NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan Pertama

Pandangan mengenai kencan pertama sebenarnya bermula dengan sangat sederhana.

Alvaro hanya ingin mengajak Aurellia untuk pergi tanpa adanya kepentingan lain. Mereka berdua ingin duduk bersama, berbincang tanpa suara mesin kopi yang mengganggu, tanpa seragam kerja, dan tanpa batasan waktu kafe yang mengikat. Sesuatu yang biasa terjadi. Sesuatu yang… mereka.

Permasalahannya hanya satu.

Waktu.

Kafe tempat Aurellia bekerja sedang sangat ramai. Beberapa minggu terakhir, hampir tidak ada hari yang sepi. Jam kerja yang bertambah membuatnya lelah, dan setiap kali pulang, Aurellia sering kali tertidur dengan ponselnya masih di tangan.

Alvaro menyadari hal ini. Ia memperhatikannya. Dan hal itu justru membuatnya enggan untuk mendesak.

Malam itu, mereka hanya saling bertukar pesan singkat.

Alvaro:

Kamu keliatan capek banget ya hari ini?

Aurellia:

Iya, banget. Kaki rasanya bukan punya aku.

Alvaro:

Istirahat yang baik ya.

Beberapa menit kemudian, Aurellia mengetik kembali.

Aurellia:

Maaf ya… belakangan ini sulit buat ketemu.

Alvaro membaca pesan tersebut dengan seksama.

Alvaro:

Gak masalah. Aku paham.

Dan ia memang paham.

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan pola yang mulai bisa diprediksi. Di pagi hari, Alvaro berangkat untuk memotret—kadang untuk produk, kadang untuk prewedding, dan terkadang untuk acara kecil yang tidak pernah muncul di timeline siapa pun, tetapi tetap harus ditangani dengan serius. Di siang hari, ia mengedit foto. Lalu di sore atau malam, ia datang ke kafe meski hanya sebentar, hanya untuk melihat Aurellia dari meja favoritnya, berbagi senyuman, atau melambai kecil.

Kadang mereka sempat berbincang.

Kadang tidak.

“Besok ada libur gak? ” tanya Alvaro suatu sore, berdiri di dekat kasir.

Aurellia menggeleng sambil tersenyum lelah. “Belum, jadwalnya padat. ”

“Gak masalah,” jawab Alvaro dengan cepat. “Aku cuma tanya. ”

Aurellia memandangnya sedikit lebih lama. “Kamu nunggu ya? ”

“Iya,” kata Alvaro santai. “Tapi gapapa kok. ”

Padahal hatinya sedikit tidak tenang.

Di dalam hatinya, Alvaro sangat ingin mengatakan, Aku mau ngajak kamu berkencan. Namun, kata-kata itu terasa berat jika diucapkan sekarang. Jadi ia menahan diri, menyimpannya, dan memilih untuk menunggu waktu yang tepat.

Sambil menunggu, hidup terus berjalan.

Alvaro mendapatkan beberapa pekerjaan besar sekaligus. Walaupun jadwalnya padat, ia tidak merasa keberatan. Setiap kali lelah, pikirannya selalu kembali pada satu hal: Nanti, saat Aurellia libur.

Ia bahkan sempat tertawa sendiri di depan laptop.

“Ini kencan pertama yang paling lama persiapannya,” katanya sambil menggeser foto di layar.

Suatu malam, setelah hampir seminggu tanpa percakapan panjang, ponselnya berbunyi.

Aurellia:

Var…

Alvaro segera membalas.

Alvaro:

Ada apa?

Aurellia:

Aku libur lusa.

Alvaro tertegun sejenak.

Alvaro:

Serius?

Aurellia:

Iya. Sepanjang hari.

Beberapa detik sunyi. Lalu pesan masuk lagi.

Alvaro:

Kalo gitu… mau pergi sama aku?

Aurellia membaca pesan itu sambil duduk di ruang ganti kafe. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Aurellia:

Mau pergi ke mana?

Alvaro:

Kencan. Resmi.

Aurellia tertawa kecil sendirian.

Aurellia:

Kamu lucu.

Alvaro:

Jawaban itu berarti iya apa enggak?

Beberapa detik kemudian:

Aurellia:

Iya.

Akhirnya hari libur tersebut datang.

Aurellia bangun lebih awal dari biasa—bukan karena alarm, tetapi karena pikirannya tidak bisa tenang. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap ke arah lemari, bingung memilih pakaian. Tidak ingin terlihat berlebihan, tapi juga tidak ingin asal-asalan.

Di sisi lain kota, Alvaro merasakan hal yang serupa.

Ia menghabiskan waktu cukup lama di depan cermin, mengacak-acak rambutnya, lalu menatanya kembali. Diulang berkali-kali. Jaketnya dipakai, kemudian dilepaskan, lalu dipakai lagi. Kamera ia tinggalkan—untuk kali ini, ia ingin hadir sebagai Alvaro, bukan sebagai seorang fotografer.

“Ini cuma kencan,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Tarik napas dalam-dalam. ”

Ketika Alvaro tiba, Aurellia sudah berdiri di depan lebih cepat dari yang direncanakan.

“Halo,” sapa Aurellia.

“Halo,” balas Alvaro, sedikit canggung tetapi tersenyum.

Beberapa detik mereka hanya berdiri, saling menatap, lalu tertawa bersamaan karena merasa canggung. Mereka pun akhirnya berangkat dengan motor Alvaro.

Mereka bertemu di tempat yang sederhana. Tidak terlalu ramai, juga tidak sepi. Lokasi yang dipilih Alvaro setelah mempertimbangkan dengan matang: tidak menguras energi Aurellia, tetapi cukup nyaman untuk berbincang.

“Ini memang aneh,” ujar Aurellia.

“Iya,” jawab Alvaro. “Padahal kita sering bertemu. ”

“Tapi ada yang beda,” sambung Aurellia. “Sekarang rasanya… disengaja. ”

Alvaro mengangguk. “Emang bener, aku sengaja. ”

Mereka mengambil tempat duduk setelah memesan makanan. Obrolan berlangsung santai, tidak terlalu heboh, tetapi hangat. Mereka berbicara tentang pekerjaan, hal-hal kecil yang biasanya hanya lewat di pesan, tentang kelelahan, dan tentang kebahagiaan.

“Aku pikir kamu bakal berhenti nunggu sampe aku libur,” kata Aurellia lembut.

Alvaro menatapnya. “Kenapa aku harus berhenti? ”

“Soalnya lama banget. ”

“Justru karena waktu yang lama,” Alvaro menjawab terus terang. “Kalo aku pergi sekarang, pasti bakal ada penyesalan. ”

Aurellia terdiam sejenak sebelum tersenyum.

Kencan itu tidak diisi dengan hal-hal besar. Tidak ada kejutan yang berlebihan. Tidak ada rencana yang terlalu padat. Mereka melangkah pelan. Duduk lebih lama dari yang mereka rencanakan. Sesekali terdiam tanpa merasa perlu mengisi kekosongan.

Dan di satu momen kecil—saat mereka berdiri berdampingan memandang jalan—Aurellia berkata hampir berbisik, “Aku seneng kamu nunggu aku. ”

Alvaro menoleh. “Aku juga senang akhirnya kamu punya waktu. ”

Hari itu berakhir sederhana. Tidak ada pegangan tangan yang dramatis. Tidak ada janji yang besar. Hanya dua orang yang pulang dengan hati yang lebih tenang daripada sebelumnya.

Di atas motor, Alvaro berpikir:

Kencan pertama ini tidak sempurna.

Kemudian ia tersenyum.

Tapi rasanya tepat.

Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

Begitu Aurellia tiba di rumah malam itu, sebelum ia sempat melepas sepatu, suara dari ruang tengah langsung menghampirinya.

“BALIK. ”

Aurellia menutup matanya sejenak. Ia sudah mengenali nada tersebut.

“Kenapa teriak-teriak? ” tanyanya sambil melangkah masuk.

Nara telah duduk dengan tegak di sofa, wajahnya tampak penuh rasa ingin tahu. “Gimana? ”

“Gimana apanya? ” balas Aurellia.

“Kencan yang pertama,” ujar Nara dengan pelan namun tegas. “Detailnya. ”

Aurellia tertawa kecil. “Biasa-biasa aja. ”

Nara mendengus. “Orang yang baru selesai kencan pertama nggak pulang sambil senyum lebar kayak gitu kalo cuma ‘biasa-biasa aja’. ”

Aurellia duduk di kursi dan mengambil segelas air. “Kami cuma ngobrol. ”

“Ngobrol itu bisa selama lima menit atau lima jam. Yang mana? ”

Aurellia terdiam sejenak. “Lima jam. ”

Nara menepuk lututnya. “NAH. ”

Bu Dewi yang sedang melipat pakaian juga menoleh. “Kalian debat tentang apa? ”

“Kakak baru pulang dari kencan, Bu,” jawab Nara cepat.

“Oh? ” Bu Dewi tersenyum. “Terus? ”

Aurellia mengangkat bahu. “Ya… itu seru banget. ”

Nara memiringkan kepalanya. “Seru gimana? ”

“Nggak bikin capek,” jawab Aurellia jujur. “Nggak perlu mikir tentang apa yang harus diomongin. ”

Nara menatapnya dengan serius. “Itu bukan ‘seru’. Itu berisiko. ”

“Berisiko? ” Aurellia mengangkat alisnya.

“Iya. Itu pertanda kamu merasa nyaman. ”

Aurellia terdiam. Perkataan itu tepat mengenai sasaran.

Bu Dewi memberikan senyum kecil. “Kalo gitu, ibu seneng. ”

Nara berdiri mendekat. “Pegang tangan nggak? ”

Aurellia langsung bangkit. “Nara. ”

“Peluk? ”

“Nara. ”

“Tatap-tatapan? ”

“Nara. ”

Nara tertawa puas. “Oke, aku nggak perlu detail. Aku udah tau jawabannya. ”

Aurellia masuk ke kamar sambil menggeleng-gelengkan kepala, tetapi senyumnya tetap menghiasi wajahnya. Di balik pintu tertutup, ia menyadari satu hal penting:

Kencan bukan hanya tentang tempat yang mereka kunjungi.

Melainkan tentang bagaimana ia pulang—dan masih merasa ingin menceritakannya.

1
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!