NovelToon NovelToon
GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

Status: tamat
Genre:Dokter / Anak Yatim Piatu / Teen School/College / Romantis / Cintamanis / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:987.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.

"Aku akan menikahi Gauri."

~ Devan Valtor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantrum

Devan tidak merasakan dinginnya air ketika tubuhnya menembus permukaan kolam yang dinginnya seperti es itu. Ia hanya merasakan satu hal, ketakutan yang begitu pekat hingga menyesakkan dadanya. Gerakan tangannya cepat dan kuat, tapi ada getaran panik yang jelas dalam setiap kayuhan. Dia tidak pernah mengalami ketakutan seperti ini sebelumnya.

"GAURI!" suaranya pecah, meski tak ada gunanya berteriak pada tubuh kecil yang sudah menghilang di bawah permukaan.

Air kolam terasa lebih berat daripada biasanya, seperti menarik tubuh Devan ke bawah. Namun ia menyelam dalam satu hentakan, mata terbuka luas meski airnya perih. Dalam keburaman air biru, ia menangkap sosok mungil dengan rambut terurai yang mengambang lemah, perlahan tenggelam lebih dalam.

"Tidak… tidak, jangan …" Devan bergerak lebih cepat, paru-parunya seperti robek menahan napas. Tangannya meraih lengan Gauri, dingin, lembek, tidak bergerak.

Begitu kulit mereka bersentuhan, perasaan mengerikan menyambar jantung Devan.

Dia terlambat. Tuhan… jangan bilang dia terlambat.

Ia menarik tubuh Gauri ke dadanya dan menendang kuat ke atas, memecah permukaan air dengan satu teriakan tercekat.

"Bantu aku! Gino!!"

Suara pintu kaca berderak terbuka keras. Gino muncul paling depan bersama seorang teman laki-laki mereka, Bram. Keduanya langsung berlari begitu melihat Devan mengangkat tubuh Gauri ke permukaan.

"DEVAN, SINI!" Gino menjulurkan tangan.

Devan mengangkat tubuh Gauri ke arah pinggir kolam, tangannya gemetar. Bram menahan pinggang Devan agar tidak terpeleset saat mengangkat gadis itu naik ke lantai. Begitu Gauri sampai di pinggir, Gino langsung mengangkatnya ke dadanya.

"YA AMPUN… GAURI!" suara beberapa wanita alumni terdengar menjerit.

Rombongan yang tadinya sibuk menyiapkan barbecue kini berlari masuk dengan wajah panik. Dalam hitungan detik, ruangan kolam dalam ruangan itu penuh oleh teriakan, kecemasan, dan langkah kaki tergesa-gesa.

Diana juga datang, menutup mulut dengan kedua tangannya, berpura-pura terkejut. Namun matanya memandangi Devan, bukan Gauri. Tepatnya, menatap Devan yang basah kuyup, panik, dan seperti kehilangan jiwa.

'Taruh dia di lantai!"seru Devan.

Gino menurunkan Gauri dengan hati-hati. Gadis itu terbaring lemas, matanya tertutup rapat, bibirnya memucat. Tidak ada suara, tidak ada batuk, tidak ada gerakan kecil sekalipun dari dada mungilnya.

"Gauri… Gauri, dengar akun…" suara Devan bergetar parah. Ia menepuk lembut pipi gadis itu, tapi tidak mendapat respons apa-apa.

Hening seketika, dan ketakutan merayap di wajah semua orang.

"DEVAN, CEPET LAKUKAN SESUATU!' Gino berteriak, suaranya putus. Dia juga panik luar biasa.

Tanpa menunggu sedetik pun, Devan langsung menjatuhkan dirinya berlutut di sisi Gauri. Tangannya, meski gemetar, langsung bergerak dengan otomatis, sesuai setiap pelatihan pertolongan pertama yang pernah ia pelajari.

Ia meletakkan kedua tangannya di atas dada Gauri yang kecil, lalu mulai menekan ritmis.

"Bangun, Gauri… ayolah… ayo… ayo…"

Tekanan pertama. Kedua. Ketiga.

Tidak ada respons. Devan menekan lagi, lebih dalam, lebih cepat. Ia melirik wajah gadis itu, masih pucat, masih diam, seperti boneka yang tidak bernyawa.

"CEPET, VAN!" seru Bram. Semuanya panik karena ini masalah nyawa seseorang. Terkecuali Diana, tentu saja.

"Aku tahu!!" Devan hampir membentak, bukan marah, tapi panik.

Ia menunduk, memposisikan kepala Gauri, lalu memberikan napas buatan. Dada gadis itu sedikit terangkat … lalu turun kembali. Tidak ada reaksi lain.

"Bangun, kumohon …" bisik Devan, suaranya pecah.

Diana menggigit bibir keras-keras melihat pemandangan itu. Devan menatap Gauri seperti dunia bisa runtuh jika gadis itu tidak bangun. Ia membenci bagaimana Devan terlihat begitu hancur … untuk seseorang seperti Gauri.

"Van, terusin! Jangan berhenti!" Gino berseru, suaranya lirih karena menahan takut.

Dan Devan melanjutkan. Tekanan dada. Napas buatan. Tekanan lagi. Waktu terasa seperti melambat. Setiap detik yang berlalu menusuk dada Devan.

"Jangan mati, Gauri… jangan pergi… bukan gini caranya…" Gino mengucapkan kalimat yang membuat Devan menatapnya tajam.

Rombongan alumni ada yang sudah menangis. Ada yang menutup wajah, ada yang komat-kamit berdoa. Gino berkali-kali memegangi kepala, berjalan lingkaran kecil penuh frustrasi. Bram menahan salah satu lengan teman yang hampir mau ikut membantu tapi justru akan mengganggu.

Sementara Diana berdiri di belakang mereka, wajahnya muram, tapi hatinya berdebar aneh. Ada bagian dirinya yang puas karena rencananya berhasil… namun juga panik karena ia tidak pernah ingin ini sejauh ini. Karena jika Gauri mati… Devan tidak akan pernah memaafkan siapa pun. Dan yang paling buruk, dia sudah membunuh seseorang secara sengaja. Di sini tidak tidak ada cctv kan? Tiba-tiba Diana langsung terpikirkan cctv. Ia kalap tadi jadi tidak berpikir panjang.

Ketika ia melihat Devan menunduk lagi memberi napas buatan, semakin intens, semakin putus asa, rasa kesalnya membesar kembali.

Kenapa harus sejauh ini?

Kenapa harus seromantis itu?

Kenapa harus sepeduli itu? Kenapa?

Sudah hampir sepuluh menit berlalu sejak Devan memulai pertolongan pertama. Keringat menetes dari pelipisnya meski tubuhnya basah oleh air kolam. Tangannya mulai kram dan lemah, tapi ia tidak peduli. Ia tidak akan berhenti. Tidak selama Gauri masih belum merespons.

"Devan, istirahat sebentar. Kau sudah ..."

"TIDAK!" Devan membentak.

"Dia butuh aku!"

Devan menekan dada Gauri lagi.

Lagi, dan lagi.

Dan saat Devan menurunkan wajahnya untuk memberi napas buatan berikutnya, Gauri tersedak keras.

"UH-KHH-KHHH!"

Tubuh mungil itu tiba-tiba terangkat sedikit dari lantai. Air memancar keluar dari mulutnya, berceceran di lantai, membasahi lengan Devan. Gauri terbatuk lagi, tubuhnya bergetar hebat.

"GAURI!!" seruan serempak dari semua orang menggema.

Devan langsung menopang kepala gadis itu, tangannya memeluk punggung Gauri erat-erat.

"Gauri, dengar aku? Ini aku, Devan … lihat aku …"

Napas Gauri tersengal-sengal, dadanya naik turun cepat sekali. Matanya membuka perlahan, berair, bingung, takut. Namun seketika itu juga ia menoleh ke samping.

Dan melihatnya.

Boneka beruang pemberian Devan, kesayangannya… basah kuyup… terapung tak berdaya di kolam.

Gauri membeku.

Lalu…

Tangisnya meledak seperti badai.

"B-Bon… be… be… B-ON…EKAAA!!" ia menjerit histeris.

"Jangan!! Jangan mati!! Jangan tenggelam lagi!! JANGAAAAN!!"

Semua orang kebingungan.

Tubuh Gauri menggelepar panik, mencoba bangun lalu meraih kolam meski masih lemas. Devan harus memeluknya dari belakang agar gadis itu tidak terjatuh lagi.

"Gauri, tenang! Tenang sayang, kakak di sini!" Devan berseru sambil menahan tubuhnya. Ia bahkan tidak sadar memanggil Gauri sayang.

Namun Gauri tidak bisa mendengar. Ia meraung, menangis sekeras yang ia sanggup. Suaranya pecah, ketakutan menguasai seluruh dirinya. Gino langsung berlari mengambil boneka itu dari kolam lalu menyerahkannya ke Gauri.

"Ini! Ini bonekanya!"

Begitu boneka itu berada dalam jangkauan, Gauri langsung merebutnya, memeluk erat seolah memeluk nyawa terakhir di dunia. Tangisnya tidak mereda, justru semakin histeris karena boneka itu basah, berat, dan tidak bergerak.

"BANGUN… bangun dong… jangan mati… jangan mati…" suaranya pecah berkeping-keping.

Devan, dengan wajah basah, entah oleh air kolam, keringat, atau air mata, memeluk Gauri kuat-kuat. Namun gadis itu semakin tantrum parah.

1
Rita Juwita
luar biasa thor seruuu... /Good//Good/
Azzahra Sevita Hanum Dimitry
cerita Agam sama sari kapan Thor...???
rose🦋
hahaaaa mamposss
rose🦋
🤣🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
laahh udah tamat aja, padahal belum puas Thor.🤭🤭

ceritanya bagus meski harus ada perbaikan karna kadang typo dari nama yang ke tuker dan beberapa yang harus dikoreksu lagi.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Gino kamu selalu jadi pendukung mereka tapi kamu sendiri yang menyedihkan karna belum ada pasangan.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Ayoo Gam, waktunya kamu bangkit untuk menata masa depan kamu dan Sari mungkin sosok yang pantas buat pendamping kamu pilihan Author...🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
👏👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hmmm ga di sangka ternyata saling berhubungan, Rena sepupu Sari tapi juga anak dari sodara tiri papahnya Gauri... Wooowww, sombongnya Rena cuma numpang dari harta Gauri ternyata, malu ga tuuhh.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ampuuunn Devan ga tau tempat... maaf Thor aku scorlnya cepat biar ga ke baca yang intim²nya karna lagi puasa.🤭🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Gauri badas juga ternyata hadepin orang toxic.👏👏👍

babang Devan tahan jangan deket² dulu itu masih dinsekolah wooyy.. bucinnya orang killer ga ada obat jadi absurd.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
mulai beraksi nih Gauri.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
🫣🫣🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
👏👏🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ga apa² malu²in sama suami mah Gauri asal di waktu dan tempat yang tepat... 🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ga usah malu Gauri.🤣🤣🤣
Agam siap² saja setiap waktu di suguhin bucinnya Devan... 🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Owh ternyata ga reinkarnasi cuma mungkin jeda waktunya ga Author tulis jadi aku bacanya salfok.🤭🤭
sabar ya Devan tipis² Gauri bakal inget sepenuhnya sama kamu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Loohh kok Gauri di RS bukannya tadi di rumah rumah sama Devan ya, jangan bilang kalau reinkarnasi lagi Thor.. kalau bener berarti dia belum nikah dong.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuhh perlu di sleding si demitRena pake alat kejut tuh ot4knya biar eling... ada saja hamanya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
🫣🫣🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!