NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: tamat
Genre:Horor / Selingkuh / Dendam Kesumat / Tamat
Popularitas:244.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Tanah

Bus malam yang membawa Ratih kembali ke Jakarta terasa seperti peti mati yang meluncur di atas aspal. Di dalam sana, Ratih duduk terdiam, memeluk tas ranselnya erat-erat. Di dalam tas itu, terbungkus kain hitam, terdapat segenggam tanah merah dari lereng gunung yang telah dimantrai oleh Mbah Suro. Tanah itu terasa dingin, seolah-olah membawa hawa kematian yang merambat hingga ke jemari Ratih.

Sepanjang perjalanan, Ratih tidak tidur. Ia menatap lampu-lampu jalan yang berkelebat, memikirkan betapa ironisnya hidup ini. Beberapa bulan lalu, ia melewati jalan yang sama dengan hati penuh bunga, membayangkan masa depan sebagai seorang istri. Kini, ia kembali sebagai pembawa petaka. Tidak ada lagi air mata; air matanya sudah mengering di gubuk Mbah Suro, digantikan oleh kerak dendam yang keras dan hitam.

Sesampainya di terminal bus Jakarta pada dini hari, Ratih tidak langsung menuju kontrakan lamanya. Ia tahu Bimo mungkin masih berada di sana, atau setidaknya ia tahu di mana ia tinggal. Ratih butuh tempat baru sebuah markas di mana ia bisa menjadi penonton dari barisan terdepan tanpa terlihat.

Dengan sisa uang dari Bu Sofia, Ratih menyusuri gang-gang sempit di daerah pemukiman padat tempat Bimo tinggal. Beruntung bagi Ratih, kawasan itu adalah hutan beton yang penuh dengan papan "Terima Kos". Ia menemukan sebuah kamar sewa kecil di lantai dua sebuah bangunan tua yang posisinya sangat strategis: jendela kamarnya menghadap langsung ke arah kamar pintu kontrakan Bimo.

"Saya ambil sebulan, Bu," kata Ratih pada pemilik kos sambil menyerahkan beberapa lembar uang merah.

"KTP-nya mana, Mbak?" tanya ibu pemilik kos.

"Tertinggal di kampung, Bu. Besok dikirim lewat paket. Ini uang jaminannya," jawab Ratih datar. Ia tidak ingin meninggalkan jejak identitas apa pun.

Setelah mendapatkan kunci, Ratih masuk ke kamar sempit itu. Isinya hanya kasur busa tipis dan satu lemari kayu lapuk. Namun bagi Ratih, kamar ini adalah surga. Dari balik gorden yang kumal, ia bisa melihat motor Bimo terparkir di bawah lampu jalan yang remang-remang.

"Nikmati sisa waktumu, Bimo. Sebentar lagi, dunia ini akan terasa terlalu sempit untukmu," bisik Ratih, suaranya parau dan dingin.

Pukul dua dini hari, saat Jakarta mulai sedikit mereda dari bisingnya, Ratih bersiap. Ia mengenakan jaket bertudung hitam dan masker. Di sakunya, ia menggenggam kain hitam berisi tanah merah lereng gunung. Ia keluar dari kamarnya dengan langkah seringan kucing, menuruni tangga besi yang berderit, lalu menyelinap ke dalam kegelapan.

Ia berdiri di depan pintu kontrakan Bimo. Dari dalam, sayup-sayup terdengar suara tawa Bimo dan suara musik yang diputar kencang. Ratih bisa mencium bau alkohol yang menguar dari celah pintu. Hatinya berdenyut nyeri sejenak, mengingat betapa seringnya ia memaafkan Bimo yang pulang dalam keadaan mabuk dengan alasan "tuntutan klien".

Ratih berjongkok. Dengan tangan gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang memuncak ia membuka kain hitam itu. Tanah merah itu tampak berkilat di bawah cahaya lampu jalan yang redup, seolah-olah bernapas.

Mbah Suro pernah berpesan: "Taburkan secara melintang, searah jarum jam, dan sebutkan namamu sebagai orang yang memintanya."

Ratih mengikuti setiap instruksi itu dengan saksama. Ia menaburkan tanah merah itu tepat di ambang pintu, tempat yang pasti akan dilangkahi Bimo saat ia keluar besok pagi.

"Demi keringat yang kau curi, demi air mata yang kau tertawakan, dan demi nyawa yang kau injak-injak... terimalah ini, Bimo," desis Ratih. "Mulai saat ini, setiap langkahmu adalah menuju pembusukan."

Begitu butiran terakhir tanah itu menyentuh bumi, sebuah angin dingin tiba-tiba berhembus kencang di sekitaran situ, membuat sampah-sampah plastik beterbangan dan tanah yang Ratih tebar juga sedikit berterbangan,tapi menyimpan pola yang sudah di bentuk sebelumnya.Ratih merasa bulu kuduknya berdiri. Ia merasa seolah-olah ada ribuan mata yang kini sedang mengawasi pintu itu dari alam gaib.

Ia segera bangkit dan kembali ke persembunyiannya. Di dalam kamar kosnya, Ratih duduk di depan jendela, menunggu fajar. Ia tidak ingin melewatkan momen saat Bimo melangkahi jebakan itu.

Pukul tujuh pagi, pintu kontrakan Bimo terbuka. Bimo keluar dengan kemeja kantor yang licin, rambut yang disisir rapi ke belakang, dan aroma parfum yang menyengat hingga tercium ke lantai dua. Ia tampak sangat segar, seolah lepasnya dari Ratih adalah suplemen bagi energinya.

Ratih menahan napas di balik gorden.

Bimo melangkah. Satu kaki... dua kaki... ia melangkahi taburan tanah merah itu tanpa curiga sama sekali. Baginya, itu mungkin hanya debu jalanan yang terbawa angin.

Sesaat setelah Bimo melangkah, Ratih melihat sesuatu yang aneh. Bayangan Bimo di aspal seolah bergetar hebat selama satu detik, lalu kembali normal. Bimo sempat berhenti sebentar, menggaruk selangkangannya dengan wajah bingung, namun kemudian ia melanjutkan langkah menuju motornya.

"Selesai," gumam Ratih. Sebuah senyuman puas terukir di wajahnya yang kusam. "Kutukannya sudah masuk ke dalam darahmu, Bimo."

Hari-hari berikutnya, Ratih menjalani hidupnya sebagai bayangan. Ia tidak lagi bekerja sebagai buruh cuci. Ia menggunakan sisa uangnya dengan sangat hemat, hanya makan nasi bungkus sekali sehari.Padahal uang yang diberikan Bu Sofia masih sangat banyak. Fokus hidupnya hanya satu: mengawasi Bimo.

Setiap pagi ia melihat Bimo berangkat dengan gagah, dan setiap sore ia melihat Bimo pulang, seringkali membawa minuman.

Minggu pertama berlalu. Perubahan mulai terlihat.

Suatu sore, Ratih melihat Bimo pulang lebih awal dari biasanya. Pria itu tidak lagi berjalan dengan tegak. Langkahnya tampak kaku, tangannya terus-menerus membetulkan posisi celananya. Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak sedikit pucat dan berkeringat.

Ratih mengikuti Bimo ke sebuah warung kelontong. Ia berdiri di balik rak dagangan, mendengarkan Bimo bicara pada penjaga warung.

"Bang, ada salep gatal nggak? Yang paling ampuh?" tanya Bimo, suaranya terdengar gelisah.

"Gatal kenapa, Mas? Kena ulat bulu?" tanya penjaga warung.

"Nggak tahu, Bang. Gatalnya aneh. Rasanya seperti ada yang merayap-rayap di dalam kulit, tapi pas dilihat nggak ada apa-apa. Terus rasanya panas banget kalau digaruk," jawab Bimo sambil sesekali meringis menahan sakit di area selangkangannya.

Ratih yang mendengarnya nyaris tertawa keras di balik rak. Itu bukan ulat bulu, Bimo. Itu ulat sengkolo milik Mbah Suro, batinnya.

Malam itu, dari jendela kosnya, Ratih melihat lampu di kamar Bimo menyala hingga subuh. Ia bisa melihat bayangan Bimo di gorden yang bergerak-gerak gelisah, mondar-mandir seperti orang gila. Suara erangan kecil sesekali terdengar saat suasana gang sedang sepi.

Kutukan itu sedang bekerja. Ulat-ulat gaib itu mulai menetaskan larva mereka di dalam jaringan daging Bimo. Mereka belum makan, mereka hanya sedang bersiap. Mereka menunggu satu pemicu: hasrat seksual Bimo yang meluap. Mbah Suro sudah menjelaskan bahwa santet ini bertenaga nafsu. Semakin besar nafsu Bimo, semakin besar energi bagi ulat-ulat itu untuk berpesta.

Ratih duduk di kursinya, menyeruput kopi hitam yang sudah dingin. Ia merasa sangat tenang. Segala rasa sakit hati yang ia rasakan selama bertahun-tahun seolah terbayar hanya dengan melihat Bimo mulai menggaruk-garuk dirinya sendiri dengan frustrasi.

"Ini baru permulaan, Sayang," bisik Ratih pada kegelapan. "Tunggu sampai kamu membawa salah satu wanita malammu ke tempat tidur. Saat itulah, kamu akan mengerti arti neraka yang sesungguhnya."

Ratih menutup gordennya perlahan. Ia akan tidur nyenyak malam ini, sementara ia tahu, Bimo tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi sepanjang sisa hidupnya. Balas dendam ini jauh lebih manis daripada pernikahan mana pun yang pernah ia mimpikan.

1
Argeymi Frananda Lestary
Dari semua cerita novel yg prnah qw baca, kyaknya cuma ini yg bisa bikin pembaca ikut deg"an pas perang gaib, dan bner" bnyak bgtt pljrannya, bner" bisa BKIN orang sadar klau d dunia cuma buat cari bekal d akhirat nanti , untuk authornya💪💪💪💪 semangat trus kk, qw tunggu novel selanjutnya
🔵🌹 Widian🧕
baca novel ini bikin emosi naik turun, luar biasa author nya .
Dengan bahasa dan deskripsi yang mudah dipahami, berasa kita menyaksikan sendiri.
Semangat berkarya Thor /Good//Good//Good//Good/
🔵🌹 Widian🧕
wahh....bagus sekali cerita nya, di bagian endingnya, aku sampe nangis karena perjuangan dan jalan taubat Ratih yang penuh rintangan.
keren Thor 👍👍👍
Halwah 4g: terimakasih kka
total 1 replies
🔵🌹 Widian🧕
aku kagum dengan sosok Ratih, perempuan lemah yang dulu menyimpan dendam ,kini sudah menemukan jalan Nya.
moga kedepannya Ratih selalu Istiqomah dan bahagia dengan jodoh yg sudah Allah siapkan.
Srikandi Dewi Larasati
banyak komentar yg menyudutkan Ratih.. meski dia adalah korban.. dan aq bisa memaklumi hingga diriny mmpunyai dendam terhadap Bimo.. karena sikapny terhadap Ratih sdah sangat keterlaluan.. Jika bnyak yg komentar Ratih bodoh karena terlalu percaya pada Bimo.. yaa, wajarlah.. jika lagi bucin sperti kalian jga jika bertemu dgn cwo cakep dan terlihat tajir..
sekarang yg tobat justru Ratih.. yg kalian sdutkan.. bukan Bimo yg kalian anggap kasihan gara2 perilaku Ratih.. Itu yg di sebut karma.. apa yg mereka tanam.. itu juga yg kelak mereka petik hasilnya.. dan itu jga yg di sebut hukum semesta.. atau sebab akibat yg tidak bisa terbantahkan..
Halwah 4g: namnya juga pelajaran hidup ka..hehehehehe.. makasih ya ka...buat komennya
total 1 replies
Srikandi Dewi Larasati
fitnah memang sangatlah keji dan kejam.. dan penulisnya bikin yang baca jadi geram sendiri.. itulah penulis terbaik.. yg bisa membuat pembacanya ikut larut ke dalam ceritanya.. sukses selalu..
Fadhliyah
aku sangat terharu thor😥😭. beneran
selama ini merasa jadi orang yg paling menderita. hidup sendiri di usia tua. dan apa apa selalu minta sama Allah. aku sadar ibadahku masih kurang🥲
Halwah 4g: peluk jauh kka sayang...kka hebat selalu menjadikan Allah sebagai tempat sandaran satu satunya..
total 1 replies
Widia Cupu
plongh rasanya
Widia Cupu
akirnya
Widia Cupu
udah lah Bimo tobat o lee kasian juga
Widia Cupu
lagi2ratih jadi korban
Srikandi Dewi Larasati
kirain tulus tobat.. trnyata...
Srikandi Dewi Larasati
Kadang hati seorang pendendam akan puas bila melihat orang yg telah menyakitinya sdah tersiksa oleh penderitaan hingga lupa diri dan menjadi sombong.. dan kesombongan itu justru adalah sifat dasar iblis..
jadi jgan heran jika orang sombong itu biasanya perilakukannya jga kek iblis.. tak punya rasa iba lgi.. seperti Ratih..
Srikandi Dewi Larasati
ini yang di sebut hukum sebab akibat..
Bimo menjadi seperti itu pasti ada sebab.. dan apapun kejahatan pasti ada timbal balik yang harus di terima.. dan itu adalah hukum karma..
Tak ada kejahatan akan berbuah manis bukan.. jadi seperti itulah hukum alam bekerja..
Rhea Kim
😭kereennmn ceritanyaaa

tapi yg bunuh rani, bunuh anak pak kades.bunuh sinden....
belum terungkap ke polisi yak... jasadnya rani belum ketemu...

bang aryaa.... jugaaaa kagak ketemu ketemu🤣🤣🤣... nyasar kali yakkk...

tapi bagusss jalan ceritanya.... pilihan katanya baguss.... jadi nyaman membacanya🥰🥰🥰
Rhea Kim: iyaa bagusss ceritanya kakak.... 🔥🔥🔥🥰🥰
total 2 replies
Rhea Kim
ceritanyaaaa baguss bangett kakak🥰🥰🥰🥰
Rhea Kim
Alhamdulillah... ikut lega😭😭😭
sunardi imogiri
mungkin itu yg di sebut menyimpan bangkai serapat mngkin.. tpi akhirnya tetap baunya akan trcium jga..
Rhea Kim
syariiiiiiee
kadang insting ortu itu bener lo
Rhea Kim
ya Allah nagiss aq ... kayak terhanyut kasian gtu ama orang2 yg baik ...

cobaan nya g main2...
Halwah 4g: hehehehhehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!