Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Hiatus
“Pagi Pak Alden…” Eko menyapa Alden yang baru berjalan melewati pintu.
“Pagi Mas Eko,” balas Alden ramah. “Mas, nanti minta tolong bawain printer ke ruangan saya, ya.”
“Kapan, Pak? Sekarang?”
“Nanti siangan aja, Mas. Abis makan siang juga gak apa-apa. Gak buru-buru ini,” jawab Alden santai.
Eko mengangguk. “Iya, Pak”
“Makasih ya, Mas.” Alden lanjut berjalan menaiki anak tangga menuju ruangannya di lantai atas.
Setibanya di sana, Alden menaruh tas dan jaket yang tadi ditentengnya. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi. Pandangannya ia edarkan ke penjuru ruangannya yang lengang.
Laptop yang sudah berada di atas meja kemudian ia nyalakan. Sebuah diska lepas yang diraihnya dari dalam tas lalu dipasangnya pada laptop itu.
Dokumen dengan judul ‘Rapat Staf 1 Maret 2023’ kemudian dipilihnya tanpa ragu.
Setelah lama menatap layar laptopnya, Alden semakin larut dalam kesibukannya pagi itu. Raut wajahnya tampak sangat serius, pandangannya benar-benar fokus pada layar datar di hadapannya.
Hingga beberapa lama setelahnya, raut wajah tegang itu berubah keheranan. Kedua matanya mengerjap cepat memastikan hal yang dilihatnya.
“Naskah novel ini udah terlalu lama hiatus,”
Terlihat di sana penulis novel itu adalah ‘Walter Ast’ dengan editor Nayana Anindya.
“Hmm…” Alden menyilangkan tangan di dada. “Nayana, Nayana,” pria itu meraih ponselnya yang berada di sebelah laptop.
Jemarinya lalu bergerak lincah mengetikkan pesan untuk selanjutnya ia kirim pada Naya.
#
‘TOKO HARDDISK’
Spanduk lusuh itu membentang di atas pintu kaca yang tampak penuh dengan berbagai stiker.
Addam, Naya, dan Mahesa kini terlihat berada di sebuah toko dengan sejumlah banyak perangkat komputer yang tak lagi baru.
Ketiga orang itu sedang bersama-sama memperhatikan seorang pria yang tengah mengoperasikan sebuah komputer.
“Gimana, Bro?” tanya Mahesa ketika menyadari raut wajah pria itu semakin serius.
“Kayaknya susah ini, Bang. Gak bisa diberesin sekarang,” jawab pria yang akrab dipanggil Hardi itu.
“Oalah… Lama gak kira-kiranya?”
“Belom tahu… Entar gue kabarin lagi, Bang” jawab Hardi singkat.
“Sip. Kabarin ya bro!”
“Siaaapp!”
Setelah percakapan singkat itu, Mahesa mengajak Addam dan Naya untuk meninggalkan ruangan penuh perangkat yang menunggu giliran diperbaiki itu.
“Dia bisa dipercaya kan, Sa?” tanya Addam setelah mereka berjalan cukup jauh dari tempat Hardi.
“Bisa banget, Dam. Dulu itu gue, dia, sama ada satu orang lagi namanya Nathan, kita pernah jadi satu tim. Mereka berdua tim siber, tapi ngundurin diri karena atasan kita gak bener,” ungkap Mahesa sambil berjalan mendekati SUV hitamnya.
“Wah… Jadinya mereka malah pada punya bisnis sendiri?” balas Addam seraya memasuki mobil hitam kebanggaan Mahesa.
“Iya, Dam. Kalau ada keahlian gitu enak... Bebas… Oh iya, gue belum sempet bilang, dia juga orang yang bantu gue cari informasi soal Irvan.”
Ketika Addam dan Mahesa tampak asyik dengan obrolan itu, di sisi lain mereka ada Naya yang tengah fokus pada layar ponselnya.
Sadar bahwa Naya tak ikut angkat bicara, Addam menoleh dan melihat Naya terus tertunduk pada benda pipih di genggamannya. Gurat wajah gadis itu tampak menegang. Suasana di dalam SUV itu mendadak hening sesaat.
“Kenapa, Nay?” tanya Addam.
“Eh. Eng-ini… Atasanku bilang suruh aku hubungin penulis buat lanjutin naskahnya. Tapi…” Naya menahan ucapannya. Gadis itu terlihat kebingungan.
“Tapi apa, Nay?” sahut Mahesa. Ia menjadi sangat penasaran.
“Penulis yang dia maksud itu Astrid, Kak…” Naya menatap Addam dan Mahesa bergantian.
“Lah. Dia gak tahu kabar Astrid?” sambar Addam.
Naya menggeleng pelan. “Dia orang baru… Baru kemarin tanggal satu hari pertamanya kerja.”
“Bentar. Dia orang yang pernah kamu certain itu? Yang kata kamu mirip sama Irvan?” Addam menatap Naya lekat-lekat.
“Iya, Kak. Dia Pak Alden…”
“Ya udah, bilang aja kalau penulisnya lagi ada urusan… Susah dihubungin gitu,” tatapan Addam tampak sendu.
“Iya Kak…” Naya mengangguk.
Lain halnya dengan Mahesa, ia tampak diam terkesiap. Pria itu baru sadar bahwa dirinya kembali melewatkan salah satu informasi penting dari misi mereka.
Mahesa: “Aduh! Dam, Nay! Sorry, gue lupa mau bilang ini. Info soal guru temen Astrid itu belum kita gali—maksud gue, lo, Dam. Lo ngumpulin data orang itu berdasar informasi yang didapet di sini, kan?”
Addam: “Mmm… Iya, Sa. Sejauh ini, data yang gue dapet cuma berdasar kenalan dia aja. Emang lo mau gimana, Sa?”
Mahesa: “Kita belum pernah nyari tahu info di kampung halaman dia, Dam…”
Addam: “Maksud lo?”
Addam dan Naya menatap Mahesa penuh arti.
“Dari banyaknya kasus yang udah pernah gue temuin, gak sedikit orang yang palsuin identitasnya buat lari dari kejadian yang ngerugiin mereka…”
Untuk sesaat situasi di dalam mobil menjadi sangat hening. Tapi tak lama setelahnya, ponsel Mahesa berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Bagus yang memerintahkan Mahesa untuk segera kembali ke kantor.
“Dam, Nay. Gue harus ke kantor dulu, nih. Udah dicariin.”
“Oh, oke. Makasih banyak ya, Sa.” Addam tak mengatakan lebih banyak hal selain ucapan terima kasih itu. Baginya, kehadiran Mahesa sudah sangat membantu langkahnya menuju kebenaran tentang Astrid.
#
Di ruangannya yang hening, Panji tampak duduk terdiam menatap sebuah dokumen yang berada di atas meja.
‘Dulu juga emang Pak Kepala sendiri yang suruh berhentiin penyelidikan kasus ini,’ pikirnya.
Ingatan Panji melayang pada waktu dirinya memimpin kasus pertama penemuan jasad wanita bergaun putih.
Kala itu, Panji dan anak buahnya yang tengah bersiap mengumpulkan kesaksian warga sekitar TKP terpaksa membatalkan rencana mereka.
Penyebabnya adalah kedatangan surat perintah dari Pak Kepala untuk menutup kasus itu menyatakannya sebagai kasus bunu*h diri.
Keputusan itu tentu tak bisa diterima begitu saja oleh Panji karena hal itu tidak sejalan dengan prinsip yang dianutnya. Panji lalu memberanikan diri untuk menemui Pak Kepala dan meminta kasus itu ditelusuri sebagaimana mestinya.
Namun, alih-alih memperoleh persetujuan, Panji justru mendapat penolakan tanpa diberi kesempatan untuk mencoba.
“Kamu mau apa lagi, Panji?! Buktinya sudah jelas. Korban meninggal karena bu*nuh diri!” teriak Pak Kepala tepat di depan wajah Panji.
“Tapi, Pak. Laporan forensiknya saja bahkan belum kita terima. Jadi penyebab kematian korban belum jelas…”
“Kamu mau bikin opini publik soal kita jadi buruk?!” nada bicara Pak Kepala masih tinggi.
“Bukan begitu, Pak-“
“KELUAR KAMU!”
Akhirnya, dengan isi kepala yang masih menggulung, Panji terpaksa meninggalkan ruangan Pak Kepala. Saat itu, Panji merasa sikap Pak Kepala terlalu berlebihan. Sayangnya, kala itu Panji tak memiliki cukup keberanian untuk melawan atasannya itu. Ia hanya bisa tunduk meski sadar sesuatu dalam dadanya tengah mencoba berontak.
Suara pintu yang diketuk seolah membawa kembali Panji pada realita yang dihadapinya sekarang.
“Ya, masuk,”
Dari balik pintu itu, Bagus datang dengan nafas tersengal.
“Duduk, Gus,” kata Panji singkat.
Bagus mengikuti ucapan Panji tanpa banyak kata. Hanya saja sorot matanya tak bisa berbohong, Bagus tengah menunggu pria yang duduk di hadapannya itu mengatakan lebih banyak hal.
Panji: “Gus. Ada temuan apa lagi dari dua kasus sebelumnya?”
Bagus: “Kita sudah cek latar belakang korban. Keduanya sama-sama pendatang, tidak ada kerabat yang dekat. Dan yang terakhir, dari pemeriksaan ponsel mereka, keduanya sama-sama sempat menggunakan aplikasi kencan dan berinteraksi dengan orang yang sama.”
Panji: “Aplikasi kencan yang dipakai korban terakhir juga?”
Bagus: “Betul, Pak. Bisa dibilang, pemilik akun itu termasuk sebagai tersangka kuat dari kedua kasus sebelumnya.”
Panji: “Terus, dia udah ketemu?”
Bagus: “Keberadaan dia belum bisa kita lacak. Akun di terakhir aktif beberapa hari sebelum perkiraan waktu kematian korban ketiga. Dan ponsel yang dia pakai juga ditemukan di TKP terakhir. Pemilik akun itu menghilang.”
Panji: “Identitasnya se-anonim itu, Gus?”
Bagus: “Akun itu didaftarkan pakai identitas palsu, Pak.”
Panji: “Ya Tuhan… Selain itu, ada temuan apa lagi?”
Bagus: “Dari penelusuran Gilang sama Arya, obat yang digunakan untuk menghilangkan nyawa korban didapat dari pasar gelap. Yang lebih ngerinya lagi, obat itu ternyata limbah medis yang kadaluarsa.”
Panji: “Jadi…”
Bagus: “Ada oknum yang memperjual belikan barang yang seharusnya dimusnahkan…”
Panji: “Ya Tuhan… Gus. Kamu cari tahu asal obat terlarang itu. Bisa jadi temuan itu ngarahin kita ke pelaku sebenernya.”
Bagus: “Siap, Pak.”
Bagus kemudian bergegas pergi meninggalkan Panji yang tampak resah. Saat ini, Panji tengah kembali berharap usaha keras yang dilakukan anak buahnya tak lagi mendapat hadangan dari atasan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.