Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri yang Terciprat
Pagi itu, udara di gang sempit permukiman mereka terasa lebih gerah dari biasanya. Suara bising dari radio tetangga dan aroma jemuran yang pengap menjadi latar belakang rutinitas pagi yang melelahkan. Hilman, dengan tubuh yang terasa seberat timah, sudah berada di teras sejak pukul enam pagi. Sesuai perintah Andini semalam, ia harus mencuci motor bebek tuanya hingga mengkilap agar tidak "memalukan" saat mengantar sang istri ke acara reuni.
Hilman berjongkok di samping motornya. Setiap kali ia menunduk untuk menyikat bagian mesin yang berkerak, kepalanya terasa berdenyut hebat. Rasa nyeri di dadanya belum hilang, malah terasa semakin menusuk setiap kali ia menarik napas dalam. Namun, ia terus menggerakkan tangannya. Ia menggunakan sabun cuci piring dan sikat gigi bekas untuk menjangkau celah-celah terkecil. Ia ingin setidaknya motor itu bersih, jika memang ia tak mampu membelikan mobil mewah seperti suami teman-teman Andini.
"Waduh, Pak Hilman. Rajin bener pagi-pagi sudah dandanin motor," tegur Pak RT yang sedang jalan pagi.
Hilman mendongak, tersenyum sopan sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan yang basah. "Iya, Pak RT. Mau antar istri ada acara sebentar."
Pak RT menggeleng-gelengkan kepala sambil melihat ke arah jendela rumah Hilman yang tertutup rapat. "Pak Hilman ini terlalu baik. Saya lihat kemarin sore habis pulang lembur pelabuhan, eh pagi ini sudah kerja bakti lagi. Istrinya mana? Kok nggak bantuin, minimal kasih teh hangat kek."
Hilman hanya terkekeh kecil, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Andini lagi siap-siap, Pak. Maklum, perempuan kan dandannya lama."
Di seberang jalan, beberapa ibu-ibu yang sedang membeli sayur mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arah rumah Hilman. Suara mereka tidak terlalu pelan, seolah sengaja ingin terdengar.
"Kasihan ya Pak Hilman, sudah kayak pembantu saja di rumah sendiri. Istrinya cuma tahu dandan sama main HP," bisik Bu mulyani, istri pemilik kontrakan.
"Iya, kemarin saya lihat Andini bawa kantong belanjaan mahal. Eh, besoknya Pak Hilman kerja sampai subuh. Benar-benar suami takut istri itu mah. Kalau saya jadi Pak Hilman, sudah saya pulangkan itu perempuan ke orang tuanya," timpal Bu RT dengan nada pedas.
Hilman mendengar setiap kata itu. Hatinya perih, bukan karena ucapan mereka salah, tapi karena ia merasa gagal melindungi harga diri istrinya di mata orang lain. Ia tidak ingin orang-orang memandang rendah Andini, meskipun Andini sendiri yang memberikan alasan bagi mereka untuk melakukan itu.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka dengan sentakan kasar. Andini keluar dengan gaun baru berwarna biru elektrik yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang kusam. Di tangannya, ia menjinjing tas sepuluh juta rupiah yang ia banggakan. Ia tampak seperti dewi yang tersesat di pemukiman kumuh.
"Mas! Masih belum selesai juga?" teriak Andini tanpa memedulikan tatapan tetangga. "Lihat jam! Ini sudah jam sembilan lewat! Kalau jalanan macet, aku bisa telat!"
"Bentar lagi, Dek. Tinggal dibilas dikit lagi," sahut Hilman buru-buru. Ia menyiramkan air dari ember ke arah roda belakang motor.
Namun, karena tangannya yang gemetar karena lelah, siraman air itu terlalu kuat. Air bercampur sabun itu menghantam semen, memercik ke atas, dan—clash!—beberapa tetes air kotor mengenai sepatu hak tinggi dan ujung gaun Andini. Bahkan, setetes air mendarat tepat di permukaan kulit tas baru Andini.
Wajah Andini seketika berubah menjadi merah padam. Matanya melotot seolah-olah Hilman baru saja melakukan dosa besar.
"MAS! APA-APAAN SIH!" jerit Andini histeris. Ia segera mengusap tasnya dengan tisu dengan gerakan panik. "Kamu lihat nggak? Ini kena air kotor! Kamu tahu nggak harga tas ini berapa? Lebih mahal dari harga motor busuk mu ini!"
Hilman langsung berdiri, meletakkan ember nya. "Maaf, Dek... Mas nggak sengaja. Sini, Mas lap pakai kain halus..."
"Jangan sentuh! Tanganmu itu kotor, penuh oli!" bentak Andini sambil menepis tangan Hilman. "Benar-benar ya, nggak bisa diandalkan. Aku minta tolong cuci motor supaya nggak malu-maluin, eh malah kamu merusak barangku! Kamu sengaja ya karena iri aku punya tas bagus?"
Ibu-ibu di tukang sayur terdiam, menonton drama itu dengan mata terbelalak. Pak RT yang belum jauh pun menoleh dengan tatapan iba sekaligus miris.
"Sengaja kamu bilang?" suara Hilman tiba-tiba merendah, ada nada getar yang tak biasa di sana. "Mas kerja lembur dua hari dua malam tanpa tidur untuk beli tas itu, Andini. Untuk apa Mas merusaknya?"
Andini tertegun sejenak mendengarnya, namun egonya terlalu tinggi untuk meminta maaf. Terlebih saat ia sadar tetangga sedang menonton. Ia merasa harus menunjukkan bahwa dialah "pemenang" di rumah ini.
"Ya kalau Mas ikhlas kasihnya, Mas harusnya hati-hati! Jangan malah jadi beban begini. Lihat tuh, tetangga pada ngeliatin. Aku malu punya suami yang ceroboh dan nggak punya wibawa kayak kamu!" Andini menunjuk ke arah ibu-ibu tukang sayur. "Puas kamu sekarang bikin aku jadi tontonan?"
Hilman menunduk. Ia bisa merasakan tatapan menghina dari tetangganya, namun yang lebih menyakitkan adalah tatapan kebencian dari istrinya sendiri. Tanpa sepatah kata pun, ia membersihkan sisa air di jok motor dan menyalakan mesin. Asap tipis keluar dari knalpot, menambah kekesalan Andini.
"Cepat jalan! Jangan sampai aku telat satu menit pun!" perintah Andini sambil naik ke motor dengan gaya yang sangat kaku, menjaga agar gaunnya tidak menyentuh bagian motor yang menurutnya kotor.
Sepanjang perjalanan, Andini terus mengomel di belakang punggung Hilman. Ia tidak peduli bahwa punggung suaminya itu basah kuyup oleh keringat meski cuaca masih pagi. Ia tidak peduli bahwa tangan Hilman yang memegang stang motor tampak sangat pucat dan bergetar.
"Ingat ya Mas, nanti turunin aku di depan gerbang hotel. Tapi jangan lama-lama berhenti di situ. Begitu aku turun, Mas langsung pergi. Jangan sampai teman-temanku lihat motor ini lama-lama terparkir di sana," instruksi Andini dengan nada memerintah.
Hilman tidak menjawab. Ia fokus mengatur napasnya yang terasa semakin pendek. Di depan hotel bintang lima tempat reuni berlangsung, Hilman menghentikan motornya tepat di depan lobi seperti yang diminta, meskipun petugas keamanan sempat memberikan tatapan ragu.
Andini turun dengan terburu-buru, segera merapikan gaunnya dan memasang senyum paling menawan di wajahnya. Ia tidak menoleh lagi pada suaminya. Ia langsung melangkah menuju pintu kaca besar itu dengan langkah penuh percaya diri, seolah-olah ia baru saja turun dari mobil mewah.
Hilman menatap punggung istrinya yang menjauh. Ia melihat Andini disambut dengan pelukan oleh teman-temannya yang berpakaian serupa. Ia melihat tawa Andini yang pecah, tawa yang tak pernah ia dengar di rumah.
Baru saja Hilman hendak memutar motornya, serangan batuk itu datang lagi. Kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Hilman terpaksa menepi ke pinggir jalan raya, turun dari motor, dan berpegangan pada tiang listrik. Ia terbatuk hingga tubuhnya membungkuk. Sesuatu yang hangat dan kental keluar dari mulutnya, mengotori sapu tangan lusuhnya hingga berubah warna menjadi merah gelap sepenuhnya.
Seorang tukang ojek yang mangkal di dekat sana menghampiri. "Pak? Bapak nggak apa-apa? Waduh, itu berdarah Pak!"
Hilman menggeleng lemah, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Nggak apa-apa... cuma... cuma kecapekan," bisiknya pelan.
Ia memasukkan sapu tangan berdarah itu ke dalam sakunya dalam-dalam. Ia tidak boleh ambruk di sini. Ia harus pulang, harus menjemput Syifa dari rumah tetangga, dan harus menyiapkan makan siang. Ia juga harus memikirkan bagaimana caranya ia bisa menjemput Andini sore nanti tanpa membuat sang istri malu lagi.
Dalam pusing yang luar biasa, Hilman teringat depositonya. Ia merasa waktunya tidak lama lagi. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun kata-kata untuk surat permohonan maaf yang akan ia masukkan ke dalam kotak rahasia itu.
"Andini, maafkan aku... aku tidak bisa menemanimu sampai tua. Aku gagal menjadi suami yang bisa kamu banggakan di depan teman-temanmu. Tapi tolong, jaga Syifa dengan uang yang aku tinggalkan nanti. Jangan beri tahu dia kalau ayahnya hanya seorang buruh yang bau matahari... biarkan dia mengingatku sebagai ayah yang sangat menyayanginya."
Hilman kembali naik ke motornya dengan pandangan yang mulai kabur. Di dalam hotel, Andini sedang bersulang dengan gelas berisi jus jeruk, tertawa sambil memamerkan tas sepuluh juta rupiahnya, tanpa sedikit pun terlintas di pikirannya bahwa pria yang membelikan tas itu sedang bertaruh nyawa di jalanan hanya untuk sekadar bisa pulang ke rumah.
Malam itu, setelah reuni selesai, Andini pulang dengan perasaan senang sekaligus kesal karena harus pulang naik motor lagi. Begitu sampai di rumah, ia melihat Hilman sedang duduk di lantai dapur, tertidur dengan posisi menyandar pada dinding dengan piring berisi nasi putih dan garam yang belum sempat habis dimakan.
"Dasar pemalas! Jam segini sudah tidur, piring kotor nggak langsung dicuci!" Andini menendang kaki Hilman pelan agar terbangun.
Hilman tersentak bangun, matanya sayu. "Eh, sudah pulang, Dek? Gimana reuninya?"
"Biasa saja! Capek tahu nggak!" Andini melempar tasnya ke meja. "Sana cuci piring! Bau dapur ini bikin aku mual!"
Hilman berdiri dengan goyah, tersenyum kecil. "Iya, Dek. Mas cuci sekarang."
Andini masuk ke kamar tanpa menyadari bahwa di sudut bibir Hilman masih ada bekas noda merah kering yang belum sempat ia bersihkan dengan sempurna. Drama kesombongan Andini terus berlanjut, sementara lonceng kematian Hilman mulai berdentang semakin keras, bersiap untuk memberikan kejutan paling menyakitkan dalam hidup wanita muda itu.