Hangga menatap gadis kecil di hadapannya,
" bunda sedang tidak ada dirumah om.. ada pesan? nanti Tiara sampaikan.." ujar gadis kecil itu polos,
Hangga menatapnya tidak seperti biasanya, perasaan sedih dan bersalah menyeruak begitu saja, mendesak desak di dalam dadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teman lama
Rani menyusuri jajaran toko buku yang semasa kuliah dulu sering di kunjunginya.
Ia mencari beberapa buku panduan membaca dan lagu lagu daerah, karena buku lamanya sudah mulai lapuk tergerus waktu.
Setelah mengunjungi toko buku ia mulai beranjak ke jajaran toko cemilan persis di seberang jalan.
Ia ingin membelikan Tia dan anak anak Yudi makanan.
" Satu porsi mas," seorang laki laki berdiri disampingnya, memesan satu porsi pancake.
" Silahkan duduk dulu, mbak, mas.." persilahkan si pemilik toko pancake.
Rani mengangguk dan mencari satu kursi untuk duduk.
" Kirani? Kirani ya??" terdengar suara laki laki yang sedang berdiri itu memanggil namanya,
Otomatis Rani mendongak dan melihat laki laki yang menyebut namanya itu.
" Lhoo? Danu??!" ujar Rani sembari berdiri, keduanya saling tertawa dan berjabat tangan.
" Wahh... Mimpi apa aku semalam??" Danu masih tidak percaya dengan pertemuannya.
" Mimpi kejatuhan durian mungkin?" ujar Rani tertawa,
" Astaga Ran.. Kau kemana saja??" tanya Danu duduk di atas kursi plastik disamping Rani, melihat itu Rani pun menyusul duduk.
" Kau sudah sembuh?" tanya Danu pelan,
Rani sedikit terkejut dengan pertanyaan Danu, tapi tak lama ia tersenyum lalu mengangguk.
" Sudah.." jawab Rani,
" sungguh..??" Danu bertanya dengan penuh kehati hatian.
" Oh andaikan kau juga tau Ran, banyak hal yang terjadi padaku setelah kau pergi.." keluh Danu tiba tiba, keduanya dulu adalah sahabat baik, rumah mereka juga berdekatan satu komplek.
" Apa kau sudah menikah? Berapa anakmu Dan?" tanya Kirani penasaran setelah enam tahun tidak berjumpa.
" Ah jangankan anak, menikah saja aku belum," jawab Danu lalu menghela nafas.
" lho kudengar dari mas Yudi kau sudah punya tunangan?"
" yahh.. Kami gagal menikah.."
" kenapa??"
" beda visi misi, semakin lama semakin tidak cocok.. jadi lebih baik berpisah sebelum pernikahan.. Dan.. Jadilah aku perjaka tua sampai sekarang.."
" aku turut sedih.. Semoga kau segera mendapatkan pengganti Dan, kau sudah tidak muda lagi.."
" kau juga sudah tidak muda lagi.." Danu nyengir mengejek.
" Apa kau kesini dengan putrimu?"
" Kau dengar dari siapa anakku perempuan Dan?" padahal Rani sangat rapi merahasiakan kehamilannya.
" Aku beberapa kali menanyakan keberadaan mu pada mas Yudi, dia tidak mau memberitahuku, tapi dia meyakinkan bahwa kau dan anakmu baik baik saja,
Awalnya aku sangat terkejut, bisa bisanya kau di ceraikan dalam kondisi hamil..",
Rani berusaha tersenyum,
" Jangankan dia, aku sendiri tidak menyadari kalau sedang hamil saat proses perceraian..
Jadi sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, aku sudah hidup tenang dengan putriku.."
" kau sungguh sungguh wanita yang luar biasa, kalau jadi kau aku akan menuntutnya.."
" aku punya harga diri dan.. Kalau aku bisa berjuang sendiri, kenapa harus meminta belas kasihan..?"
Danu menatap Rani cukup lama, lalu tersenyum,
" Ya sudah, kau mau kemana setelah ini?" tanya Danu,
" aku mau pulang,"
" bareng denganku saja, ku bonceng.."
" kau sungguh sungguh?"
" eh, kau ini, berteman denganku mulai masih ingusan, sekarang mau malu malu ku bonceng?
Sudahlah, nanti mampir kerumah mbak ku sebentar ya, itu kue untuk keponakanku,
Setelah itu kita kerumahmu, sekalian aku menyapa mas Yudi.."
Rani mengangguk,
" baiklah..".
Beberapa hari setelah malam itu, entah apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang ada di benak Hangga, tidak seorangpun yang tau.
Hangga tiba tiba saja menggugat cerai Rani.
Herannya, ia memberi harta gono gini yang sangat menguntungkan Rani.
Seakan akan, ia tidak menginginkan Rani menderita setelah bercerai dengannya.
Keluarga besar tidak bisa berbuat apapun, begitu juga Rani.
Harga dirinya sudah sangat terluka, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima perceraian itu dengan legowo.
Saat orang orang bertanya apa sebabnya, Hangga hanya bisa menjawab bahwa tidak ada cinta dan kecocokan diantara mereka.
Saat keputusan itu di laksanakan, terlihat jelas sorak sorai di tatapan mata Genta.
Sejak awal laki laki itu memang tidak ikhlas saat tau adik kandungnya yang menggantikannya,
Ia mengira, pernikahan akan di batalkan, bukannya di teruskan.
beberapa minggu setelah Rani dan Hangga resmi bercerai pun, Genta masih mencari Kirani, padahal dia sudah mempunyai perempuan disampingnya.
Entah apa kemauan Genta yang sesungguhnya, Rani tidak tau, yang jelas.. Rani tidak memberi kesempatan sedikitpun pada Genta untuk menemuinya,
Bagi rani sudah cukup berurusan dengan keluarga besar pak Hermawan.
Kedua putranya sungguh pintar melukai perasaan dan memporak porandakan hidup orang lain.
.....