Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 : Bisikan Angin di Usia Satu Tahun.
Enam bulan di lembah tersembunyi.
Usiaku genap satu tahun, dan tubuh kecilku akhirnya punya kebebasan baru.
Dahulu aku hanyalah boneka hidup, tapi sekarang aku bisa merangkak cepat hingga Ibu hampir tersandung, berdiri sambil berpegangan pada meja atau pagar, bahkan mulai mengeluarkan suara-suara sederhana yang membuat semua orang di sekitarku terguncang dengan kebahagiaan bodoh mereka.
"Bu …. bu"
Itu kata pertamaku, diucapkan di pagi yang terang saat Ibu—Lin Mei—memberiku bubur hangat. Dia hampir menangis, ekspresinya meledak antara bahagia dan histeris. Lin Jie tersenyum penuh kepuasan, seolah berkata. Ya, anak ini memang luar biasa.
Kakak Yan, tentu saja, tertawa, dan kemudian menempelkan wajahnya ke pipiku, mengajarkanku kata berikutnya.
"Yu Yan."
"Ya … ya," ucapku dengan suara kecil, tapi penuh kemenangan.
Yu Yan segera memelukku erat, seperti baru saja memenangkan hadiah dunia. Aku tidak bisa menahan senyum malu dalam hati.
Ya, aku memang sudah mulai sadar, bahkan setahun saja, aku sudah bisa membuat para orang dewasa tunduk pada pesonaku.
Namun, kemajuan terbesar bukan pada kata-kata atau gerakanku.
Itu terjadi di dahiku.
Biji cahaya kecil yang dulu berkelap-kelip tak terkendali kini stabil sepenuhnya, seperti lampu minyak yang disetel dengan sempurna.
Setiap hari, aku berendam di mata air kehidupan, airnya sejuk, penuh Qi yang murni, dan berkilau seperti kristal biru kehijauan.
Ibu dan Bibi Jie mengajarkanku dasar-dasar pengendalian Qi, menarik partikel udara, membentuk pola sederhana, mengarahkan aliran energi.
Kini aku bisa melihat Qi.
Dan lebih dari itu, aku bisa berbicara dengannya. Lingkaran-lingkaran kecil cahaya keemasan menari di telapak tanganku, berputar dan berubah bentuk sesuai kehendakku.
"Kau belajar lebih cepat dari siapa pun dalam sejarah keluarga kita," kata Lin Jie suatu hari, matanya menyipit saat aku membentuk lingkaran cahaya yang memantul perlahan di udara.
Aku mengangkat alis kecilku. Sejarah keluarga mereka? Lucu, benar-benar lucu. Aku bahkan belum bisa bicara sempurna, tapi mereka sudah membuatku terdengar seperti legenda yang hidup.
Tapi seperti semua hal yang terlalu sempurna, ada perubahan lain yang datang bersamanya.
Mimpi.
Bukan mimpi buruk seperti dulu, tidak ada monster yang menjerit atau bayangan hitam. Ini mimpi aneh, pemandangan tempat yang tidak pernah kukunjungi, wajah yang tidak kukenal, suara-suara dalam bahasa yang terdengar kadang familiar tapi selalu menghilang saat aku mencoba mengingatnya.
Dan sejak seminggu terakhir, ada sesuatu yang baru … suara dalam angin.
Awalnya samar. Sesekali terdengar, hampir hilang di desau daun atau gemerisik rumput. Tapi semakin lama, semakin jelas, dan semakin … personal.
Suatu pagi, aku duduk di tepi mata air kehidupan, sendiri, tanpa bantuan, sesuatu yang dulu mustahil bagiku. Angin lembut membelai wajahku, membawa suara yang membuat bulu kudukku meremang:
"Penjaga ... bangun."
Aku menoleh. Tidak ada siapa pun. Hanya Yu Yan di kejauhan, menyiram tanaman, terlihat sangat tidak bersalah.
"Darah naga memanggil ..."
Suara itu lembut, feminin, tapi dipenuhi kesedihan kuno yang menembus ke dalam tulangku. Aku menelan ludah kecil, dan untuk pertama kalinya, tubuh kecilku merasakan campuran rasa takut dan penasaran yang tidak bisa diucapkan.
"Kamu baik-baik saja, Shen Yu?" Yu Yan mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran yang manis.
Aku mengangguk, tapi mataku tidak bisa berhenti mencari sumber suara itu. "Cuala …"
"Suara?" Yu Yan memandang sekeliling, jelas tidak mendengar apa pun. "Aku tidak mendengar apa-apa."
Ibu dan Lin Jie, yang sedang berdiskusi di teras rumah, juga tidak bereaksi.
Hanya aku yang mendengarnya.
Aku, bayi satu tahun, satu-satunya saksi pesan angin kuno. Dan meski tubuhku kecil, hatiku sudah mulai merasakan … ada sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, dan lebih penting menunggu.