Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 15
Siang Hari - Alun-Alun Ibukota Awan Selatan.
Hingar bingar memenuhi alun-alun raksasa yang dilapisi batu pualam putih. Di tengah alun-alun, berdiri sebuah pilar kristal setinggi sepuluh tombak Pilar Pengukur Langit.
Ini adalah tahap penyaringan awal untuk Turnamen Naga & Harimau. Hanya mereka yang bisa membuat pilar ini bersinar minimal tiga tingkat (Bakat Tingkat Bumi) yang berhak mendaftar.
Ribuan pemuda antre dengan wajah penuh harap dan cemas.
Shen Yu dan Su Ling duduk santai di lantai dua sebuah kedai teh yang menghadap langsung ke alun-alun, menikmati teh sambil mengawasi. Sementara di bawah, Ye Qing dan Cang Wu berdiri dalam antrean.
Suasana mendadak riuh saat rombongan elit tiba.
"Lihat! Itu Nona Muda Su Yan dari Klan Su!"
Gadis yang kemarin dilihat Su Ling di kereta kini berjalan dengan anggun dikawal para tetua. Dia mengenakan jubah putih bersulam teratai es, wajahnya cantik namun dagunya terangkat tinggi, seolah dia tidak memijak tanah yang sama dengan rakyat jelata.
Su Yan berjalan melewati antrean panjang, langsung menuju area VIP. Matanya tak sengaja tertumbuk pada sosok Cang Wu yang berdiri di barisan depan.
Penampilan Cang Wu yang seperti kuli kasar, dengan pedang hitam berkarat di punggung dan aura tanpa Qi, sangat mencolok di antara para kultivator muda yang berpakaian rapi.
"Menjijikkan," cibir Su Yan keras, sengaja agar didengar. "Sejak kapan panitia membiarkan pengemis masuk? Udara di sini jadi bau lumpur."
Para pengikut Su Yan tertawa.
"Hei, Cacat! Minggir!" teriak seorang pengawal Su Yan. "Kau mengotori pemandangan Nona Muda!"
Cang Wu tidak bergerak. Dia menatap lurus ke pilar, mengabaikan mereka seperti angin lalu.
Petugas pendaftar yang ketakutan pada Klan Su segera membentak, "Kau! Cepat maju tes atau pergi!"
Cang Wu melangkah maju. Dia meletakkan tangannya yang pucat di Pilar Pengukur Langit.
Hening.
Satu detik. Sepuluh detik.
Pilar itu tetap gelap. Tidak ada cahaya. Tidak ada reaksi.
"HAHAHAHA!" Tawa meledak dari rombongan Klan Su.
"Sudah kuduga!" ejek Su Yan. "Akar Roh Rusak. Sampah tanpa bakat kultivasi! Berani-beraninya kau berdiri di sini? Kau hanya membuang waktu kami!"
"Enyahlah, anjing kampung!"
Cang Wu menarik tangannya. Wajahnya datar. Dia memang tidak punya Akar Roh, karena dia berkultivasi Tulang Iblis. Pilar bodoh ini tidak bisa mengukur kekuatan fisiknya.
Dia berbalik, siap kembali ke barisan.
Namun, sebuah tangan menahan bahunya.
Ye Qing.
"Tunggu di sini, Saudara Muda," kata Ye Qing sambil tersenyum miring. Dia menatap Su Yan dengan tatapan tajam. "Jangan pergi dulu. Tonton pertunjukannya."
Ye Qing melangkah maju ke depan pilar.
Su Yan melirik Ye Qing. "Kau temannya si sampah ini? Pasti sampah juga. Cepat selesaikan dan per—"
Ye Qing tidak menunggu dia selesai bicara. Dia menempelkan telapak tangannya ke kristal itu.
ZIIIIING!
Bukan cahaya biasa. Suara dengungan tinggi yang memekakkan telinga terdengar.
Cahaya Putih menyala di tingkat satu... Tingkat tiga... Tingkat lima... Tingkat tujuh... Tingkat Sembilan (Puncak)!
Pilar itu bergetar hebat. Cahayanya begitu terang hingga menyilaukan mata semua orang di alun-alun, seperti matahari kedua yang turun ke bumi.
Niat Pedang yang mengerikan memancar dari tubuh Ye Qing, menekan Pilar itu hingga batasnya.
KRAAAAAAAK!
Retakan muncul di permukaan pilar kristal kuno itu.
"Tidaaaak! Hentikan!" teriak Petugas Pendaftar.
BOOM!
Pilar Pengukur Langit... Meledak.
Serpihan kristal berhamburan. Debu cahaya menyelimuti Ye Qing yang berdiri tenang dengan tangan di saku.
Keheningan total melanda alun-alun.
Su Yan ternganga lebar, kipas di tangannya jatuh. Mata indahnya membelalak tak percaya.
"Bakat... Bakat Tingkat Surga Sempurna?! Bahkan Pilar itu tidak kuat menampungnya?!"
Ye Qing menepuk debu di bajunya, lalu berbalik hendak pergi bersama Cang Wu.
"Tunggu!" teriak Su Yan.
Gadis angkuh itu berlari kecil mendekati Ye Qing, wajahnya kini berubah total menjadi manis dan penuh kekaguman (dan keserakahan).
"Tuan Muda! Bakatmu luar biasa! Siapa namamu?"
"Klan Su kami sedang mencari murid inti. Jika kau bergabung, kami akan memberimu sumber daya tanpa batas! Aku, Su Yan, bahkan bisa merekomendasikanmu langsung pada Leluhur!"
Su Yan tersenyum menggoda. Dia yakin tidak ada pria yang bisa menolak kecantikan dan kekayaan Klan Su.
Ye Qing berhenti. Dia menatap Su Yan dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu tersenyum sinis.
"Bergabung dengan Klan Su?"
Ye Qing merangkul bahu Cang Wu.
"Nona, kau baru saja menghina Saudara Mudaku sebagai 'anjing kampung'. Jika dia anjing, dan aku saudaranya, berarti aku juga anjing, bukan?"
Wajah Su Yan memucat. "Ti-Tidak! Itu salah paham! Dia hanya pelayan, kau berbeda! Tinggalkan sampah itu, dia hanya akan menghambatmu!"
Ye Qing tertawa dingin.
"Matamu indah, Nona. Tapi sayang, kau buta."
"Di mataku, satu jari Saudara Mudaku ini lebih berharga daripada seluruh Klan Su-mu."
"Ayo pergi, Cang Wu. Tempat ini bau munafik."
Ye Qing dan Cang Wu berjalan pergi, meninggalkan Su Yan yang mematung di tengah keramaian dengan wajah merah padam karena malu dan marah. Di balkon kedai teh, Shen Yu meletakkan cangkirnya dengan senyum puas.
Malam Hari - Kamar Penginapan Sekte Asura.
Suasana di dalam kamar itu jauh berbeda dari keramaian siang tadi. Udara terasa berat dan dingin.
Jendela kamar terbuka sedikit. Angin malam masuk membawa aroma dupa.
Dari sudut ruangan yang paling gelap, sesosok bayangan memadat menjadi wujud manusia.
Mingyao (Si Pembunuh Bayangan) jatuh berlutut dengan napas memburu. Jubah hitamnya robek di bagian lengan, dan ada bekas luka bakar Qi di sana.
"Lapor, Patriark," suara Mingyao serak. "Misi selesai."
Dia menyerahkan sebuah gulungan kulit binatang tua yang disegel dengan mantra darah. Gulungan itu memancarkan aura kuno dan jahat.
"Penjagaan di Paviliun Arsip Terlarang Klan Su sangat ketat. Ada Formasi Pembunuh Jiwa di sana. Saya hampir kehilangan satu lengan untuk mengambil ini."
Shen Yu mengambil gulungan itu. Dia membuka segel darahnya dengan paksa menggunakan Qi Iblis.
PSSSHHH.
Gulungan terbuka. Judulnya tertulis dengan tinta merah:
[CATATAN RAHASIA: PEMBERSIHAN CABANG KE-72 (ALAM BAWAH) MATA TERKUTUK]
Su Ling, yang duduk di samping Shen Yu, gemetar hebat. Tangannya mencengkeram lengan baju Shen Yu.
Shen Yu membaca isinya dengan suara datar yang mengerikan
"Peramal Leluhur memprediksi kelahiran 'Bintang Bencana' di Cabang Keluarga Su di Alam Bawah Timur." "Ciri-ciri: Mata (Ungu & Hitam). Pemilik Mata Iblis Surgawi." "Titah Leluhur: Mata itu adalah aib yang akan membawa kehancuran bagi Klan Utama. Cabang Alam Bawah telah terkontaminasi." "Perintah Eksekusi: Kirim Tim Bayangan. Musnahkan seluruh Cabang Alam Bawah. Pastikan bayi bermata iblis itu mati. Jangan sisakan ayam atau anjing sekalipun." "Seluruh klan cabang dimusnahkan. Bayi itu dibuang ke Sungai Arwah, dipastikan mati."
Hening.
Gulungan itu jatuh dari tangan Shen Yu.
Su Ling menutup mulutnya, air mata membanjiri wajahnya di balik cadar. Tubuhnya terguncang hebat.
Kebenaran yang selama ini dia cari... ternyata begitu kejam.
Keluarganya di Alam Bawah... Ayah, Ibu, Kakek... mereka semua mati bukan karena perang antar sekte, bukan karena bandit.
Mereka mati dibantai oleh Keluarga Utama mereka sendiri. Hanya karena kelahiran Su Ling.
"Mereka mati... karenaku..." isak Su Ling, jatuh terduduk di lantai. "Aku... aku adalah pembawa bencana itu..."
Rasa bersalah menghantam jiwanya. Dia merasa tangannya penuh darah orang tuanya sendiri.
Shen Yu turun dari kursi. Dia berjongkok di depan Su Ling, mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
"Lihat aku," kata Shen Yu. Suaranya tidak keras, tapi mengandung otoritas mutlak yang membelah keputusasaan Su Ling.
"Mereka tidak mati karenamu. Mereka mati karena ketakutan dan kekejaman orang-orang tua bangka di Klan Su itu."
Shen Yu menghapus air mata Su Ling dengan ibu jarinya. Mata Shen Yu perlahan berubah menjadi hitam total tanda Raja Iblis sedang murka.
"Mereka menyebut matamu 'Bencana'?"
Shen Yu berdiri, mengambil gulungan itu dan membakarnya dengan api ungu di tangannya hingga menjadi abu.
"Kalau begitu, mari kita wujudkan ramalan mereka."
Shen Yu berbalik menghadap Ye Qing, Feng Jiu, Cang Wu, dan Mingyao yang berdiri di belakang dengan wajah penuh niat membunuh.
"Ye Qing. Besok di Turnamen, jika kau bertemu siapa pun dengan nama marga Su... jangan bunuh mereka."
Ye Qing menyipitkan mata. "Jangan bunuh?"
"Hancurkan Dantian mereka. Patahkan keempat anggota tubuh mereka. Biarkan mereka hidup sebagai sampah."
"Aku ingin Klan Su melihat kebanggaan mereka dihancurkan satu per satu."
Shen Yu menatap ke arah jendela, ke arah istana megah Klan Su yang bersinar di kejauhan.
"Su Ling," Shen Yu mengulurkan tangannya pada kekasihnya yang masih terisak.
"Berhenti menangis. Simpan air matamu."
"Kita akan mengubah Ibukota ini menjadi lautan darah sebagai upacara pemakaman yang layak untuk orang tuamu."
Su Ling menatap tangan itu. Perlahan, kesedihan di matanya berubah menjadi kebencian yang dingin. Dia menyambut tangan Shen Yu dan berdiri.
"Baik," bisik Su Ling, mata ungunya bersinar redup. "Aku akan mengambil kembali hutang darah itu."
10 bab sehari kek pelit bener