Berisi kumpulan cerita KookV dari berbagai semesta. Romantis, komedi, gelap, hangat, sampai kisah yang tak pernah berjalan sesuai rencana.
Karena di antara Kook dan V,
selalu ada cerita yang layak diceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axeira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 RIVAL WITH CRUSH
Hari itu, SMA Hanseong punya satu topik hangat:
“Siapa yang sebenarnya suka siapa?”
Setelah Tantangan Romantis bab sebelumnya, spekulasi bertebaran di semua sudut sekolah.
“Puisi Namjoon buat Seokjin, ya?”
“Enggak ah, katanya buat gurunya Bu Kim!”
“Yoongi tatap Jimin lama banget, loh…”
“Tapi Jimin nari ke arah Hoseok, kan?”
“Lisa mau ngapain sekarang ya?”
Dan seperti biasa... saat gosip memanas, kejadian nyata nggak mau kalah.
Ruang Musik, Sore Hari
Jam sekolah sudah selesai, siswa mulai pulang. Tapi lampu ruang musik masih menyala.
Di dalam, Yoongi sedang memainkan nada lembut di piano. Jarinya bergerak pelan, ekspresinya serius. Di belakangnya, Jimin duduk di sofa kecil, memeluk bantal, memperhatikan diam-diam.
Yoongi menyadari tatapan itu, lalu berkata tanpa menoleh:
“Lo bakal bolak-balik ke sini terus, atau... mau bantu nyanyi sekalian?”
Jimin mendengus. “Gue cuma... nyari tempat sepi.”
“Dan lo milih tempat yang gue duduki tiap hari?”
Jimin menggigit bibir. “Mungkin... gue nyari tempat yang ada lo-nya.”
Yoongi berhenti main.
“Lo serius?”
Jimin mengangguk. Lalu buru-buru menunduk. “Tapi lo bisa anggap gue ngaco juga sih.”
Yoongi berdiri, perlahan. Mendekat.
Lalu, tanpa suara, duduk di sebelah Jimin. Bahu mereka bersentuhan.
“Lo nggak ngaco,” kata Yoongi pelan.
“Lo... bikin ribet.”
“Tapi lo juga bikin gue ketawa. Dan kadang, itu nyebelin.”
Jimin menghela napas. “Berarti... kita nyebelin bareng?”
Yoongi menoleh. Mata mereka bertemu. Dan...
Pintu ruang musik terbuka.
“YA AMPUN! MA... MAAF!!!”
Lisa berdiri di ambang pintu, mata melebar seperti baru lihat hantu Taehyung cosplay.
Yoongi dan Jimin langsung lompat terpisah seperti roti bakar yang meletup dari toaster.
Lisa menutup mulutnya, lalu... tersenyum licik.
“Oke. Jadi… begini ceritanya, ya?”
“Jiminie… kenapa lo nggak bilang? Lo naksir Yoongi? Udah deket, ya?”
“Kayaknya ini berita utama buat mading gosip sekolah deh~”
Jimin panik. “Lisa, jangan bilang siapa-siapa!”
Yoongi mengangkat satu alis. “Lo mau barter info?”
Lisa berpikir, lalu mengangguk cepat. “Gue nggak bilang siapa-siapa… asal lo bantu gue deketin Hoseok.”
Yoongi menahan tawa. “Jadi lo ngancam kita demi... konsultasi percintaan?”
Lisa mengangkat bahu. “Mending gue jujur, daripada ngintip dari pojokan kayak stalker.”
Akhirnya, ketiganya duduk bareng.
Lisa cerita soal suka Hoseok dari kelas 2, Jimin curhat soal perasaannya yang campur aduk, dan Yoongi—entah kenapa—malah jadi konsultan cinta dadakan.
🎭 Sementara itu...
Jungkook lagi di atap sekolah, duduk sambil makan roti krim. Taehyung muncul dari pintu atap, bawa satu kaleng soda dingin.
“Lo suka menyendiri juga, ya?” tanya Taehyung.
Jungkook mengangguk. “Tempat paling sepi... dan tempat paling jujur.”
Mereka duduk berdampingan. Hening.
Sampai Taehyung bicara pelan:
“Gue lihat surat lo di papan itu...”
“Gue tahu itu bukan surat cinta biasa.”
“Dan gue tahu... siapa yang lo curigai”
Jungkook menatapnya. “Jadi... lo ngaku?”
Taehyung tersenyum. “Gue nggak bilang itu gue.”
“Tapi lo juga nggak bilang bukan.”
Taehyung diam. Lalu pelan-pelan, menyodorkan sesuatu: secarik kertas kecil, dengan spidol pink.
Tulisan di dalamnya:
“Kalau lo baca ini langsung dari gue, berarti gue udah cukup berani.
Kalau lo senyum setelah baca, berarti gue punya harapan.”
Jungkook tersenyum.
Taehyung menatapnya. “Lo senyum.”
“Gue punya roti enak.”
“Dan harapan?”
Jungkook mengangguk pelan.