Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Ketika Bumi Menjawab.
[POV Ling Feng]
Kabut pagi menggantung rendah di antara pepohonan.
Kami berhenti di lereng bukit kecil, tersembunyi di balik semak-semak lebat. Xiao Lu duduk bersandar pada batu, napasnya masih tersengal. Abu berbaring di sampingku, lidahnya menjulur, dadanya naik turun cepat.
Aku melihat kakinya. Bengkak. Lebih parah dari kemarin.
“Abu.” Aku mengelus kepalanya. Ia menjilat tanganku, tapi matanya sayu.
Xiao Lu menatap kami. Ada sesuatu di wajahnya. Bukan hanya lelah.
“Ling Feng.”
Aku menoleh.
“Kita harus bicara.”
Suaranya berbeda. Tidak ada topeng. Tidak ada jarak.
Aku duduk di depannya. Abu meringkuk di antara kami, seperti biasa. Tapi kali ini, ia tidak memisahkan. Ia menghubungkan.
“Aku,” Xiao Lu memulai, lalu berhenti. Menarik napas. “Aku sudah tahan ini terlalu lama.”
Aku mengangguk. Menunggu.
“Namaku Xiao Lu. Hanya itu yang jujur dari diriku.”
Aku diam.
“Selebihnya ... bohong. Aku bukan murid biasa. Aku bukan sekadar dikirim untuk misi.” Ia menggenggam tangannya sendiri. “Tapi juga mengamatimu.”
Abu menggerak-gerakkan telinganya.
“Shifu Sheng mengutusku. Menyuruhku mendekatimu. Mencari tahu tentang manik batumu. Tentang kemampuanmu. Tentang ...” Ia berhenti. “Tentang apa pun yang bisa dipakai.”
Aku masih diam. Mengingat. Semua tanda yang selama ini kulihat tapi kusimpan sendiri.
“Dan jika perlu,” suaranya nyaris berbisik. “Membawamu hidup atau mati.”
Hening.
“Aku tahu,” kataku.
Ia menatapku. “Apa?”
“Aku tahu.” Aku meraih tangannya. “Mungkin tidak semua detailnya. Tapi aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Dari caramu diam. Dari caramu menatapku. Dari botol itu.”
"Tapi ka—kau tetap—"
“Kau juga.” Aku tersenyum. "Kau tahu aku curiga, kan? Tapi kau tetap di sini. Kau memilih untuk tidak menjalankan perintah. Kau hampir mati untukku."
Wajahnya merah. "B—Bukan untukmu! Untuk—untuk—" Ia membuang muka. "Untuk Abu! Iya, untuk Abu."
Aku menatapnya. Abu yang terluka. Abu yang melompat menyelamatkannya di gua. Abu yang setia meski pincang. Dan, aku hanya bisa menyaksikan mereka, menyedihkan.
"Mungkin," kataku. "Tapi kau juga bisa lari. Saat aku menyembuhkanmu, kau bisa pergi. Tapi kau tidak."
Ia diam.
"Kau bilang kau melakukannya untuk Abu. Tapi kau juga tetap di sini. Bersamaku." Aku mengangkat bahu. "Aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku lihat."
Ia menatapku. Matanya, sulit dibaca.
“Kau ... benar-benar ...”
“Bodoh?”
Xiao Lu tertawa kecil. “Ibuku memanggilku Lu'er, Ling Feng. Kau boleh memanggilku Lu'er.” Tapi tawanya cepat padam. “Shifu Sheng,” Ia kembali serius. “Kau harus tahu.”
Aku mengangguk. Mendengar.
°°°°°°
[POV Xiao Lu - Lu'er]
“Cang Huo Zong dulu adalah sekte besar. Namanya disegani.” Aku memulai, mencoba merangkai kata yang tepat. “Tapi lima tahun lalu, Xue Gou ... waktu itu masih anggota kami, lalu membelot. Bukan sekadar keluar. Ia mencuri.”
“Mencuri apa?”
“Teknik terlarang. Kitab kuno yang seharusnya dikunci rapat.” Aku menggenggam tanganku sendiri. “Dan sebelum pergi, ia membunuh tiga tetua.”
Ling Feng diam. Wajahnya serius. Tapi ia tidak hanya diam, ia mendengarkan dengan cara itu. Cara yang membuat orang ingin terus bicara.
“Kau tahu apa artinya itu bagi sekte? Reputasi hancur dalam semalam. Orang bilang kami tidak becus menjaga anggota sendiri. Murid baru enggan masuk. Murid lama mulai ragu. Dalam satu tahun, Cang Huo Zong yang dulu disegani jadi bahan tertawaan.”
Aku menarik napas. Masih terasa perih, meski bukan lukaku.
"Shifu Sheng, dia diangkat jadi pemimpin setelah itu. Bukan karena ia yang terkuat. Tapi karena ia yang paling nekat. Ia bersumpah akan menangkap Xue Gou dan mengembalikan kejayaan sekte, apa pun caranya."
“Jadi kalian mengejarnya selama ini?”
“Tiga tahun.” Aku tertawa pahit. “Tiga tahun, dan Xue Gou selalu lolos. Sampai sekarang. Dan setiap kali ia lolos, reputasi kami semakin hancur.”
Aku bisa melihat Ling Feng membayangkannya. Tiga tahun pengejaran. Tiga tahun kegagalan. Tiga tahun melihat sekte yang dicintai semakin terpuruk.
“Lu'er,” katanya pelan. “Kau bilang Shifu Sheng nekat. Tapi kau ... kau tetap di sini, mengejar, meski tahu mungkin akan gagal lagi. Apa kau juga nekat?”
Aku menatapnya. Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk.
“Atau hanya bodoh,” gumamku.
Ia tersenyum. “Sama.”
Aku membuang muka, tapi sudut bibirku naik sedikit.
“Jadi misimu sebenarnya ...?” tanyanya kembali.
“Menangkapnya. Atau setidaknya, mencari informasi yang bisa mengarah ke dia.” Aku menatapnya. “Tapi saat Shifu tahu tentang manik batumu, tentang kemampuanmu bertahan dari Xue Gou, ia mengubah prioritasku.”
“Jadi aku target baru?”
“Bukan target musuh. Target ... rekrutmen?” Aku mengerutkan kening. “Aku tidak tahu persisnya. Yang jelas, ia ingin aku mendekatimu. Mencari tahu asal-usulmu. Dan jika bisa, membawamu ke sekte.”
“Untuk apa?”
“Itu yang tidak kumengerti.” Aku menggeleng. “Awalnya kupikir untuk membantu misi mengejar Xue Gou. Tapi belakangan, Shifu mulai bicara hal lain. Tentang potensi. Tentang orang-orang khusus. Aku tidak tahu persisnya. Rasanya ... ada yang ia sembunyikan.”
Hening.
Aku menunggu.
Menunggu kemarahan. Menunggu tuduhan. Menunggu ia menarik tangannya dan pergi.
Tapi ia hanya diam. Masih di sana. Tangannya masih di tanganku.
“Kenapa?” bisikku. Suaraku pecah, entah kapan mulai pecah. “Kenapa kau tidak marah?”
Ia menatapku. Lama. Lalu ...
“Kau sudah cukup marah pada dirimu sendiri untuk kita berdua.”
Dadaku hancur.
Bukan karena sakit. Tapi karena untuk pertama kalinya, seseorang melihat lukaku dan tidak mencoba mengobati atau memanfaatkannya. Ia hanya ... mengakuinya.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku hanya diam. Membiarkan tangannya tetap di tanganku.
Dari balik semak, suara ranting patah.
Kami langsung tegang. Abu bangkit, meski pincang, bulunya berdiri.
Aku sudah menggenggam pedang. Ling Feng meraih manik batu.
Bayangan-bayangan muncul dari kabut. Lima orang. Anak buah Xue Gou.
Yang memimpin, pria tinggi dengan bekas luka di wajah, tersenyum.
“Masih hidup rupanya.” Ia tertawa. “Ketua Xue akan senang.”
Aku melangkah maju. “Kalian datang sendiri?”
“Cukup kami.” Ia mengangkat tangan. Anak buahnya mengelilingi kami.
Aku melihat Ling Feng. Kondisinya masih lelah. Abu pincang. Aku sendiri masih lemah setelah nyaris mati kemarin.
Tapi tidak ada pilihan.
“Ling Feng.” Aku menatapnya. “Kau percaya padaku?”
Ia tidak perlu berpikir. “Iya.”
Aku tersenyum. Lalu berteriak, “Abu! Ke Ling Feng!”
Abu langsung berlari ke sisinya. Ia menggigit bajunya, menariknya ke belakang.
“Apa—”
“Cahaya biru itu!” teriakku. “Lakukan lagi! Ke tanah!”
Aku tidak tahu apa itu akan berhasil.
Tapi aku percaya padanya.
Ia memejamkan mata. Meraih manik batu. Dan—
Tanah bergetar.
Bukan gempa besar. Tapi cukup kuat membuat daun-daun di atas kami bergetar dan debu turun dari ranting.
Cahaya biru menyala di sela jarinya—lebih terang dari sebelumnya, tapi tidak liar. Terarah.
Ling Feng menekan manik itu ke tanah.
Retakan menyebar cepat, membentuk setengah lingkaran di depan kami. Tidak dalam, tapi cukup membuat pijakan lima orang itu pecah berurutan.
“Jaga kaki kalian!” teriak pria berbekas luka.
Terlambat.
Dua orang tersandung saat tanah di bawah mereka turun mendadak sedalam betis. Bukan jurang—lebih seperti tanah yang kehilangan tulangnya.
Aku bergerak.
Pedangku menebas ke arah yang paling dekat. Ia masih mencoba menjaga keseimbangan ketika aku menghantam gagang pedang ke pergelangan tangannya.
Krak.
Goloknya jatuh.
Ling Feng membuka mata. Nafasnya berat, tapi tatapannya fokus.
Ia mengangkat tangan sedikit.
Tanah di sisi kiri musuh tiba-tiba terangkat setinggi lutut, membentuk dinding miring dari tanah padat. Bukan batu. Bukan pilar raksasa. Tapi cukup memisahkan dua orang dari yang lain.
Formasi mereka pecah.
Pria berbekas luka menerjang langsung ke arah Ling Feng, menyadari sumbernya.
Aku memotong jalurnya.
Benturan pedang kami memercikkan bunga api. Tenaganya besar, lenganku bergetar. Tapi di saat ia mendorongku mundur.
Tanah di bawah kakinya bergetar lagi.
Bukan ambles kali ini.
Dorongan dari bawah.
Pendek. Tajam.
Keseimbangannya hilang sepersekian detik.
Cukup.
Aku memutar tubuh dan menendang lututnya. Ia jatuh satu lutut, mengumpat.
Ling Feng terhuyung. Cahaya biru mulai meredup.
“Kau masih bisa?” tanyaku cepat.
Ia mengangguk sekali, keras kepala seperti biasa.
Ia menutup mata lagi, bukan untuk menyerang, untuk mengakhiri.
Retakan terakhir menyebar memanjang di antara kami dan mereka, lalu tanah di garis itu runtuh sedalam dua meter. Tidak lebar. Tapi cukup membentuk parit sempit yang memaksa mereka melompat satu per satu jika ingin mengejar.
Debu naik.
Ling Feng terjatuh berlutut.
Cahaya padam.
Pria berbekas luka berdiri, wajahnya tegang sekarang, tidak lagi meremehkan.
“Dia belum matang,” gumamnya. “Tapi itu bukan trik biasa.”
Aku berdiri di depan Ling Feng.
“Kalau mau lompat, silakan,” kataku dingin.
Mereka saling pandang. Medan sudah tidak menguntungkan. Formasi hancur. Dan kami sudah bergerak mundur ke jalur berbatu yang sempit.
Pria itu meludah ke tanah.
“Mundur.”
Mereka tidak takut. Tapi mereka juga tidak bodoh. Langkah kaki mereka menjauh. Ling Feng terengah-engah. Keringat membasahi pelipisnya.
“Cuma bisa segitu,” katanya lemah.
Aku menangkap bahunya sebelum ia jatuh.
“Segitu sudah cukup membuat lima orang mundur.”
Abu berdiri di sisi kami, bulunya masih berdiri, tapi matanya menatap Ling Feng, bangga. Tanah perlahan tenang kembali. Retakan biru memudar seperti urat yang menutup.
Ling Feng belum kuat.
Belum.
Tapi ia bukan sekadar umpan.
Dan hari ini, bumi benar-benar menjawabnya.
“Bangsat,” bisikku, hanya sampai pada Ling Feng dan Abu. “Kita harus lari.”
Aku tahu posisi kami.
Aku sendiri belum pulih sepenuhnya. Meski sudah berada di tingkat Rongti tahap tengah, fondasiku masih terguncang oleh luka kemarin. Qi-ku tidak sepenuhnya patuh, ia bergerak, tapi tidak setenang biasanya.
Ling Feng lebih rapuh lagi. Ia baru menapaki tahap awal jalur kultivasi, kekuatannya masih mentah, liar, belum ditempa, lebih mengandalkan naluri dan keberanian daripada kestabilan.
Abu …
Aku melirik serigala itu. Jika bukan karena gangguan Xue Gou sebelumnya, aku yakin ia sudah benar-benar menembus Ningjing. Energinya ada, kuat, padat, namun alirannya tidak stabil. Ia bisa meledak sewaktu-waktu, atau justru runtuh.
Dan mereka.
Dari cara mereka berdiri, dari napas yang tidak tergesa, dari tekanan Qi yang menyebar tipis tapi mantap, aku hampir yakin mereka berada di Rongti tahap akhir. Fisik prima. Tidak terluka. Tidak goyah.
Perbandingan itu tidak adil.
Dan justru karena itulah … kami tidak boleh bertarung lama.
Lari.
Hanya itu yang bisa aku pikir.