NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Doa Malam Zidan

#

Malam itu udara dingin sekali. Angin malam masuk lewat celah celah dinding kayu yang retak. Naura tidur dengan selimut tipis yang dia tarik sampai ke dagu. Perutnya yang masih rata dia elus elus pelan sambil tersenyum sendiri. Di dalam sana ada calon anak mereka. Anak yang akan lahir enam bulan lagi.

Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Zidan belum tidur. Dia duduk di pinggir kasur sambil menatap kosong ke depan. Matanya merah. Wajahnya pucat. Pikirannya kusut.

Hari ini dia dapat kabar dari Pak Burhan. Hutangnya bulan ini sudah jatuh tempo besok. Lima ratus ribu pokok plus lima puluh ribu bunga. Total lima ratus lima puluh ribu. Uang yang dia punya sekarang cuma tiga ratus ribu. Kurang dua ratus lima puluh ribu lagi.

Kemana dia mau cari uang segitu dalam waktu satu hari?

Belum lagi biaya rumah sakit Ibu Siti yang minggu depan harus dibayar lagi. Satu juta lima ratus ribu. Belum lagi sewa kontrakan bulan depan. Dua ratus ribu. Belum lagi kebutuhan harian. Belum lagi Naura yang hamil butuh makan bergizi.

Semuanya butuh uang.

Uang yang dia nggak punya.

Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menarik napas panjang. Dadanya sesak. Kepalanya pusing. Rasanya dia mau teriak sekencang kencangnya tapi nggak bisa karena nanti Naura bangun.

"Ya Allah... kenapa susah banget sih hidup ini? Aku udah kerja keras. Aku udah kerja tiga tempat. Aku udah nggak tidur dengan bener. Tapi kenapa uang tetep nggak cukup? Kenapa?"

Dia buka tangannya terus menatap langit langit kontrakan yang rendah dan penuh sarang laba laba.

"Aku ini kepala keluarga. Tapi aku gagal. Gagal total. Aku nggak bisa kasih makan istri aku dengan layak. Aku nggak bisa bayar hutang tepat waktu. Aku nggak bisa biayain ibu mertua aku yang sakit. Aku bahkan nggak bisa kasih nutrisi yang cukup buat calon anak aku. Aku ini kepala keluarga macam apa?"

Air matanya mulai jatuh. Dia biarkan aja mengalir tanpa dihapus. Panas. Perih. Tapi dia biarkan.

Dia berdiri pelan biar nggak bikin suara. Dia ambil sajadah lusuh yang dilipat di sudah ruangan. Sajadah mas kawin mereka. Sajadah yang udah compang camping di beberapa bagian tapi tetep dia sayang.

Dia bentangkan sajadah itu di pojok ruangan yang dingin. Dia berdiri tegak sambil menarik napas. Lalu dia angkat kedua tangannya.

"Allahu Akbar..."

Suaranya pelan tapi bergetar.

Dia mulai sholat tahajud. Rakaat pertama. Kedua. Dia khusyuk banget. Bacaannya pelan. Air matanya nggak berhenti jatuh. Jatuh ke sajadah lusuh itu. Basah. Satu. Dua. Banyak.

Sujudnya lama. Sangat lama. Di sujud itu dia nangis diam diam. Nangis yang ditahan biar nggak keluar suara.

"Ya Allah... ya Allah... hamba lemah. Hamba capek. Hamba nggak kuat lagi..."

Rakaat ketiga. Keempat. Dia terus sholat sampai delapan rakaat. Setiap sujud dia nangis. Setiap berdiri dia tarik napas berat.

Setelah salam, dia duduk bersimpuh lama. Kedua tangannya dia angkat tinggi tinggi. Matanya menutup. Air mata mengalir deras.

Di belakang, Naura terbangun. Mungkin karena ngerasa dingin. Atau mungkin karena Allah yang bangunin. Dia buka mata perlahan terus noleh ke samping. Zidan nggak ada. Dia langsung duduk terus cari suaminya.

Dia lihat Zidan duduk di pojok ruangan dengan tangan terangkat. Punggungnya bergetar. Dia sedang berdoa.

Naura turun dari kasur dengan pelan. Dia ambil mukena lusuhnya terus pake dengan cepet tapi diam. Dia berdiri di belakang Zidan agak jauh. Nggak mau ganggu. Tapi dia pengen dengerin.

Zidan mulai berdoa dengan suara yang sangat pelan tapi Naura masih bisa denger karena malam sangat sunyi.

"Ya Allah... ya Allah yang Maha Mendengar. Ya Allah yang Maha Mengabulkan doa. Hamba datang kepadaMu dengan hati yang hancur ya Allah. Dengan jiwa yang remuk. Dengan pikiran yang kacau."

Suaranya bergetar parah.

"Hamba mohon ampun ya Allah atas segala dosa hamba. Atas kelalaian hamba. Atas kesalahan hamba. Hamba tahu hamba banyak salah. Banyak khilaf. Tapi ya Allah... hamba butuh pertolonganMu. Sangat butuh."

Dia sujud lagi sambil terisak.

"Ya Allah... hamba punya istri yang sedang hamil. Dia butuh makan yang bergizi. Tapi hamba nggak bisa kasih. Hamba cuma bisa kasih nasi sama lauk seadanya. Kadang cuma telur. Kadang cuma tempe. Hamba takut ya Allah. Takut calon anak hamba nggak berkembang dengan baik karena nutrisi yang kurang. Hamba takut istri hamba jatuh sakit."

Air matanya makin deras.

"Ya Allah... ibu mertua hamba sakit stroke. Dia butuh biaya rumah sakit yang besar. Hamba udah berhutang kesana kemari. Tapi hutang itu harus dibayar. Dan hamba nggak punya uang. Hamba bingung ya Allah. Bingung mau bayar dari mana."

Naura yang dengerin dari belakang langsung nangis juga. Tangannya nutup mulut biar nggak keluar suara. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Zidan duduk lagi sambil mengangkat tangan. Wajahnya basah kuyup karena air mata.

"Ya Allah... hamba lelah kerja tiga tempat. Tapi uang yang hamba dapat tetep nggak cukup. Hamba udah kerja dari jam tiga pagi sampai jam dua belas malam. Hamba hampir nggak tidur. Hampir nggak makan. Tapi tetep aja nggak cukup. Kenapa ya Allah? Kenapa rezeki hamba sesempit ini?"

Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil nangis keras. Nggak peduli lagi mau kedengaran atau nggak.

"Hamba nggak minta banyak ya Allah. Hamba cuma minta bisa hidup layak. Bisa makan tiga kali sehari dengan lauk yang cukup. Bisa bayar kontrakan tanpa harus pusing. Bisa bawa istri hamba periksa kandungan rutin tanpa harus mikirin biaya. Bisa beliin baju buat calon anak hamba. Cuma itu ya Allah. Cuma itu."

Dia tarik napas panjang sambil mengusap air mata yang nggak berhenti.

"Ya Allah yang Maha Kaya. Ya Allah yang punya semua kekayaan di langit dan di bumi. Hamba mohon. Hamba mohon dengan sangat sangat. Kayakanlah hamba. Berikanlah hamba rezeki yang berlimpah. Berikanlah hamba kekayaan. Suksesinlah hamba."

Suaranya makin bergetar.

"Ya Allah, kalau Engkau beri hamba kekayaan, hamba bersumpah. Hamba bersumpah dengan nama Allah. Hamba akan lebih taat beribadah. Hamba akan sholat lima waktu nggak pernah bolong. Hamba akan sholat tahajud setiap malam. Hamba akan puasa sunnah Senin Kamis. Hamba akan baca Quran setiap hari."

Dia sujud lagi sambil terisak keras.

"Ya Allah, hamba akan bersedekah banyak banyak. Hamba akan bantu orang orang miskin. Hamba akan bangun masjid. Hamba akan sumbang ke panti asuhan. Hamba akan jadi hamba yang lebih baik. Jauh lebih baik dari sekarang. Hamba janji ya Allah. Hamba janji dengan sungguh sungguh."

Naura yang dengerin itu nangis makin keras. Dia nggak kuat. Dia duduk bersimpuh di belakang sambil ikut mengangkat tangan. Ikut berdoa dalam hati.

"Ya Allah... kabulkanlah doa suamiku. Dia lelaki baik. Dia pekerja keras. Dia sayang keluarga. Ya Allah please... please kasih dia jalan keluar. Kasih dia rezeki yang banyak. Aamiin ya Allah... aamiin..."

Zidan masih sujud lama. Sangat lama. Sampai sajadah di bawah wajahnya basah kuyup karena air mata.

"Ya Allah... hamba inget kisah sahabat Nabi yang meminta kekayaan padaMu. Lalu Engkau beri dia kekayaan yang luar biasa banyaknya. Dia gunakan kekayaan itu untuk kebaikan. Untuk sedekah. Untuk bangun masjid. Untuk bantu sesama. Ya Allah... hamba minta kayak dia. Hamba mau jadi orang kaya yang bermanfaat. Yang nggak lupa asal. Yang nggak sombong. Yang tetep taat kepadaMu."

Dia duduk lagi sambil mengangkat tangan tinggi tinggi. Wajahnya menghadap ke atas. Air mata mengalir dari sudut matanya turun ke pipi, ke leher.

"Ya Allah, hamba mohon. Dengan segala kerendahan hati. Dengan segala kesungguhan. Dengan segala air mata ini. Kayakanlah hamba. Jadikan hamba orang yang sukses. Orang yang punya harta banyak. Bukan buat foya foya. Bukan buat pamer. Tapi buat kebaikan. Buat keluarga hamba. Buat sesama."

Suaranya mulai serak karena kebanyakan nangis.

"Ya Allah... hamba nggak tahan lagi lihat istri hamba yang hamil makan seadanya. Nggak tahan lihat ibu mertua hamba yang sakit terbaring di rumah sakit kelas tiga yang penuh sesak. Nggak tahan mikirin calon anak hamba yang akan lahir di tengah kemiskinan ini. Hamba mohon ya Allah. Mohon dengan sangat."

Dia sujud lagi. Kali ini sujudnya sangat lama. Hampir lima menit dia nggak bangkit bangkit. Cuma kedengeran isak tangis pelan dari bawah sana.

Naura yang ngeliat itu nggak kuat lagi. Dia maju pelan terus duduk di samping suaminya. Tangannya dia letakkan di punggung Zidan yang bergetar.

Zidan tersentak kaget. Dia angkat kepala dari sujud terus noleh. Matanya merah banget. Wajahnya basah. Hidungnya meler.

"Naura... kamu... kamu kenapa bangun?"

Naura langsung peluk suaminya erat erat sambil nangis. "Aamiin Mas. Aamiin buat semua doa Mas. Semoga Allah kabulin semua. Semoga Allah kasih kita jalan keluar. Aamiin ya Rabbal alamin."

Zidan balas pelukan istrinya sambil nangis di pundak Naura. Nangis keras. Nangis yang udah ditahan dari tadi. Nangis yang pecah begitu ada pelukan hangat istrinya.

"Naura... aku lelah. Aku capek banget. Aku nggak tahu harus gimana lagi. Aku udah kerja keras tapi hasilnya nggak seberapa. Aku... aku takut nggak bisa jadi suami yang baik buat kamu. Nggak bisa jadi ayah yang baik buat anak kita nanti."

"Jangan bilang kayak gitu Mas. Mas udah jadi suami terbaik. Mas udah berusaha keras banget. Allah pasti kasih jalan. Pasti."

"Tapi kapan? Kapan Allah kasih jalan? Hutang aku besok jatuh tempo tapi aku nggak punya uang cukup. Biaya rumah sakit Ibu juga mau jatuh tempo. Kontrakan bulan depan juga harus dibayar. Dari mana aku mau cari uang sebanyak itu?"

Naura mengusap punggung suaminya pelan sambil terus peluk erat. "Kita cari bareng Mas. Besok aku ikut kerja lagi. Aku akan jahit lebih banyak. Aku akan..."

"Nggak!" Zidan melepas pelukan terus pegang pundak istrinya dengan agak keras. Matanya menatap tajam. "Kamu hamil. Kamu nggak boleh kerja berat. Aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa kenapa."

"Tapi Mas..."

"Nggak ada tapi tapian. Kamu harus jaga kandungan kamu. Biar aku yang cari jalan."

Mereka terdiam lama sambil masih berpelukan. Hanya suara katak dari selokan depan rumah yang terdengar. Angin malam yang masuk lewat celah dinding bikin mereka bergidik kedinginan.

Naura melepas pelukan pelan terus ikut duduk bersimpuh di samping suaminya. Dia angkat kedua tangannya juga.

"Yuk Mas. Kita doa bareng. Kita minta sama Allah bareng bareng. Doa istri untuk suami itu mustajab kan Mas? Yuk kita doa bareng."

Zidan mengangguk sambil ikut angkat tangan. Mereka berdua duduk berdampingan dengan tangan terangkat.

Naura yang mulai berdoa kali ini.

"Ya Allah... ini hamba Naura. Hamba mohon dengan segala kerendahan hati. Dengarkanlah doa hamba dan suami hamba. Kami berdua sedang dalam kesulitan ya Allah. Kesulitan yang sangat berat."

Suaranya mulai bergetar.

"Ya Allah, suami hamba adalah lelaki yang baik. Dia sholeh. Dia pekerja keras. Dia sayang keluarga. Dia nggak pernah mengeluh meski capek. Dia nggak pernah marah meski susah. Dia tetep sabar. Tetep taat kepadaMu. Tapi ya Allah... dia kelelahan. Dia butuh pertolonganMu."

Air matanya jatuh.

"Ya Allah, berikanlah suami hamba rezeki yang berlimpah. Berikanlah dia kesuksesan. Berikanlah dia kekayaan yang halal dan berkah. Bukan untuk kami sombong. Bukan untuk kami lupa kepadaMu. Tapi untuk kami bisa hidup lebih layak. Untuk kami bisa beribadah dengan lebih tenang. Untuk kami bisa membantu sesama."

Zidan yang dengerin doa istrinya langsung nangis lagi. Dia pegang tangan Naura erat.

Naura melanjutkan dengan suara yang makin bergetar.

"Ya Allah, hamba sedang hamil. Hamba takut calon anak hamba nggak dapat nutrisi yang cukup. Hamba takut dia lahir dengan kondisi yang nggak sehat karena hamba nggak bisa makan dengan baik. Ya Allah mohon... mohon lindungi calon anak hamba. Buat dia tumbuh sehat di dalam kandungan hamba meski dalam keterbatasan."

Dia sujud sambil terisak.

"Ya Allah... ibu kandung hamba sedang sakit. Dia butuh biaya besar untuk berobat. Hamba nggak mau kehilangan Ibu. Hamba masih butuh Ibu. Ya Allah berikanlah kami rezeki untuk biaya pengobatan Ibu. Sembuhkanlah Ibu ya Allah. Kembalikan kesehatan Ibu seperti sedia kala."

Dia duduk lagi sambil mengangkat tangan.

"Ya Allah, hamba dan suami hamba berjanji. Kami berjanji kalau Engkau beri kami kekayaan, kami akan gunakan untuk kebaikan. Kami akan sedekah banyak. Kami akan bantu orang miskin. Kami akan bangun masjid. Kami akan sekolahkan anak yatim. Kami akan jadi hambaMu yang lebih baik. Kami janji ya Allah. Kami janji dengan sungguh sungguh."

Zidan ikut mengaminkan dengan keras. "Aamiin ya Allah. Aamiin ya Rabbal alamin."

Mereka berdua sujud bareng sambil nangis. Sajadah lusuh itu basah kuyup karena air mata mereka berdua. Basah banget sampai kelihatan bekas air matanya.

Setelah lama bersujud, mereka duduk lagi. Zidan memeluk istrinya dari samping sambil sama sama masih mengangkat tangan.

"Ya Allah... kami pasrahkan semua kepadaMu. Kami nggak tahu lagi harus gimana. Kami cuma bisa berserah kepadaMu. Kami percaya Engkau punya rencana terbaik buat kami. Kami percaya Engkau nggak akan biarkan kami sengsara terus menerus. Kami percaya Engkau akan kasih jalan keluar."

Zidan melanjutkan dengan suara yang sangat lirih.

"Ya Allah, ujilah kami dengan kekayaan. Bukan dengan kemiskinan terus menerus. Kami mohon. Kami ingin merasakan hidup yang lebih baik. Kami ingin bisa tersenyum tanpa beban. Kami ingin bisa tidur nyenyak tanpa mikirin hutang. Kami mohon ya Allah. Dengan segala kerendahan hati kami mohon. Aamiin ya Rabbal alamin."

"Aamiin." Naura ikut mengaminkan dengan keras.

Mereka turunkan tangan sambil mengusap wajah. Mata mereka berdua sembab. Merah. Basah.

Zidan menatap istrinya lama. Lalu dia tersenyum tipis sambil mengusap pipi Naura yang basah.

"Terima kasih ya. Terima kasih udah mau doa bareng aku. Terima kasih udah selalu ada di samping aku."

Naura balas senyuman sambil pegang tangan suaminya yang ada di pipinya. "Kita satu tim Mas. Kita suami istri. Senang susah kita laluin bareng. Doa kita juga harus bareng."

Mereka berpelukan lama di pojok ruangan yang dingin itu. Dengan sajadah lusuh yang masih terbentang basah di bawah mereka. Dengan hati yang penuh harap. Dengan air mata yang mulai kering.

"Mas yakin Allah akan kabulin doa kita?" tanya Naura pelan di pelukan suaminya.

"Aku yakin. Sangat yakin. Allah Maha Mendengar. Dia pasti denger tangisan kita. Pasti denger doa kita. Tinggal tunggu waktu yang tepat."

"Semoga cepet ya Mas. Aku udah nggak tahan liat Mas capek kayak gini terus."

"Akan cepet. Aku yakin. Mungkin besok. Mungkin lusa. Mungkin minggu depan. Tapi pasti akan ada jalan keluar. Pasti."

Mereka melepas pelukan terus bersiap tidur. Zidan gulung sajadah dengan hati hati terus taruh di sudut ruangan. Naura lepas mukena terus lipat dengan rapi.

Mereka berbaring di kasur tipis sambil saling berpelukan. Zidan usap perut istrinya yang masih rata.

"Dedek, Ayah udah berdoa panjang buat kamu. Semoga Allah kabulin. Semoga waktu kamu lahir nanti, kita udah hidup lebih baik. Ayah janji akan kasih kamu kehidupan yang layak. Ayah janji."

Naura tersenyum sambil ikut usap perutnya. "Ibu juga janji. Ibu akan jaga kamu dengan baik. Ibu akan kasih ASI yang banyak. Ibu akan peluk kamu setiap hari. Ibu sayang kamu Nak."

Mereka tertidur dengan pelukan erat. Dengan senyum tipis di bibir. Dengan hati yang lebih tenang.

Doa mereka mengalun ke langit malam yang gelap.

Doa yang tulus.

Doa yang penuh harap.

Doa yang akan dikabulkan Allah.

Tapi dengan cara yang nggak mereka duga.

Dengan ujian yang akan datang.

Ujian yang akan mengubah segalanya.

Ujian yang akan memisahkan mereka.

Tapi mereka tidak tahu.

Mereka tidur dengan damai.

Dengan mimpi indah tentang masa depan yang cerah.

Tentang rumah yang besar.

Tentang makan yang enak.

Tentang kehidupan yang bahagia.

Mimpi yang akan jadi kenyataan.

Tapi kenyataan itu akan datang dengan harga yang sangat mahal.

Harga yang harus dibayar dengan kehancuran cinta mereka.

Dengan air mata yang nggak akan pernah berhenti.

Dengan penyesalan yang akan menggerogoti sampai mati.

Tapi untuk malam ini, mereka masih bermimpi indah.

Masih berharap.

Masih percaya pada kebaikan Allah.

Dan Allah sedang menyiapkan sesuatu.

Sesuatu yang besar.

Sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!