NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kemenangan yang Berbau Amis

Bus antar-kota itu berhenti dengan suara mendesis, membuang asap hitam ke udara pegunungan yang mulai mendingin. Gia turun terlebih dahulu, menghirup udara desa yang lembap dan berbau tanah basah. Rasanya seperti paru-parunya baru saja mendapatkan kemerdekaan setelah berhari-hari disiksa polusi dan ketegangan di Jakarta.

Rian menyusul di belakangnya, menggendong tas ransel yang tampak kusam. Ia tidak langsung berjalan, melainkan berdiri sejenak, menatap hamparan kebun teh di kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kenapa, Rian? Kakimu kram?" goda Gia, mencoba mencairkan suasana.

Rian terkekeh, meski matanya tetap waspada menyapu sekeliling terminal kecil itu. "Bukan kram, Neng. Cuma lagi ngerasain bedanya. Di Jakarta, kalau ada orang natap kita, biasanya mereka mau nipu atau mau minta duit. Di sini, kalau ditatap, paling-paling ditanya kapan kawin."

Gia tertawa kecil sambil membenulkan posisi tas selempangnya. Mereka mulai berjalan kaki menyusuri jalanan berbatu menuju kedai. Sepanjang jalan, beberapa warga desa menyapa mereka. Ada yang memberikan jempol, ada yang berteriak menanyakan kabar Niko yang masuk TV, tapi ada juga beberapa wajah baru yang tampak asing, berdiri di pojokan warung kelontong sambil memegang ponsel.

Gia tidak terlalu memedulikannya, ia terlalu rindu pada ayahnya. Namun, langkah Rian melambat. Pria itu sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang membuntuti mereka.

Sesampainya di kedai, Gia hampir saja menjatuhkan tasnya. Kedai yang tadinya hangus sebagian, kini sudah rapi kembali. Pak Jaya berdiri di depan pintu dengan celemek yang bersih, seolah-olah kebakaran hebat itu tidak pernah terjadi.

"Bapak!" Gia berlari memeluk ayahnya.

"Sudah pulang, Cah Ayu?" Pak Jaya mengusap kepala putrinya dengan haru. "Semuanya sudah beres. Anak-anak muda sini gotong royong benerin kedai sejak kamu berangkat."

Rian menyalami Pak Jaya dengan hormat, lalu matanya tertuju pada papan nama baru yang sedang dipasang oleh dua orang pemuda desa. Papan itu bertuliskan: "KEDAI HARAPAN: CERITA KITA".

"Bagus, Pak. Lebih segar," komentar Rian. Tapi tak lama kemudian, ia menarik Gia sedikit menjauh dari kerumunan warga yang mulai berkumpul. "Gia, jangan terlalu santai dulu. Kamu lihat mobil jip putih yang parkir di dekat balai desa tadi?"

Gia mengernyitkan dahi. "Iya, kenapa? Mungkin punya tamu Pak Kades."

"Itu jip tipe militer, Gia. Nggak mungkin orang sini punya. Dan sejak kita turun dari bus, ada dua orang yang terus-terusan motret kita pakai lensa panjang," bisik Rian, suaranya kini kembali berat dan serius. "Mahendra Senior bukan orang yang bakal biarin anaknya membusuk di penjara tanpa serangan balik. Dia nggak bakal main api lagi kayak Niko, dia bakal main... sistem."

Belum sempat Gia mencerna ucapan Rian, sebuah sedan perak yang sangat mewah—jauh lebih mewah dari milik Niko—berhenti dengan halus di depan kedai. Semua warga desa terdiam. Dari dalam mobil, turun seorang pria berusia sekitar 60-an tahun dengan setelan jas abu-abu yang sangat licin. Wajahnya tenang, hampir tanpa emosi, namun auranya sangat menekan.

Itu adalah Tuan Mahendra, ayah Niko.

Pria tua itu melangkah dengan santai, mengabaikan debu tanah yang menempel di sepatunya yang seharga motor baru. Ia berhenti tepat di depan Rian.

"Rian Ardiansyah. Akhirnya kita bertemu lagi," suara Tuan Mahendra terdengar sangat sopan, namun ada ancaman terselubung di setiap katanya. "Aku harus akui, taktikmu menggunakan media sosial sangat efektif. Kamu berhasil membuat putraku yang bodoh itu mendekam di sel."

Rian berdiri tegak, tidak membungkuk sedikit pun. "Dia pantas mendapatkannya, Tuan. Dan Anda tahu, data yang saya sebarkan hanyalah permulaan. Masih ada folder lain yang belum saya buka."

Tuan Mahendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Folder? Kamu pikir aku akan membiarkanmu memegang folder itu lebih lama? Aku ke sini bukan untuk mengancammu, Rian. Aku ke sini untuk memberimu 'pilihan'."

Gia melangkah maju, berdiri di samping Rian. "Pilihan apa lagi? Anda mau membakar tempat ini lagi?"

Tuan Mahendra melirik Gia sebentar, seolah-olah Gia hanyalah butiran debu yang tidak sengaja menempel di jasnya. "Nona Gia, saya bukan anak kecil seperti Niko. Saya tahu cara menghargai aset. Rian adalah aset yang terbuang. Aku menawarkan rehabilitasi nama baik. Firma baru, posisi direktur utama, dan semua tuntutan hukum terhadapmu akan ditarik. Bahkan, aku akan memberikan dana hibah untuk desa ini agar menjadi kawasan agrowisata kopi terbesar di Jawa."

Warga desa yang mendengar itu mulai berbisik-bisik. Dana hibah? Agrowisata? Itu adalah mimpi bagi banyak orang di sini.

"Dan harganya?" tanya Rian dingin.

"Sederhana. Serahkan semua data asli itu padaku, tanda tangani surat pernyataan bahwa semua postingan kemarin adalah kesalahan teknis, dan... kamu harus ikut aku kembali ke Jakarta sekarang juga," Tuan Mahendra menatap Rian dengan tatapan mematru. "Jangan pikirkan dirimu sendiri, Rian. Pikirkan warga desa ini. Pikirkan Pak Jaya yang sudah tua. Apakah kalian mau menghabiskan sisa hidup kalian dengan terus-terusan menoleh ke belakang karena takut?"

Suasana kedai mendadak tegang. Pak Jaya tampak bingung, ia memandang Rian dan Gia bergantian. Tawaran itu sangat menggiurkan, tapi juga terasa seperti racun yang dibungkus madu.

Gia merasakan tangannya dingin. Ia menatap Rian. Apakah pria ini akan tergoda? Setelah semua yang mereka lalui?

Rian diam cukup lama. Ia menatap ke arah warga desa yang menaruh harapan padanya, lalu menatap Gia. Perlahan, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah koin seribuan yang sudah berkarat—koin yang dulu pernah ia berikan pada Gia sebagai simbol "utang kopi".

"Tuan Mahendra," ujar Rian sambil memainkan koin itu di jemarinya. "Anda tahu kenapa saya lebih suka jadi kuli bangunan di sini daripada jadi direktur di firma Anda?"

Tuan Mahendra mengangkat alisnya.

"Karena di sini, kalau saya lapar, saya tinggal minta nasi rames ke Mbak Siska dan membayarnya pakai keringat yang jujur. Di tempat Anda, saya harus makan daging mahal yang bumbunya dari air mata orang lain," Rian melempar koin itu ke arah Tuan Mahendra. Koin itu jatuh tepat di depan sepatu mengkilap si konglomerat. "Simpan dana hibah Anda. Kami nggak butuh agrowisata kalau itu berarti kami harus jadi pelayan di tanah kami sendiri."

Wajah Tuan Mahendra mendadak berubah. Garis-garis kemarahan mulai muncul di sudut matanya. "Kamu baru saja memilih jalan yang sangat sulit, Rian. Kamu tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang yang kehilangan segalanya."

"Saya sudah pernah kehilangan segalanya, Tuan. Dan ternyata, rasanya nggak sesakit itu selama saya masih bisa minum kopi tanpa rasa bersalah," balas Rian tajam.

Tuan Mahendra berbalik, masuk ke dalam mobilnya tanpa kata lagi. Saat mobil itu melesat pergi, ia sempat menurunkan kaca jendela dan menatap Gia dengan sorot mata yang seolah mengatakan: "Sekarang giliranmu yang akan hancur."

Gia menghela napas panjang, lututnya terasa lemas. "Rian... itu tadi beneran? Kamu nolak jadi Direktur?"

Rian menoleh, kembali ke mode "tukang utang" yang menyebalkan itu. Ia nyengir lebar. "Yaelah Neng, jadi Direktur itu ribet. Harus pakai dasi, harus meeting tiap jam. Enakan di sini, bisa liatin kamu cemberut tiap pagi."

"Rian, aku serius! Dia pasti bakal balik lagi dengan cara yang lebih licik," Gia mencubit lengan Rian.

"Memang," sahut Rian, matanya kembali menatap jip putih di kejauhan yang kini mulai bergerak mengikuti mobil Mahendra. "Tapi setidaknya sekarang kita tahu siapa lawan kita. Dan satu lagi, Neng... utang kopi saya yang tadi pagi belum saya bayar, kan? Masukin catatan aja ya, barengan sama utang 'janji' yang kemarin."

Gia menggelengkan kepala, tapi ia tidak bisa menahan senyumnya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka bukan lagi sekadar pelarian yang bersembunyi, melainkan perlawanan yang berdiri tegak.

Malam itu, di bawah temaram lampu kedai yang baru diperbaiki, Gia dan Rian duduk berdua. Mereka tahu, besok mungkin akan ada teror baru, pengadilan baru, atau fitnah baru. Tapi malam ini, mereka hanya ingin menikmati sisa martabak manis dan aroma kopi jahe yang jujur.

"Gia," panggil Rian pelan.

"Apa?"

"Besok kita mulai renovasi bagian belakang. Aku mau bikin ruang rahasia buat server data kita. Dan... mungkin kamar bayi buat sepuluh tahun ke depan?"

"RIAN!"

Tawa Rian pecah, menggema di antara pepohonan teh, menantang kegelapan malam yang perlahan merayap. Babak baru telah dibuka, dan kali ini, mereka tidak akan membiarkan siapapun menuliskan akhir ceritanya kecuali mereka sendiri.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!