Sarah Vleryn menghindari makan malam perjodohan karena ia tidak tahu dengan siapa akan dijodohkan.
Tapi ternyata, pria yang di jodohkan dengan nya mengejarnya di luar resto tempat keluarga mereka bertemu.
"Sarah Vleryn! Berhenti disana." Rovano, pria tinggi dan tampan itu mendekat.
"Kau salah orang," ucap Sarah cepat.
"Aku tahu kau gadis yang harusnya di jodohkan denganku, tapi kau beralasan sedang sakit!" Ucap Rovano.
Tatapan tajam pria itu membuat Sarah terdiam, ia menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak bisa menyangkal karena ucapan Rovano benar.
"Menikahlah denganku selama tiga tahun, lalu setelah itu kita bisa bercerai," lanjut Rovano.
Sarah tergelak, ia tidak mengira pria ini akan menawarkan pernikahan kontrak padanya.
"Apa kau bilang?"
"Aku, Rovano Jovian menawarkan pernikahan kontrak pada mu Sarah Vleryn." Ulang Rovano.
"Tunggu, Jovian? Kau... adik Ryan Jovian, Mantan kekasih ku?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmJiyeon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap Basah
Sarah terkejut bukan main begitupun Rovano, ada yang mengetuk jendela mobil dengan cukup keras hingga aktivitas mereka berhenti. Pasangan itu panik, Sarah segera kembali ke kursinya dan merapikan dirinya begitupun juga Rovano.
Sarah gaun nya sudah tersingkap sampai atas, bra nya nyaris lepas dan Rovano harus menenangkan bagian bawah tubuhnya yang terlanjur sudah berdiri.
Ia menoleh pada Sarah dengan tatapan bersalah, "Sayang, maafkan aku ya?" bisik Rovano.
Sarah yang sedang merapikan rambutnya seketika menoleh pada Rovano yang baru saja memanggilnya sayang, kemudian ia melihat bibir Rovano sudah belepotan terkena lipstik nya. Sarah segera mengeluarkan tisu basah dari dalam tas nya dan membantu Rovano membersihkan nya.
"Nanti ketahuan kalau kita habis bercumbu." Ucap Sarah.
"Sudah bersih semua?" bisik Rovano begitu Sarah kembali duduk dan pakaiannya sudah rapi kembali. Gadis itu mengangguk mantap.
Perlahan, Rovano menurunkan kaca mobilnya hingga akhirnya munculah seorang pria dengan rambut cokelat kemerahan dan mata hitam yang sedang menatap mereka dengan tajam.
Rovano balas menatapnya dengan tajam karena ia merasa kegiatan intim dengan Sarah jadi terganggu karena ketukan oleh pria ini.
Sarah membulatkan matanya, ia terkejut bukan main.
Terkejut karena ia tertangkap basah sedang berduaan di mobil, lalu terkejut tapi sedih karena yang sedang menatap mereka dengan galak adalah kakaknya yang sudah lima tahun ini tidak pulang.
“Sarah Vleryn!” suara berat itu terdengar marah dan penuh penekanan.
“K-kkk-kakak!” Sarah terbata-bata, ia panik dan segera keluar dari mobil.
Rovano merasa jantungnya berdegup sekencangnya, ia gugup, jiwanya seakan lepas dari tubuhnya begitu saja saat mendengar Sarah memanggil pria ini dengan sebutan kakak.
Ini pertama kalinya ia bertemu dengan kakak Sarah dan sudah langsung mendapat nilai nol seperti nya dari segi attitude karena tadi ia malah balik menatap tajam kakak Sarah.
Kau bisa Rovano, kau bisa menghadapi ini. Ini hal mudah kan? Anggap saja kau berhadapan dengan Ryan. Batin Rovano, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Rovano dengan kaku keluar dari mobilnya, ia melihat Sarah sedang memegangi kakaknya agar tidak emosi. Lebih tepatnya, ia sedang menahan sang kakak dan akan memberikan penjelasan padanya.
“Aku baru pulang dan langsung mendapat pemandangan mobil bergoyang, Sarah?!”
“K-kak! Ini tidak seperti yang kau pikirkan, kami tidak melakukan apa-apa!” sangkal Sarah, ia menahan lengan Adrian Vleryn.
"Demi Tuhan, Sarah, apa yang kau lakukan di dalam mobil itu?" Adrian kemudian menatap Rovano dengan tajam, ia kemudian menoleh lagi pada Sarah. “Dia siapa?”
Sarah menatap Adrian tidak percaya, bukankah ayahnya sudah memberitahu sang kakak tentang perjodohan Sarah? Lantas kenapa kakaknya masih mempertanyakan siapa Rovano?
Sarah menghela napas panjang, ia menoleh pada Rovano, tangan nya melambai memberi isyarat agar Rovano mendekati mereka. Sarah kemudian merangkul Rovano.
“Dia Rovano Jovian, calon suamiku, Kak.”
Adrian menatap pasangan itu dengan tatapan tak percaya, dua bocah ini akan menikah? Pikirnya. Andai saja Adrian tahu kalau mereka ini dua bocah liar.
“Kalian belum menikah, untuk apa berduaan di mobil begitu lama!”
Sarah menghembuskan napas kasar, inilah yang ia rindukan dari kakaknya yang sedikit protektif, pertanyaan menginterogasi. Sepertinya, Adrian memang sudah melihat sejak mobil ini masuk halaman dan parkir namun tidak ada orang yang kunjung keluar.
Ya, bagaimana mau keluar dari mobil, mereka berdua sedang deep talk sekalian body talk.
“Apakah ini yang harusnya kakak katakan ketika sudah lima tahun tidak pulang?” ucap Sarah pada Adrian dengan raut wajah yang mulai sedikit sedih.
Ia merindukan kakaknya, bukan merindukan amarahnya. Tapi pria di sebelah Sarah sedang merasakan ketegangan yang luar biasa, sejak tadi ia hanya bisa menelan ludahnya dengan berat karena Adrian terus menguras seluruh jiwanya dengan tatapan tajam itu.
Rasanya seperti sedang di tatap oleh malaikat pencabut nyawa, jiwanya seakan sudah terserap habis sampai Rovano lemas.
“Baiklah, maafkan aku,” ucap Adrian akhirnya, ia melangkah mendekati mereka dan akhirnya Sarah bisa tersenyum lebar lalu menerjang tubuh sang kakak.
“Senang kau bisa pulang, Adrian.” Bisik Sarah.
Adrian memeluk adiknya erat, ia kembali dari Norwegia secepatnya setelah mendapat kabar kalau Sarah akan melangsungkan pernikahan mendahului dirinya. Meski ia sudah tahu kalau ini adalah pernikahan bisnis, dan Sarah merupakan korban karena dirinya tidak bisa tinggal di sini.
Ia jadi merasa bersalah, tapi melihat kejadian hari ini sepertinya Sarah mendapatkan pria yang tepat. Ia bisa melihat bagaimana cinta itu terpancar dari wajah Rovano, jika pria itu tidak memiliki perasaan yang berarti pada Sarah, ia tidak akan mungkin tegang seperti sekarang.
Pria itu bahkan tidak melepaskan pandangan nya dari Adrian sejak tadi, namun tatapan nya sudah tidak setajam sebelumnya. Kali ini Adrian merasakan tatapan Rovano lebih pada tatapan segan dan kagum.
Setelah pelukan adik-kakak itu terlepas, Rovano menarik napasnya dalam-dalam lalu memantapkan diri untuk mendekat. Ia mengulurkan tangan kepada Adrian meski sedikit bergetar.
“Saya Rovano Jovian, putra bungsu keluarga Jovian yang akan menikah dengan Sarah,” ucap Rovano dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun.
Sarah merasa senang, Rovano berani mengambil langkah untuk mengajak Adrian bicara lebih dulu. Ia adalah pria pertama yang berkenalan dengan kakak Sarah secara langsung.
Adrian menjabat tangan Rovano, “Adrian Vleryn, putra sulung keluarga Vleryn,” setelah jabatan tangan itu terlepas, Adrian kembali menatap Rovano dengan serius.
“Ah, pantas saja terasa tidak asing, aku pernah satu sekolah dengan kakak mu, Ryan, kan?”
“Apa?” Sarah seketika terkejut mendengarnya, ini kabar yang baru ia tahu padahal kakaknya tahu kalau Sarah pernah berkencan dengan Ryan.
“Kenapa kau terkejut begitu, Sarah?” tanya Adrian.
“A-ah, tidak apa, hanya merasa dunia ini sempit,” jawab Sarah pelan.
Adrian mengernyitkan dahinya seketika, "Tunggu sebentar Sarah, jangan-jangan Ryan mantan kekasih mu itu... Kakak nya calon suami mu?"
Sarah memalingkan wajahnya ke arah lain, berdeham dan pura-pura batuk tanpa menatap Adrian, tidak menjawab pertanyaan sang kakak sama sekali.
Rovano tersenyum pada mereka berdua, “kalau begitu saya pamit karena ini sudah malam, terima kasih untuk hari ini, Sarah.”
Ucapan kaku Rovano membuat Sarah kesal, Adrian hanya mengangguk lalu Sarah mengikuti Rovano yang hendak masuk ke dalam mobil.
Pria itu menoleh dengan heran saat mendapati Sarah berdiri tepat di belakangnya sementara Adrian sudah lebih dulu masuk ke dalam area rumah, sementara Sarah masih menatap Rovano dengan kesal.
“Apa?” tanya Rovano dengan polosnya.
Sarah menendang pelan tulang kering Rovano hingga pria itu mengaduh kesakitan memegangi kakinya yang terasa linu, “Sarah?!”
“Aku sebal padamu, dasar pria kaku!” Sarah menggerutu dengan kesal, gadis itu kemudian meninggalkan Rovano dengan langkah kasar, sepatu yang di hentakan dengan sengaja.
Rovano menahan gadis itu, ia berhasil meraih tangan Sarah. Merasa di tahan, Sarah menoleh ke belakang dan Rovano dengan secepat kilat mengecup bibir Sarah singkat lalu setelah nya pria itu tersenyum dengan lembut dan manis pada Sarah.
“Selamat malam, Sarah.”
"Rovano!" Sarah berseru dan tersipu malu.
"Sarah Vleryn! Cepat masuk!"