Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTEROGASI
Setelah makan malam yang terasa sangat kaku itu berakhir, Raja Reifan, Tuan Steven dan Nyonya Kimberly pergi menuju ruang santai untuk berbincang, sementara Lucian dan Leo diantar oleh pelayan ke kamar mereka.
Jasmine sendiri, dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya pada perubahan sifat kakak nya.
"Ikut aku, Kak," bisik Jasmine tajam.
Jasmine segera menarik lengan baju Lucius saat mereka berada di lorong gelap menuju perpustakaan.
Ceklekk.
Jasmine membawa Lucius masuk ke dalam perpustakaan pribadi yang sepi, lalu menutup pintu dengan bantingan pelan namun tegas.
"Apa yang terjadi tadi di halaman, Kak?" tanya Jasmine tanpa basa-basi.
"Jangan coba-coba bohong padaku, tatapan Kakak di meja makan tadi, itu tidak biasa, seolah-olah aku ini orang yang sangat menyedihkan. Apa yang anak-anak ku katakan padamu?" tanya Jasmine, menatap kakaknya dengan mata yang berkilat marah sekaligus cemas.
Pangeran Lucius tidak langsung menjawab pertanyaan adik nya, dia menghela nafas nya panjang, menyenderkan tubuhnya pada rak buku besar.
"Kenapa kau tidak bilang padaku, Jasmine?" tanya pangeran Lucius suaranya rendah dan serak.
Pangeran Lucius, menatap adiknya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang belum pernah Jasmine lihat sebelumnya.
"Mereka bilang apa?" tanya Jasmine, lagi.
"Tentang Lucas, tentang kenyataan bahwa dia masih hidup dan sekarang sedang membusuk di penjara musuh," jawab Pangeran Lucius dengan nada pedih.
"Dan tentang anak-anakmu, tentang darah serigala yang mengalir di tubuh mereka," lanjut Pangeran Lucius.
DEG.
Seluruh tubuh Jasmine membeku, wajahnya mendadak pucat pasi.
Rahasia yang selama ini dia jaga mati-matian, rahasia yang dia pikul sendirian sampai punggungnya terasa patah, kini telah terbongkar.
"K-kakak bagaimana bisa? Tanya Jasmine tergagap.
"Leo tadi lepas kendali karena terlalu senang, kau punya tim baru," jawab Lucius mendekat, memegang kedua bahu Jasmine.
"Matanya berubah kuning, kuku-kukunya memanjang tepat di depan mataku, Jasmine, dan dia menceritakan semuanya, tentang suaramu yang menangis tiap malam sambil memeluk jubah Lucas, dan tentang rencanamu untuk menyerbu Benteng Hitam sendirian," ucap Pangeran Lucius, menatap Jasmine.
Tes
Tes
Tes
Akhirnya air mata yang selama ini Jasmine tahan di depan semua orang kini tumpah juga.
Pertahanannya runtuh total di depan kakak laki-lakinya.
"Aku harus menjemputnya, Kak," isak Jasmine, suaranya parau.
"Aku tidak bisa membiarkan dia menderita sendirian di sana, kalau aku minta bantuan istana, ayah akan menggunakan politik, ayah akan bernegosiasi selama berbulan-bulan, dan pada saat itu, Lucas mungkin sudah mati!" ucap Jasmine, hampir berteriak dengan ledakan emosi dan rasa sedih di hati nya.
Grep
"Kau bodoh, Mine, benar-benar bodoh, kenapa kamu berpikir aku akan membiarkanmu melakukan bunuh diri seperti itu sendirian, hah!?" ucap Pengeran Lucius menarik Jasmine ke dalam pelukannya, membiarkan adiknya menangis di dadanya.
"Kakak tidak akan melaporkannya pada Ayah kan?" tanya Jasmine mendongak kan wajahnya, yang basah oleh air mata.
"Jika Ayah tahu, dia akan mengurung mu di istana demi keselamatanmu, dan itu artinya Lucas benar-benar akan mati," jawab Lucius tegas.
"Jadi, aku akan tetap diam, aku akan pura-pura percaya pada kebohonganmu di depan Ayah," lanjut Pangeran Lucius, menghembuskan nafas nya, kasar.
"Tapi dengan satu syarat. Aku ikut. Pasukan bayanganku yang paling setia akan bergerak tanpa lambang kerajaan. Kita akan menjemput Lucas bersama-sama."
Jasmine tertegun, dia tidak menyangka akan mendapatkan dukungan sebesar ini dari Lucius.
"Tapi Kak, anak-anak, mereka punya darah serigala, kakak tidak takut?" tanya Jasmine ragu.
"Kenapa harus takut? Mereka keponakanku, selama mereka tidak menggigitku, aku tidak peduli darah apa yang mengalir di tubuh mereka, karena yang aku tahu, mereka adalah alasan kenapa adikku masih bisa berdiri tegak sampai sekarang," jawab Pangeran Lucius, senyum hangat seorang paman
Di luar pintu perpustakaan, Mark berdiri berjaga, memastikan tidak ada pelayan atau Raja yang mendekat.
Dia mendengar semuanya dan mengangguk pelan, satu pilar kekuatan lagi telah bergabung.
Di saat Jasmine dan Pangeran Lucius masih berada di dalam perpustakaan, di sisi lain, Raja Reifan sedang berdiri sendirian di balkon kamarnya, dia mengabaikan teh hangat yang sudah mulai dingin di atas meja.
Matanya menatap kosong ke arah hutan Utara yang gelap dan berkabut.
Angin malam yang dingin menusuk tulang, tapi tidak sedingin perasaan tidak enak yang menyelimuti hatinya.
"Florence...putrimu, dia menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dariku," bisik Raja Reifan pelan, memanggil nama mendiang istrinya.
Raja Reifan mengusap lencana kecil di dadanya.
Jasmine adalah bayangan hidup dari Ratu Florence, setiap kali dia melihat Jasmine, dia melihat wanita yang paling dicintainya.
"Bau ini bukan sekadar bau latihan ksatria, tapi ini bau tekad seseorang yang sudah siap untuk mati," gumam Raja Reifan.
"Jika dia mencoba melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya demi Lucas yang sudah tiada, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," batin sang Raja, mengepalkan tangannya kuat.
Raja Reifan ingat betul bagaimana hancurnya Jasmine lima tahun lalu saat kabar kematian Lucas datang.
Tok
Tok
Tok
Ceklekk
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan, itu adalah Nyonya Kimberly dan Tuan Steven.
"Yang Mulia Raja, Anda belum beristirahat?" tanya Tuan Steven dengan sopan.
"Steven, katakan padaku sebagai sesama orang tua, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku merasa Jasmine sedang bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat yang sangat berbahaya?" tanya Raja Reifan berbalik, menatap Ayah mertua putrinya itu dengan tatapan menyelidik.
Tuan Steven, menghela nafas panjang, dia bisa merasakan kekhawatiran yang luar biasa dari sang Raja.
"Jasmine adalah wanita yang kuat, Yang Mulia," ucap Nyonya Kimberly dengan hati-hati.
"Dia hanya ingin memastikan anak-anaknya memiliki perlindungan yang terbaik. Kesedihan masa lalu telah mengubahnya menjadi perisai bagi keluarganya," lanjut Nyonya Kimberly.
"Bukan perisai, Kimberly, tapi dia sedang menempa dirinya menjadi pedang," ucap Raja Reifan tegas.
"Dan pedang itu bisa patah jika dipukulkan ke batu yang terlalu keras, aku tidak akan membiarkan harta peninggalan Florence satu-satunya ini hancur," lanjut Raja Reifan, dengan rahang mengeras.
Melihat kegelisahan ayahnya dari kejauhan, Jasmine akhirnya sadar bahwa dia tidak bisa terus berbohong.
Raja Reifan bukan hanya seorang penguasa, dia adalah seorang ayah yang bisa merasakan detak jantung anaknya yang tidak tenang.
Jasmine keluar dari perpustakaan bersama Pangeran Lucius, dia melihat ayahnya masih berdiri di balkon, menatap kegelapan dengan bahu yang tampak berat.
Huh...
Jasmine menarik napas panjang, menatap Pangeran Lucius sejenak yang mengangguk pelan, memberikan dukungan, lalu dia melangkah maju menemui ayahnya.
"Ayah..." panggil Jasmine lembut.
Mendengar suara Putri nya, Raja Reifan berbalik, wajahnya yang tegas tampak melunak saat melihat putri kesayangannya.
"Jasmine, kau belum tidur?" tanya Raja Reifan, lembut.
"Ada hal yang harus Ayah ketahui. Semuanya," ucap Jasmine, mengepalkan tangannya kuat.
Jasmine tidak ingin ayahnya menghentikannya karena rasa takut, dia ingin ayahnya mendukungnya karena kebenaran.