Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Teknik Iblis Misterius
Su Yun langsung mengenali suara dari luar.
Su Gui Mu.
Berbeda dengan siang tadi, kali ini nada suaranya dipenuhi kemarahan dan niat buruk yang sama sekali tidak disembunyikan.
“Kelilingi gubuknya!”
“Jangan biarkan dia kabur!”
Suara langkah kaki semakin dekat.
Su Yun berdiri di samping ranjang, matanya menyipit.
Ancaman menggunakan nama Qing Er rupanya hanya mampu menahan Su Gui Mu selama beberapa jam.
Setelah memikirkannya kembali, lelaki itu pasti menyadari satu hal.
Qing Er memang berbakat dan telah memasuki wilayah dalam Keluarga Su, tetapi ia belum memiliki kekuasaan besar.
Jika Su Yun dipukuli di wilayah luar pada tengah malam, siapa yang akan mempermasalahkannya?
Dirinya hanyalah seorang anggota keluarga yang telah disingkirkan.
Tidak punya kedudukan.
Tidak punya dukungan.
Bahkan namanya hampir tidak dianggap penting lagi.
Kalau Su Gui Mu benar-benar ingin membuatnya menghilang malam ini, kemungkinan besar hanya sedikit orang yang akan peduli.
Su Yun menarik napas perlahan.
Ia tidak takut.
Masalahnya adalah tubuhnya terlalu lemah.
Kultivasinya masih berada di tahap keenam.
Dalam kondisi normal, menghadapi Su Gui Mu dan sejumlah bawahannya sekaligus jelas bukan pilihan yang bijaksana.
Namun...
Su Yun bukan hanya memiliki kekuatan tubuh ini.
Ia membawa pengetahuan lima belas tahun kehidupan sebelumnya.
Tatapannya jatuh pada botol darah Serigala Hitam yang masih tersisa di atas meja.
Sebuah ide muncul.
“Cukup untuk sekali.”
Ia meraih botol itu.
Jarinya dicelupkan ke dalam darah berwarna gelap, kemudian dengan cepat menggambar pola pada bagian dalam pakaiannya.
Satu garis.
Dua garis.
Kemudian lingkaran kecil dengan pola menyerupai tengkorak.
Gerakannya sangat cepat dan tanpa keraguan.
Dalam kehidupan sebelumnya, ketika hampir putus asa mencari cara menyembuhkan tubuhnya, Su Yun pernah mempelajari banyak metode yang dianggap menyimpang.
Teknik sekte lurus.
Teknik pengembara.
Metode pemurnian tubuh.
Bahkan beberapa teknik dari jalur iblis.
Dan salah satunya adalah—
Susunan Tengkorak Hantu.
Teknik dasar dari jalur iblis yang sangat sederhana.
Darah digunakan sebagai medium.
Dada menjadi pusat formasi.
Ketika diaktifkan dengan energi spiritual, teknik tersebut memaksa darah dan energi di dalam tubuh bekerja jauh melampaui batas normal.
Hasilnya sangat sederhana.
Kekuatan meningkat drastis.
Kecepatan meningkat.
Ledakan energi menjadi jauh lebih ganas.
Tetapi harga yang harus dibayar juga tidak kecil.
Teknik itu hanya mampu bertahan sekitar sepuluh menit.
Setelahnya, tubuh pengguna akan kehilangan banyak darah dan energi.
Jika dipaksakan terlalu lama, bahkan bisa mengancam nyawa.
Karena itulah sekte-sekte besar menganggap metode semacam ini sebagai teknik berbahaya.
Su Yun justru sangat mengenalnya.
Saat terakhir menyelesaikan garis tengkorak, ia menempelkan dua jari pada dadanya.
“Bangkit.”
Energi spiritual mengalir ke pola tersebut.
Buzz!
Darah di seluruh tubuh Su Yun seolah mendidih.
Pembuluh darah muncul di lehernya.
Kulitnya perlahan berubah kemerahan.
Keringat dingin mengalir dari dahinya, sementara kedua matanya memancarkan rona merah samar.
Rasa sakit menjalar dari dada ke seluruh tubuh.
Su Yun mengertakkan gigi.
“Benar-benar tidak nyaman.”
Namun hasilnya nyata.
Kekuatan yang sebelumnya tersembunyi di dalam tubuh mulai meledak keluar.
Bang!
Pintu gubuk dihantam dari luar.
Kayu tua itu langsung terbuka lebar.
Su Gui Mu menerobos masuk bersama enam orang bawahannya.
“Su Yun!”
Ia hendak berteriak lagi, tetapi perkataannya berhenti begitu melihat pemuda di hadapannya.
Wajah Su Yun merah.
Napasnya berat.
Aura yang mengelilinginya terasa jauh berbeda dibandingkan siang tadi.
Su Gui Mu tanpa sadar melangkah mundur.
“Kau...”
Ia mengerutkan kening.
“Apa yang kau lakukan?”
Su Yun mengangkat kepala perlahan.
“Aku justru ingin bertanya.”
Tatapan merahnya membuat beberapa orang merasa tidak nyaman.
“Mengapa kalian menerobos rumahku di tengah malam?”
Su Gui Mu segera memulihkan keberaniannya.
Ia tertawa dingin.
“Menagih utang.”
“Bukankah siang tadi kau mengatakan akan memberiku waktu?”
“Itu tadi.”
Su Gui Mu meludah ke tanah.
“Sekarang aku berubah pikiran.”
Ia melangkah maju.
“Dua ribu koin roh. Bayar sekarang.”
Su Yun tidak bergerak.
“Kalau aku tidak punya?”
Senyum Su Gui Mu semakin lebar.
“Berlutut.”
Su Yun mengangkat alis.
“Lalu?”
“Mohon ampun kepadaku.”
Su Gui Mu menunjuk kakinya.
“Kalau suasana hatiku bagus, mungkin aku hanya akan mematahkan beberapa tulangmu.”
Beberapa bawahannya tertawa.
“Kalau tidak?”
Su Yun bertanya.
Su Gui Mu mengangkat bahu.
“Besok pagi orang-orang mungkin menemukan mayatmu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Su Yun menatapnya beberapa detik.
“Tidak ada pilihan ketiga?”
“Tidak.”
Su Yun mengangguk.
“Kalau begitu...”
Tubuhnya perlahan merendah.
“Aku akan membuatnya sendiri.”
“Apa?”
Su Gui Mu bahkan belum memahami maksudnya.
Su Yun sudah menghilang dari tempatnya.
Wus!
Ia menerjang seperti anak panah.
Salah satu bawahan Su Gui Mu membelalak.
“Cepat sekali!”
Su Gui Mu baru sempat mengangkat tangan ketika sebuah tinju telah tiba di depan dadanya.
Bang!
Suara benturan keras menggema.
Tubuh Su Gui Mu terangkat dari tanah.
Ia terlempar keluar melewati pintu, menghantam halaman beberapa meter jauhnya.
“Ugh!”
Darah menyembur dari mulutnya.
Semua orang membeku.
Tak seorang pun bergerak.
Su Gui Mu berada di tahap ketujuh.
Su Yun?
Tahap keenam.
Secara logika, hasil pertarungan seharusnya jelas.
Namun satu pukulan Su Yun hampir membuat Su Gui Mu kehilangan kesadaran.
“T-Tuan Muda!”
Para bawahannya segera berlari keluar.
Mereka membantu Su Gui Mu bangkit.
Lelaki itu menekan dadanya sambil terbatuk.
“Apa...”
Darah kembali menetes dari sudut bibirnya.
“Bagaimana mungkin?”
Su Yun berdiri di ambang pintu.
Wajahnya tetap merah akibat Susunan Tengkorak Hantu.
Dalam hati, ia menghitung waktu.
Tujuh menit.
Mungkin kurang.
Ia harus menyelesaikan masalah ini sebelum efek teknik menghilang.
Seorang pria bernama Su Wang Cai menatapnya dengan takut.
“Su Yun... kau sebenarnya berada di tahap berapa?”
“Kenapa?”
Su Yun bertanya santai.
“Kau...”
Su Wang Cai menelan ludah.
“Tidak mungkin seorang tahap keenam memiliki kekuatan seperti itu.”
Su Gui Mu juga memikirkan hal yang sama.
Rasa marah di matanya perlahan bercampur keraguan.
“Kau menyembunyikan kultivasimu?”
Su Yun tidak menjawab langsung.
Justru itulah yang ia inginkan.
Membuat mereka berpikir sendiri.
“Aku sudah memperingatkanmu siang tadi.”
Su Gui Mu menggertakkan gigi.
“Jangan sok kuat!”
Ia mencoba berdiri tegak.
“Walaupun kau menyembunyikan kultivasi, terus kenapa? Aku bisa melaporkan serangan ini kepada ayahku!”
“Silakan.”
Su Yun tersenyum.
Su Gui Mu terdiam.
“Menurutmu aku takut?”
“Seharusnya.”
Jawaban itu terlalu tenang.
Beberapa orang mulai saling memandang.
Su Yun menunggu beberapa saat, lalu menarik napas seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat.
“Ada satu rahasia yang sebenarnya tidak boleh kubicarakan.”
Su Gui Mu mengerutkan kening.
“Rahasia apa?”
Su Yun memandang mereka satu per satu.
“Tes kultivasi terakhirku.”
“Kenapa dengan tes itu?”
“Palsu.”
Semua orang terdiam.
Su Yun melanjutkan.
“Angka tahap keenam yang kalian lihat adalah hasil yang sengaja ditampilkan.”
Su Gui Mu membelalak.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku sederhana.”
Su Yun menunjuk dirinya sendiri.
“Keluarga Su sengaja menyembunyikan kekuatanku.”
“Omong kosong!”
Su Gui Mu berteriak.
Namun suaranya tidak lagi terdengar yakin.
Su Yun tertawa kecil.
“Kalau begitu jelaskan bagaimana seorang tahap keenam bisa membuatmu seperti itu dengan satu pukulan.”
Su Gui Mu langsung diam.
Para bawahannya juga tidak mampu menjawab.
“Beberapa orang di kediaman utama mengetahui hal ini.”
Su Yun terus menekan.
“Aku dipindahkan ke wilayah luar bukan karena dibuang.”
Ia berhenti sejenak.
“Melainkan karena keluarga membutuhkan seseorang yang tidak menarik perhatian.”
“Jadi...”
Su Wang Cai terlihat pucat.
“Kau adalah orang yang sengaja disembunyikan?”
Su Yun tersenyum.
“Anggap saja senjata rahasia.”
Su Gui Mu membeku.
Kedengarannya tidak masuk akal.
Namun pukulan tadi nyata.
Aura Su Yun juga nyata.
Dan jauh lebih meyakinkan daripada semua rumor yang pernah mereka dengar.
Seorang bawahan mendekati Su Gui Mu.
“Tuan Muda...”
“Apa?”
“Menurut saya kita sebaiknya pergi.”
“Diam!”
“Tapi kalau yang dia katakan benar...”
Yang lain ikut berbisik.
“Kita bisa membuat masalah besar.”
Su Gui Mu memandang Su Yun.
Pemuda itu berdiri dengan sangat tenang.
Tidak mengejar.
Tidak panik.
Seolah enam orang di depannya benar-benar tidak layak dianggap sebagai ancaman.
Keraguan Su Gui Mu akhirnya berubah menjadi takut.
“Bantu aku.”
Ia berkata pelan.
Dua orang menopangnya.
“Kita pergi.”
Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika suara Su Yun terdengar.
“Berhenti.”
Semua orang langsung kaku.
Su Gui Mu menoleh perlahan.
“Apa lagi?”
Su Yun menyilangkan tangan.
“Rahasia yang kalian dengar malam ini tidak boleh keluar dari mulut siapa pun.”
Tidak ada jawaban.
“Kalau kediaman utama mengetahui aku membocorkannya...”
Su Yun menyipitkan mata.
“Aku tidak tahu siapa yang akan mati terlebih dahulu.”
Su Gui Mu langsung mengangguk.
“Kami tidak akan bicara.”
“Bagus.”
Su Yun hampir membiarkan mereka pergi.
Namun kemudian ia teringat sesuatu.
“Oh, satu lagi.”
Wajah Su Gui Mu berkedut.
“Apa?”
“Besok pagi bawakan satu pon darah Monyet Api.”
Su Gui Mu hampir tersedak.
“Apa?!”
Ia bahkan lupa rasa takutnya sesaat.
“Satu pon darah Monyet Api? Kau tahu harganya?”
“Tahu.”
“Lima ribu koin roh!”
Monyet Api adalah Binatang Roh yang cukup langka.
Darahnya memiliki kandungan energi panas yang sangat kuat dan sering digunakan dalam obat maupun latihan tubuh.
Karena sulit diperoleh, harganya sangat mahal.
Su Yun mengangguk.
“Anggap sebagai kompensasi karena menerobos rumahku.”
“Kau merampokku!”
“Kalau tidak mau...”
Tatapan Su Yun turun menuju dada Su Gui Mu.
“Bisa kubayar dengan cara lain.”
Su Gui Mu langsung mengingat pukulan tadi.
Wajahnya menjadi pucat.
“Aku...”
Rahangnya mengeras.
“Aku akan mengirimkannya.”
“Besok pagi.”
Su Yun menegaskan.
Su Gui Mu berbalik.
“Ayo!”
Kelompok itu segera meninggalkan halaman.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki mereka menghilang.
Su Yun tetap berdiri di depan pintu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Setelah memastikan tidak ada seorang pun kembali—
Puff!
Tubuhnya langsung kehilangan tenaga.
Su Yun jatuh berlutut.
Warna merah di kulitnya memudar cepat.
“Uh...”
Rasa sakit seperti ribuan jarum menusuk seluruh tubuh.
Ia mencoba menopang dirinya pada kusen pintu, tetapi tangannya tidak memiliki tenaga.
Akhirnya Su Yun ambruk ke lantai.
Susunan Tengkorak Hantu telah berakhir.
Darahnya terkuras.
Napasnya menjadi sangat lemah.
Namun di tengah rasa sakit itu, Su Yun justru tersenyum.
“Lima ribu koin roh...”
Ia tertawa pelan.
“Lumayan.”
Darah Monyet Api merupakan salah satu bahan yang sebenarnya masih ia butuhkan untuk pengobatan.
Su Gui Mu datang untuk menghajarnya.
Sebaliknya, lelaki itu justru akan membawakan bahan paling mahal secara cuma-cuma.
Su Yun menutup mata sambil menahan nyeri.
Namun senyumnya perlahan menghilang.
Ia tahu tipuannya tidak akan bertahan selamanya.
Su Gui Mu memang bodoh.
Ayahnya belum tentu.
Kalau mereka menyelidiki terlalu dalam, kebohongan tentang “senjata rahasia Keluarga Su” pasti terbongkar.
Artinya...
ia harus bergerak lebih cepat.
Sebelum kebohongan itu runtuh, Su Yun harus benar-benar memperoleh kekuatan yang cukup untuk membuatnya menjadi kenyataan.
......................
Bersambung...