NovelToon NovelToon
Istri Kecil Gus Azkar

Istri Kecil Gus Azkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.

​Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
​Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 Pelarian di Bawah Langit Malam

Suasana di dalam kamar rawat itu mendadak mencekam begitu daun pintu terbanting menutup. Bunyi kunci yang diputar dua kali oleh Gus Azkar terdengar seperti vonis penjara bagi Rina.

Azkar menurunkan Rina dari pundaknya dengan kasar ke atas ranjang. Napas pria itu masih menderu, emosinya benar-benar tersulut oleh kenekatan istrinya yang mencoba kabur dan mencabut infus secara paksa. Darah dari tangan Rina yang tercabut infusnya mulai menetes ke sprei putih, namun Azkar tampak tak peduli dengan itu untuk sejenak.

Ia mengungkung tubuh Rina dengan kedua tangannya yang bertumpu di sisi kanan dan kiri ranjang, memaksa istrinya yang sedang terisak itu menatap langsung ke matanya yang gelap.

"Dengarkan saya baik-baik, Rina," desis Azkar dengan suara yang sangat rendah, namun penuh penekanan di setiap katanya. "Kesabaran saya ada batasnya. Kamu pikir pernikahan ini mainan? Kamu pikir status saya sebagai suamimu hanya formalitas?"

Rina gemetar hebat, ia mencoba memalingkan wajah, namun Azkar mencengkeram dagunya agar tetap menatapnya.

"Jika kamu berani mencoba kabur lagi dari saya, atau menyebut nama pria itu sekali lagi..." Azkar menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah perut Rina sebelum kembali ke mata istrinya.

"Saya tidak akan segan-segan menunaikan hak saya malam ini juga. Saya akan buat kamu hamil secepatnya, supaya kamu tidak punya alasan lagi untuk lari dan supaya pikiran kekanakanmu tentang sekolah atau pria itu hilang sepenuhnya dari kepala kamu."

Wajah Rina memucat pasi. Ancaman itu terasa jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Azkar sebelumnya. Baginya yang masih duduk di bangku SMA, ancaman tentang kehamilan adalah akhir dari segala mimpinya.

"Mas... jangan... Rina takut," tangis Rina pecah, suaranya parau karena ketakutan yang luar biasa.

"Makanya, jadilah istri yang penurut!" bentak Azkar dingin. Ia kemudian menjauh dari ranjang, mengambil napas panjang untuk menetralkan emosinya yang hampir meledak, namun tatapannya tetap mengawasi Rina seolah-olah istrinya itu adalah tawanan yang siap melarikan diri lagi.

"Sekarang diam di sana. Saya akan panggil perawat untuk memasang kembali infusmu. Kalau kamu melawan lagi saat perawat datang, saya tidak akan menunggu sampai kamu sembuh untuk membuktikan ucapan saya tadi."

Azkar berbalik menuju tombol darurat untuk memanggil perawat, meninggalkan Rina yang kini meringkuk ketakutan, menyadari bahwa suaminya yang terlihat seperti ustadz yang lembut itu bisa berubah menjadi sosok yang sangat dominan dan mengancam.

Langkah Rina kali ini didorong oleh rasa takut yang luar biasa. Ancaman Gus Azkar tentang "membuatnya hamil" benar-benar menghantam mentalnya sebagai gadis remaja. Baginya, itu adalah horor yang lebih besar daripada apa pun. Begitu punggung Gus Azkar menghilang di balik pintu koridor untuk mencari perawat, Rina menyambar kerudung instannya dengan tangan gemetar.

Ia mengabaikan rasa perih di tangan bekas infus yang terus meneteskan darah. Dengan langkah seribu, ia keluar lewat pintu darurat, bukan lewat lift, karena ia tahu suaminya pasti akan mengecek area utama.

Napas Rina tersengal-sengal. Tangga darurat rumah sakit itu terasa sangat panjang. Setiap langkahnya diikuti oleh tetesan darah kecil dari tangannya. Di pikirannya hanya satu: Bian. Ia harus menemukan Bian. Ia harus pergi sejauh mungkin dari pria yang baru saja mengancam masa depannya itu.

Begitu sampai di lantai dasar, Rina tidak keluar lewat pintu utama. Ia memutar melalui area parkir belakang yang sepi. Angin malam yang dingin menusuk tulang, membuat tubuhnya yang belum pulih itu semakin lemas.

"Kak Bian... Kak, jemput Rina..." isaknya sambil terus berlari kecil menuju gerbang luar.

Mata yang Mengawasi

Namun, Rina lupa satu hal. Gus Azkar bukan orang sembarangan. Sebagai seorang Gus yang terbiasa memimpin ribuan santri, ia memiliki ketelitian yang luar biasa. Saat ia kembali ke kamar dengan perawat dan mendapati ranjang kosong serta darah yang berceceran di lantai, amarahnya sudah mencapai titik puncak.

Gus Azkar tidak berteriak. Ia justru diam, namun raut wajahnya sangat mengerikan. Ia segera menelepon orang-orang kepercayaannya.

"Cari dia di semua akses keluar rumah sakit. Sekarang!" perintahnya melalui ponsel dengan nada yang mampu membuat siapa pun merinding.

1
angel
egois sekali azkra ini kenapa pemeran ceweknya gak dikasih sekolah sih😔😔
Rina Casper: nanti ke atas bab di sekolahin kok😇
total 1 replies
angel
cerita nya lumayan bagus untuk halaman pertama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!