Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15: Keheningan Arena
Hari Turnamen Tahunan tiba dengan gemuruh drum kulit naga yang menggetarkan jantung.
Arena Langit, sebuah colosseum batu putih raksasa di pusat sekte, dipadati oleh lebih dari lima ribu murid. Di tribun utama, para Tetua Puncak duduk di kursi giok mereka, sementara murid-murid dari berbagai divisi berteriak-teriak memasang taruhan terakhir.
"Pasang 10 Batu Roh untuk Wang Jian membunuh si Pelayan dalam 3 jurus!"
"Aku pasang 5 Batu Roh dia mati di jurus pertama!"
Tidak ada yang bertaruh untuk Li Wei.
Di area tunggu peserta, Wang Jian duduk di bangku khusus yang dilapisi kulit harimau. Ia dikelilingi oleh penjilat-penjilatnya. Matanya terpejam, menikmati sorakan massa yang meneriakkan namanya.
"Tuan Muda," bisik seorang bawahan. "Li Wei datang."
Wang Jian membuka satu mata.
Di pintu masuk lorong peserta yang gelap, Li Wei melangkah keluar. Ia mengenakan jubah pelayan abu-abu yang sederhana, kontras dengan peserta lain yang mengenakan zirah kilap atau jubah sutra. Di punggungnya, terikat sebilah pedang hitam dalam sarung kulit tua.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang akan dieksekusi hari ini.
"Cih," Wang Jian mendengus. "Dia terlihat seperti orang mati berjalan."
Tiba-tiba, gong berbunyi.
Wasit utama, seorang Diaken Senior dengan kultivasi Lapis 8, melayang ke tengah arena.
"Turnamen dimulai! Sebelum Pertandingan Utama 'Hidup Mati', kita akan melalui Babak Penyisihan untuk menentukan peringkat murid luar!"
"Pertandingan Pertama: Luo Gang (Puncak Besi) melawan Li Wei (Lembah Abu)!"
Sorakan penonton meledak menjadi tawa mengejek.
"Luo Gang? Si 'Tangan Besi'? Dia Lapis 5 Puncak!" "Wah, Wang Jian benar-benar mengatur ini. Dia mengirim anak buahnya untuk mematahkan kaki Li Wei sebelum menu utama."
Luo Gang, seorang pemuda bertubuh kekar seperti beruang dengan sarung tinju berduri, melompat ke atas panggung. Lantai arena bergetar saat ia mendarat. Ia menyeringai kejam ke arah Li Wei.
"Hei, Tikus Lembah Abu," teriak Luo Gang. "Tuan Muda Wang titip pesan. Dia bilang aku boleh mematahkan semua gigimu, asalkan kau masih hidup untuk dia bunuh nanti."
Li Wei berjalan menaiki tangga panggung perlahan. Ia berdiri sepuluh langkah di depan Luo Gang.
Li Wei tidak menjawab. Ia bahkan tidak memasang kuda-kuda. Tangannya tergantung santai di samping tubuhnya.
"Apakah dia menyerah?" "Dia gemetar ketakutan!"
Wasit mengangkat tangan. "Mulai!"
BOOM!
Luo Gang tidak membuang waktu. Ia menghentakkan kakinya, melesat maju seperti bola meriam. Tinju berdurinya bersinar dengan cahaya logam kelabu. Teknik Tinju Penghancur Batu.
"Makan ini! Tinjuku bisa menghancurkan batu besar!"
Tinju itu mengarah tepat ke wajah Li Wei. Angin pukulan itu bahkan mengibarkan rambut Li Wei ke belakang.
Satu detik. Setengah detik.
Li Wei masih tidak bergerak.
"Mati!" teriak Luo Gang.
Tepat saat duri besi itu berjarak satu inci dari hidung Li Wei...
Wusss.
Li Wei menghilang.
Bukan menghilang gaib, tapi bergerak dengan kecepatan yang menipu mata. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke kiri gerakan minimalis yang nyaris tak terlihat.
Tinju Luo Gang memukul udara kosong.
Karena tinjunya meleset dengan kekuatan penuh, tubuh besar Luo Gang terhuyung ke depan. Lehernya terbuka lebar.
Li Wei tidak mencabut pedangnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang memegang sarung pedang.
Dengan gerakan santai seolah mengusir lalat, ia menghantamkan ujung sarung pedang itu ke tenggorokan Luo Gang.
BUKK!
Suara hantamannya tidak keras, tapi terdengar mengerikan. Itu suara tulang rawan yang remuk.
"Khhhrkk..."
Mata Luo Gang melotot keluar. Tubuh besarnya kaku di udara sesaat, lalu jatuh berlutut. Ia mencengkeram lehernya, wajahnya berubah ungu. Ia tidak bisa bernapas, apalagi berteriak.
Li Wei kemudian mengangkat kakinya dan menendang dada Luo Gang pelan.
Gedebuk.
Raksasa Lapis 5 Puncak itu jatuh terlentang, pingsan seketika dengan mulut berbusa.
Hening.
Seluruh Arena Langit yang tadinya bising seperti pasar, kini sunyi senyap. Jarum jatuh pun akan terdengar.
Para penonton ternganga. Mulut mereka terbuka lebar, tapi tidak ada suara yang keluar.
Satu serangan. Bahkan bukan serangan pedang. Hanya sarung pedang. Dan musuh Lapis 5 Puncak tumbang seperti karung beras.
Li Wei menatap wasit yang juga terpaku.
"Apakah sudah selesai?" tanya Li Wei sopan.
Wasit tersentak sadar. Ia menelan ludah, menatap Luo Gang yang tak sadarkan diri, lalu menatap Li Wei dengan pandangan ngeri.
"Pemenang... Li Wei!"
Barulah sorakan meledak. Tapi kali ini bukan ejekan. Itu adalah teriakan kaget, bingung, dan kagum.
"Apa itu tadi?!"
"Dia Lapis berapa?! Kenapa auranya tidak terasa?"
"Kecepatan itu... mataku tidak bisa mengikuti!"
Di tribun utama, wajah Wang Jian yang tadinya santai, kini mengeras seperti batu. Cangkir anggur di tangannya retak.
"Luo Gang kalah satu jurus?" desisnya.
Di sampingnya, seorang bawahan berbisik gemetar, "Tuan Muda... sepertinya informasi kita salah. Bocah itu menyembunyikan kekuatannya. Dia mungkin sudah Lapis 5... atau Lapis 6."
Wang Jian berdiri. Aura apinya berkobar, membakar kursi kulit harimau di belakangnya menjadi abu.
"Bagus," kata Wang Jian, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena kegembiraan gila. "Aku khawatir dia akan membosankan. Ternyata dia membawa pisau sungguhan."
Di tengah arena, Li Wei tidak merayakan kemenangan. Ia tidak melambai ke penonton.
Ia hanya berbalik, menatap lurus ke arah tribun tempat Wang Jian berdiri.
Li Wei mengangkat pedangnya yang masih terbungkus sarung, lalu mengarahkannya tepat ke wajah Wang Jian.
Sebuah tantangan terbuka.
"Giliranmu," mulut Li Wei bergerak tanpa suara.