Bayu, seorang penyanyi kafe, menemukan cinta sejatinya pada Larasati. Namun, orang tua Laras menolaknya karena statusnya yang sederhana.
Saat berjuang membuktikan diri, Bayu tertabrak mobil di depan Laras dan koma. Jiwanya yang terlepas hanya bisa menyaksikan Laras yang setia menunggunya, sementara hidup terus berjalan tanpa dirinya.
Ketika Bayu sadar dari koma, dunia yang ia tinggalkan tak lagi sama. Yang pertama ia lihat bukanlah senyum bahagia Laras, melainkan pemandangan yang menghantam dadanya—Laras duduk di pelaminan, tetapi bukan dengannya.
Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kenyataan bahwa Laras telah menikah dengan pria lain, tetapi juga karena pernikahan itu terpaksa demi melunasi hutang keluarga. Laras terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan dikhianati suaminya.
Kini, Bayu harus memilih—merebut kembali cintanya atau menyerah pada takdir yang terus memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Biaya
Boni mengepalkan tangannya, otot-otot di lengannya menegang. Ia menggeleng pelan, lalu tertawa pendek, getir. "Keluarga inti?" ia mengulang, suaranya dipenuhi sarkasme.
Lalu, tatapannya menajam.
"Dok, Bayu nggak punya siapa-siapa lagi!" suaranya meninggi, penuh tekanan. "Saya satu-satunya orang yang ada buat dia!"
Boni mendongak, menatap dokter itu lurus-lurus. Dadanya naik-turun, napasnya berat. "Saya keluarganya! Mungkin nggak sedarah, tapi Bayu itu saudara saya! Kami tinggal di bawah atap yang sama, saya lebih kenal dia daripada siapa pun!"
Keheningan menguasai lorong rumah sakit. Bahkan Bayu, yang berdiri tak kasatmata di sisi Boni, merasakan getaran emosinya.
"Maaf, aturan tetap aturan—"
"Peduli setan sama aturan!" Boni mendekat selangkah, suaranya meninggi. "Saya sudah lebih dari keluarga buat dia! Saya yang tinggal bareng dia, saya yang selalu ada buat dia! Dokter mau bilang saya bukan keluarga cuma karena kami nggak punya hubungan darah?!"
Beberapa perawat mulai melirik mereka, waspada dengan nada tinggi Boni.
Roh Bayu membeku di tempatnya, dadanya—jika masih bisa disebut begitu—terasa sesak mendengar teriakan Boni.
Ia menatap sahabatnya yang berdiri di ambang pintu ICU dengan rahang mengeras, matanya merah, dan dadanya naik turun karena emosi. Kata-kata Boni barusan mengguncangnya lebih dari apa pun.
"Lebih dari keluarga…"
Jika ia masih punya tubuh, mungkin saat ini ia sudah meneteskan air mata. Ia tahu Boni peduli padanya, tapi mendengar sahabatnya berteriak seperti itu, tanpa peduli aturan, tanpa peduli siapa yang ada di sekitarnya, membuatnya sadar betapa berharganya persahabatan mereka.
Bayu ingin mendekat, ingin menyentuh pundak sahabatnya dan mengatakan, "Gue denger, Bon. Gue denger semuanya." Tapi tentu saja, tangannya hanya menembus udara kosong.
Ia bisa merasakan betapa Boni berjuang untuknya, melawan aturan rumah sakit, menantang semua orang demi bisa berada di sisinya. Dan yang paling menyakitkan bagi Bayu adalah kenyataan bahwa ia tidak bisa melakukan apa pun untuk menjawabnya.
Untuk pertama kalinya, Bayu merasa lebih tak berdaya daripada saat tubuhnya terbaring koma di ranjang rumah sakit.
Dokter itu tampak ragu, tapi tetap mempertahankan posisinya. "Saya mengerti perasaan Anda, tapi pasien masih dalam kondisi kritis. Kami harus membatasi pengunjung untuk menjaga stabilitasnya."
Boni menghembuskan napas kasar, berusaha menahan diri agar tidak berteriak. "Saya nggak minta banyak. Saya cuma mau lihat dia. Saya cuma mau tahu dia masih hidup dengan mata kepala saya sendiri!"
Sejenak, hening. Dokter itu menatap tajam ke dalam mata Boni, seakan menilai apakah ia cukup bisa dipercaya. Sesaat ia tampak ragu, lalu akhirnya menghela napas dan mengangguk pelan. "Baiklah," katanya pelan. "Tapi hanya lima menit."
Boni tak menunggu dokter berubah pikiran. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung melangkah masuk ke ICU, hatinya berdebar keras. Begitu melihat Bayu terbaring dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya, rasa nyeri hebat menusuk dadanya.
Bayu berdiri di sisi ranjang, menatap tubuhnya sendiri yang terbaring lemah dengan selang dan alat medis yang terhubung ke sana-sini. Namun, perhatian utamanya justru tertuju pada sosok Boni yang kini berdiri di sampingnya.
Mata Bayu bergetar melihat sahabatnya yang selalu tampak kuat kini menunjukkan sisi lemahnya. Ada sesuatu yang terasa sesak di dalam dirinya.
"Bay," gumamnya lirih, langkahnya tertahan di samping ranjang. "Gue di sini, Bro… Lo nggak sendirian."
Suaranya bergetar, dan untuk pertama kalinya malam itu, Boni merasa benar-benar tak berdaya.
Suara Boni lirih, hampir berbisik, tapi Bayu mendengarnya dengan jelas.
Bayu mengangkat tangannya, refleks ingin meraih bahu Boni—seperti yang selalu ia lakukan setiap kali sahabatnya itu mengalami hari buruk. Tapi jemarinya hanya menembus udara kosong.
"Brengsek…" Bayu mengumpat pelan, frustrasi karena tidak bisa menyentuh atau berbicara dengan Boni.
Ia menatap wajah sahabatnya yang penuh kelelahan, mata merah dan rahang mengeras menahan emosi.
"Boni… Lo, yang nggak sendirian."
Andai saja suaranya bisa sampai ke telinga Boni, andai saja ia bisa memberi tahu bahwa ia ada di sini, mendengar semuanya. Tapi nyatanya, yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri di sana, menyaksikan sahabatnya tersiksa karena dirinya.
***
Boni berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah berat. Matanya sembab, pikirannya penuh dengan kekhawatiran. Begitu banyak hal yang harus dipikirkan, tapi yang paling utama adalah bagaimana caranya agar Bayu tetap mendapatkan perawatan.
Ketika sampai di meja administrasi, seorang perawat menyerahkan selembar kertas kepadanya. “Ini rincian tagihan sementara untuk perawatan Bayu, Pak,” katanya dengan nada profesional, meski ada sedikit iba di matanya melihat ekspresi Boni yang tampak kelelahan.
Boni menghela napas dan mengambil kertas itu. Matanya langsung bergerak cepat membaca angka di bagian bawah. Ratusan juta. Angka itu terasa seperti hantaman palu godam di kepalanya.
Tangan Boni menegang. Ia bahkan bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. “Gila…” gumamnya nyaris tanpa suara. Jumlahnya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
“Ini baru biaya sementara, Pak. Karena kondisi pasien masih di ICU, biaya bisa bertambah seiring waktu,” jelas perawat itu.
Boni mengusap wajahnya kasar. Otot-otot rahangnya mengeras. "Dari mana gue dapet uang sebanyak ini?!" batinnya. Jelas ia tak punya uang sebesar itu.
Ia menatap kembali angka itu, seakan berharap angkanya berubah jika dilihat dari sudut lain. Tapi kenyataannya tetap sama—ia tak punya uang sebanyak itu.
Pikirannya langsung berkelana. Meminjam uang? Dari siapa? Tabungannya sendiri bahkan tak cukup untuk menutup sepersepuluh dari jumlah ini. Laras? Tidak, ia tidak bisa membebankan ini pada Laras. Perempuan itu sudah cukup menderita. Boni mengembuskan napas kasar, menjambak rambutnya sendiri, frustrasi.
Bayu, yang berdiri di sampingnya—atau lebih tepatnya, rohnya—menatap Boni dengan perasaan campur aduk. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menenangkan sahabatnya, tapi tentu saja suaranya tak bisa didengar.
Boni mengepalkan tangan, napasnya memburu. Opsi satu-satunya yang tersisa adalah… Edwin.
Pikiran itu membuat amarahnya meluap lagi. Dalam hati ia bergumam, "Harus sejauh apa gue merendahkan diri di depan bajingan itu?"
Perawat di depannya masih menunggu respons. Boni hanya bisa mendesah, menandatangani lembaran yang diberikan, lalu mengangguk lemah. “Saya akan cari cara buat bayar ini…” katanya, meski ia sendiri belum tahu bagaimana caranya.
Di sebelah Boni, roh Bayu menyaksikan semuanya. Melihat sahabatnya terhimpit seperti ini membuat dadanya terasa sesak—lebih menyakitkan daripada semua luka yang ia alami.
Boni berbalik dan berjalan cepat keluar dari rumah sakit. Langkahnya besar dan penuh kemarahan.
Bayu langsung mengejarnya, rasa khawatir memenuhi dirinya. "Boni, lo mau ke mana?"
Ia tak bisa membaca pikiran sahabatnya, tapi melihat cara Boni melangkah dengan rahang mengeras, ia tahu—Boni pasti sedang merancang sesuatu. Sesuatu yang mungkin saja nekat.
Bayu semakin cemas. Ia tahu seberapa jauh Boni bisa pergi jika sudah terdesak. Dan kali ini, sahabatnya itu tidak hanya terdesak, tapi juga terbakar amarah dan keputusasaan.
Bayu hanya bisa mengikuti, berharap bahwa apa pun yang ada di kepala Boni sekarang, bukan sesuatu yang akan menghancurkan sahabatnya sendiri.
...🔸"Teman dalam kesenangan dan kebahagiaan itu banyak, tapi teman dalam kesedihan dan penderitaan... tak bisa dipungkiri ini adalah suatu kelangkaan."🔸...
...🍁💦🍁...
.
To be continued