NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama / Playboy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - My Dangerous Kenzo

...----------------...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...----------------...

Pagi ini Naya berangkat ke sekolah bersama Reno.

Meja makan sudah rapi, aroma sarapan masih hangat. Tapi Naya tidak menyentuh apa pun, hanya meraih gelas susu dan meneguknya dua kali—itu pun terpaksa.

“Sayang, nggak sarapan?” Pappi menatapnya lembut.

“Nggak lapar,” jawab Naya singkat.

“Kamu tuh sarapan dulu. Nanti sakit,” Mommy menimpali, nada khasnya—tegas dan mengingatkan.

Biasanya Naya akan mengangguk. Tapi hari ini, ia terlalu lelah untuk meladeni. Matanya kosong, bahunya turun.

Reno memperhatikan dari seberang meja. Ada yang beda.

“Kenzo berangkat jam berapa?” tanya Pappi sambil menuang kopi.

“Nggak tahu, Pi. Reno bangun, Kenzo udah berangkat,” jawab Reno santai.

“Jam empat,” tiba-tiba Naya bersuara pelan.

Sendok berhenti.

Pappi, Mommy, dan Reno serempak menatap Naya.

“Kok adek tahu?” Pappi mengernyit halus.

“Hm…” Naya cuma menggumam, menunduk.

Mommy memperhatikan lebih lama dari biasanya. Ada curiga, tapi belum cukup kuat untuk meledak. Untuk sementara… masih aman.

“Nanti Reno beliin sarapan di kantin,” Reno cepat-cepat memotong suasana.

“Ayo berangkat,” lanjutnya sambil berdiri.

Naya mengangguk kecil, lalu bangkit. Ia berjalan di belakang Reno, langkahnya gontai, bahunya jatuh, wajahnya kehilangan semangat.

Di kepalanya cuma satu nama yang terus berputar—

Kenzo.

“Kenapa lagi tuh anak?” Mommy melipat tangan di dada, matanya masih mengarah ke tangga tempat Naya menghilang.

“Udah, biarin sayang. Namanya anak remaja, mood-nya emang suka berubah-ubah,” Pappi menimpali santai sambil menyeruput kopi.

“Random banget anakmu,” Mommy mendecih pelan.

Pappi tersenyum tipis. “Mirip siapa coba?”

Mommy melirik sekilas, lalu menghela napas.

“Yaudah, Mommy berangkat sama Pappi aja sekalian.”

“Oke. Ambil tas dulu,” jawab Pappi.

Mommy mengangguk dan melangkah ke arah kamar.

Pappi menatap punggung istrinya pergi, lalu pandangannya jatuh ke meja makan—gelas susu Naya yang masih hampir penuh.

Ia diam sejenak.

“Anak itu…” gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri, “…lagi nyimpen apa sih di hatinya.”

...----------------...

“Lo kenapa sih, dek? Gak semangat gitu,” Reno melirik Naya yang duduk lesu di jok samping.

“Gue males ngapa-ngapain,” jawab Naya pelan, menatap keluar jendela.

“Minimal gak males sarapan.”

“Bodo ah,” Naya mendecih.

Begitu mereka sampai di sekolah, suara nyaring langsung menyambut.

“NAYAAA!!”,

Citra berteriak dari kejauhan sambil melambai heboh.

Refleks Naya langsung menutup kedua telinganya.

“Cewek lo cempreng,” gumam Naya.

Reno nyengir. “Gitu-gitu gue sayang.”

“Deuhh, kasmaran,” Naya meledek tanpa tenaga.

Citra sudah sampai di depan mereka. “Nay, kenapa?”

“Hemm…” Naya cuma mengangkat bahu.

“Kak Kenzo mana? Biasanya bertiga bareng?” tanya Citra sambil celingak-celinguk.

“Kenzo ke London, ada urusan,” jawab Reno santai.

Citra langsung meraih lengan Reno, ekspresinya sok paham.

“Yahh, pantesan lo lemes. Batre lo pergi.”

“Maksudnya?” Reno mengernyit.

“Yaitu… temen kamu pergi,” Citra buru-buru ralat.

“Ups.”

Naya cuma mendengus pelan.

“Udah deh, ayo ke kelas aja,” kata Citra, menarik mereka berdua.

Naya melangkah mengikuti, tubuhnya jalan tapi pikirannya entah tertinggal di mana.

Malam itu Naya masih di posisi yang sama—rebahan, lampu kamar redup, perut kosong tapi pikirannya penuh satu nama.

Ponselnya bergetar.

Kenzo.

“Halo, my princess,” suara Kenzo langsung bikin dada Naya menghangat.

“Kapan pulang?” tanya Naya lirih.

“Sabar dong,” jawab Kenzo sambil tersenyum, ketahuan dari nadanya.

“Udah makan?”

“Udah,” kata Naya cepat. Bohong lagi.

Kenzo mendengus pelan. “Nada bohongnya khas.”

Naya gak nyaut. Beberapa detik hening.

“Kangen,” ucap Naya akhirnya, jujur, tanpa ditahan.

Kenzo ketawa kecil, hangat. “Baru day one, sayang.”

“Rsanya kayak seminggu?” Naya memeluk bantal, matanya menatap jendela.

“Karena kamu manja,” goda Kenzo. “Dan biasa ditemenin aku.”

Naya tersenyum kecil. “Jangan lama-lama pergi.”

“Aku balik,” jawab Kenzo lebih pelan. “Aku janji.”

Naya menarik napas dalam-dalam. “Aku nunggu.”

“Tau,” kata Kenzo lembut. “Makanya makan ya abis ini. Jangan bikin aku khawatir dari jauh.”

“Kalau aku makan…” Naya berhenti sebentar.

“Kamu jangan ilang.”

Kenzo tertawa pelan. “Aku di sini. Denger suara aku aja dulu.”

Naya menutup mata, ponsel masih di telinganya.

Untuk malam itu, suara Kenzo cukup.

Naya akhirnya duduk di meja makan kecil di kamarnya. Nasi hangat di piring, ponsel disandarkan di depan gelas. Layar menampilkan wajah Kenzo.

“VCall aja,” pinta Naya sambil nyuap.

“Oke,” jawab Kenzo. Wajahnya muncul, agak capek tapi senyumnya masih sama.

Naya makan pelan. “Besok bimbel.”

“Diantar Reno dulu ya, sayang,” kata Kenzo refleks.

Naya mendengus. “Katanya lo udah pulang nanti.”

“Iya. Nanti gue yang anter,” Kenzo langsung nyamber.

Naya berhenti ngunyah, menatap layar. “Kenapa sih kita kalau ngomong elo–gue mulu?”

Kenzo ketawa kecil. “Yaudah ganti.”

“Coba,” tantang Naya.

“Mom… daddy?” Kenzo sok serius.

Naya langsung menggeleng cepat. “Nggak.”

“Hmm… ayah bunda?”

Naya nyengir geli. “Nggak juga.”

“Abi umi?” Kenzo menaikkan alis, jelas nahan ketawa.

“Nggak yaa,” Naya tertawa kecil, bahunya naik turun.

“Terus maunya apa?” tanya Kenzo.

“Aku–kamu aja,” jawab Naya ringan, tapi matanya berbinar.

Kenzo terdiam setengah detik, lalu senyum nakalnya muncul.

“Kirain mau sekalian latihan jadi suami istri,” katanya sambil tertawa.

“Kenzo!” Naya menutup wajahnya pakai tangan, malu tapi senyum nggak ilang.

“Eh aku bercanda,” Kenzo cepat-cepat bilang, masih ketawa. “Makan yang bener. Jangan sambil senyum-senyum sendiri.”

Naya menurunkan tangannya, menatap layar. “Salah sendiri.”

Kenzo menghela napas pelan. “Aku suka lihat kamu gini.”

“Gini gimana?”

“Tenang. Ada aku,” jawab Kenzo lembut.

Naya lanjut makan. Untuk pertama kalinya hari itu, rasanya nggak hambar.

Day one tanpa Kenzo akhirnya terlewati.

Naya tetap berangkat ke sekolah seperti biasa. Seragam rapi, tas di bahu, langkahnya ikut Reno. Tapi rasanya ada yang kosong—kayak ada bagian hari yang hilang.

'Bodo amat lah, ada Kenzo atau nggak juga', batinnya sok cuek.

Tapi hatinya langsung nyeletuk, 'kangen Kenzo'.

Di kelas, Naya masih bisa ketawa sama Citra, masih bisa jawab pertanyaan guru. Tapi setiap jeda, pikirannya selalu nyempil ke satu nama itu. Refleks ngelirik ponsel, padahal belum tentu ada pesan.

Sore harinya bimbel. Reno nganterin seperti biasa. Jalanan ramai, matahari turun pelan-pelan, semuanya normal—dan justru itu yang bikin Naya makin ngerasa aneh. Biasanya ada cerita Kenzo di sela-sela hari. Sekarang kosong.

Malam datang.

Ponsel Naya akhirnya menyala.

Kenzo.

Vcall tersambung.

“Kamu ngerjain apa sih, kok lama banget?” Naya langsung nyerocos, setengah ngambek.

“Kerjaan, sayangku,” jawab Kenzo, suaranya capek tapi masih lembut.

Naya mengangguk pelan, memandangi wajah Kenzo di layar.

“Malam ini aku nggak bisa sleepcall. Maaf ya… aku ada meeting,” lanjut Kenzo.

“Oh…” Naya sempat diam sebentar. “Oke deh, nggak apa-apa.”

“Jangan tidur malem-malem ya,” kata Kenzo.

“Iya,” jawab Naya singkat.

“Bye, my princess.”

“Bye,” balas Naya.

Layar kembali gelap.

Naya menatap ponselnya agak lama sebelum akhirnya diletakkan. Dadanya terasa sesak—bukan karena marah, cuma… sepi.

Baru day one aja gue udah gini, batinnya.

Dan tanpa sadar, Naya menarik selimut lebih erat, berharap besok rasanya nggak seberat ini.

Ponsel itu tetap menyala. Layar meredup, terang lagi, lalu redup—tapi sambungan mereka nggak putus. Nafas Kenzo terdengar pelan dari speaker, sesekali Naya menggerakkan ponselnya memastikan wajah itu masih ada di sana.

Subuh menjelang.

Naya menggeliat di atas kasur, mata setengah terpejam. Rambutnya berantakan, suaranya serak tapi hangat.

“Day 2 yaa, Ken…”

Kenzo yang di layar ikut tersenyum kecil, matanya jelas lelah tapi lembut.

“Iya, my princess.”

Naya memeluk bantal, menatap layar lama-lama. Ada rasa sepi, tapi juga aman.

“Jangan ilang ya,” gumamnya lirih.

“Nggak ke mana-mana,” jawab Kenzo pelan. “Aku di sini.”

Naya akhirnya menutup mata, vcall masih menyala.

Untuk pertama kalinya, pagi terasa nggak terlalu berat—karena ada suara Kenzo yang nemenin sampai hari benar-benar mulai.

...----------------...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...----------------...

Biar penulisnya senyum terus 😆✨

Save

1
tamara this there!
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara this there!
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!