Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Sup Ayam
Vila Bukit (Safe House). Pukul 07:30 Pagi. Hari ke-2 Isolasi.
Angeline berdiri di depan kulkas yang terbuka, menatap isinya dengan tatapan kosong, seolah sedang menatap jurang keputusasaan.
Di dalam pendingin itu hanya tersisa beberapa kaleng tuna, dua bungkus pasta instan kering, dan sebotol air mineral yang tinggal setengah. Sayur-mayur segar sudah layu, dan rak telur kosong melompong.
"Tuna kaleng lagi," gumam Angeline pelan, nada suaranya terdengar lelah. "Jika aku harus memakan ikan kaleng satu kali lagi, aku rasa aku akan mulai berenang, bukan berjalan."
Jay masuk ke dapur sambil mengeringkan rambut dengan handuk ia baru saja mandi air dingin untuk menghemat cadangan gas.
"Ada masalah, Angel?" tanya Jay.
"Kita kehabisan bahan makanan layak, Jay," Angeline menutup pintu kulkas dengan sedikit tenaga. "Stok Leon masih ada, tapi tubuh kita membutuhkan protein segar. Sayuran. Vitamin. Kita tidak bisa bertahan hidup hanya dengan karbohidrat dan pengawet."
Angeline meraih kunci mobil yang tergeletak di meja marmer.
"Aku akan turun ke pemukiman di kaki bukit," kata Angeline tegas, naluri bertahan hidupnya mengambil alih. "Pasar lokal pasti masih beroperasi. Para petani membutuhkan uang tunai, dan kita memilikinya. Ini hanya transaksi bisnis sederhana."
Jay dengan cepat namun lembut menangkap pergelangan tangan Angeline.
"Tidak," larang Jay. "Jalan utama menuju lembah diblokade oleh pos pemeriksaan militer. Mereka memeriksa setiap kendaraan dengan ketat. Wajahmu ada di daftar prioritas pencarian orang, Angel."
"Lalu apa rencanamu? Menunggu di vila mewah ini sampai kita mati kelaparan?" suara Angeline meninggi, frustrasi akibat rasa tidak berdaya mulai meluap. "Aku merasa tidak berguna, Jay! Aku seorang CEO yang mengelola ribuan karyawan, tapi aku bahkan tidak mampu menyediakan makan siang yang layak untuk suamiku sendiri!"
Jay menatap mata istrinya. Ia melihat ketakutan yang disembunyikan di balik kemarahan itu.
Jay mengambil kunci mobil dari tangan Angeline, lalu meletakkannya kembali ke meja.
"Kau benar. Kita membutuhkan logistik segar," kata Jay tenang. "Tapi bukan kau yang akan pergi. Biarkan aku yang mengurusnya."
"Kau? Tapi pos pemeriksaan itu..."
"Aku tidak akan menggunakan jalan aspal," Jay tersenyum menenangkan. "Kau lupa? Sebelum menikahimu, aku terbiasa hidup di jalanan. Aku mengetahui jalur-jalur tikus yang tidak terpetakan di GPS militer. Ada sebuah peternakan kecil di balik bukit utara. Pemiliknya adalah kenalan lama. Aku bisa barter bahan makanan darinya tanpa harus melewati barikade tentara."
"Apakah itu aman?" tanya Angeline ragu, matanya mencari kepastian.
"Jauh lebih aman daripada membiarkanmu menyetir dalam keadaan emosi," goda Jay lembut. "Tunggulah di sini. Bantu Leon membersihkan halaman belakang. Aku akan kembali dengan membawa makan siang. Janji."
Hutan Sektor Utara. Pukul 09:00.
Jay tidak berbohong soal jalur tikus itu, tapi ia berbohong soal "peternakan kenalan lama".
Jay mengendarai motor trail-nya menembus semak belukar lebat, menghindari patroli drone pengintai musuh dengan berlindung di bawah kanopi pohon-pohon besar.
Ia berhenti di sebuah pondok kayu tua yang ditinggalkan di tepi sungai.
Di sana, sudah menunggu seseorang. Bukan petani, tapi Echo dari Unit Bayangan. Wanita itu mengenakan pakaian sipil lusuh, menyamar sebagai penduduk lokal.
"Komandan," sapa Echo sambil menyerahkan sebuah karung goni tebal. "Sesuai pesanan. Dua ekor ayam hidup, sekantung kentang, wortel segar, dan beberapa rempah-rempah. Semuanya diamankan dari pasar gelap Distrik 13 pagi ini."
Jay menerima karung itu. Ayam di dalamnya berkoek protes.
"Kerja bagus, Echo. Bagaimana situasi di sektor bawah?"
"Kaos total. Inflasi pangan mencapai 500%. Penjarahan terjadi di supermarket. Pasukan Victor mulai menyita persediaan logistik warga dengan alasan 'jatah darurat militer'," lapor Echo dengan wajah geram. "Rakyat mulai marah, tapi ketakutan akan senjata membungkam mereka."
Jay mengangguk, wajahnya mengeras. Kelaparan adalah senjata psikologis paling efektif untuk mengendalikan populasi. Victor Han ingin mematahkan semangat perlawanan rakyat sebelum menghancurkan Angeline.
"Tahan posisi kalian," perintah Jay. "Distribusikan sisa logistik kita kepada warga sipil secara diam-diam jika memungkinkan, tapi hindari konfrontasi terbuka. Kita menunggu momentum yang tepat."
"Dimengerti. Oh ya, Komandan..." Echo merogoh sakunya, mengeluarkan toples kaca kecil. "Whiskey menitipkan ini. Madu hutan murni. Dia bilang ini bagus untuk stamina."
Jay tersenyum tipis. "Sampaikan padanya, jika perang ini berakhir, aku akan menaikkan bonus tahunannya."
Jay mengikat karung berisi logistik itu ke motornya. Sekarang ia harus kembali dan berakting sebagai suami pahlawan yang baru pulang dari "peternakan".
Penthouse Akbar Ares. Pukul 10:30.
Di sisi lain kota, krisis logistik juga terjadi, namun dengan nuansa yang sangat berbeda—nuansa ironi kaum elit.
Mia Severe berdiri di dapur penthouse yang sangat canggih dan futuristik. Di hadapannya, tergeletak sepotong daging Wagyu A5 seberat satu kilogram yang baru saja dikeluarkan dari freezer.
"Akbar!" seru Mia, suaranya menggema di ruangan luas itu.
Akbar muncul dari ruang kerjanya, masih mengenakan kemeja sutra santai yang harganya tidak masuk akal. "Ya, Nona Mia? Ada kendala teknis dengan peralatan dapur?"
"Masalahnya adalah isinya!" Mia menunjuk daging itu dengan pisau dapur. "Aku ingin memasak Beef Stew sederhana untuk makan siang. Tapi kulkasmu ini... isinya konyol! Cuma ada daging steak mahal ini, jamur truffle, dan keju blue cheese. Di mana bawang bombay? Di mana garam meja? Di mana lada hitam?"
Akbar tampak bingung, alisnya terangkat. "Bawang? Koki pribadiku biasanya membawa bahan-bahan dasar sendiri setiap pagi. Tapi karena dia tertahan di blokade, kita harus berimprovisasi dengan apa yang tersedia."
"Kau tidak punya bumbu dasar?" tanya Mia tak percaya.
"Aku punya Balsamic Vinegar berusia 50 tahun dan minyak zaitun extra virgin," tawar Akbar sambil mengambil botol kristal kecil yang terlihat antik.
Mia menepuk dahinya. "Orang kaya benar-benar tidak punya insting bertahan hidup. Minggir, biar aku yang menangani ini."
Mia mulai memotong daging Wagyu seharga ribuan dolar itu menjadi potongan dadu kecil-kecil—sebuah pemandangan yang mungkin akan membuat koki bintang Michelin menangis darah.
"Kau yakin ingin merebus Wagyu?" tanya Akbar ragu. "Biasanya daging kualitas itu dipanggang medium rare."
"Dalam situasi bertahan hidup, tidak ada istilah medium rare. Yang ada hanyalah matang dan mengenyangkan," jawab Mia ketus. "Bantu aku. Kupas bawang bombay itu. Aku menemukan satu butir di rak paling bawah."
Akbar Ares, pria yang tangannya terbiasa menandatangani kontrak akuisisi miliaran dolar, kini berdiri canggung memegang pisau dapur, mencoba mengupas bawang bombay.
"Mataku terasa perih," keluh Akbar setelah satu menit berjuang.
"Itu reaksi kimia wajar, Tuan Putri," ledek Mia tanpa menoleh. "Jangan digosok!"
Tiba-tiba, pisau di tangan Akbar meleset sedikit.
"Ah," desis Akbar. Jarinya tergores. Setetes darah muncul.
Mia segera meletakkan spatula-nya, menyambar tisu, dan meraih tangan Akbar dengan sigap.
"Astaga, mengupas bawang saja bisa melukaimu," omel Mia, tapi gerakannya lembut saat menekan luka itu. "Kau ini benar-benar tidak bisa berfungsi tanpa staf pelayan, ya?"
Akbar terdiam. Ia menatap wajah Mia yang begitu dekat, fokus merawat jarinya yang hanya luka gores kecil. Jantung Akbar, yang biasanya sedingin es saat negosiasi bisnis, tiba-tiba berdetak tidak beraturan.
"Aku bisa belajar," kata Akbar pelan.
Mia mendongak. Tatapan mereka bertemu. Hening sejenak di dapur mewah itu. Hanya suara desis daging di penggorengan yang terdengar.
Wajah Mia sedikit memerah. Ia segera melepaskan tangan Akbar.
"Ambil plester di kotak P3K di laci itu. Lalu duduk manis di meja makan. Jangan sentuh apa pun lagi sebelum kau membakar dapur ini," perintah Mia gugup, kembali menghadap kompor.
Akbar tersenyum kecil, menyembunyikan tangannya yang terluka di saku celana.
"Baik, Chef."
Siang itu, mereka makan siang dengan menu paling aneh di dunia: Stew Daging Wagyu dengan kuah Balsamic mewah dan kentang rebus.
"Bagaimana?" tanya Mia waswas.
Akbar mengunyah perlahan, menganalisis rasa seperti kritikus kuliner. "Jujur? Ini adalah penghinaan terhadap daging sapi kualitas terbaik."
Mia cemberut, siap melempar garpu.
"Tapi..." lanjut Akbar, menatap Mia dengan sorot mata hangat. "...ini makanan paling enak yang pernah kumakan minggu ini."
Vila Bukit. Pukul 12:00.
Jay pulang dengan motor trail-nya yang penuh debu. Angeline menyambutnya di teras seperti seorang istri yang menyambut suaminya pulang dari medan perang.
"Kau mendapatkannya!" seru Angeline melihat karung goni itu.
"Dua ekor ayam, kentang, dan sayuran segar," Jay memamerkan hasil 'negosiasi'-nya. "Pemilik peternakan itu sangat kooperatif."
"Jay, kau luar biasa!" Angeline memeluk Jay, tidak peduli jaket suaminya kotor. "Ayo kita masak. Aku yang akan menyiapkan bumbunya. Tolong kau yang... eksekusi ayamnya. Aku tidak tega melihatnya."
"Siap laksanakan, Nyonya."
Satu jam kemudian, aroma Sup Ayam Klasik (Chicken Soup) yang hangat memenuhi vila itu. Jay, Angeline, dan Leon makan bersama di satu meja bundar. Sederhana namun penuh makna.
Angeline menyuap kuah sup itu. Matanya terpejam menikmati rasanya.
"Enak sekali," desah Angeline. "Rasanya jauh lebih memuaskan daripada fine dining di hotel mana pun."
Jay tersenyum, melihat rona merah kembali ke wajah istrinya.
"Makanan selalu terasa lebih nikmat saat kita mensyukurinya di masa sulit, Angel," kata Jay.
Di tengah kota yang dikepung, di tengah ancaman kematian yang mengintai, mereka menemukan momen kedamaian kecil dalam semangkuk sup hangat.
Namun, Jay tahu kedamaian ini rapuh. Saat melihat Leon memberi kode mata yang hampir tak terlihat, Jay tahu ada berita buruk dari transmisi radio.
Grid listrik kota akan diputus total malam ini.