NovelToon NovelToon
The Crimson Legacy

The Crimson Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: BlueFlame

‎Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.

‎Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.

‎Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.

‎Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.

‎Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.

bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.

#System
#Transmigrasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31. Kolaps

Koridor Menuju Kamar Tamu Istana – Sore Hari

Arthur dan Valerine berjalan melalui koridor panjang menuju sayap tamu istana yang telah disiapkan untuk mereka. Dari luar, langkah Arthur masih terlihat terukur dan terkendali seperti biasa—tenang, stabil, hampir tanpa cela.

Namun Valerine, yang berjalan di sampingnya sambil menggandeng lengan Arthur, merasakan sesuatu yang berbeda.

Ia merasakan gemetar halus pada otot lengan pria itu.

Merasakan bagaimana berat tubuh Arthur perlahan semakin bertumpu padanya di setiap langkah.

Bahkan napasnya… sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Hampir sampai," bisiknya pelan, cukup lirih sehingga hanya Arthur yang bisa mendengarnya.

"Bertahanlah sedikit lagi."

Arthur tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, rahangnya terkatup rapat.

Duel melawan Jenderal Stormbreaker—meskipun dari luar terlihat mudah—sebenarnya telah menguras habis sisa energi Arthur yang hampir tidak ada. Selama gelang penahan sihir aktif, koneksi mananya dengan Valerine terputus. Tubuhnya dipaksa bertarung hanya dengan kekuatan murni yang tersisa sekitar delapan persen.

Itu seperti memaksa mesin yang hampir rusak untuk melaju pada kecepatan penuh.

...***...

Di kejauhan, Putra Mahkota Alaric berdiri di lorong lain. Tangannya mengepal saat ia menatap pemandangan di depannya.

Arthur dan Valerine berjalan berdampingan, Valerine menggandeng lengan Arthur, sesekali berbisik pelan padanya.

Di mata Alaric… mereka terlihat seperti sedang bermesraan.

Terutama ketika Valerine mencondongkan diri, dan terlihat seolah sedang berbicara dengan nada lembut yang hampir penuh kasih.

Rahang Alaric mengeras.

"Pangeran?" panggil ajudannya dengan nada hati-hati. Ia tahu dengan jelas bagaimana perasaan Putra Mahkota terhadap Valerine.

Alaric tidak menjawab.

Lalu dengan gerakan tajam, ia mengibaskan jubahnya dan berbalik.

"Ayo pergi."

Ajudannya hanya bisa mengangguk pelan dan mengikutinya dari belakang, menatap sang pangeran dengan rasa prihatin.

...***...

Sementara itu—

Setelah perjalanan yang terasa sangat panjang—padahal jaraknya hanya sekitar seratus meter—Arthur dan Valerine akhirnya sampai di depan pintu besar dari kayu oak, dihiasi ukiran lambang House Vancroft.

Kamar tamu yang disiapkan khusus untuk Archduke dan Duchess.

Valerine membuka pintu dengan tangan yang bebas, lalu dengan lembut mendorong Arthur masuk ke dalam ruangan.

Begitu keduanya berada di dalam—

THUD.

Pintu tertutup keras di belakang mereka.

Valerine segera mengunci pintu.

CLICK.

Dan tepat pada saat itu—

Arthur kolaps.

Lututnya tiba-tiba lemas tanpa peringatan karena kehilangan tenaga. Tubuhnya terhuyung ke depan dan pandangannya mengabur.

Valerine bereaksi dengan refleks.

Tangan yang masih menggenggam lengan Arthur langsung bergeser ke pinggangnya, sementara tangan satunya menahan dadanya, berusaha menopang tubuh pria yang jauh lebih besar itu.

Namun momentum jatuhnya terlalu kuat.

Arthur terjatuh ke arah Valerine, dan Valerine tidak memiliki cukup kekuatan untuk benar-benar menghentikannya.

Kepala Arthur terkulai, dagunya jatuh bertumpu di pundak Valerine, berat tubuhnya membuat Valerine terhuyung mundur beberapa langkah.

Punggungnya menabrak pintu.

THUMP.

"ARTHUR!"

Teriakan Valerine dipenuhi kepanikan.

Lengannya melingkari tubuh Arthur yang kini hampir seperti beban mati, berusaha menopangnya meskipun tubuhnya jauh lebih kecil.

Valerine merasakan sesuatu yang hangat dan basah di bahunya.

Ia menunduk.

Darah.

Merah segar mengalir dari sudut bibir Arthur, merembes perlahan ke kain biru gaun Valerine.

"Sial… sial, sial—"

Valerine mencoba menyesuaikan posisi mereka, tetapi tubuh Arthur terlalu berat. Pemutusan koneksi mana yang terjadi secara tiba-tiba sebelumnya juga memberikan dampak padanya. Energi Valerine sendiri masih tidak stabil, membuatnya tidak mampu menggunakan sihir untuk membantu mengangkat Arthur.

"Arthur, kau harus—kau harus bertahan—"

Suara Arthur terdengar sangat lemah di dekat telinganya, napasnya terengah.

"Aku… berat," bisiknya dengan usaha yang jelas terlihat.

"Tubuhmu… pasti merasa sesak."

Napas hangatnya menyentuh leher Valerine, membuat bulu kuduknya berdiri.

"Tapi maaf… aku tidak bisa bergerak."

Arthur mencoba mengangkat tangannya, seolah ingin menopang tubuhnya sendiri agar tidak seluruh berat badannya bertumpu pada Valerine.

Namun tangannya hanya bergetar sebentar… lalu jatuh kembali ke samping.

Bahkan mengangkat tangan saja terasa mustahil.

Panik mulai merayap di dada Valerine.

Namun ia memaksa dirinya untuk bernapas.

Memaksa dirinya untuk berpikir.

Tidak ada waktu untuk panik.

"Diam," katanya tegas, meskipun suaranya sedikit bergetar.

"Jangan bicara. Jangan buang energi."

Dengan usaha yang hampir terasa mustahil untuk tubuhnya yang ramping, Valerine menyesuaikan posisi mereka. Satu tangannya melingkar di pinggang Arthur, sementara tangan lainnya menopang punggungnya.

Kemudian, dengan langkah perlahan dan hati-hati, ia mulai menyeret Arthur menuju tempat tidur besar di tengah ruangan.

THUMP.

Tubuh Arthur jatuh ke atas tempat tidur dengan bunyi lembut. Kepalanya mendarat di atas bantal, tubuhnya terbentang lemah.

Valerine langsung naik ke atas tempat tidur juga.

Ia berlutut di samping Arthur dan segera menempelkan tangannya ke dahi pria itu.

Panas.

Demam tinggi yang terasa tidak normal.

Valerine segera memeriksa denyut nadi di leher Arthur.

Denyutnya tidak stabil—terkadang terlalu cepat, lalu tiba-tiba melambat.

Mana Heart-nya sedang berjuang keras.

"Arthur," panggilnya sambil menepuk pipinya dengan lembut namun cukup kuat.

"Arthur, Jangan tidur sekarang."

Mata Arthur terbuka sedikit.

Kelopak matanya terasa berat, pandangannya kabur, seolah dunia di sekelilingnya mulai menjauh.

“Aku… baik-baik saja,” bisik Arthur lemah. “Jangan… khawatir.”

“Jangan khawatir?”

Suara Valerine naik, dipenuhi ketidakpercayaan dan rasa takut yang sulit disembunyikan.

“Kau batuk darah, kau demam tinggi, kau bahkan hampir tidak bisa bergerak, dan kau bilang jangan khawatir?!”

Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Arthur. Ia memeriksa pupil matanya, memperhatikan napasnya, memastikan tidak ada tanda yang lebih buruk.

“Sekarang diam dan istirahat,” perintahnya tegas.

Namun tangan yang menyentuh wajah Arthur tetap sangat lembut.

“Jangan bicara lagi. Aku akan menangani ini.”

Arthur mencoba memprotes—bibirnya sedikit bergerak.

Valerine segera menaruh jari di atas bibirnya.

“Sudah kubilang diam.”

Arthur menatapnya sebentar.

Lalu perlahan ia menutup mata.

Valerine menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali tenang.

Kemudian ia memusatkan perhatian pada koneksi mana.

Karena Arthur dalam kondisi kolaps seperti ini, koneksi itu bukannya membantu justru menjadi beban.

Valerine harus memutuskannya.

Namun ia tidak bisa memutuskannya secara tiba-tiba.

Jika dilakukan mendadak, kejutan energi itu bisa memperburuk kondisi Arthur.

Valerine menutup mata.

Tangan kanannya ditempatkan di dada Arthur, tepat di atas jantungnya dan tangan kirinya di dadanya sendiri.

Ia merasakan aliran energi di antara mereka.

Kemudian dengan perlahan, Valerine mulai mengurangi aliran mana itu.

Perlahan.

Seperti menutup keran air dengan sangat hati-hati agar tidak terjadi lonjakan tekanan.

Arthur mengerang pelan.

Rasa tidak nyaman dari perubahan itu membuat tubuhnya sedikit tegang, namun ia tidak membuka mata.

“Aku tahu ini tidak nyaman,” bisik Valerine lembut.

“Tapi ini perlu. Bertahanlah.”

Aliran itu semakin mengecil.

Sampai akhirnya—

SNAP.

Koneksi itu terputus sepenuhnya.

Tubuh Arthur bergetar sekali.

Lalu… perlahan mengendur.

Napasnya yang sebelumnya tidak teratur mulai menjadi lebih stabil. Tarikan dan hembusannya masih berat, tetapi ritmenya tidak lagi kacau. Wajah yang semula tegang perlahan melunak, garis-garis sakit di dahinya sedikit mereda.

Valerine merasakan gelombang kelegaan menyapu dadanya.

Bagus… tekanannya berkurang.

Ia segera turun dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju tas perjalanan yang sebelumnya dibawa oleh para pelayan ke dalam ruangan. Dengan gerakan tergesa, ia membuka tas itu dan mulai mengeluarkan berbagai botol kecil dari dalamnya.

Ramuan yang telah ia siapkan sebelum perjalanan.

Valerine kembali ke sisi Arthur dan duduk di tepi tempat tidur.

Lalu ia mulai bekerja.

Dengan hati-hati, ia meneteskan beberapa tetes ramuan ke mulut Arthur, memastikan cairan itu masuk tanpa membuatnya tersedak. Setelah itu ia menyalurkan mana melalui sentuhan lembut di beberapa titik tekanan tubuh—titik-titik yang dapat merangsang proses penyembuhan.

Waktu berlalu.

Cahaya sore di luar jendela perlahan berubah menjadi senja.

Senja kemudian tenggelam menjadi malam.

Namun Valerine tidak berhenti.

Seluruh perhatiannya tertuju pada Arthur.

Setiap lima belas menit ia memeriksa tanda-tanda vitalnya—denyut nadi, suhu tubuh, ritme napas. Setiap perubahan kecil ia amati dengan cermat.

Perawatan terus ia sesuaikan berdasarkan reaksi tubuh Arthur.

Ia mengompres dahi Arthur yang masih panas dan membersihkan darah yang sesekali keluar dari hidungnya.

Di sela-sela itu, ia merapalkan mantra penyembuhan dengan suara pelan—mantra lembut yang membantu menenangkan Mana Core Arthur yang tidak stabil.

Di luar jendela, malam semakin larut.

Bulan purnama naik tinggi di langit, memancarkan cahaya perak yang masuk melalui jendela-jendela tinggi kamar tamu istana.

Cahaya itu menerangi sosok Valerine yang masih duduk di tepi tempat tidur.

Di tengah malam, Arthur sempat terbangun.

Pandangannya masih kabur, kesadarannya setengah mengambang di antara tidur dan bangun. Namun cukup jelas baginya untuk melihat sosok di samping tempat tidurnya.

Valerine.

Duduk di sana dengan punggung sedikit membungkuk karena lelah.

Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak pucat karena mananya terkuras hingga hampir kering. Namun matanya tetap waspada dan tetap fokus pada Arthur.

“Kau… tidak tidur?” tanya Arthur dengan suara serak.

“Tidur adalah kemewahan yang tidak bisa kunikmati saat suamiku memutuskan untuk hampir membunuh dirinya sendiri demi harga diri,” jawab Valerine datar.

Namun ada kelembutan dalam caranya menyeka keringat dari wajah Arthur dengan kain lembap.

“Maaf…”

“Jangan minta maaf. Itu tidak cocok untukmu.”

Valerine meletakkan telapak tangannya yang dingin di dahi Arthur, memeriksa suhu tubuhnya sekali lagi.

“Lagipula, kau berhasil membuat semua bangsawan—terutama Count Ashford dan para pengikutnya—ketakutan setengah mati.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada tipis, “Itu… cukup menghibur.”

Arthur tersenyum lemah.

“Kau menikmati ketakutan mereka?”

“Tentu saja.” Valerine mengangkat bahu kecil. “Apa gunanya kekuasaan jika tidak membuat orang-orang menyebalkan gemetar ketakutan?”

Senyum tipis terukir di bibirnya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Arthur melihat senyum yang benar-benar tulus di wajah Valerine. Senyum yang tidak hanya berhenti di bibir—tetapi juga mencapai matanya.

“Kau cantik saat tersenyum,” gumam Arthur pelan.

Suaranya setengah tidak sadar, masih dipengaruhi ramuan penyembuh.

Valerine tampak terkejut.

Senyumnya langsung menghilang, digantikan rona merah samar di pipinya. Bukan karena tersipu—lebih karena ia memang tidak terbiasa dipuji dengan cara seperti itu.

Bukan berarti ia belum pernah dipuji cantik sebelumnya.

Justru sebaliknya.

Namun orang yang mengatakan hal itu sekarang… adalah seseorang yang hampir tidak pernah memuji penampilan siapa pun.

“Kau masih dalam pengaruh ramuan,” katanya cepat, berusaha terdengar tenang.

“Tidurlah.”

Arthur menutup matanya kembali.

Namun sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam dalam tidur, ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh dahinya.

Jemari dingin Valerine menyisir rambutnya lembut.

Perlahan jari-jari Valerine bergerak turun menyusuri bekas luka kecil di pelipisnya kemudian garis rahangnya yang tegas dan berhenti sejenak di bibirnya yang masih terlihat sedikit pucat.

“Idiot,” bisiknya pelan kepada sosok yang sudah tertidur.

...***...

1
anak panda
🔥🔥🔥
anak panda
santai aja tor utamakan kesehatan
blueberry
semangat thor
blueberry
/Plusone/
anak panda
🔥🔥🔥
Xiao Ling Yi
Hei.. Dia ini melampaui batas kan?
blueberry
haha lucuuu
anak panda: lanjuttt
total 1 replies
blueberry
nanti kolo udah bertarung jangan sampai di gantung thor
anak panda
cepet sembuh tor
Fel N: Amiiiin, makasih kak.🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Nggak sekarat juga dong Kak~
Xiao Ling Yi: Istirahat banyak-banyak Kak Fel!💪/Determined/
total 4 replies
Xiao Ling Yi
Geloo🤣🤣🤣
Xiao Ling Yi
Cepet sembuh Kak Othor/Bye-Bye/💪
Fel N: Amiiiiiiin, makasih yah, kak.🥰🥰😭
total 1 replies
blueberry
cepat sembuh thor 👍👍
Fel N: Amiiiiiin, makasih yah.🥰🥰😭
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Imutnya~
Fel N: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Kurangg/Frown/
Xiao Ling Yi
Semangat updatenya Thor~/Smile/
Fel N: Makasih banyak, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Kawaii😍
Fel N: 🤭🤭🤭😅😅
total 1 replies
Khns_
setting yang detail, penjelasan yang rinci di setiap kejadian, bahasa yang enak dibaca, dan penggambaran karakternya yang joss bgt sih yg bikin betah baca 1 bab lagi, lagi, dan lagi.
Fel N: Makasih banyak, kak.😭😭😭🥰🥰🥰
total 1 replies
Khns_
kakak author update tiap kapan ya?
Fel N: Tiap hari, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
blueberry
lucu bgt pasangan ini🤭
Fel N: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!