan besar, hanya asap yang mengepul dari kap mesin. Namun, pelakunya sudah menghilang di kegelapan jalanan.
Damian berlari mendekati gerbang yang terbuka sedikit akibat tabrakan tersebut. Ia melihat sebuah benda tersangkut di kaca depan mobil yang rusak itu. Sebuah amplop hitam yang sama persis dengan undangan pesta tadi malam.
Ia mengambil amplop itu dan membukanya dengan tangan yang siaga. Di dalamnya hanya ada secarik kertas putih dengan tulisan tangan yang rapi dan elegan.
“Jangan pikir drama ini berakhir di pesta. Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Damian. Mahkotamu sudah retak, sekarang saatnya melihat kerajaannya terbakar.”
Damian meremas kertas itu hingga hancur. Ia tahu tulisan tangan ini. Ini bukan tulisan Clarissa. Ini adalah tulisan tangan ibunya sendiri. Raina Sagara baru saja mendeklarasikan perang terbuka terhadap putranya.
“Damian? Apa isinya?” Alisha mendekat dengan wajah pucat.
Damian menoleh ke arah calon istri dan anaknya. Ia menyadari bahwa apartemen ini pun mungkin sudah tidak lagi rahasia bagi Raina. Ia harus bertindak lebih cepat daripada ibunya sendiri.
“Ibu baru saja memulai permainannya,” ujar Damian dengan nada yang sangat dingin.
“Dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja. Dia ingin menghancurkan kita karena kita berani membangkang.”
Arka menatap ke arah gerbang yang berasap. Ia tidak tampak takut. Sebaliknya, ia kembali membuka laptopnya. Jarinya menekan satu tombol khusus yang membuat seluruh lampu di lobi apartemen itu padam secara serentak.
“Kalau begitu, mari kita buat dia buta terlebih dahulu,” bisik Arka di tengah kegelapan.
Alisha merangkul bahu Arka. Ia menyadari bahwa malam ini bukan lagi tentang melarikan diri. Ini adalah tentang bagaimana mereka bertiga harus bertahan hidup melawan satu-satunya orang yang paling mengenal kelemahan mereka. Aliansi Sagara telah pecah sepenuhnya, dan di atas puing-puingnya, sebuah peperangan baru saja meletus.