"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25
Suara sirine ambulans yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti alarm ancaman bagi Alkan. Dalam waktu kurang dari satu jam setelah peretasan data medis terdeteksi, Alkan telah memaksa pihak rumah sakit melakukan prosedur discharge darurat. Dengan bantuan kontak keamanan dari Imperial College, sebuah SUV hitam dengan kaca antipeluru sudah menunggu di pintu belakang rumah sakit.
"Mas, kita mau ke mana lagi? Kenapa buru-buru?" Sasya bertanya dengan suara parau, tubuhnya yang masih lemah dibalut jaket bulu tebal oleh Alkan.
"Kita pindah ke tempat yang lebih pribadi, Sayang. Di sini terlalu bising," jawab Alkan singkat sembari menggendong Sasya masuk ke dalam mobil. Ia tidak ingin Sasya tahu bahwa "bising" yang dimaksud adalah kehadiran mata-mata digital yang sudah membedah privasi medisnya.
Mobil melaju cepat meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota London, menuju ke arah Greenwich. Mereka berhenti di sebuah bangunan bergaya mews house tua yang tampak biasa dari luar, namun di dalamnya telah terpasang teknologi keamanan tingkat militer. Ini adalah Safe House milik jaringan riset strategis Inggris.
"Selamat datang di Rumah kita, Sasya," ujar Alkan saat mereka memasuki apartemen yang hangat dengan perapian yang menyala otomatis.
Alkan segera memeriksa setiap sudut. Ia mengaktifkan alat jammer sinyal di ruang tamu agar tidak ada penyadap yang bisa masuk. Baginya, rumah ini adalah sandbox—ruang isolasi di mana virus apa pun tidak akan bisa menyentuh istrinya.
Setelah Sasya beristirahat dan meminum vitaminnya, suasana menjadi sangat hening. Sasya duduk di depan perapian, menyelimuti dirinya dengan kain wol. Ia menatap Alkan yang sedang sibuk memasang kabel-kabel pengaman di pintu utama.
"Mas... sampai kapan kita harus lari seperti ini?" tanya Sasya lirih. "Aku merasa kita seperti buronan, padahal Mas cuma seorang Profesor."
Alkan menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Sasya. "Kita tidak lari, Sya. Kita sedang mengatur ulang strategi. Mas tidak akan membiarkan mereka menang hanya karena mereka punya akses ke kabel internet."
Alkan menggenggam tangan Sasya, merasakan kehangatan yang mulai kembali ke kulit istrinya. Ketegangan yang ia bawa dari rumah sakit tadi perlahan mencair saat menatap wajah Sasya yang lelah namun tetap tegar. Ia menarik Sasya ke dalam pelukannya, mencium pundaknya dengan penuh rasa bersalah sekaligus kasih sayang yang meluap.
Di depan nyala api perapian yang menari-nari, Alkan mulai mencumbu Sasya dengan intensitas yang lebih dalam. Sentuhannya malam ini terasa seperti cara ia mengklaim kembali otoritas atas hidup mereka. Ia mencium Sasya dengan panas, seolah ingin membakar semua rasa takut yang menyelimuti istrinya sejak mendarat di Heathrow.
Meskipun Sasya masih dalam kondisi harus berhati-hati, kebutuhan mereka untuk saling merasakan keberadaan satu sama lain menjadi tak terbendung. Alkan memperlakukan Sasya dengan sangat takzim, memastikan setiap inci kulit istrinya merasa dilindungi. Penyatuan mereka di rumah aman itu bukan sekadar pelepasan gairah, melainkan sebuah ritual "enkripsi" jiwa—memastikan bahwa tidak peduli seberapa canggih teknologi musuh, mereka tidak akan pernah bisa memecahkan kode cinta yang menyatukan keduanya. Panas yang menjalar di antara mereka menjadi satu-satunya pelindung yang nyata dari dinginnya musim dingin London yang mencekam.
Pukul 03.00 dini hari. Saat Sasya telah tertidur lelap dengan napas yang teratur, Alkan duduk di depan tiga monitor yang menyala terang di ruang kerja kecil apartemen tersebut.
Ia tidak lagi menunggu.
Alkan mengeksekusi perintah yang selama ini ia simpan: "Project Retaliation". Ia mengirimkan paket data raksasa berisi enkripsi sampah ke server lawan, namun di dalamnya terselip sebuah kode yang akan mengaktifkan kamera laptop dan ponsel siapa pun yang pernah mencoba meretas datanya.
Satu per satu, wajah muncul di layar Alkan. Ia merekam mereka. Beberapa di antaranya adalah wajah yang ia kenali—orang-orang yang memiliki posisi tinggi di perusahaan teknologi multinasional.
"Kalian membuat kesalahan besar dengan menyentuh keluarga saya," Alkan tersenyum dingin.
Ia menekan tombol Enter. Seluruh bukti keterlibatan mereka dalam spionase industri dan ancaman terhadap warga sipil terkirim secara otomatis ke server Scotland Yard, Interpol, dan BIN di Jakarta.
Alkan menutup laptopnya. Ia berjalan kembali ke kamar, merebahkan diri di samping Sasya, dan untuk pertama kalinya sejak berangkat dari Jakarta, ia bisa memejamkan mata dengan tenang. Musuh-musuhnya kini sedang sibuk menghadapi "kematian" karier dan hukum mereka sendiri.