Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shen Yi dan Kedatangan Lan Xue
Shen Yi berdiri di tepi danau kecil di dalam pulau, napasnya tersengal pelan. Cahaya emas dari teratai raksasa di tengah danau masih menyala terang setelah dia menyentuhnya, tapi sekarang cahaya itu mulai redup—seolah pulau memberi kekuatan terakhir sebelum menghadapi badai. Air Teratai Murni sudah terisi penuh di botol kristal kecil di tangannya, cairannya bercahaya lembut seperti bintang cair. Tapi noda hitam di bahunya, meski sudah menyusut setelah pembersihan tadi, masih ada—kecil lagi, tapi berdenyut pelan seperti jantung yang belum mati.
Dia menatap air danau yang kembali jernih. Teratai emas di tengah mekar penuh, kelopaknya menyala emas keperakan, tapi ada retak kecil di salah satu kelopak—seperti bekas luka yang belum sembuh sepenuhnya.
“Aku sudah bersihkan sebagian besar,” gumam Shen Yi pada dirinya sendiri. “Tapi kau masih di sini. kenapa?”
Suara Xue Han terdengar lagi. Lemah, tapi masih ada, seperti bisikan dari dalam tulang.
“Karena kau masih ragu. Kau terima ketakutanmu, tapi kau belum terima bahwa kau bisa kalah. Kau masih ingin jadi pahlawan untuk Lian'er. Itu celah untukku. Selama kau takut kehilangan dia… aku masih punya tempat.”
Shen Yi mengepalkan botol Air Teratai Murni. “Aku nggak takut kehilangan dia. Aku takut dia kehilangan aku. Itu beda.”
“Sama saja. Kau tetap manusia. Manusia penuh kelemahan. Dan kelemahan itu makanan terbaikku.”
Shen Yi menghela napas panjang. Dia tahu suara itu benar sebagian. Dia masih manusia—bukan dewa teratai sempurna seperti yang dulu. Dia masih bisa salah, masih bisa takut, masih bisa gagal. Tapi itu juga yang membuatnya berbeda dari Xue Han. Xue Han tak pernah terima kelemahan. Xue Han ingin abadi karena takut mati. Shen Yi… ingin hidup karena ingin bersama Lian'er.
Dia melangkah ke dalam danau. Airnya hangat sekarang, seperti pelukan teratai asli. Dia berenang pelan ke tengah, menuju teratai raksasa. Saat tangannya menyentuh kelopak emas lagi, cahaya meledak lembut—bukan untuk serang, tapi untuk bicara.
Wanita tua penjaga teratai muncul lagi dari cahaya, sosoknya samar tapi hangat.
“Kau sudah bersihkan sebagian besar noda,” katanya lembut. “Tapi sisa itu… tak bisa kau bersihkan dengan kekuatan. Itu harus kau lepaskan dengan hati. Saat kau benar-benar terima bahwa kau boleh lemah, boleh gagal, boleh tak sempurna… saat itu noda akan hilang selamanya.”
Shen Yi mengangguk pelan. “Aku sedang belajar. Tapi aku takut waktu habis sebelum aku selesai belajar.”
Wanita tua itu tersenyum. “Pulau ini memberi waktu. Tapi musuh luar sudah dekat. Adik Xue Han datang. Dia akan coba ambil tubuhmu dari luar. Kalau dia berhasil noda di dalammu akan bangkit lagi.”
Shen Yi menatap ke arah kabut di sekitar danau. “Aku tahu. Aku rasakan dia. Lan Xue… dia datang untuk kakaknya.”
Wanita tua itu mengangguk. “Dia datang dengan cinta yang sama dinginnya seperti kakaknya. Cinta yang jadi dendam. Kalau kau lawan dia dengan kekuatan, kau akan kalah. Lawan dia dengan apa yang kakaknya tak pernah punya: pengertian.”
Shen Yi diam lama. Lalu dia mengangguk. “Aku akan coba. Terima kasih… penjaga.”
Wanita tua itu menghilang ke dalam cahaya teratai. Shen Yi kembali ke tepi danau, botol Air Teratai Murni di tangan. Dia duduk, menunggu.
Tak lama kemudian, kabut di tepi danau bergerak lagi. Sosok Lan Xue muncul—rambut putihnya berkibar, matanya merah menyala, simbol teratai hitam di dadanya berdenyut seperti jantung hidup.
Dia berjalan pelan ke arah Shen Yi, pisau es hitam di tangan.
“Kau sudah di sini,” katanya dingin. “Tubuh yang membunuh kakakku. Tubuh yang sekarang jadi rumah kakakku.”
Shen Yi bangkit pelan, tak menarik senjata. “Aku tahu kau datang untuk kakakmu. Aku tahu kau sayang padanya. Aku… juga punya orang yang kusayang. Aku paham rasa itu.”
Lan Xue berhenti. Matanya menyipit. “Jangan pura-pura paham. Kau yang bunuh dia. Kau yang ambil inti es hitamnya. Kau yang bikin aku sendirian.”
Shen Yi menggeleng pelan. “Aku nggak bunuh kakakmu. Kakakmu pilih mati untuk lindungi kau. Dia pilih gagal ritual supaya kau selamat. Aku cuma yang ada di sana saat itu. Aku nggak pernah mau bunuh dia.”
Lan Xue mengangkat pisau esnya. “Bohong. Kau lawan dia. Kau hancurkan dia.”
Shen Yi maju satu langkah. “Benar. Aku lawan dia karena dia mau hancurkan dunia. Tapi aku paham kenapa dia lakukan itu. Dia takut kehilangan kau. Dia mau jadi kuat supaya kau aman. Aku juga takut kehilangan Lian'er. Aku juga mau jadi kuat untuk dia. Kita sama.”
Lan Xue tertawa getir. “Sama? Kau punya dia. Kau punya rumah. Kau punya orang yang sayang kau. Aku… cuma punya kakak yang sudah mati. Dan sekarang… kakakku ada di dalam tubuhmu. Aku akan ambil dia kembali. Bahkan kalau harus bunuh kau.”
Shen Yi menggeleng. “Kau nggak perlu bunuh aku. Kakakmu… dia sudah pergi. Yang ada di dalamku sekarang cuma sisa dendamnya. Bukan kakakmu yang dulu—yang bawa selimut hangat untukmu, yang janji lindungi kau selamanya.”
Lan Xue tersentak. Pisau es di tangannya bergetar. “Kau tahu dari mana?”
Shen Yi menatapnya lembut. “Aku tahu karena aku juga punya orang yang kusayang. Aku tahu rasa takut kehilangan. Kakakmu… dia sayang kau lebih dari apa pun. Dia pilih mati supaya kau hidup. Kalau kau ambil tubuhku sekarang, kau bukan selamatkan kakakmu. Kau cuma buat dendamnya hidup lagi. Kau akan jadi seperti dia—dingin, sendirian, penuh es.”
Lan Xue diam lama. Matanya berkaca-kaca—bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang sudah lama terkubur.
“Aku… cuma mau kakak kembali,” bisiknya. “Aku sendirian selama sepuluh tahun. Aku latihan, aku bunuh, aku jadi seperti ini… cuma untuk kakak.”
Shen Yi maju pelan. “Aku tahu. Tapi kakakmu nggak mau kau jadi seperti ini. Dia mau kau hidup. Bukan hidup untuk dendam. Hidup untuk ingat dia dengan baik.”
Lan Xue menunduk. Pisau es di tangannya mulai mencair pelan. Simbol teratai hitam di dadanya berdenyut lemah.
“Aku… tak tahu lagi harus apa.”
Shen Yi mengulurkan botol Air Teratai Murni. “Minum ini. Satu tetes saja. Itu bisa bersihkan es hitam di tubuhmu. Kau bisa mulai lagi. Tanpa dendam. Tanpa dingin.”
Lan Xue memandang botol itu. Lalu memandang Shen Yi. “Kenapa kau kasih aku? Aku mau bunuh kau.”
Shen Yi tersenyum kecil. “Karena aku tahu rasa kehilangan. Dan aku tahu… kakakmu pasti mau kau bahagia. Bukan jadi seperti dia.”
Lan Xue ragu. Lalu dia mengambil botol itu dengan tangan gemetar. Dia meneteskan satu tetes ke lidahnya.
Cahaya putih lembut menyebar dari tubuhnya. Es hitam di dadanya retak, simbol teratai hitam memudar. Rambut putihnya mulai kembali ke warna asli—hitam pekat seperti dulu. Matanya merah memudar jadi cokelat hangat.
Dia jatuh berlutut, menangis pelan—tangis yang sudah lama tertahan.
Shen Yi berlutut di depannya. “Kau nggak sendirian lagi. Kalau mau… ikut kami pulang. Ada gubuk kecil di gunung. Ada danau teratai. Ada orang-orang baik.”
Lan Xue menatapnya. “Kenapa kau baik padaku?”
Shen Yi tersenyum. “Karena aku tahu kakakmu sayang kau. Dan aku mau hormati itu.”
Lan Xue diam lama. Lalu dia mengangguk pelan. “Aku akan coba.”
Saat itu, kabut di sekitar danau bergerak lagi. Lian'er muncul dari kabut, diikuti Xiao Feng dan Shi Jun. Lian'er berlari ke Shen Yi, memeluknya erat.
“Kau baik-baik saja?”
Shen Yi memeluk balik. “Aku bersih. Dan kita punya tamu baru.”
Lian'er menoleh ke Lan Xue. Matanya waspada, tapi tak marah.
Lan Xue bangkit pelan. “Aku nggak akan lawan kalian lagi. Aku cuma mau memulai hidup baru.”
Xiao Feng mengangkat alis. “Wah, villain jadi teman? Cerita ini semakin aneh.”
Shi Jun tersenyum tipis. “Mungkin ini yang dimaksud pulau. Bukan cuma bersihkan noda luar. Tapi bersihkan dendam di hati.”
Shen Yi memandang Lan Xue. “Pulang bersama kami?”
Lan Xue mengangguk pelan. “Iya. Untuk kakakku… dan untuk aku sendiri.”
Mereka berlima berjalan keluar dari danau. Kabut pulau membuka jalan dengan lembut.
Di luar, kapal menunggu. Pulang ke rumah, ke gubuk kecil, ke danau teratai, ke kehidupan yang sederhana tapi penuh cinta.
Dan di hati mereka semua, teratai mekar lagi. lebih indah, karena sudah melewati kegelapan dan memilih cahaya.