NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas

Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering, padahal napasku sendiri terasa terlalu penuh di dada.

Bukan cuma jarak kami yang menyempit, tapi caraku memandang Arven juga ikut bergeser. Untuk sesaat, dunia terasa menyempit hanya sebatas sofa ini, album yang tergeletak terlupakan begitu saja di meja, dan tatapan Arven yang tidak lagi sepenuhnya tenang.

"Aku..." suaraku terdengar lebih pelan dari yang aku maksudkan. "Kamu aneh hari ini."

Dia tidak tersenyum, dia tidak juga bercanda balik seperti biasanya.

"Aku selalu kayak gini," katanya pelan. "Kamu aja yang baru mulai lihat."

Kalimat itu membuat dadaku bergetar halus, entah kenapa. Tangannya masih di pinggangku.

Tangan itu tidak bergerak, cukup untuk membuatku sadar akan keberadaannya. Aku bisa saja mundur, aku tahu itu. Tapi kakiku tidak bergerak. Tubuhku tidak memberi perintah untuk menjauh.

Sebaliknya, aku malah menarik napas pelan dan membiarkan jarak itu tetap ada.

"Ven," aku memanggil namanya, lebih lembut kali ini. "Kamu nggak harus kayak gini."

"Kayak gimana?" tanyanya lirih.

"Kayak....takut kalah sama seseorang yang bahkan cuma ada di foto."

Matanya mengeras sedikit, "Aku nggak takut sama dia," katanya. "Aku takut kehilangan kamu."

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa nada bercanda, dan aku membencinya bukan karena kata-katanya salah, tapi karena dadaku langsung terasa sesak setelah mendengarnya.

Aku memalingkan wajah sedikit, mencoba mengatur napas. "Kamu nggak akan kehilangan aku."

"Gimana kamu bisa yakin?" tanyanya cepat. "Kamu sendiri bahkan nggak yakin sama ingatan kamu."

Aku terdiam.

Ada bagian dari diriku yang kosong, dan aku hidup di sela-sela lubang itu setiap hari. Dan Arvenm...Arven selalu ada di sana, menutupinya, menahannya supaya aku tidak jatuh terlalu dalam.

Aku menoleh lagi ke arahnya.

"Aku di sini," kataku pelan. "Sekarang. Sama kamu."

Tanganku terangkat tanpa sadar, menyentuh lengannya. Tatapan Arven melembut sedikit, tapi cemburu itu belum sepenuhnya padam. Seperti api kecil yang masih menyala.

"Kalau aku cium kamu," katanya pelan, hampir seperti bertanya pada dirinya sendiri, "kamu bakal menjauh nggak?"

Pertanyaannya membuat jantungku berdetak terlalu cepat. Aku tidak langsung menjawab. Aku butuh beberapa detik untuk jujur pada diriku sendiri.

Aku takut.

Aku takut pada perasaan hangat yang muncul setiap kali dia mendekat. Takut betapa mudahnya aku merasa aman di dekatnya. Takut karena aku tidak tahu apakah perasaan ini benar-benar milikku, atau hanya sesuatu yang tumbuh di atas ingatan yang hilang.

Tapi saat aku menatap matanya, mata yang menungguku, bukan memaksaku aku tahu satu hal.

Aku tidak ingin menjauh.

"Aku...." aku menghela napas. "Aku nggak mau kalau kamu cuma nyium aku karena cemburu."

Alisnya berkerut. "Terus?"

"Kalau kamu mau," lanjutku pelan, jujur. "Lakuin karena kamu pengen. Bukan karena takut kalah sama foto."

Arven menatapku lama, seolah kata-kataku baru saja menyingkap sesuatu di dalam dirinya. Tangannya di pinggangku sedikit mengendur, lalu naik perlahan ke punggungku, sentuhannya lebih hati-hati dari sebelumnya.

"Aku pengen," katanya akhirnya. Suaranya rendah, tapi tenang. "Aku selalu pengen."

Dadaku menghangat, jantungku berdebar keras, tapi kali ini bukan panik.

"Ren," katanya lagi, memanggil namaku seperti sesuatu yang berharga. "Kalau kamu nggak nyaman, bilang."

Aku mengangguk kecil. Jari-jariku mencengkeram ringan kausnya, mencari pegangan.

"Pelan aja," bisikku.

Ia mendekat sedikit demi sedikit, memberi waktu bagiku untuk berubah pikiran. Tapi aku tidak berubah. Aku justru menutup mata saat jarak itu benar-benar hilang.

Tapi yang menyentuhku bukan bibirnya.

Ciuman ringan mendarat di dahiku.

Singkat dan terasa hangat

Aku membuka mata refleks dan mendapati Arven tertawa kecil, napasnya terdengar lega, seperti baru saja memenangkan permainan kecilnya sendiri.

"Ven!-" protesku setengah kesal, setengah bingung.

Belum sempat aku menuntaskan kalimat, jarinya mencubit pipiku pelan.

"Kamu lucu," katanya sambil tersenyum miring, "kalau lagi tegang."

Pipiku langsung panas. Aku menepis tangannya, tapi tidak benar-benar keras.

"Jahat," gumamku. "Aku kira kamu beneran-"

"Kamu kira apa?" potongnya cepat, matanya berkilat nakal.

Aku terdiam. Rasanya malu sekaligus kesal. Jantungku masih berdegup kencang, sisa-sisa ketegangan yang belum sempat turun.

Arven tertawa kecil lagi, lalu mendekat sedikit, kali ini hanya untuk menyandarkan keningnya ke keningku.

"Aku nggak mau bikin kamu kaget," katanya lebih pelan. "Aku cuma mau lihat reaksi kamu."

"Dan reaksiku lucu?" tanyaku datar.

"Banget," jawabnya tanpa ragu.

Aku mendengus, tapi senyum kecil lolos begitu saja. Dadaku yang tadi tegang perlahan melonggar. Ada rasa hangat yang aneh bukan karena ciuman, tapi karena caranya berhenti tepat sebelum melampaui batas.

Tangannya turun, menyelipkan rambutku ke belakang telinga dengan lembut.

"Tenang," katanya pelan. "Aku nggak akan melebihi batas kok."

Dan entah kenapa, kali ini aku mempercayainya tanpa banyak berpikir. Aku mendengus pelan, masih setengah kesal, setengah malu. Pipiku masih terasa hangat bekas cubitannya.

"Kamu nyebelin," gumamku.

"Tapi kamu senyum," balasnya ringan.

Aku refleks menahan senyum itu, tapi terlambat. Sudut bibirku sudah lebih dulu berkhianat. Arven melihatnya dan tersenyum kecil, puas, seolah memang itu yang dia tunggu.

Aku menunduk, menatap tanganku sendiri di pangkuan. Jantungku masih belum sepenuhnya tenang. Ada bagian dari diriku yang anehnya merasa sedikit...kecewa. Perasaan itu muncul samar-samar, lalu membuatku merasa bersalah karenanya.

Kenapa aku berharap lebih?

Aku menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran itu. Aku tidak mau terlalu jauh membaca perasaanku sendiri. Tidak sekarang. Terlalu banyak hal lain yang belum selesai di kepalaku.

Pandangan mataku tanpa sadar melirik ke meja. Ke album yang tergeletak tertutup, ke paper bag cokelat yang sejak tadi seolah memanggil-manggil namaku.

Hangat di dadaku perlahan berubah jadi sesak lagi.

Maya.

Senyum cerianya di foto-foto tadi mendadak terasa seperti tamparan halus. Dia tertawa begitu lepas di masa lalu, sementara kenyataannya sekarang...dia sudah tidak ada. Dan aku bahkan tidak sempat menemuinya lagi.

"Ven," panggilku pelan.

"Hm?"

"Aku masih kepikiran soal maya."

"Kamu masih mikirin itu?" tanyanya lembut.

"Iya," jawabku jujur. "Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya nggak pas. Maya bukan tipe orang yang ninggalin janji gitu aja. Dia cerewet. Ribet. Kalau ada apa-apa, dia pasti cerita."

"Tapi aku juga takut," lanjutku lirih. "Takut kalau ini cuma karena kepalaku masih kacau."

Arven menatapku lama.

"Kamu capek," katanya akhirnya. "Kamu baru kehilangan teman. Wajar kalau pikiran kamu ke mana-mana."

Nada bicaranya tenang, dan masuk akal. Dan justru itu yang membuat dadaku semakin berat.

"Aku cuma pengen jawaban," kataku pelan. "Bukan buat nyakitin siapa pun. Aku cuma...nggak mau Maya hilang begitu aja. Kayak dilupain."

Ia menghela napas pelan, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Kepalaku bersandar ke dadanya, tepat di tempat yang selalu terasa aman.

"Aku ngerti," katanya lembut, sambil mengusap punggungku. "Tapi nggak semua jawaban harus dicari sekarang."

Aku memejamkan mata. Detak jantungnya terdengar stabil di telingaku. Detak jantungnya benar-benar membuatku tenang Tapi di balik ketenangan itu, malah pikiranku justru makin berisik.

"Ven," bisikku, nyaris tak terdengar. "Kalau aku tetap maksa nyari kebenarannya kamu bakal tetap di sisiku, kan?"

Tangannya berhenti bergerak sesaat. Hanya sepersekian detik. Tapi aku merasakannya.

"Tentu," jawabnya cepat. "Aku selalu di sini."

Aku mengangguk kecil, meski ada sesuatu di dalam diriku yang masih ragu. Aku tidak tahu kenapa.

Aku menarik sedikit jarak, menatap wajahnya. Ada senyum tipis di sana, tapi matanya seperti menyimpan sesuatu. Aku tidak tahu apa itu.

"Kamu tadi," kataku tiba-tiba, mencoba mengalihkan suasana. "Kamu sengaja, ya?"

"Sengaja apa?" alisnya terangkat.

"Ngerjain aku," tudingku pelan. "Kamu bisa aja...tapi kamu berhenti."

Sudut bibirnya naik.

"Aku tahu batas," katanya. "Dan aku tahu kamu belum siap."

Jawaban itu membuat dadaku menghangat lagi dan bersamaan dengan itu, rasa kecewa kecil yang tadi aku pendam ikut muncul lagi. Aku tidak tahu harus senang atau bingung.

"Oh," gumamku. "Berarti kamu nahan diri."

"Iya," jawabnya jujur.

"Kenapa?"

Ia menatapku, lalu mengangkat tangan dan menyentuh dahiku dengan lembut.

"Karena aku pengen kamu merasa nyaman sama aku, aku nggak mau melebihi batas yang ada sekarang ini" katanya pelan.

Aku mengangguk kecil, lalu tersenyum tipis, meski pikiranku belum sepenuhnya tenang.

"Aku capek," kataku akhirnya.

"Tidur," balasnya cepat, seolah sudah menunggu kata itu. "Kamu butuh istirahat."

Aku menurut. Untuk sekarang.

Saat aku bersandar lagi di pelukannya, mataku terpejam, pikiranku masih dipenuhi wajah Maya, nama Bima, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum punya jawaban.

1
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
Blueberry Solenne
Ada yang kelaparan malam-malam ceritanya?
Suo: btul bgt/Proud/
total 1 replies
Suo
dia di temenin kok nantinya 😌
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
pasti bosen banget dikurung
Suo: Betul bangett😭
total 1 replies
Hafidz Nellvers
masuk kulkas?
Suo: Gak gitu😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!