NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Pagi itu, kediaman Pramoedya dipenuhi dengan aroma harum nasi goreng bumbu kunyit dan kopi hitam pekat. Jasmine, dengan daster katun yang nyaman, bergerak gesit di dapur. Setelah memastikan sarapan untuk Awan siap di atas meja, ia bergegas ke lantai atas. Tugas utamanya sekarang adalah memandikan Shaka, sang jagoan kecil yang sudah mulai aktif menendang air di dalam bak mandi mungilnya.

"Shaka, ayo jangan nakal ya. Bunda mau sabunin punggungnya dulu," ucap Jasmine lembut, sambil tertawa kecil saat Shaka memercikkan air ke wajahnya.

Di kamar utama, suasana masih sunyi. Awan baru saja keluar dari ruang pakaian, sudah rapi dengan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya. Ia sedang memasang kancing manset saat pendengarannya menangkap suara dering ponsel yang nyaring dari atas nakas di samping tempat tidur Jasmine.

Awan melirik layar ponsel itu. Sebuah nama tertera di sana: Kak Andre.

Dahi Awan berkerut. Ia tahu siapa Andre. Pria itu adalah sahabat karib mendiang Hero sejak masa SMA, sekaligus kakak kelas yang dulu sangat akrab dengan Jasmine. Sejak Hero meninggal, Andre yang bekerja sebagai arsitek di luar negeri dikabarkan menetap di London.

Tepat saat Jasmine masuk ke kamar dengan Shaka yang terbungkus handuk bayi berbentuk beruang, ia melihat Awan sudah memegang ponselnya dengan tatapan tajam.

"Eh, ada telepon ya, Wan?" tanya Jasmine polos. Ia hendak meraih ponsel itu, namun Awan justru mengangkat tangannya lebih tinggi, menjauhkan benda itu dari jangkauan Jasmine.

"Diem dulu. Biar gue yang angkat," ketus Awan. Tanpa menunggu persetujuan Jasmine, ia menggeser tombol hijau dan mengaktifkan loudspeaker.

"Halo, Jasmine? Jas, ini gue, Andre!" suara bariton yang hangat terdengar dari seberang sana. Suaranya penuh kegembiraan yang meluap. "Jas, tebak gue di mana? Gue baru aja mendarat di Soekarno-Hatta! Gue balik buat stay di sini, dan agenda pertama gue adalah ketemu lo sama keponakan gue. Gue kangen banget, Jas!"

Jasmine membeku. Ada rasa senang mendengar suara sahabat lama, namun ia juga bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba memancar dari tubuh pria di sampingnya.

"Jasmine lagi sibuk mandiin anaknya. Ini Awan," sahut Awan dingin. Suaranya datar, tanpa nada ramah sedikit pun.

Hening sejenak di seberang telepon. "Oh... Awan? Ah, sori, Wan. Gue lupa lo sekarang yang jaga Jasmine. Wah, kebetulan banget. Gue mau mampir ke rumah sore ini, boleh kan? Banyak banget yang mau gue omongin sama Jasmine, sekalian mau liat anak Hero."

Awan melirik Jasmine yang tampak gelisah. "Sore ini kita ada acara keluarga. Lo dateng besok-besok aja, itu pun kalau gue ada di rumah," jawab Awan asal.

"Yah, Wan, gue cuma sebentar kok. Gue bawain kado buat bayi kalian dari London. Jasmine, lo denger kan? Gue kangen banget pengen ngobrol!" seru Andre lagi.

Jasmine akhirnya memberanikan diri mendekat ke arah ponsel. "I-iya, Kak Andre. Selamat datang kembali ya. Nanti kita kabari lagi jamnya."

Awan langsung mematikan sambungan telepon itu dengan gerakan kasar. Ia melempar ponsel Jasmine kembali ke atas kasur seolah benda itu beracun.

"Kenapa lo kasih harapan dia boleh dateng?" tanya Awan, rahangnya mengeras. "Temen deket atau bukan, gue nggak suka ada pria lain yang masuk ke rumah ini pas gue nggak ada."

"Wan, Kak Andre itu udah kayak kakak sendiri buat aku dan Mas Hero. Dia dulu yang nemenin Mas Hero pas lamaran," Jasmine mencoba memberi penjelasan.

"Gue nggak peduli sejarah lo sama dia!" potong Awan telak. Ia berjalan mendekat ke arah Jasmine, menatapnya dengan protektif sekaligus posesif. "Status lo sekarang istri gue, Jasmine. Gue nggak mau ada drama 'sahabat lama' yang ujung-ujungnya bikin lo sedih karena inget masa lalu lo sama Hero. Paham?"

Jasmine hanya bisa mengangguk pelan, meskipun hatinya merasa Awan terlalu berlebihan. Namun, ia tahu, di balik sikap judes itu, Awan hanya sedang berusaha membentengi hatinya dari rasa cemburu yang membakar.

Di lain tempat, di sebuah ruang kantor yang remang-remang dengan aroma cerutu yang kuat, Paman Wijaya sedang duduk menghadap sebuah meja kayu jati yang besar. Di depannya, duduk dua orang pria berwajah dingin yang merupakan pengacara dan detektif swasta.

"Jadi, pernikahan mereka sah secara hukum?" tanya Paman Wijaya dengan nada meremehkan.

"Benar, Tuan. Awan Pramoedya bergerak sangat cepat. Secara hukum, posisi Jasmine sebagai ahli waris kini diperkuat dengan adanya Awan sebagai suaminya. Hampir mustahil menggugat mereka jika hanya menggunakan alasan moralitas," jelas sang pengacara.

Paman Wijaya menyesap cerutunya, asapnya mengepul menutupi wajahnya yang licik. "Awan pikir dia menang. Dia lupa kalau Hero itu orang yang sangat rahasia. Saya tahu Hero memiliki satu aset tersembunyi di Swiss yang nilainya lebih besar dari seluruh saham Pramoedya Group di Indonesia."

"Maksud Anda, Tuan?"

"Wasiat itu. Hero tidak pernah memberikan akses wasiat itu kepada Jasmine maupun Awan. Dia menyimpannya untuk Shaka, tapi ada satu klausul yang Hero buat: 'Jika istriku menikah lagi dengan orang lain, maka hak wali atas aset tersebut jatuh kepada kerabat darah tertua'. Hero tidak menyebutkan secara spesifik jika pria itu adalah kembarannya," Paman Wijaya tersenyum penuh kemenangan.

"Tapi Pak Awan adalah kerabat darah juga, Tuan."

"Itulah celahnya!" Paman Wijaya menggebrak meja. "Kita akan buktikan bahwa pernikahan ini hanyalah upaya manipulasi Awan untuk menguasai aset Swiss tersebut. Kita akan buat publik percaya bahwa Awan sengaja menikahi Jasmine demi harta, bukan cinta. Dengan begitu, pengadilan akan meragukan integritas Awan sebagai wali."

Ia mematikan cerutunya di asbak perak. "Cari tahu siapa saja orang-orang dari masa lalu Hero yang bisa kita manfaatkan. Saya dengar sahabatnya, Andre, baru saja kembali ke Indonesia. Cari dia. Kita butuh saksi yang bisa mengatakan bahwa Hero tidak pernah menginginkan Awan menyentuh keluarganya."

Paman Wijaya tertawa serak. Baginya, Shaka dan Jasmine hanyalah bidak catur yang harus ia singkirkan demi mencapai puncak kekayaan Pramoedya. Ia tidak peduli jika harus menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mulai tumbuh di rumah itu.

Kembali ke rumah, Awan tampak gelisah sepanjang hari. Ia membatalkan semua rapatnya dan memilih untuk bekerja dari rumah—dalihnya adalah menjaga Shaka, padahal Jasmine tahu suaminya itu sedang 'siaga satu' menunggu kedatangan Andre.

Saat jam menunjukkan pukul empat sore, suara bel rumah berbunyi.

Awan yang sedang duduk di ruang tamu dengan Shaka di pangkuannya langsung menegang. Ia memberikan Shaka kepada Suster Lastri dengan gerakan cepat.

"Bawa Shaka ke atas. Jangan keluar sampe gue suruh," perintah Awan.

Jasmine keluar dari dapur dengan wajah cemas. "Wan, jangan ketus ya sama Kak Andre."

Awan tidak menjawab. Ia berjalan menuju pintu depan dan membukanya dengan sentakan kuat.

Berdiri di sana, seorang pria dengan gaya kasual, rambut sedikit panjang yang dikuncir rapi, dan senyum yang sangat ramah. Andre.

"Halo, Wan! Wah, makin sangar aja lo sekarang," canda Andre, mencoba mencairkan suasana. Ia hendak melangkah masuk, namun Awan tetap berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi jalan.

"Mau apa lo ke sini?" tanya Awan dingin.

Andre tertegun, senyumnya sedikit memudar. "Loh, kan gue udah bilang mau jenguk Jasmine sama keponakan gue. Gue bawa hadiah buat kalian."

Jasmine muncul dari balik punggung Awan. "Kak Andre! Masuk, Kak. Ayo masuk."

Awan menoleh ke arah Jasmine dengan tatapan memperingatkan, namun Jasmine mengabaikannya. Ia menarik tangan Andre untuk masuk ke ruang tamu.

Andre duduk di sofa, matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Rumah ini nggak banyak berubah ya sejak Hero nggak ada. Tapi... aura pemiliknya sekarang jauh lebih 'panas' daripada Hero," ucap Andre sambil melirik Awan yang duduk di hadapannya dengan tangan terlipat di dada.

"Lo mau ngomong apa? Ngomong sekarang terus lo bisa pergi," ucap Awan tanpa basa-basi.

Andre menghela napas, ia meletakkan kotak kado di atas meja. "Gue cuma mau pastiin Jasmine baik-baik saja, Wan. Lo tau, Hero itu titip pesan ke gue sebelum dia meninggal. Dia bilang, kalau terjadi apa-apa sama dia, gue harus jadi orang pertama yang pastiin Jasmine nggak sendirian."

Mendengar kata 'pesan Hero', rahang Awan mengeras. "Hero nggak perlu lo buat jaga istrinya. Karena sekarang, Jasmine adalah istri GUE. Dan gue nggak butuh asisten buat urusan rumah tangga gue."

Suasana di ruang tamu itu mendadak menjadi sangat tegang. Andre menatap Awan dengan serius, senyum ramahnya kini hilang. "Gue tau lo suaminya sekarang, Wan. Tapi gue tau Hero lebih dari siapa pun. Dan gue tau, ada sesuatu yang Hero sembunyikan yang mungkin lo sendiri nggak tau."

Jasmine menatap kedua pria itu dengan bingung. "Sesuatu? Apa maksud Kak Andre?"

Andre baru saja akan membuka mulut, saat ponsel Awan berdering kencang. Itu dari tim keamanannya.

"Tuan! Paman Wijaya baru saja terlihat di kantor notaris lama almarhum Pak Hero. Sepertinya mereka sedang membuka sebuah dokumen rahasia!"

Awan berdiri seketika. Matanya berkilat marah. Ia menatap Andre dengan penuh kecurigaan. "Lo balik ke sini di saat yang bersamaan dengan Paman Wijaya bergerak... lo kerja sama sama dia?"

Andre mengernyit. "Paman Wijaya? Gue nggak ada urusan sama orang itu!"

"Gue nggak percaya sama siapa pun yang dateng tiba-tiba bawa nama Hero!" bentak Awan. Ia menarik Jasmine untuk berdiri di belakangnya. "Keluar dari rumah gue, Andre! Sebelum gue bener-bener kehilangan kesabaran!"

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!