NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8 tarian api di atas kuali tembaga

Matahari baru saja naik sepenggalah, menyinari pelataran agung Sekte Awan Merah yang kini telah berubah wajah. Area yang biasanya sunyi dan sakral itu kini dipenuhi oleh deretan tungku api raksasa yang terbuat dari batu hitam. Aroma arang, rempah-rempah, dan kegelisahan manusia bercampur menjadi satu di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.

Hari ini adalah Turnamen Dapur Sekte, sebuah perhelatan tahunan yang menentukan nasib perut para petinggi sekte selama satu tahun ke depan. Di sinilah hierarki ditentukan bukan oleh tajamnya pedang, melainkan oleh kehalusan lidah.

Han Shuo berdiri di stasiun masak nomor empat puluh sembilan, posisi paling ujung yang sering diabaikan. Ia mengenakan seragam pelayan dapurnya yang sederhana, kontras dengan para peserta lain yang mengenakan jubah koki sutra dengan bordiran naga atau burung hong. Di sekeliling pinggangnya, pisau dapur berkarat itu tergantung tenang, seolah sedang tertidur menunggu mangsa.

Di tribun kehormatan, para Penatua duduk berderet. Di tengah mereka, duduk seorang pria gemuk dengan jubah emas yang terbuka di bagian dada, memperlihatkan perut besarnya yang berguncang setiap kali ia tertawa. Ia adalah Penatua Tie, atau yang lebih dikenal sebagai "Si Lidah Besi". Dialah juri utama hari ini, sosok yang konon pernah menghancurkan kultivasi seorang koki hanya karena sup yang disajikannya kurang asin sebutir garam.

Li Mei berdiri di kejauhan, di antara barisan murid Aula Pengobatan. Matanya terus tertuju pada Han Shuo. Tangannya meremas ujung jubahnya dengan cemas. Ia tahu taruhan apa yang sedang dimainkan di sana. Bukan hanya kemenangan, nyawa Han Shuo ada di ujung tanduk.

Wang He duduk di tribun VIP keluarga Wang, tersenyum miring sambil memutar cincin giok di jarinya. Matanya berkilat licik saat menatap punggung Han Shuo. Rencananya sudah matang. Minyak di meja Han Shuo telah dicampur dengan "Bubuk Mati Rasa"—racun tak berbau yang akan membuat masakan apa pun terasa seperti abu gosok. Jika Han Shuo menyajikan makanan sampah pada Penatua Tie, hukuman mati adalah satu-satunya hadiah yang pantas.

"Para peserta!" suara pembawa acara menggelegar, diperkuat oleh Qi. "Tema babak pertama hari ini adalah: Membangkitkan Semangat. Kalian memiliki waktu satu batang hio untuk menyajikan hidangan yang mampu membakar darah para juri!"

Gong besar dipukul. DONG!

Seketika, pelataran itu berubah menjadi medan perang. Puluhan koki mulai bergerak cepat. Suara pisau beradu dengan talenan terdengar seperti hujan badai. Api menyembur tinggi dari berbagai tungku, menciptakan pemandangan yang memukau.

Han Shuo tidak langsung bergerak. Ia berdiri diam, memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Di tengah kekacauan itu, ia mengisolasi indranya. Ia mendengar desis minyak dari meja sebelah, ia mencium aroma bawang putih yang mulai hangus di meja depan.

Perlahan, ia membuka matanya. Pandangannya tertuju pada gentong minyak yang disediakan panitia di mejanya. Dalam penglihatan "Mata Rasa"-nya, minyak itu memancarkan aura abu-abu yang mematikan. Energinya stagnan, mati, dan merusak.

Ia tersenyum tipis. Wang He benar-benar bermain kotor.

Alih-alih mengambil minyak itu, Han Shuo merogoh tas kain di bawah mejanya. Ia mengeluarkan sebuah toples kaca berisi gumpalan putih kekuningan yang padat. Lemak Harimau Bertaring Kristal yang telah ia murnikan semalam.

Di tribun, Wang He mengerutkan kening. "Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak menggunakan minyak yang disediakan?"

Di sebelahnya, pelayannya berbisik panik. "Tuan Muda, sepertinya dia membawa minyak sendiri. Peraturan membolehkan peserta membawa 'bumbu rahasia'. Kita tidak bisa melarangnya."

Wang He mendengus kasar. "Biarkan saja. Lemak binatang biasa tidak akan bisa menandingi teknik Masak Api Roh milik Koki Zhao."

Koki Zhao, andalan keluarga Wang yang berada di stasiun masak nomor satu, sudah mulai beraksi. Ia menggunakan wajan perak berkilau. Tangannya bergerak lincah mengolah daging Rusa Petir. Setiap gerakannya diiringi oleh pendaran cahaya Qi berwarna hijau. Penonton berdecak kagum melihat atraksi tersebut.

Kembali ke sudut Han Shuo. Ia menyalakan apinya. Bukan api besar yang meledak-ledak, melainkan api biru kecil yang terfokus di tengah dasar wajan besi hitamnya.

Ia memasukkan gumpalan lemak harimau itu ke dalam wajan yang mulai memanas.

Cesss...

Suara itu pelan, nyaris tak terdengar di tengah keriuhan. Perlahan, lemak padat itu mencair, berubah menjadi cairan emas bening. Saat cairan itu mencapai suhu didih, sebuah aroma yang sangat halus mulai menyebar. Itu bukan aroma amis daging, melainkan aroma kewibawaan—aroma raja hutan yang menguasai wilayahnya.

Han Shuo mengambil bahan utamanya: Udang Sungai Darah. Udang ini dikenal memiliki daging yang manis tapi kulit yang sangat keras. Koki biasa akan merebusnya dulu untuk melunakkan kulitnya.

Han Shuo tidak merebusnya. Ia mengambil tiga buah Cabai Api Neraka yang ia curi dari gunung berapi. Dengan tangan telanjang, ia meremas cabai itu tepat di atas wajan.

Penonton yang berada di barisan depan terbelalak. "Gila! Dia meremas Cabai Api Neraka dengan tangan kosong? Tangannya akan melepuh sampai ke tulang!"

Tangan Han Shuo memang memerah, asap tipis keluar dari sela-sela jarinya. Rasa sakitnya luar biasa, seperti memegang bara api neraka. Ia tidak berhenti. Ia menyalurkan Qi dingin dari Sup Sembilan Putaran yang tersimpan di dalam tubuhnya ke telapak tangan, menciptakan perisai tipis yang menahan panas tersebut.

Sari pati cabai yang berwarna merah menyala jatuh ke dalam minyak lemak harimau.

BOOM!

Sebuah pilar api merah setinggi dua meter menyembur dari wajan Han Shuo. Api itu bukan api biasa; itu adalah manifestasi dari pertemuan dua energi ekstrem. Panas vulkanik bertemu dengan dominasi harimau es.

"Masakan macam apa itu? Dia ingin membakar dirinya sendiri?" cemooh seorang murid di tribun.

Han Shuo tidak peduli. Di tengah pilar api itu, ia melemparkan udang-udang tersebut. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, mengirimkan getaran ke meja masaknya yang membuat wajan itu terlempar ke udara.

Ia menangkap gagang wajan, lalu mulai melakukan teknik Wok Hei (Napas Wajan) yang ekstrem. Wajan itu berputar, udang-udang di dalamnya menari di tengah badai api merah dan emas. Han Shuo tidak mengaduk dengan sudip; ia mengaduk dengan ritme api itu sendiri.

Teknik Sembilan Putaran: Lapisan Keempat - Penyatuan Elemen.

Kulit udang yang keras itu tidak hangus. Sebaliknya, panas yang ekstrem membuat pori-pori kulit udang terbuka seketika, menyerap sari pati cabai dan lemak harimau hingga ke serat daging terdalam, lalu menutup kembali dalam hitungan detik saat udang itu terlempar ke udara yang lebih dingin.

Aroma pedas yang menusuk hidung mulai menyebar. Berbeda dengan pedas biasa yang membuat orang batuk, pedas ini membuat air liur menetes tak terkendali. Para penonton yang menciumnya merasakan jantung mereka berdetak lebih cepat. Darah mereka terasa panas, semangat bertarung mereka mendadak bangkit.

Di stasiun nomor satu, Koki Zhao mulai berkeringat dingin. Konsentrasinya terganggu oleh aroma dominan dari sudut arena. Masakan Rusa Petirnya yang elegan mendadak terasa hambar di hidungnya sendiri.

"Jangan terganggu! Fokus!" teriak Wang He dari tribun melalui transmisi suara.

Waktu terus berjalan. Batang hio tinggal tersisa sedikit lagi.

Han Shuo melakukan gerakan terakhir. Ia memadamkan api dengan satu hentakan tangan yang memutus aliran oksigen di sekitar wajan. Asap putih mengepul, membawa serta aroma manis udang yang telah matang sempurna.

Ia menuangkan hidangan itu ke atas piring porselen putih polos. Tidak ada hiasan bunga, tidak ada ukiran wortel yang rumit. Hanya tumpukan udang berwarna merah menyala yang berkilau oleh lapisan minyak emas.

"Waktu habis! Letakkan peralatan kalian!"

Para pelayan panitia mulai membawa hidangan para peserta ke meja juri.

Penatua Tie mencicipi hidangan Koki Zhao terlebih dahulu. Daging Rusa Petir itu diiris tipis dan ditata menyerupai bunga lotus. Penatua Tie mengunyah perlahan, mengangguk.

"Tekstur yang bagus. Energi petirnya masih terasa menggelitik lidah. Ini membantu melancarkan aliran darah di gusi. Nilai: Delapan," ucap Penatua Tie datar.

Koki Zhao tersenyum puas. Nilai delapan dari Si Lidah Besi adalah pencapaian luar biasa. Wang He pun tampak lega.

Satu per satu hidangan dicicipi. Kebanyakan hanya mendapat nilai lima atau enam. Beberapa bahkan dilepehkan begitu saja karena dianggap sampah.

Akhirnya, giliran hidangan Han Shuo.

Pelayan yang membawa piring Han Shuo gemetar, bukan karena takut, tapi karena uap yang keluar dari piring itu terasa panas di wajahnya.

Penatua Tie menatap piring polos itu. "Udang Goreng Pedas? Sangat sederhana untuk sebuah kompetisi sekte. Apa kau meremehkan lidahku, nak?"

"Kesederhanaan adalah bentuk tertinggi dari rasa, Penatua," jawab Han Shuo tenang. "Silakan dicicipi."

Penatua Tie mendengus. Ia mengambil sumpitnya, menjepit seekor udang. Saat udang itu mendekati mulutnya, hidungnya berkedut. Bau amis udang telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh aroma yang mengingatkannya pada masa mudanya—masa di mana ia bertarung di garis depan dengan darah mendidih.

Ia memasukkan udang itu ke mulutnya.

Krak.

Suara kulit udang yang pecah terdengar renyah.

Mata Penatua Tie melotot.

Ledakan rasa terjadi di dalam mulutnya. Pedasnya Cabai Api Neraka tidak membakar lidah, tapi langsung meluncur ke tenggorokan, menghangatkan lambung, lalu menyebar ke seluruh meridian tubuh. Rasa gurih dari lemak harimau memberikan kedalaman rasa yang kaya, seolah-olah ia sedang memakan daging raja, bukan udang sungai.

Wajah Penatua Tie memerah. Uap putih keluar dari telinganya.

"Ini..." Penatua Tie berdiri dari kursinya, menggebrak meja. "Ini panas! Ini membakar!"

Wang He tertawa keras. "Hahaha! Lihat! Dia meracuni Penatua! Tangkap dia!"

Penatua Tie mengangkat tangannya, membungkam tawa Wang He. "Diam!"

Sang Penatua menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Bersamaan dengan hembusan napas itu, aura hitam tipis keluar dari mulutnya. Itu adalah Qi Dingin beracun yang telah mengendap di paru-parunya selama sepuluh tahun akibat luka lama saat bertarung melawan Ahli Sihir Es.

Rasa pedas masakan Han Shuo telah membakar racun dingin itu dan mengeluarkannya.

"Luka lamaku..." Penatua Tie meraba dadanya. Rasa sesak yang selalu menghantuinya setiap pagi kini hilang. Napasnya menjadi lega dan panjang.

Ia menatap Han Shuo dengan pandangan tak percaya. "Bahan apa yang kau gunakan, nak?"

"Cabai dari Kawah Gunung Api untuk membakar, Lemak Raja Hutan untuk melumasi, dan Udang Sungai untuk mengalirkan," jawab Han Shuo. "Nama hidangan ini adalah: Udang Naga Membakar Langit."

Penatua Tie tertawa terbahak-bahak, tawanya menggelegar penuh tenaga. "Membakar Langit! Nama yang arogan! Tapi khasiatnya nyata! Hidangan ini tidak hanya enak, ini adalah obat! Nilai: Sembilan Setengah!"

Seluruh arena terdiam. Sembilan setengah? Nilai itu belum pernah keluar dalam sepuluh tahun terakhir.

"Sembilan setengah?!" Koki Zhao jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi.

Wang He meremas pegangan kursinya hingga hancur menjadi serbuk kayu. Wajahnya merah padam menahan amarah dan malu. Rencananya gagal total. Han Shuo tidak hanya selamat, dia bersinar terang.

Di sudut murid luar, Zhang dan keempat puluh sembilan murid lainnya bersorak gila-gilaan. "Han Shuo! Han Shuo! Han Shuo!" Sorakan mereka memicu murid-murid lain untuk ikut bertepuk tangan, menciptakan gelombang dukungan yang belum pernah terjadi untuk seorang pelayan dapur.

Li Mei menghela napas lega, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kau benar-benar penuh kejutan, Han Shuo."

Penatua Tie kembali duduk, menatap tajam ke arah Han Shuo. "Nak, kau lolos ke babak kedua besok. Tapi ingat, pohon yang tinggi akan menangkap lebih banyak angin. Masakanmu hari ini terlalu 'panas', hati-hati jangan sampai kau membakar dirimu sendiri."

Itu adalah peringatan terselubung. Penatua Tie tahu ada permainan politik di balik layar, dan nilai tinggi yang ia berikan baru saja menempatkan Han Shuo tepat di tengah pusaran badai.

Han Shuo membungkuk hormat. "Terima kasih atas nasihatnya, Penatua."

Saat Han Shuo membereskan peralatannya, ia merasakan tatapan membunuh dari arah tribun VIP. Ia menoleh sedikit, bertemu pandang dengan Wang He. Kali ini, Han Shuo tidak menunduk. Ia memberikan senyum tipis, lalu dengan sengaja menumpahkan sedikit sisa minyak lemak harimau ke tanah.

Minyak itu mendesis, membentuk pola yang samar-samar menyerupai tengkorak.

Pesan itu jelas: Racunmu tidak bekerja. Cobalah lebih keras.

Di balik layar arena, seorang pria tua berjubah hitam memperhatikan Han Shuo dari bayang-bayang. Ia adalah Penatua Agung Sekte, sosok yang jarang menampakkan diri. Matanya yang keruh menatap Han Shuo dengan ketertarikan mendalam.

"Teknik Kitab Rasa Semesta..." gumam pria tua itu lirih. "Sudah tiga ratus tahun sejak terakhir kali aku melihat teknik itu. Apakah bocah ini pewaris yang diramalkan, atau hanya pencuri nasib?"

Babak pertama usai, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Han Shuo berjalan keluar arena dengan punggung tegak. Ia tahu, babak kedua besok tidak akan tentang rasa lagi.

Babak kedua adalah tentang "Pemotongan". Dan ia yakin, Wang He tidak akan membiarkan pisau Han Shuo menyentuh talenan dengan tenang.

Sesampainya di gubuk kayunya, Han Shuo tidak beristirahat. Ia segera duduk bersila. Energi yang ia serap dari proses memasak tadi—uap Qi yang ia hirup selama Wok Hei—kini bergejolak di dalam dantians-nya.

Memasak bagi Han Shuo adalah bentuk kultivasi ganda. Ia memberi makan orang lain, sekaligus memberi makan kultivasinya sendiri.

"Tahap Penyulangan Qi Tingkat Dua..." bisiknya saat merasakan dinding pembatas di dalam tubuhnya retak lagi.

Tiba-tiba, bayangan hitam melesat masuk melalui jendela gubuknya. Sebuah pisau terbang menancap di tiang tempat tidur, tepat di sebelah telinga Han Shuo.

Pada gagang pisau itu terikat gulungan kertas kecil.

Han Shuo membuka matanya. Ia tidak terkejut. Ia mencabut pisau itu dan membuka gulungannya. Tulisan di dalamnya ditulis dengan tinta merah yang berbau darah.

"Menyerahlah besok, atau kami akan memasak adik perempuanmu di panti asuhan desa sebagai hidangan pembuka."

Tangan Han Shuo meremas kertas itu hingga hancur. Matanya yang biasanya tenang seperti air kolam, kini berubah menjadi lautan badai yang gelap.

Mereka telah melewati batas.

Han Shuo berdiri, aura membunuhnya meledak keluar, membuat udara di dalam gubuk itu menjadi sedingin es.

"Kalian ingin bermain api?" suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Baik. Akan kupastikan seluruh Sekte Awan Merah ini menjadi tungku pembakaran bagi mayat kalian."

Ia mengambil pisau dapurnya. Malam ini, ia tidak akan tidur. Ia harus turun gunung. Peraturan turnamen melarang peserta meninggalkan area sekte, melanggarnya berarti diskualifikasi. Wang He tahu itu. Ini adalah jebakan untuk membuatnya keluar.

Han Shuo tahu ini jebakan. Ia tahu jika ia pergi, ia akan didiskualifikasi. Jika ia tinggal, adiknya dalam bahaya.

Sebuah dilema klasik yang dirancang untuk menghancurkan mental seseorang.

Han Shuo menatap ke arah Aula Pengobatan di kejauhan, ke arah jendela kamar Li Mei yang masih menyala.

"Aku butuh bantuan," gumamnya. "Dan aku butuh bayangan untuk menggantikanku.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!