Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Beberapa saat kemudian, ketika Seyra melewati jalan X. Tanpa sengaja netranya, melihat segerombolan geng motor yang sedang mengejar mobil sedan.
Seyra menajamkan tatapannya, seketika dia menyadari jika mobil yang di kejar gerombolan geng motor itu mobil milik ibunya yang biasa di pake oleh Valeri ke sekolah. Dengan cepat, dia mengikuti geng motor itu dari belakang.
Sementara Valeri yang berada di depan anggota geng motor itu, pada akhirnya memilih menyerah. Dia mengehentikan mobilnya di tanah kosong yang berada di sisi jalan. Dia keluar dari mobil, dan menatap para anggota geng motor itu marah.
Para anggota geng motor yang berjumlah empat orang, ikut turun dari motor mereka masing-masing dan melepas helm full face dari kepala mereka.
Salah satu cowok yang memakai kalung rantai di lehernya, menatap Valeri sembari terkekeh sinis.
"Skill lo boleh juga, tapi sayang lo masih jauh di bawah gue." Katanya sambil menyisir rambutnya menggunakan jari ke belakang.
"Kenapa kalian ngejar gue? gue nggak merasa punya masalah sama kalian?!" ujar Valeri penasaran.
Salah satu anggota geng motor yang bertubuh kekar, dengan tatapan tajam, melangkah maju.
"Kita cuma mau memberi pelajaran sama orang-orang yang berani merendahkan geng gue," katanya dengan suara berat yang menggema di udara.
"Gue sama sekali nggak pernah rendahin geng lo, waktu itu gue nggak sengaja ngatain lo yang lagi mabuk sialan. Dan gue udah minta maaf, masa lo masih dendam?"
Para anggota geng motor itu tertawa keras. "Maaf aja nggak cukup, sekali-kali lo harus tahu akibatnya berurusan sama kita dasar lont*."
Seyra yang mengintai dari balik sebuah pohon, merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia tahu Valeri bukan orang yang pantang menyerah, tapi situasi ini berbeda Valeri bisa terluka kalau menghadapi geng motor itu sendirian apa lagi Valeri tidak bisa bela diri, dia hanya menang di adu mulut saja.
"Kapan ada adegan kayak gini? kok gue nggak pernah baca? apa alurnya udah berubah gara-gara gue ada di sini?" gumam Seyra heran.
Tiba-tiba, salah satu anggota geng yang lebih pendiam, yang hanya berdiri di belakang mulai bergerak mendekat. Mereka semua tampak setengah terpesona oleh keberanian Valeri, namun di saat yang sama, kerumunan itu sepertinya siap untuk menyerang.
"Valeri," kata anggota pendiam itu dengan suara rendah. "Nggak usah belagu, lo di sini sendirian nggak ada yang bisa nolongin lo."
Valeri terkekeh sinis, "Justru itu, lo beraninya cuma sama cewek. Dasar pecundang."
"Kurang ajar!" bentak pria itu, dan menendang perut Valeri hingga membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.
Seyra tertegun, dia melihat Valeri memuntahkan darah cukup banyak. Saat itu juga Seyra bergegas keluar dari persembunyiannya.
"Oi bangsat, beraninya main keroyokan. Mending lo semua main barbie aja sana." Ejek Seyra seraya berjalan mendekati mereka.
Pria bernama Revan yang menjadi pemimpin geng itu mendesis, "Siapa lo?"
"Gue manusia cantik jelita tiada tara, kenapa lo mau stalking gue?" jawab Seyra menaik turunkan kedua alisnya.
"Gila, habisi dia!" teriak Raven pada rekannya.
Raven mulai melayangkan pukulan lebih dulu ke arah Seyra, dengan gesit gadis itu menendang area privasi milik Raven hingga pria itu merintih kesakitan.
"Ups, kayaknya telor lo pecah deh," Seyra menoleh ke arah Valeri. "Bentar, ya. Gue urus mereka dulu baru gue nolongin lo."
Valeri melongo tak percaya mendengar ucapan adiknya itu, akan tetapi dia lebih terkejut begitu melihat Seyra yang sangat lihai saat bertarung. "D-dia beneran adik g-gue?"
Seyra menyeka keringatnya, dia menatap malas para geng motor yang sedang kesakitan di tanah. Dia mematahkan lengan mereka meski tidak terlalu parah, dan memberikan pukulan telak di wajah mereka hingga wajah geng motor tersebut berlumuran darah.
"Sekali lagi lo semua ganggu saudara gue, habis nyawa kalian di tangan gue!" hardik Seyra tajam.
Para geng motor mengangguk takut, mereka bergegas pergi dengan tertatih-tatih menuju motornya. Seyra berjalan ke arah Valeri, yang kini sudah bersandar di kap mobil miliknya.
"Luka lo gimana? Sakit banget nggak? Apa perlu ke rumah sakit?" Seyra mencecar seraya menatap perut Valeri yang sedari tadi di pegang.
"Nggak apa-apa, cuma luka kecil." Valeri melihat tangan adiknya yang bersimbah darah. "Harusnya lo khawatirin luka lo, Sey."
Seyra melihat luka di tangannya, memang cukup dalam karena lawannya bukan satu orang dan dia sempat tergores di beberapa tempat. "Luka gue nggak dalam, santai aja."
Valeri mendengus sebal, adiknya memang keras kepala dan cuek. "Ngomong-ngomong lo mau kemana jam segini, Sey?"
"Jemput Samuel, lo bisa pulang sendiri?" Seyra tak ada niat untuk mengantar kakaknya itu.
Valeri mengangguk, "Bisa, gue tahu lo nggak mungkin nganterin gue balik."
"Tuh tau, lain kali jangan keluyuran malam-malam sendiri. Bahaya, untung tadi ada gue. Coba kalo nggak, yang ada lo udah meningal kali."
Valeri tersenyum pahit, meski rasa sakit masih mengganjal di perutnya. "Iya, iya, bawel banget. Gue nggak akan keluar malam lagi. Tapi lo juga jangan terlalu brutal, Sey. Kita nggak tau gimana nanti kalo mereka jadi nargetin lo, kan."
Seyra mendengus, "Biarin aja, mau mereka datang keroyokan lagi juga gue ladenin. Lumayan itung-itung olah raga."
Valeri menghela napas, "Gue ngerti, tapi lo harus bisa kontrol diri. Nggak semua orang bisa lo hadapi sendirian, tapi sejak kapan lo bisa bela diri?"
Seyra mengangkat kedua bahunya acuh, bagi dirinya yang sudah lama hidup terlunta-lunta di jalanan ketika masih berada di dunia nyata, hal seperti ini sudah menjadi makanan pokok untuknya. Itulah yang membuat dia tidak memiliki rasa takut, selama dia hidup dia sudah sering berhadapan dengan geng motor seperti orang tadi.
Dan tak jarang dia di masukan ke dalam rehabilitasi remaja, namun Seyra tak pernah kapok. Dia tak bisa diam saja, ketika melihat orang lain di tindas. Kecuali orang itu pernah memiliki masalah dengannya, baru dia akan diam saja dan hanya menonton meski orang itu mati di depannya dia tak akan mengotori tangannya untuk menolong.
Valeri menggelengkan kepala dengan lembut. "Sejak lo pulang, gue makin heran kenapa sikap lo berubah begini, Sey."
Seyra menatap Valeri dengan santai, "Semua orang bisa berubah, Val. Entah keadaan yang membuatnya berubah, atau luka yang memulainya berubah. Ada kalanya, manusia mempertimbangkan segala aspek sebelum memilih jalan kasar seperti gue sebagai satu-satunya solusi."
Valeri menatap jauh ke arah jalanan, seolah mencari jawaban. Dia merasa sedih mendengar ucapan adiknya barusan, tersirat luka tak kasat mata yang ada dalam nada bicara adiknya tersebut.
Mungkinkah luka itu yang di buat oleh ibu mereka? Valeri tak tahu, karena sedari awal Seyra bukanlah tipikal gadis yang mau berbagi cerita.
"Sey, gue..." Valeri menatap mata Seyra lekat. "Gue minta maaf atas sikap mama sama lo selama ini."
"Gue nggak menuntut maaf dari lo mau pun mama, Val." Seyra tersenyum tipis. "Ini udah jadi jalan hidup gue, meski gue merasa nggak adil tapi gue cuma bisa menerima dan memperbaiki hidup gue sendiri tanpa berharap uluran tangan dari siapa pun."
Jawaban itu membuat Valeri semakin merasa bersalah, sudah sedalam apa luka yang adiknya miliki sampai berpikir seperti itu?
"Apa lo marah?" tanya Valeri.
"Jelas gue marah," Seyra mendongak menatap langit malam. "Gue juga anak mama tapi kenapa harus di perlakukan kayak gini, kadang gue bertanya-tanya apa mama menyesal ngelahirin gue?"
"Mama nggak mungkin menye–"
Valeri menghentikan ucapannya ketika Seyra menepuk pundaknya pelan. "Nggak ada yang perlu lo jelasin, Val. Kalo memang gue perlu penjelasan, gue nggak bakal nanya sama lo tapi sama mama. Gue cabut dulu bye."
Hening sejenak, hingga suara knalpot motor Seyra membawa kesadaran Valeri kembali. Dia menatap punggung adiknya yang sudah menjauh, tanpa pamit padanya.
"Sikap lo makin dingin, Sey." Gumam Valeri.