Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 6 - KEBENARAN YANG MENYEDIHKAN
Gudang barley Pak Gron terletak di pinggiran kota, dekat dengan tembok timur. Bangunannya besar, tua, dan dari luar saja sudah terdengar suara cicit yang keras dan berisik.
"Ini suaranya seperti konser mouse," komentar Ash sambil menutup hidungnya. Bau busuk tercium dari celah-celah dinding kayu. "Eveline, serius kita harus masuk ke sana?"
"Kau yang ambil quest-nya. Aku hanya menemani."
"Tapi kau kan partner-ku. Partner harus saling membantu."
"Aku bukan partner-mu. Aku hanya orang yang kebetulan tidak membiarkanmu mati di hutan."
"Itu definisi partner yang sangat dingin."
Pak Gron adalah pria tua berperut buncit dengan wajah yang terus-menerus berkeringat. Begitu melihat Ash dan Eveline, dia langsung menghampiri dengan tergesa-gesa.
"Akhirnya! Guild kirim orang! Tikus-tikus sialan itu sudah makan separuh barley-ku!" keluhnya sambil mengelap keringat dengan kain kotor.
"Berapa banyak?" tanya Eveline to the point.
"Entahlah! Sepuluh? Dua puluh? Mereka berkembang biak seperti... yah, seperti tikus!" Pak Gron menunjuk pintu gudang. "Yang pasti, mereka besar! Sebesar kucing! Dan galak!"
Ash membayangkan tikus sebesar kucing. Dia merasa sedikit mual.
"Kami akan tangani," ucap Eveline, lalu masuk ke gudang tanpa menunggu.
Ash mengikuti dengan langkah ragu. Begitu masuk, gelap dan pengap langsung menyambutnya. Tumpukan karung barley sampai ke langit-langit, menciptakan lorong-lorong sempit yang menyeramkan. Dan suara cicit itu... semakin keras.
"Eveline, gimana caranya?" bisik Ash.
"Kau di pintu. Jangan biarkan ada yang kabur. Aku yang berburu."
"Tunggu, aku cuma jaga pintu? Aku mau aktif juga!"
"Kau akan 'aktif' jika kau tidak merepotkan."
Sebelum Ash bisa protes, Eveline sudah menghilang di antara tumpukan karung dengan gerakan yang tidak bersuara.
Ash berdiri di dekat pintu, merasa tidak berguna. Dia mengambil sebatang kayu yang bersandar di dinding, setidaknya untuk senjata kalau ada yang mendekat.
Lalu terdengar suara gesekan cepat.
Seekor tikus, dan memang sebesar kucing gemuk, meluncur keluar dari celah karung. Bulunya abu-abu kotor, matanya merah menyala, dan giginya panjang serta kuning seperti belum pernah sikat gigi seumur hidup.
Tikus itu melihat Ash.
Ash melihat tikus itu.
Mereka terdiam sejenak.
Lalu tikus itu mendesis dan berlari ke arah Ash dengan kecepatan mengejutkan.
"WADUH!" Ash mengayunkan kayu di tangannya secara refleks.
THWACK!
Kena! Tikus itu terpental ke samping, menghantam tumpukan karung. Tapi langsung bangkit lagi, lebih marah dari sebelumnya.
"Eveline! Ada yang ke sini!" teriak Ash sambil mundur.
Dari dalam gudang terdengar suara belati mengiris dan cicit yang terpotong. Tapi tidak ada jawaban verbal.
Tikus itu menerjang lagi. Ash mengayunkan kayunya lagi, tapi kali ini meleset. Tikus itu melompat, hampir menggigit lengannya.
"ASTAGA! RABIES! RABIES!"
Ash berbalik dan berlari masuk ke gudang, menabrak tumpukan karung dan menciptakan kekacauan. Di belakangnya, tikus itu masih mengejar dengan tekad membunuh.
"EVELINE! BANTU! TIKUSNYA MAU BUNUH AKU!"
Dari balik tumpukan karung, Eveline muncul dengan gerakan cepat. Belati di tangannya berkelebat, dan dalam sekejap tikus itu sudah tergeletak tak bergerak dengan luka presisi di lehernya.
Ash berhenti berlari, terengah-engah. "Terima kasih... kau menyelamatkan hidupku..."
"Itu hanya tikus."
"TIKUS SEBESAR KUCING!"
"Tetap hanya tikus."
Tiba-tiba dari berbagai arah, lebih banyak tikus muncul. Bukan satu atau dua. Tapi puluhan. Sepertinya teriakan Ash tadi membangunkan seluruh koloni.
"Oh tidak," gumam Eveline, matanya memindai situasi dengan cepat. "Terlalu banyak."
"AKU BILANG KAN! INI BUKAN QUEST RANK F! INI RANK NIGHTMARE!"
Eveline menarik belati keduanya. "Lari ke pojok sana. Buat dirimu sekecil mungkin. Aku akan bersihkan mereka."
"Kau yakin bisa sendirian?"
"Lebih yakin daripada kalau kau membantu."
Ash tidak tersinggung. Dia tahu itu fakta. Dia berlari ke pojok gudang, berdiri di atas sebuah tong kayu agar kakinya tidak dijangkau tikus.
Dan dia menyaksikan Eveline bekerja.
Itu bukan pertarungan. Itu adalah tarian mematikan.
Eveline bergerak seperti bayangan. Belatinya menyambar dengan presisi bedah. Satu tikus, dua tikus, tiga tikus tumbang dalam hitungan detik. Gerakannya efisien, tidak ada yang terbuang. Setiap langkah diperhitungkan, setiap sayatan tepat sasaran.
"Dia... keren banget," gumam Ash tanpa sadar.
Tapi ada terlalu banyak tikus. Meskipun Eveline cepat, mereka datang dari segala arah. Salah satu berhasil mencakar kakinya. Darah mulai mengalir.
Eveline menggeram, menghujamkan belatinya ke tikus itu. Tapi dia mulai kewalahan.
Ash melihat itu. Dan sesuatu di dadanya terasa panas.
Dia tidak bisa hanya berdiri di sini.
Dia harus lakukan sesuatu.
"EVELINE! MERUNDUK!"
Eveline refleks merunduk tanpa bertanya.
Dan Ash melompat dari tong kayunya, mengayunkan kayu yang lebih besar yang dia ambil dari samping tong.
BRAK! BRAK! BRAK!
Dia mengayunkan kayu itu seperti orang kesetanan, menghantam tikus-tikus yang mengerubungi Eveline. Tidak ada teknik. Tidak ada gaya. Hanya ayunan brutal penuh panik.
"PERGI! PERGI! KALIAN TIKUS TERKUTUK!"
Beberapa tikus terkena dan terpental. Yang lain terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Ash.
Eveline menggunakan kesempatan itu. Dia bangkit dan kembali menyerang dengan presisi mematikan.
Kekacauan berlangsung sekitar sepuluh menit. Gudang dipenuhi cicit, teriakan Ash, dan suara belati mengiris. Debu dan bulu tikus beterbangan.
Akhirnya, hening.
Ash berdiri di tengah tumpukan bangkai tikus, napasnya memburu, kayu di tangannya patah menjadi dua. Eveline berdiri tidak jauh darinya, belati di kedua tangannya menetes darah.
"Kita... kita menang?" tanya Ash.
"Sepertinya."
"YES! KITA MENANG! TEAMWORK MAKES THE DREAMWORK!"
Ash mengangkat kedua tangannya seperti juara tinju. Tapi gerakan itu membuat dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang.
BRUK!
"Aduh..."
Eveline berjalan mendekat, mengulurkan tangan. Ash mengambilnya dan ditarik bangun.
"Kau... membantuku tadi," ucap Eveline pelan.
"Tentu saja. Kau partner-ku."
"Aku bilang aku bukan—"
"Sudahlah. Terima kenyataan saja. Kita partner sekarang."
Eveline menatap Ash lama. Lalu dia menghela napas. "Baiklah. Partner."
Ash menyeringai lebar. "Itu baru partner-ku!"
Mereka keluar dari gudang dengan membawa beberapa ekor tikus sebagai bukti. Pak Gron menatap mereka dengan takjub.
"Kalian... kalian benar-benar bersihkan semuanya?"
"Sebagian besar," jawab Eveline. "Mungkin masih ada beberapa yang bersembunyi. Tapi populasinya sudah berkurang drastis."
Pak Gron memberikan mereka sepuluh keping copper dengan tangan gemetar. "Ini bayarannya. Terima kasih. Terima kasih banyak!"
Ash mengambil koinnya, menatapnya dengan perasaan campur aduk. "Sepuluh copper. Kita bagi dua, jadi lima per orang."
"Kau ambil semua," kata Eveline.
"Hah? Kenapa?"
"Karena kau yang ambil quest. Dan kau butuh uang lebih dari aku."
"Tapi kau yang kerja lebih banyak!"
"Tidak penting. Ambil saja."
Ash menatap Eveline. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Masih dingin, tapi tidak sedingin dulu.
"Terima kasih, Eveline."
"Jangan biasakan."
Mereka berjalan kembali ke arah pusat kota. Matahari sudah mulai condong ke barat, menandakan sore akan segera tiba. Jalanan masih ramai, tapi dengan ritme yang lebih lambat.
"Lapar," gumam Ash. "Kita makan dulu yuk. Aku traktir!"
"Dengan lima copper?"
"Lima copper bisa dapat apa?"
"Dua potong roti dan satu mangkuk sup murah."
"Mewah sekali hidup kita."
Mereka mampir di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Tempatnya sederhana, tapi bersih. Pemiliknya, seorang wanita paruh baya yang ramah, menyajikan roti dan sup dengan cepat.
Ash makan dengan lahap. Setelah bertarung tikus, dia merasa bisa makan apapun.
"Eveline," panggilnya di tengah suapan. "Aku mau tanya. Kau jadi pembunuh... karena terpaksa atau karena pilihan?"
Eveline berhenti makan. Dia menatap mangkuk supnya.
"Keluargaku," ucapnya pelan. "Keluarga Nightshade. Kami adalah keluarga assassin yang terkenal. Aku dilatih sejak umur sepuluh tahun. Untuk membunuh. Untuk menjadi senjata sempurna."
Ash mendengarkan tanpa memotong.
"Tapi aku gagal," lanjut Eveline. "Misi pertamaku. Targetnya... seorang anak. Seumuranku waktu itu. Aku tidak bisa melakukannya."
"Jadi mereka...?"
"Membuangku. Tapi tidak sebelum menghukum." Eveline memejamkan mata. "Mereka mengurungku di ruangan gelap. Tanpa makanan. Tanpa air. Hanya suara tangisan anak yang seharusnya kubunuh. Itu selalu ada di kepalaku."
Ash merasa dadanya sesak. "Kau bertahan?"
"Aku kabur. Membunuh penjaga yang lengah. Dan sejak itu, hidup sendiri. Bertahan. Seperti hewan." Eveline membuka mata, menatap Ash. "Itulah kenapa aku membawamu waktu itu. Karena kau... kau melihatku bukan sebagai Nightshade. Bukan sebagai assassin. Kau melihat Eveline."
Ash menatap balik. "Karena kau memang Eveline. Bukan senjata. Kau manusia."
Eveline tersenyum. Sangat tipis, hampir tidak terlihat. Tapi ada.
"Mungkin," bisiknya. "Mungkin aku mulai belajar menjadi manusia lagi."
Mereka melanjutkan makan dalam keheningan yang nyaman.
Tapi keheningan itu pecah saat pintu kedai terbuka dengan keras.
Tiga pria bertubuh besar masuk. Pakaian mereka compang-camping, wajah mereka kasar, dan di pinggang mereka tergantung senjata-senjata. Preman lokal, pikir Ash.
Mereka memindai ruangan, lalu mata salah satunya tertuju pada Eveline.
"Wah, wah," ucap pria itu sambil mendekat. "Lihat siapa ini. Wanita cantik sendirian dengan bocah kurus."
Dua temannya tertawa.
Eveline tidak menoleh. Dia terus makan dengan tenang. Tapi Ash bisa melihat tangannya bergerak sedikit lebih dekat ke belati di pinggangnya.
"Hey, Nona," pria itu berhenti tepat di samping meja mereka. "Bagaimana kalau kau tinggalkan bocah itu dan ikut kami? Kami bisa tunjukkan waktu yang lebih menyenangkan."
"Tidak tertarik," jawab Eveline datar, masih tidak menoleh.
"Jangan cepat menolak. Kami bisa—"
Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Eveline.
SYUUT!
Sebuah belati tiba-tiba menancap di meja, tepat di antara jari-jari pria itu. Hanya selisih milimeter dari kulitnya.
Eveline akhirnya menoleh. Matanya kosong, tapi ada sesuatu yang sangat berbahaya di dalamnya.
"Sentuh aku, dan jari-jari itu tidak akan menempel di tanganmu lagi."
Pria itu menarik tangannya dengan cepat, wajahnya pucat. Tapi gengsinya tidak biarkan dia mundur begitu saja.
"Kau pikir kau siapa? Hanya karena punya belati—"
"Dia adalah partner-ku," potong Ash, berdiri dari kursinya. "Dan kalian sebaiknya pergi sebelum ada yang terluka."
Ketiga preman itu menatap Ash, lalu tertawa lebih keras.
"Bocah ini mau melindungi wanita? Lucu sekali!"
Salah satu dari mereka mengayunkan tangan untuk mendorong Ash.
Tapi sebelum tangannya sampai, Eveline sudah bergerak.
WUSSH!
Dalam sekejap, dia berdiri di antara Ash dan preman itu. Belati keduanya sudah terhunus, ujungnya mengarah ke leher pria itu.
"Coba lagi," bisik Eveline dengan suara yang membuat ruangan terasa sepuluh derajat lebih dingin.
Pria itu menelan ludah. Dia melihat mata Eveline dan menyadari satu hal: dia sedang berhadapan dengan pembunuh profesional.
"A-ayo kita pergi," ucapnya pada teman-temannya. "Tidak worth it."
Mereka cepat-cepat keluar dari kedai, meninggalkan suasana tegang.
Eveline menyarungkan belatinya dan duduk kembali, melanjutkan makan seolah tidak ada yang terjadi.
Ash duduk, jantungnya masih berdebar. "Kau... kau tadi keren banget."
"Mereka hanya preman kecil. Tidak ada yang istimewa."
"Tapi kau melindungiku."
Eveline meliriknya. "Kau bilang kita partner. Partner saling melindungi."
Ash tersenyum lebar. "Itu benar!"
Mereka menyelesaikan makan dalam suasana yang lebih ringan. Setelah bayar, mereka berjalan kembali ke The Rusty Mug untuk istirahat.
Tapi di tengah perjalanan, Ash berhenti.
"Eveline, lihat itu."
Di seberang jalan, di depan sebuah tavern yang lebih besar, duduk seorang pria. Dia memakai armor pelat sederhana yang terlihat terawat, tapi ada simbol di bahunya yang membuat Ash mengernyit. Simbol pedang dengan sayap.
Tapi simbolnya dicoret dengan kasar, seolah ingin dihapus.
Pria itu berambut pirang kemerahan, diikat kasar ke belakang. Jenggot pendeknya sama warnanya. Wajahnya keras, dengan mata biru yang terlihat lelah. Bukan lelah fisik. Tapi lelah jiwa.
Dia duduk sendiri di bangku kayu, menatap sebuah mug bir di tangannya dengan tatapan kosong.
"Itu simbol LightOrder," bisik Eveline. "Tapi dirusak. Dia desertir."
"Desertir? Keluar dari pasukan?"
"Ya. Dan LightOrder tidak maafkan deserter. Dia pasti punya alasan kuat."
Ash menatap pria itu dengan penasaran. Ada sesuatu tentang dia yang... menarik. Bukan dalam arti fisik. Tapi dalam arti... kesamaan? Rasa kehilangan yang sama?
"Ayo kita dekati," ucap Ash tiba-tiba.
"Jangan. Desertir LightOrder berbahaya. Mereka diburu."
"Tapi dia terlihat... sendiri."
"Ash—"
Tapi Ash sudah berjalan mendekat. Eveline mengutuk dalam hati dan mengikutinya.
Pria itu menoleh saat Ash berhenti di depannya. Matanya awalnya waspada, lalu melihat Eveline, lalu kembali ke Ash.
"Ada perlu?" suaranya dalam dan kasar.
"Eh... aku cuma penasaran. Kau dari Varnhold?" tanya Ash polos.
"Bukan lagi."
"Kenapa keluar?"
Pria itu meminum birnya, lalu menatap Ash lebih dalam. "Kau baru di dunia ini, ya? Terlalu banyak pertanyaan bisa bawa masalah."
"Aku memang baru. Tapi aku butuh informasi. Dan kau terlihat... punya banyak cerita."
Pria itu tertawa pendek, getir. "Cerita? Aku punya cerita yang tidak ingin kudengar lagi." Tapi kemudian, matanya tertuju pada rambut Ash. "Rambutmu aneh. Tidak alami."
"Orang-orang suka bilang begitu."
"Ada aura aneh juga. Sangat samar, tapi... tua."
Ash mulai merasa seperti semua orang bisa merasakan sesuatu dalam dirinya kecuali dia sendiri.
"Siapa kau?" tanya Ash.
"Razen. Dulu Knight of LightOrder. Sekarang... siapa tahu." Dia meminum birnya lagi. "Dan kau?"
"Ash. Ini Eveline."
Razen mengangguk ke arah Eveline. "Assassin. Terlihat dari caramu berjalan." Matanya kembali ke Ash. "Dan kau... kau tidak terlihat seperti apapun. Seperti kertas kosong. Tapi di balik kertas kosong itu, ada sesuatu yang mengintai."
Ash merasa ngeri. "Kau bisa merasakannya?"
"Setelah bertahun-tahun berhadapan dengan energi suci LightOrder, seseorang jadi sensitif pada hal-hal... berbeda. Atau dalam kasusmu, bukan tidak suci, tapi... berbeda." Razen berdiri. Dia lebih tinggi dari perkiraan Ash. "Kalian butuh uang?"
"Sedikit," akui Ash.
"Ada quest bagus di papan rank D. Escort caravan ke desa tetangga. Butuh dua orang ekstra. Bayaran dua silver per orang. Aku sudah ambil. Butuh partner."
"Kenapa mau ajak kami? Kami rank F."
"Karena kau aneh. Dan di dunia ini, aneh bisa jadi keuntungan." Razen melirik ke arah sekelompok pria berseragam biru yang sedang berpatroli di kejauhan. Penjaga kota. "Juga, aku butuh partner yang tidak akan tanya banyak soal masa laluku."
Ash melihat ke Eveline. Dia mengangguk pelan.
"Oke. Kami ikut."
"Bagus. Berkumpul di gerbang barat besok subuh. Jangan telat." Razen berbalik untuk pergi, tapi berhenti. "Oh, dan Ash?"
"Ya?"
"Jika kau punya sesuatu yang bersembunyi di dalam dirimu... jangan biarkan itu keluar di depan orang banyak. Ada banyak mata di Vairlion yang lebih berbahaya daripada LightOrder."
Setelah Razen pergi, Ash menarik napas panjang.
"Kenapa semua orang bisa merasakan sesuatu dalam diriku kecuali aku?"
"Mungkin karena kau terlalu sibuk membuat lelucon," jawab Eveline.
"Mungkin."
Mereka kembali ke penginapan. Malam ini, Ash berbaring di ranjangnya yang keras, menatap langit-langit kayu yang berlubang.
Besok, quest pertama yang sebenarnya. Escort caravan. Dengan seorang desertir LightOrder yang misterius.
Hidupnya di dunia ini semakin rumit.
Tapi entah kenapa, dia mulai menyukainya.
Dia melirik ke seberang ruangan. Eveline sudah tidur, atau setidaknya berpura-pura tidur, dengan satu tangan tetap di gagang belati.
"Selamat malam, partner," bisik Ash pelan.
Tidak ada jawaban.
Tapi Ash bersumpah melihat sudut bibir Eveline terangkat sedikit.