NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Nyonya Muda

Petugas KUA kembali berbicara, memecah kebisuan yang sempat tercipta. “Baik, sekarang silakan tandatangani dokumen pernikahan.”

Buku nikah diletakkan di atas meja. Sampul hijau itu tampak sederhana, namun berat. Berat dengan arti. Berat dengan masa depan. Berat dengan konsekuensi yang tidak bisa ditarik kembali.

Renan meraihnya lebih dulu.

Tangannya sempat berhenti melayang di udara sebelum menyentuh pena. Hanya sepersekian detik, nyaris tak terlihat, namun cukup menunjukkan betapa seriusnya ia memaknai momen ini.

Lalu ia menandatangani.

Tinta hitam menorehkan namanya di atas kertas. Sebuah garis tipis, namun mampu mengikat hidupnya pada perempuan di sampingnya untuk selamanya atau setidaknya, sejauh takdir mengizinkan.

Petugas lalu memutar buku itu. “Silakan, Bu Ayuna.”

Ayuna menatap halaman di depannya. Ada namanya. Ada pernyataan sah. Ada ruang kosong yang menunggu tanda tangannya.

Jemarinya sedikit bergetar saat meraih pena.

Bukan karena ragu, melainkan karena ia sadar, setelah ini tidak ada jalan kembali. Hidupnya akan berubah. Dengan cara yang ia tidak sepenuhnya tahu.

Ia menarik napas perlahan.

Lalu, menandatangani.

Satu garis lengkap. Titik akhir tinta menempel di kertas.

Sejenak ia terdiam.

Perasaannya campur aduk. Ada haru. Ada takut. Ada lega. Ada luka yang belum benar-benar sembuh, namun hari ini ia memilih untuk tetap berdiri. Tetap percaya.

Petugas mengangguk puas. “Baik. Sudah sah secara agama dan negara. Ini buku nikah kalian.”

Dua buku kecil disodorkan.

Renan mengambilnya lebih dulu. Menatap satu untuk dirinya, satu lagi untuk Ayuna.

Benda sederhana, tapi hari ini rasanya seperti dua kunci takdir yang baru saja dikunci bersama.

Ia melangkah mendekat. Menyerahkan satu buku itu pada Ayuna dengan tangannya sendiri.

“Ini milikmu,” ucapnya pelan. “Ini bukti bahwa kamu dan aku terikat.”

Ayuna menunduk. Matanya kembali hangat. Buku hijau itu ia peluk erat. Bukan karena mahal, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia memegang sesuatu yang menyatakan bahwa ia punya tempat. Ia punya seseorang.

Penghulu memberi ucapan selamat. Saksi menepuk bahu Renan. Senyum hangat mengisi ruangan yang sebelumnya tegang.

“Silakan keluar dulu. Keluarga kalian pasti sudah menunggu,” ujar salah satu petugas ramah.

Renan dan Ayuna saling berpandangan.

Kata keluarga terasa seperti pintu besar yang akan segera terbuka, entah menuju penerimaan atau penolakan.

Sejak kecil tinggal di panti asuhan, Ayuna tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga. Kini ia menjadi istri Renan, tapi apakah itu cukup untuk membuatnya benar-benar diterima?

Buku nikah itu bisa menjadi pelindung atau justru senjata untuk menolaknya.

Renan menggenggam tangan Ayuna. Genggamannya kuat, mantap, seolah berkata bahwa apa pun yang menunggu di luar sana, mereka akan menghadapinya.

“Ayo,” katanya.

Namun tiba-tiba, genggamannya terlepas.

Renan melirik buku nikah di tangan Ayuna, lalu berkata singkat, “Biar aku simpan dulu.”

Nada suaranya datar, tapi tangannya terbuka, menunggu.

Ayuna ragu sepersekian detik sebelum menyerahkannya. Buku itu berpindah tangan, meninggalkan perasaan yang sulit ia jelaskan.

Renan menyatukan buku nikah keduanya dan menyimpannya di saku jasnya dengan hati-hati, seolah takut merusaknya.

Ayuna menatap perilaku Renan dengan pandangan kosong.

Apakah buku ini akan melindunginya, atau justru menjadi bukti yang akan dipakai keluarga Morris untuk menolaknya?

Apa maksud kata-katanya hari ini? Bisakah ia mempercayainya?

“Kamu tidak mau pergi?” Renan menoleh.

Wajahnya datar, namun Ayuna bisa merasakan sesuatu yang berbeda di sana. Kebahagiaan terpancar dari dalam dirinya. Benarkah Renan bahagia menikahinya?

Ayuna segera menyusul.

Mereka berjalan menuju pintu. Setiap langkah terasa seperti melangkah ke babak baru hidup mereka, tak pasti, namun nyata.

Pintu KUA terbuka.

Udara luar menyambut.

Lebih terang.

Lebih bising.

Lebih hidup.

Dunia menunggu mereka. Dan entah siap atau tidak mereka tetap harus melangkah.

❀❀❀

"Tuan Muda.”

Heri yang sudah menunggu di depan sejak tadi segera berdiri dan menghampiri begitu Renan keluar.

Pandangan pria itu langsung jatuh pada buku nikah hijau di tangan Renan. Sekilas, matanya memancarkan keterkejutan yang berhasil ia sembunyikan dengan cepat. Namun dalam hati, ia bertanya-tanya apakah kali ini Tuan Mudanya benar-benar serius?

Baru setelah itu ia memperhatikan sosok perempuan yang berjalan di belakang Renan.

Heri tertegun sejenak.

Gadis itu bukan hanya cantik, ia memiliki aura yang tenang, dingin, namun anggun. Seolah ada jarak alami yang membuat orang lain segan mendekat, tapi pada saat yang sama sulit untuk tidak menatapnya.

“Kamu belum pulang juga?” Renan bertanya singkat, nada suaranya terdengar sedikit tidak sabar.

“Tuan Muda tertua menyuruh saya menunggu di sini sampai Anda keluar,” jawab Heri sopan. “Dan beliau juga meminta saya membawa Nona ini pulang bersama.”

Ia menundukkan kepala sedikit pada Ayuna sebagai salam.

Ayuna membalas anggukan itu pelan. Jantungnya berdebar cepat, bukan karena takut, tapi karena ia sadar, setelah ini ia benar-benar akan dibawa masuk ke dunia keluarga pria ini.

Dunia yang sama sekali bukan miliknya.

Renan mendengkus pendek, namun tidak berkata apa-apa lagi. “Kalau begitu, kita pergi sekarang.”

Ia melangkah duluan.

Ayuna menarik napas pelan, lalu mengikuti, sementara Heri berjalan sedikit di belakang mereka.

Mobil yang menunggu di depan KUA tampak sangat mewah, tetapi suasana di sekitarnya terasa berbeda sekarang. Bukan lagi tegang seperti tadi saat mereka datang, melainkan lebih hangat. Lebih tenang.

Renan membuka pintu belakang terlebih dahulu.

Bukan untuk dirinya.

Untuk Ayuna.

“Masuklah.” Suaranya pelan, tidak memerintah, lebih seperti ajakan yang tulus.

Ayuna sempat menatapnya sesaat. Ada jeda kecil di dadanya. Lalu ia melangkah masuk, duduk dengan hati-hati. Renan menutup pintu dengan tenang, kemudian berkeliling dan duduk di sampingnya.

Begitu pintu tertutup, dunia luar seolah menjauh.

Heri naik ke kursi depan dan menyalakan mobil, tapi tidak langsung menjalankan. Ia menoleh sebentar melalui kaca spion.

“Tuan Muda… selamat ya.” Nada suaranya tulus.

Renan terdiam sepersekian detik. Bibirnya terangkat tipis. “Terima kasih.”

Heri menoleh pada Ayuna. Senyumnya ramah, sopan, tanpa rasa mengintimidasi sama sekali. “Selamat juga untuk Nyonya Muda.”

Ayuna terkejut mendengar sebutan itu.

Nyonya Muda.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menyapanya seperti itu. Sebutan yang hanya dia dengar dari sinetron di TV.

Genggaman tanpa sadar mengepal di atas pangkuannya, lalu perlahan mengendur. Ia mengangguk kecil.

“Terima kasih.”

Renan yang sejak tadi memperhatikan Ayuna bisa melihat perubahan kecilnya saat Heri memanggilnya Nyonya Muda. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah memberi Ayuna gelar itu. Kini, ia bertekad agar gelar itu selamanya melekat pada Ayuna.

Mobil mulai melaju perlahan.

Suasana di dalam terasa hening, tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti keheningan yang perlahan membungkus mereka dengan rasa aman.

Renan menoleh sekilas.

Melihat Ayuna, melihat cara ia duduk sedikit kaku, melihat bagaimana ia meletakkan tanganya di perutnya seakan ada hal yang sangat berharga yang dia lindungi di sana. Pandangannya melunak.

“Kalau kamu lelah, kamu boleh bersandar,” ucapnya lembut. “Hari ini pasti melelahkan untukmu.”

Ayuna menelan ludah.

Ia tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang hangat, yang pelan-pelan menyusup ke hatinya. Sesuatu yang tidak ia sangka akan ia rasakan dalam pernikahan ini.

“Tidak apa-apa,” akhirnya ia berkata pelan. “Aku baik-baik saja.”

Renan tersenyum tipis. “Kalau begitu mulai sekarang, kita belajar untuk benar-benar baik-baik saja. Bersama.”

Kata-kata itu sederhana.

Tapi terasa hangat.

Heri yang duduk di depan hanya bisa tersenyum kecil tanpa menoleh. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa mungkin, Tuan Mudanya akhirnya menemukan rumah.

Mobil melaju stabil.

Dan di dalamnya, dua hati yang tadinya penuh luka dan ketakutan perlahan mulai belajar bernapas dengan lebih ringan.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Iya, sih. Tapi, kan namanya juga novel. Apa saja bisa terjadi 😅
total 1 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!