Di bawah lampu kerlap-kerlip euforia club, Rane, si Single Mom terpaksa menjalankan profesi sebagai penari striptis dengan hati terluka, demi membiayai sang anak yang mengidap sakit jantung.
Di antara perjuangannya, kekasih yang dulu meninggalkan dirinya saat hamil, memohon untuk kembali.
Jika saat ini, Billy begitu ngotot ingin merajut asmara, lantas mengapa dulu pria itu meninggalkannya dengan goresan berjuta luka di hatinya?
Akankah Rane menerima kembali Billy yang sudah berkeluarga, atau memilih cinta baru dari pria Mafia yang merupakan ipar Billy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon malkist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ceklek...
Suara pintu terbuka, reflek Rane menoleh. Begitu pun dengan Billy yang keluar dari sana.
Secepatnya, Rane membuang pandangan. Menatap lantai gugup karena Billy sama sekali tak mau mengalihkan tatapan tajam nya di tengah pintu yang sudah tertutup otomatis itu.
"Permisi, Tuan."
Billy sama sekali tak mau menyingkir, menghadang jalan Rane.
"Angkat wajah mu saat berbicara pada orang."
Kalau ingin dikenali, Rane akan berani mengangkat tinggi-tinggi dagunya.
Rane tak merespon peringatan pedas itu.
"Bisa kah kau membuka topeng mu?"
Apakah Billy mengenali nya dan ingin memperjelas kecurigaan nya dengan cara itu?
"Aku ingin melihat wajah mu!"
Rane mundur saat Billy ingin menarik paksa topeng nya.
"Maaf, Tuan__"
"Aku tak suka dibantah! Buka!"
Apa kah watak pemarah itu sikap asli Billy yang tak pernah ia ketahui sejak menjalani hubungan di masa lalu?
Sungguh menyebalkan.
"Kalau kau tak menurut, aku bisa melaporkan kinerja buruk mu itu. Buka sekarang atau aku bisa membuat mu dipecat?"
Astaga, bisa gawat kalau dirinya dilaporkan ke Madam.
Bagaimana ini? Mana tangan Billy sudah bergerak ke arah topeng nya.
Ceklek...
"Hei, bitch, kau lama sekali. Masuk cepat!"
Devon yang muncul dari balik pintu membuat Rane terselamatkan.
"Aku sedang bicara dengan nya. Bisa kah kau bersabar?" seru Billy ke Devon.
"Hais, kau ini. Bukannya kau tak setuju melihat dia menari? Ah, atau kau ingin memboking dia secara pribadi? Hahahaha... Ayo ngaku!"
Mendapat ledekan membuat Billy menyingkir dari jalan Rane.
Gegas, Rane melangkah ke arah Devon. Dan seketika pintu tertutup tepat di depan mata Billy.
"Mana mungkin seorang pelacur sepertinya adalah Rane."
Billy pergi setelah bergumam meyakinkan diri nya.
Di dalam ruangan.
Devon yang tak sabaran, mendorong Rane ke arah podium bundar cukup untuk satu orang penari dilengkapi dengan tiang besi kokoh nan mengkilap.
Rane nyaris terjerembap ke lantai jika telat meraih tiang.
"Hahahaha..." Albert dan rekan nya tertawa di kursi masing-masing seakan-akan pemandangan barusan adalah sebuah lelucon.
"Hais, cepat buka kemeja mu!" Devon mendengus. "Kenapa kau bekerja lelet sekali?"
"Ma-maaf, Tuan. Malam ini adalah hari pertama ku bekerja. Mohon pengertiannya." Rane menyahut dengan hati perih. Ia tak punya pilihan untuk melawan. Sadar diri pekerjaan yang akan dilakoni adalah untuk menjadi wanita rendahan.
"Wah, menarik." Bukannya tidak puas, Devon justru mengangkat kasar dagu itu. Netra jernih kebiruan Rane menghipnotis Devon seketika. "Bibir dan mata mu sangat mengagumkan."
Satu kecup berhasil Devon curi dari bibir plumpy itu. "Manis," katanya berbisik yang membuat Rane spontan mengepalkan tangannya geram tertahan. "Menari lah, Cantik."
Devon beranjak menyalakan musik pilihan nya. Dan mau tak mau, Rane perlahan mengikuti alunan yang menyentak dan energi itu dengan pergerakan kaku.
"Ah, ini tidak menarik." Melihat kekakuan Rane, Devon mematikan musik membuat Rane pun mematung di tempat.
"Jika kau tak bisa, maka keluar lah."
Tidak, tidak boleh dipecat demi Dande.
Tanpa musik, Rane menari mengeluarkan kelunturan tubuh nya. Meskipun bibir tersenyum mencoba menggoda, tapi hati nya perih dalam setiap gerakan erotis yang dipertontonkan.
Sudut bibir Devon dan dua pria lainnya terangkat mesum. Mulai terang-5ang apa yang disuguhkan di depan mereka.
Di bawah lampu berwarna yang berkerlap-kerlip, tiga pasang mata yang terhipnotis oleh lekukan seksi itu, tak melihat ada luka dari wanita penghiburnya. Rane terus meliuk-liuk s3k5i mengikuti irama musik yang sudah dinyalakan kembali oleh Devon. Setiap gerakannya berhasil memprovokasi hormon testosteron tiga pria tersebut. Tiang besi yang di cengkeramannya sebagai tumpuan gerakan eksotis nya adalah saksi bisu air mata luka yang berdesakan keluar berbaur satu dengan keringat.
Tidak masalah, sebut saja ini adalah cinta dan pengabdian ibu pada anaknya. Demi melihat Dande-nya tumbuh dan tersenyum ceria, persetan yang namanya harga diri.
"Oh no, aku mulai membutuhkan lawan, Tuan Devon." Tuan Albert menelan kasar ludah nya, melihat Rane yang perlahan melepas satu persatu pengait benang yang dikenakan nya.
"Hahahaha." Devon terkekeh tanpa mengalihkan pandangan nya dari makhluk indah di sana. Jujur, ia pun sama on nya. "Pergilah, cari wanita mu. Yang ini, khusus untuk ku." Devon mengusir halus.
Tuan Albert dan rekan nya saling pandang, detik berikutnya mengangguk bersamaan.
"Baiklah, kami akan mengalah untuk mu yang istimewa, Tuan Devon. Nikmati malam mu."
Tuan Albert beranjak lebih dahulu, disusul pria yang merupakan asisten nya.
Detik berikutnya, Devon pun beranjak. Bukan keluar ruangan, melainkan mendekati Rane. Sangat dekat sehingga angin tarian itu sedikit menyapu wajah nya.
Hap...
Rane terkesiap. Pinggang nya di hentak ke belakang oleh telapak besar nan hangat.
Punggung polos nya tak ada jarak lagi dengan Devon. Pria yang sudah memancarkan gelagat liar ini, membekap nya dari belakang seraya bermain main nakal.
"Kau akan mendapat bonus banyak, jika berhasil melayani pelanggan mu dengan baik."
Rane tidak jadi menyingkirkan Devon secara halus, mengingat masukan Madam saat ia dandani.
Sebaliknya, Rane sengaja berbalik dan mengalungkan lengannya di leher Devon.
Tepat Devon ingin mencuri bibir plumpy itu, Rane secepatnya memundurkan kepalanya.
Devon tersenyum tertantang. "Mau cara halus apa kasar, Bitch?"
Lagi, sapaan itu melukai Rane. Tapi kenyataannya, ia sadar dirinya memang pel4cur sekarang.
"Tuan, aku hanya diutus menari. Bukan melayani Anda secara khusus di ranjang."
"Oh, sayang sekali. Ah, bagaimana kalau aku menyewa jasa mu." Tatapan Devon sayu. Sedetik kemudian, ia terpejam seraya menelan liur, saat jari Rane sengaja bermain main di permukaan dad4nya.
"Malam ini adalah perdana ku, Tuan."
Devon membuka matanya. "Apa kau masih perawan?"
Gelengan Rane membuat Devon sedikit kecewa.
"Tapi setidaknya, hari pertama ku di sini adalah bersama mu. Tidak bisakah mendapatkan sedikit penghargaan, Tuan?"
"Hahahaha..." Devon tertawa nyaring yang sejujurnya membuat Rane takut dalam diamnya karena merasa lancang meminta bayaran besar secara halus.
"Maaf, aku lancang. Lupakan saja__"
Kalimat Rane terputus melihat Devon tiba tiba mengeluarkan segepok uang.
"Aku selalu membawa uang kes setiap berkunjung ke bar. Jaga-jaga, adakah yang manarik dan pantas untuk dinikmati. Dan sekarang...."
Uang banyak itu dilemparkan ke udara. Menciptakan hujan kertas berharga berjatuhan ke tubuh Rane yang berkaca-kaca sedih.
Ini waktu nya, di mana kehormatan nya sebagai ibu benar-benar diujung jurang kehancuran.
***
Chiiiiiit...
"Shiiit!"
Decitan mobil Billy terdengar mengerikan. Ia mengumpat sembari membelok arah kembali ke Skybar Club.
Wanita bertopeng itu terus mengingatkannya dengan Rane.
Billy tidak akan puas sebelum benar-benar melihat seluruh wajah bertopeng itu. Makanya ia memutuskan untuk kembali.
Sampai di pelataran gedung yang memiliki tulisan besar 'Skybar Club,' Billy memarkirkan mobilnya secara sembarangan.
Langkahnya panjang setengah berlari memasuki bangunan. Menabrak orang yang menyempitkan jalan nya menuju ke lantai dua.
"Sinting!"
"Gila!"
"Dia kenapa?"
Tak peduli dengan umpatan demi umpatan menyertai nya, Billy terus mempercepat jalannya.
Sampai di depan pintu VVIP itu, Billy mendorong nya kasar. Mengejutkan aktivitas Devon yang membelit liar Rane di sofa itu.
"Hais, kau mengganggu!" Devon mengerang marah.
Yang diteriaki sama sekali tak peduli. Terus melangkah tanpa mengalihkan pandangan nya ke mata bertopeng Rane yang belum sempat dilepas oleh Devon.
"Hei, hei!" Devon berteriak seraya mencoba menghentikan Billy yang seolah olah ingin menerkam Rane yang meringkuk melindungi kulit polos nya.
Akan tetapi, Devon tak sanggup menghentikan. Ia justru terdorong kasar.
Dan sekuat apapun Rane mempertahankan topeng nya, Billy berhasil menarik nya paksa.
"Rane." Billy sangat shock. Terguncang hebat dengan apa yang dilihatnya. Jantungnya tiba-tiba berdenyut sakit. Sangat sakit, sampai ia menekan permukaan itu guna mencari kenyamanan namun berujung terjatuh ke lantai.
"Yaak, yaak. Billy __ haiiis!" Devon segera membantu. Sementara Rane tertegun di tempat tak tau harus apa.
kasihan rane nanti