NovelToon NovelToon
Di Ulang Tahun Ke-35

Di Ulang Tahun Ke-35

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ama Apr

Di malam ulang tahun suaminya yang ke tiga puluh lima, Zhea datang ke kantor Zavier untuk memberikan kejutan.

Kue di tangan. Senyum di bibir. Cinta memenuhi dadanya.

Tapi saat pintu ruangan itu terbuka perlahan, semua runtuh dalam sekejap mata.

Suaminya ... lelaki yang ia percaya dan ia cintai selama ini, sedang meniduri sekretarisnya sendiri di atas meja kerja.

Kue itu jatuh. Hati Zhea porak-poranda.

Malam itu, Zhea tak hanya kehilangan suami. Tapi kehilangan separuh dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Hah, segarnya ..." Zavier merebahkan tubuh di sebelah Zhea yang masih setia tidur menyamping. Dia menatap istrinya sebelum memejamkan mata.

Baru saja ia akan terbang ke alam mimpi, satu hal yang tak terduga terjadi.

Tiba-tiba, Zhea menonjok pipinya dengan sangat keras.

"Aduuhhh! Sakiiitt!" Zavier memekik, dan sontak membuat Zhea membelalakkan mata. Terjaga dari tidurnya yang hanya pura-pura.

"Mas, kamu kenapa?!" pekik Zhea sambil mengucek mata. Pura-pura tidak tahu, padahal dalam hatinya tertawa terbahak-bahak sambil berkata 'mampus'.

"Sssh ... aduh ... kamu nonjok pipi aku, sayang. Sakit banget," rintih Zavier sambil memegangi pipi kanannya.

"Ya ampuun ... aku nggak sengaja, Mas." Zhea beringsut dan mengusap pipi suaminya itu. "Tadi aku mimpi lagi meninju samsak, eh ... nggak tahunya kebawa ke dunia nyata. Malah jadi nonjok pipi kamu," ringisnya sambil menyengir.

"Iya, aduh. Udah nggak papa. Tidur lagi, gih. Aku mau ke bawah dulu, mau mengompresnya dengan es batu," katanya.

"Aku temenin, ya?"

"Nggak usah. Biar aku aja sendiri. Kamu jagain Zheza aja. Takutnya nanti dia bangun pas kamu lagi di bawah dan nangis mau susu," tolak Zavier, turun dari ranjang sambil masih memegangi pipinya yang terasa nyut-nyutan.

"Ya udah. Sekali lagi aku minta maaf ya, Mas ..." Suara Zhea lembut, penuh penyesalan.

"Iya, sayang. Nggak papa." Zavier membuka pintu kamar dan menghilang.

"Pffftt ... hahaha ... rasain lo, pengkhianat!" Zhea tertawa puas, berhasil mengerjai suaminya. "Tonjokan itu nggak ada apa-apanya dibandingkan sakit hati yang kurasakan," desisnya setelah berhenti tertawa.

Dia merebahkan badan lagi, menarik selimut dan kembali tertawa ngakak.

"Huhhh! Dasar Zhea ... ada-ada aja sih. Pake nonjok pipiku segala. Mana keras banget lagi." Zavier tidak berhenti menggerutu sambil menempelkan kompres es batu. "Mudah-mudahan nggak memar. Mana besok aku ada meeting lagi dengan investor dari Singapura. Malulah kalau sampai memar. Ssshh ..." Desisan sakit terdengar dari bibirnya.

Zavier mengeluarkan ponsel dari saku piyamanya yang tadi sempat ia masukkan sebelum keluar dari kamar. Dia membuka aplikasi tersembunyi. Lalu masuk ke chat pribadinya bersama Elara. Iseng-iseng dia menghubungi nomor selingkuhannya itu, berharap sang wanita gelapnya masih terjaga.

Dan ternyata, Elara langsung membalas chatnya. "Ada apa, Babe? Kamu belum tidur?"

Sudut bibir Zavier terangkat. Dia menyimpan es batu ke meja dan mulai membalas chat dari Elara. "Aku kangen kamu, sayang. Udah tidur, tapi kebangun lagi gara-gara ditonjok sama Zhea."

Balasan dari Elara datang cepat. "What?! Kurang ajar banget tuh istri kamu. Kenapa sampai dia nonjok kamu? Kalian bertengkar?"

"Aku dan dia nggak bertengkar. Zhea mengigau dan nggak sengaja kebawa ke dunia nyata sampai nonjok aku," jelasnya. "Kenapa kamu juga belum tidur?" Zavier melemparkan tanya balik.

"Aku belum ngantuk, Babe. Aku masih teringat kegiatan mesra kita yang tadi. Rasanya aku belum puas. Pengen lagi, lagi dan lagi." Ada emoji cinta di akhir pesan itu.

Zavier tertawa bangga. "Aku juga sama, sayang. Milikmu selalu membuatku ketagihan. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera minggu depan. Ingin menghabiskan malam panjang bersamamu."

"Aku apalagi, Babe. Pokoknya nanti, kalau kita jadi ke Thailand. Aku mau nempel terus sama kamu. Terus aku mau belanja sepuasnya."

"Silakan, sayang. Uangku banyak. Jadi belanjalah sepuasnya. Tapi sebagai imbalannya ... kamu harus melayaniku sampai aku terkapar," pinta Zavier dengan tawa nakal di akhir pesannya.

"Kecil. Tanpa diminta pun, aku akan dengan senang hati melayani dan memanjakanmu."

"Kamu memang wanita yang paling mengerti aku, Ela. I love you, sayang."

Elara membalas dengan emoji cinta, lalu pesan itu berakhir karena Zavier kembali ke kamarnya.

Di balik selimut yang membungkus tubuhnya, Zhea menyaksikan percakapan mesra antara Zavier dan Elara lewat pesan tersebut. Dengan kepintarannya, Zhea berhasil menyadap semuanya. "Sudah kuduga, ternyata kau pergi ke bawah bukan hanya untuk mengompres bekas tinjuanku, tapi ingin bercakap-cakap dengan ani-animu itu ya, hm ... lanjutkan saja, Zavier. Puas-puaskan semuanya. Sebelum besok lusa tiba." Ketika derit pintu terdengar, Zhea buru-buru mematikan ponselnya dan menyimpannya di bawah bantal. Dia pura-pura memejamkan mata lagi.

Rasa sakit yang teramat sangat, membuat air mata dan emosinya menghilang. Yang terasa hanya rasa kegetiran yang membuatnya kian tegar.

______

Siang itu, begitu pintu rumah terbuka, suara riang langsung terdengar.

"Kak Zhea! Aku pulang!" seru Arin, adik ipar Zhea, sambil menyeret koper besarnya masuk ke ruang tamu. Rambutnya dikuncir setengah berantakan karena perjalanan, tapi senyumnya tetap cerah seperti biasa.

Zhea yang sedang menimang Zheza di ruang keluarga menoleh sambil tersenyum lembut. "Arin! Akhirnya kamu sampai juga. Gimana perjalanannya dari Singapura? Lancar kan, sayang?" Zhea melakukan cipika-cipiki dengan adik iparnya itu.

"Lancar, Kak. Tapi capek. Eh ... ya ampun, ini ponakanku udah gembul aja. Zheza udah tiga bulan ya sekarang?" Arin langsung mengambil alih Zheza dari pangkuan Zhea. Matanya berbinar penuh antusias. Tanpa basa-basi, ia menciumi wajah mungil keponakannya bertubi-tubi. "Duh, gemes banget! Wanginya kamu tuh nggak ada lawan. Selalu bikin Tantemu ini ingin pulang!" katanya sambil mencubit pipi chubby Zheza pelan.

Zhea tertawa melihat kelakuan adik iparnya yang heboh. "Pelan-pelan, Rin, nanti Zheza kaget."

Tapi bukannya berhenti, Arin malah menimang bayi itu, lalu menatap Zhea dengan tatapan penuh kagum. "Kak ... Kakak makin keibuan aja. Makin gemoy lagi, aura cantikmu makin keluar."

"Dasar kamu. Selalu saja pintar memuji," balas Zhea sambil tertawa pelan. Ia menatap Arin yang kini sudah duduk di sampingnya, masih asyik bermain dengan jari-jari kecil Zheza.

Suasana rumah pun langsung terasa lebih hidup dengan kehadiran Arin yang cerewet tapi hangat itu.

"Jadi, kamu libur berapa lama, Rin?" tanya Zhea sambil menepuk pelan punggung putrinya yang mulai menguap.

"Sekitar tiga minggu, Kak," jawab Arin sambil tersenyum lebar. "Tapi kalau tugas akhirku udah kelar lebih cepat, mungkin bisa diperpanjang." Ia kemudian menatap Zhea dengan sorot mata penasaran. "Oh iya, kata Mama ... Kak Zhea mau buat pesta kejutan buat Kak Zavier ya? Apa itu benar?"

Zhea sempat terdiam sejenak, bibirnya membentuk senyum samar. "Iya, benar," jawabnya akhirnya, berusaha terdengar ringan. "Kakak rencananya mau buat kecil-kecilan aja, pesta ulang tahunnya lusa. Sekalian menyambut Papa dan Mama yang pulang dari Belanda."

Arin mengangguk-angguk antusias. "Wah, seru banget! Aku bantu, ya, Kak? Aku jago bikin dekorasi loh sekarang, semenjak sering bantu acara kampus."

Zhea tersenyum tulus kali ini. "Boleh banget. Kakak malah butuh bantuanmu. Tapi ..." Ia menatap Arin dengan lembut, "Jangan bilang ke Kakakmu, ya. Dia nggak boleh tahu sama sekali."

Arin mengangkat dua jari di depan bibirnya. "Siap, Ibu negara!" katanya dramatis, membuat Zhea terkekeh pelan.

Setelah beberapa menit bercakap dan tertawa, Zhea melirik jam dinding di ruang keluarga. Jarum pendek sudah hampir menyentuh angka dua belas. Ia menarik napas kecil, lalu menoleh pada Arin yang masih menimang Zheza sambil bersenandung pelan. "Rin," panggilnya lembut, "Kakak mau minta tolong sebentar, ya?"

Arin langsung menatap. "Minta tolong apa, Kak?"

"Kakak mau antar makan siang ke kantor Mas Zavier. Dia tadi pagi nggak sempat sarapan, takutnya nanti sakit maag-nya kambuh lagi." Zhea bangkit, merapikan selendang menyusui yang masih menempel di pundaknya.

Arin mengangguk cepat. "Ohh, siap Kakakku! Aku bakal jagain Zheza. Serahkan semuanya sama aku." Ia lalu menciumi pipi bayi mungil itu lagi sambil berkata manja, "Tante jagain kamu, ya, putri kecil."

Zhea tersenyum hangat melihat kedekatan keduanya. "Makasih ya, Rin. Susunya udah Kakak taruh di botol kecil di kulkas, kalau Zheza nangis pengen susu, tinggal kamu suruh Bi Acih aja untuk menghangatkannya. Kalau dia BAB, panggil lagi Bi Acih. Biar dia yang gantiin popoknya Zheza."

Arin menegakkan badan dan memberi hormat pura-pura. "Siap, Ibu Komandan!"

Tawa ringan keluar dari bibir Zhea, tapi matanya sedikit sayu. Ia menatap putrinya sekali lagi, mencium dahinya pelan. "Mama pergi sebentar ya, sayang. Kamu sama Tante Arin dulu."

Setelah memastikan semuanya aman, Zhea mengambil kotak makan yang sudah ia siapkan sejak pagi ... nasi, lauk kesukaan Zavier, dan sebotol jus jeruk dingin.

Sebelum melangkah keluar, ia sempat menatap cermin di ruang tamu. Sekilas, senyumnya tampak tenang. Tapi di balik tatapan itu, tersimpan campuran getir dan tekad bulat.

Hari ini ia bukan hanya mengantarkan makan siang untuk suaminya ... tapi juga sedang menguji sisa kejujuran di antara mereka.

_____

Zhea melangkah mantap memasuki gedung kantor tempat Zavier bekerja. Sepasang sepatu haknya beradu dengan lantai marmer, langkahnya berirama tegas, membawa aroma wangi lembut bunga melati yang memenuhi koridor.

Di tangannya, kotak makan siang tertata rapi, seolah-olah misi hari itu hanyalah mengantarkan kasih sayang untuk suaminya.

Namun begitu lift terbuka di lantai empat, langkah Zhea terhenti sejenak. Dari arah ruang kerja Zavier, seorang wanita keluar dengan wajah sedikit bersemu dan senyum gugup yang segera memudar saat melihatnya.

Itu Elara. Sekretaris suaminya.

Zhea mengamati sejenak ... pandangan matanya dingin tapi tajam. Ia memperhatikan cara Elara buru-buru menata rambut dan merapikan kemejanya yang berantakan. Dua kancing teratasnya terbuka. Dan wajah gadis itu berkeringat.

"Hmm ... bukannya di ruangan suami saya ada AC, ya? Tapi kenapa wajah kamu berkeringat dan dua kancing kemeja kamu terbuka seperti itu ... apa AC-nya rusak?" ucap Zhea dengan senyum tipis, nadanya halus tapi menusuk.

Beberapa karyawan yang lewat sempat melirik, tapi pura-pura sibuk lagi dengan berkas di tangan. Suasana koridor mendadak hening, hanya suara mesin printer di kejauhan yang terdengar.

Elara menelan ludah, suaranya bergetar, "B-Bu Zhea ... jangan sal-"

"Jangan apa?" potong Zhea lembut, namun setiap katanya seperti bilah halus yang menekan udara. "Saya sudah memperingatkanmu tempo hari, Elara. Perbaiki cara berpakaianmu. Ini kantor. Bukan tempat karaoke!" Tatapan Zhea tajam, penuh ironi.

Elara menunduk, wajahnya memanas, napasnya tak teratur.

"Kamu tahu, Elara," lanjut Zhea sambil melangkah pelan mendekat, "Jika kamu masih berpakaian seperti ini ... saya tidak akan segan-segan untuk memberitahukannya kepada Papa mertua saya!" ancamnya penuh penekanan.

Beberapa pegawai yang masih berada di sekitar mulai berpura-pura sibuk menatap layar komputer masing-masing, namun jelas telinga mereka menangkap setiap kata.

Elara menunduk makin dalam, bibirnya gemetar. "Maaf, Bu ..."

Zhea tersenyum samar. "Saya tidak butuh maafmu, tapi saya butuh pembuktian!" Ia melangkah masuk ke ruangan Zavier tanpa menoleh lagi, meninggalkan Elara yang berdiri kaku di lorong, wajahnya pucat menahan malu.

1
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
sukurin, jangan ad yg menolong, itu balasan unt elara yg sdh merusak smua kebahagiaan anak kecil yg msh butuh kasih sayang ayahnya, siksa lebih lagi van, bikin cerita yg lbh psiko lg thor unt perempuan licik, jahat, bengis dan tak tau dr spt elara it thor, hrsnya ibuknya jg dijadikan placur
Eka Novariani
setuju
nunik rahyuni
mudah mudahan lekas taubat dan ada yg menolong entahnorg afrika itu kah yg mau membeli dan memelihara untuk pribadi..itu lebih baik dr pd di tangan revan
Eka Novariani
sedih banget masa lalu Revan... sekarang terima lah nasibmu Elara hanya Tuhan yang bisa menolongmu..
Lee Mbaa Young
elara blm nyadar ya pdhl karma nya smp adiknya jd korban.
Les Tary
Revan bener" kejam sakit hatinya sama elara...elena ga tahu apa" ikut dijual
Lisna Saris
mending elena di matikan saja deh Thor bukan benci tapa nda tega anak gadis baik baik yg berjuang menyelamatkan hidupnya dari kerakusan orang tuanya malah menderita menerima Karama yg bukan dari dosa yg dia lakukan,dan maga Revan dapat karma yg lebih pedih karena telah menghancurkan banyak anak gadis orang,
Dwi Haznay: Iya, kasihan Elena, ngga ngerti apa2 ikut nanggung kesalahan kakaknya
total 2 replies
Queenfans Angelfans
malas baca kalo soal ttg elara sama si revan ini
Queenfans Angelfans: bacanya ada rasa gk teganya aku Thor meski sejahat apapun org itu
total 2 replies
Nolis Karmini
kalau sampe titik ini kamu belum sadar juga...maka selama nya kemalangan akan menimpamu...sadarlah meskipun terlambat
Ama Apr: betul kk
total 1 replies
Lisna Saris
sayangnya adiknya yg ngga salah apa apa juga jadi korban
Ama Apr: begitulah hukum alam
total 1 replies
Lisna Saris
plot twist nya wow sekali Thor, padahal yg kukira elena jadi wanitanya Revan eh taunya......
Ama Apr: Hhe, soalnya klo jd budak nafsu Revan. Kurang pas balasannya. Dia nggak akan menderita
total 1 replies
Jojon sanjaya1
/Smile/
nunik rahyuni
g bisa berkata kata karna karma menuju
jalanya
nunik rahyuni: betul..apa yg di tanam itu yg akan di petik..
jd ya.....nikmati ae
total 2 replies
Yuli Yulianti
kasian juga kamu elara semoga kamu bisa pergi dari sana
Ama Apr: semoga dia sadar
total 1 replies
zahrahaifa
mampooosss.... inget tuh kata2 revan... lu bakalan jd pecun ampe mati.... udeh gitu dengan pede nya mo godain nathan... cuuuiiihh😒😒
Ama Apr: bener banget. Biarlah dia menderita. Dia sudah terlalu jahat menghancurkan kehidupan wanita lain
total 1 replies
Les Tary
nasibmu tragis elara..kasihan juga
Ama Apr: biarin lah kk dia jahat
total 1 replies
Haryati Atik Atik
Harusnya kamu sadar krna sudah menyakiti hati org kamu terlalu tamak skrg lihat jgnkan mau bls dendam ke zhea dgn mengambil Nathan nasib kamu sendiri sgt miris bahkan adik kamu jg jd korban nya sadar elara ini karma yg harus dibyr
Ama Apr: iya, tp s elara blum sadar juga🥲
total 1 replies
@Mita🥰
wes lanjut thor
Ama Apr: siap besok y
total 1 replies
wita salira
nah kan ini semua karma buat kamu elara atas perbuatan kamu di masa lalu..jadi sekarang kamu nikmati saja karma mu itu..
Ama Apr: tobat2
total 1 replies
Arin
Inikah balasan untuk Elara karena perbuatan nya menyakiti hati orang. Dapat balasan begitu menyakitkan dan kejam. Sampai adiknya pun kena imbasnya
Ama Apr: iya kk🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!