NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan Yang Menyakitkan

​Kantin kampus menjadi saksi bisu dari pertunjukan paling menyakitkan yang pernah ada.

Max duduk di mejanya, mencoba fokus pada laptop, namun matanya terus-menerus terangkat ke arah Guzzel. Gadis itu, yang kini berpenampilan sangat jauh dari citra Delisa Guzzalie Dante yang anggun, duduk di meja seberang dengan pakaian yang minim, membiarkan tatapan lapar para mahasiswa mengelilinginya.

​Kali ini, Guzzel tidak hanya sekadar memprovokasi. Dia berjalan mendekati meja Max, langkahnya sengaja dibuat genit, sorot matanya yang dulu polos kini penuh dengan kepahitan yang disamarkan. Danesh yang duduk di sebelah Max sudah merasakan aura bahaya.

​Max pura-pura tidak melihat, jemarinya terus mengetik, meskipun otaknya tidak bisa memproses satu kata pun.

​Dengan gerakan yang sangat berani dan menantang, Guzzel tiba-tiba menaikkan kedua kakinya ke atas meja Max, menyilangkan pergelangan kakinya tepat di atas buku-buku pria itu. Rok mini yang ia kenakan sontak tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya.

Wajahnya begitu dekat dengan wajah Max, bibir merah menyalanya membentuk senyuman sinis.

​"Kenapa, Max? Kaget?" bisik Guzzel, suaranya parau, penuh dengan racun. "Atau kau terangsang melihat ini? Bukankah ini yang kau inginkan? Wanita yang murah dan mudah dijangkau untuk memuaskan rasa penasaranmu?"

​Max mendongak. Matanya yang dingin kini dipenuhi dengan gejolak emosi yang tak tertahankan. Dia menatap mata Guzzel, mencari sisa-sisa Lia di sana. Tapi yang ia lihat hanyalah cermin dari rasa sakit yang ia ciptakan sendiri. Max melihat betapa hancurnya Guzzel, betapa terlukanya gadis itu, dan semua itu adalah karena dirinya.

​Setetes air mata tiba-tiba mengalir di pipi Max, membelah topeng esnya. Ini bukan air mata kemarahan, tapi air mata kepedihan yang mendalam. Hatinya sakit melihat betapa jauhnya Guzzel berubah dari gadis yang dicintainya.

Perubahan itu adalah bukti nyata seberapa besar ia telah menghancurkan Guzzel.

​Danesh yang melihat air mata Max, sesuatu yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya terkejut.

Guzzel pun terpaku melihat Max menangis. Semua amarah dan dendamnya seolah luntur seketika.

​Max menepis kaki Guzzel dari mejanya, lalu berdiri. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dengan langkah cepat, dia menarik Guzzel keluar dari kantin yang seketika hening, menyeretnya ke mobilnya.

​Di dalam apartemen Max yang sunyi, tidak ada kata-kata. Hanya ada isak tangis Guzzel yang pecah, dan air mata Max yang tak berhenti mengalir. Max memeluk Guzzel dengan erat, membenamkan wajahnya di rambut Guzzel, meminta maaf tanpa suara.

​"Aku membencimu, Max," bisik Guzzel di tengah isak tangisnya. "Aku sangat membencimu."

​"Aku tahu," jawab Max, suaranya serak. "Aku tahu, Guzzel. Aku tahu."

​Malam itu, mereka melupakan segala dendam, segala sakit hati, dan segala alasan mengapa mereka saling menyakiti. Mereka kembali menjadi V dan Lia, dua jiwa yang saling membutuhkan, mencari pelipur lara dalam sentuhan.

​Max mencium Guzzel dengan keseriusan dan gairah yang membakar, seolah ingin menghapus semua kenangan buruk yang pernah ada. Dia menyatukan tubuh mereka dengan desakan yang putus asa, mencari pembenaran atas kebohongan yang telah ia lakukan. Max memuaskan Guzzel dengan setiap sentuhan, setiap ciuman, dan setiap desahan.

Dia menyentuh setiap jengkal kulit Guzzel dengan mulut dan jarinya, membiarkan gadis itu berteriak nikmat, membawa Guzzel ke puncak kebahagiaan berulang kali.

​Guzzel pun menyerah pada hasratnya, membalas setiap sentuhan Max dengan intensitas yang sama. Dia membiarkan Max membimbingnya ke nirwana, ingin melupakan sejenak bahwa pria ini telah menghancurkan hidupnya. Mereka saling menghibur dalam penyatuan yang panas dan penuh air mata, ingin menebus waktu yang hilang.

Guzzel merasa begitu dicintai, begitu diinginkan, hingga ia siap untuk tidur di sana, di pelukan Max, tanpa keluar dari kamar itu, lagi, untuk seminggu penuh. Dia yakin, kali ini, Max tidak akan meninggalkannya.

​Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden di apartemen Max. Guzzel terbangun, merasakan kehangatan di sisi tubuhnya. Dia tersenyum, mengulurkan tangannya untuk mencari Max. Namun, dia hanya merasakan kekosongan.

​Mata Guzzel terbuka lebar. Dia memanggil nama Max. Tidak ada jawaban.

​Jantung Guzzel berdegup kencang, perasaan panik yang sangat familiar itu kembali menyerang. Dia memeriksa kamar mandi, dapur, ruang tamu, semuanya kosong. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Max. Pakaiannya yang semalam berserakan di lantai, kini sudah terlipat rapi di kursi.

​Di atas meja samping tempat tidur, terdapat sebuah catatan kecil. Bukan tulisan tangan Max, melainkan tulisan tangan Guzzel sendiri. Itu adalah surat yang di tulis Guzzel, yang Max robek malam itu. Kini, surat itu disatukan kembali dengan rapi, direkatkan dengan selotip bening.

​Di bawahnya, Max menuliskan sebuah kalimat dengan tulisan tangannya.

​"Kau benar, Guzzel. Itu bukan cinta, itu kekuasaan. Sekarang, kau tahu bagaimana rasanya. Kita impas."

​Dunia Guzzel runtuh untuk kedua kalinya, lebih parah dari sebelumnya. Air matanya mengalir deras, membasahi surat yang ia genggam.

Max melakukan hal ini lagi padanya.

​Dan sekarang, hatinya yang sudah terluka itu terasa hampa, kosong, dan sangat sakit.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

happy reading 🥰😍🥰

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!