Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta yang Mengusir Pulang
Dokter Reza menghela napas panjang, ia melepaskan tangan Yoga dari lengannya dengan perlahan namun pasti.
"Yoga, aku bisa membedah organ paling rumit di tubuh manusia, tapi aku tidak bisa membedah hati anakku sendiri untuk memasukkan kembali rasa percayanya padamu. Aku tidak bisa memaksa hati seorang wanita yang sudah hancur lebur."
"Tapi, Pa—"
"Keputusan ada di tangan Anin," potong Reza tegas. "Sebagai ayahnya, tugasku sekarang adalah melindunginya dari apa pun yang membuatnya menangis—termasuk jika itu adalah suaminya sendiri. Kamu harus belajar, Yoga, bahwa ada beberapa kesalahan di dunia ini yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan kata 'maaf'."
Yoga kembali ke ruang VVIP dengan langkah gontai. Di dalam, ia melihat Kanaya sedang merapikan barang-barang Anindya. Arya sudah berada di dalam gendongan suster pribadi yang dibawa dari Jakarta.
"Anin, kita bicara dulu," Yoga mencoba menghalangi langkah Anindya yang hendak keluar.
Anindya bahkan tidak menatap matanya. "Semuanya sudah jelas, Mas. Arya akan mendapatkan perawatan terbaik di Jakarta. Dan aku... aku butuh waktu untuk bernapas tanpa bayang-bayang kesibukanmu."
"Aku akan berubah! Aku akan mengundurkan diri dari jabatan direktur! Aku akan jadi dokter biasa agar bisa bersamamu setiap saat!" teriak Yoga dengan putus asa.
Anindya berhenti sejenak, lalu menoleh dengan tatapan yang sangat lelah.
"Perubahan yang dilakukan karena takut kehilangan itu biasanya tidak tulus, Mas. Itu hanya kepanikan sesaat. Kamu tidak melakukannya karena sadar, tapi karena terdesak."
****
Rombongan keluarga Rahardjo pun melangkah pergi. Yoga mencoba mengejar hingga ke lobi, namun para penjaga keluarga Rahardjo menghalanginya. Ia hanya bisa berdiri di pintu lobi rumah sakit, melihat mobil mewah itu menjauh, membawa separuh nyawanya pergi menuju bandara.
Pagi itu, di bawah langit Surabaya yang mulai terang, Dokter Prayoga Aditama menyadari bahwa jabatan mentereng, uang yang melimpah, dan tepuk tangan rekan sejawatnya hanyalah debu. Ia memiliki segalanya di mata dunia, namun di mata Tuhan dan istrinya, ia baru saja kehilangan segalanya.
Yoga berlutut di lantai lobi yang dingin, menutupi wajahnya dengan telapak tangan, dan untuk pertama kalinya, tangisan seorang pria yang hancur terdengar memilukan, membelah kesunyian rumah sakit yang kini terasa seperti penjara baginya.
Angin sore di Surabaya terasa lebih kering dan menusuk tulang saat Yoga berdiri di lobi utama rumah sakit. Di tangannya, ia menggenggam sebuah mainan pesawat kayu kecil—hadiah yang ia beli dengan terburu-buru di bandara tempo hari, berharap bisa menjadi jembatan maaf untuk Arya. Namun, mainan itu terasa seberat bongkahan timah.
Di depannya, kesibukan administratif kepulangan Arya sedang diselesaikan. Bukan olehnya, sang Direktur Utama yang biasanya hanya perlu menjentikkan jari untuk mengatur segalanya, melainkan oleh asisten pribadi Dokter Reza. Yoga telah dikucilkan dari perannya sendiri. Ia berdiri di sana, di rumah sakit yang sebagian sahamnya ia miliki, namun merasa seperti orang asing yang tak diinginkan.
Saat pintu lift terbuka, Anindya muncul mendorong kursi roda Arya. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan ketegasan yang belum pernah Yoga lihat sebelumnya. Di sampingnya, Mama Kanaya berjalan dengan dagu terangkat, sementara Dokter Reza mengikuti di belakang dengan tatapan kecewa yang lebih menyakitkan daripada makian apa pun.
"Anin..." suara Yoga tercekat di tenggorokan. Ia melangkah maju, namun langkahnya terhenti saat Dokter Reza merentangkan tangan, menghalangi jalannya.
"Biarkan mereka lewat, Yoga," ujar mertuanya pendek. Tidak ada kemarahan yang meledak, hanya nada finalitas yang dingin.
Anindya bahkan tidak melirik suaminya. Ia terus berjalan, jemarinya mengusap rambut Arya yang tampak masih lemas namun sudah bisa tersenyum tipis. Pemandangan itu seharusnya menghangatkan hati Yoga, melihat putranya selamat dari maut.
Namun, kenyataan bahwa ia tidak dilibatkan dalam proses pemulihan itu membuat dadanya sesak. Ia adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam yang dihormati, namun ia gagal mendiagnosis keretakan di jantung keluarganya sendiri.
Rombongan itu bergerak menuju kediaman pribadi Yoga dan Anindya di Surabaya hanya untuk satu tujuan: mengambil barang-barang. Yoga mengikuti dari belakang dengan mobil terpisah, mengemudi dengan tangan bergetar. Ia berharap, setidaknya saat sampai di rumah, suasana akrab akan meluluhkan hati istrinya. Ia berharap aroma kopi di dapur mereka atau foto-foto pernikahan di dinding akan mengingatkan Anindya pada janji "dalam suka dan duka".
Namun, yang ia dapati adalah pemandangan yang meruntuhkan dunianya.
Dua koper besar sudah berdiri di ruang tamu. Anindya bergerak dengan efisiensi yang mematikan. Ia hanya mengambil pakaiannya, pakaian Arya, dan beberapa dokumen penting. Ia meninggalkan perhiasan-perhiasan mewah pemberian Yoga di atas meja rias, seolah-olah semua logam mulia itu adalah sampah yang mengotori hidupnya.
"Anin, kumohon. Kita bisa bicara," Yoga mencegat istrinya di depan pintu kamar.
"Aku sudah memecat Riana. Aku sudah menyerahkan laporan ke dewan direksi. Aku akan melakukan apa saja, Anin. Apa saja!"
Anindya berhenti. Ia menatap Yoga, namun matanya kosong. "Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, Mas? Bukan fakta bahwa ada perempuan lain yang mencoba menggodamu. Tapi fakta bahwa di saat anakmu bertaruh nyawa, kamu bahkan tidak bisa menjawab teleponmu karena terlalu sibuk dengan duniamu sendiri."
"Aku dijebak, Anin! Ponselku disembunyikan—"
"Dan kenapa dia bisa masuk ke ruang pribadimu untuk menyembunyikan ponselmu, Mas?" potong Anindya tajam.
"Karena kamu memberinya ruang. Karena kamu menikmati pemujaannya. Sekarang, biarkan aku memberikanmu ruang yang sangat luas. Ruang yang selama ini kamu inginkan untuk kariermu."
Saat koper-koper itu dimasukkan ke dalam bagasi mobil Alphard hitam milik Dokter Reza, langit Surabaya mulai meredup, berubah menjadi warna ungu keabuan yang muram. Arya sudah duduk di kursi belakang, diamankan oleh Mama Kanaya.
Yoga merasa oksigen di sekitarnya menipis. Saat mesin mobil menyala, kepanikan yang murni menyergapnya. Ini bukan sekadar pertengkaran biasa. Ini adalah eksodus.
"Anin! Jangan pergi!" Yoga berlari ke samping mobil, mengetuk kaca jendela dengan kalap. "Anindya! Aku minta maaf! Satu kesempatan, demi Arya!"
Mobil itu mulai melaju perlahan. Di bawah sorot lampu teras yang mulai menyala otomatis, Yoga kehilangan seluruh harga dirinya. Pria yang biasanya berdiri tegak dengan jas dokter yang rapi itu kini jatuh terduduk. Kedua lututnya menghantam lantai teras yang dingin dengan bunyi yang memilukan.
Ia berlutut, kedua tangannya terulur ke arah mobil yang menjauh.
"ANINDYA!" teriaknya, suaranya pecah dan bergema di lingkungan perumahan elit yang sepi itu.
Melalui kaca belakang yang gelap, Yoga berharap bisa melihat Anindya menoleh. Ia berharap melihat setetes air mata atau keraguan di wajah istrinya yang akan memberinya secercah harapan. Namun, Anindya tetap tegak lurus menatap ke depan. Mobil itu terus melaju, keluar dari gerbang tinggi rumah mereka, membawa pergi separuh jiwanya.
Yoga tetap dalam posisi berlutut selama beberapa menit setelah mobil itu menghilang dari pandangan. Angin malam mulai berembus, membawa aroma hujan yang akan turun. Ia perlahan bangkit, tubuhnya terasa berat seperti disemen.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Sunyi.
Seketika, rumah besar bergaya modern tropis itu terasa seperti sebuah mausoleum—sebuah kuburan megah yang dibangun untuk merayakan kesuksesan yang sia-sia. Di ruang tengah, mainan Arya masih berserakan di karpet. Yoga memungut sebuah robot kecil yang lengannya patah. Ia duduk di lantai, bersandar pada sofa yang biasanya menjadi tempat mereka menonton film bersama.
Ia melihat ke sekeliling. Di atas perapian, ada foto keluarga mereka yang diambil setahun lalu. Mereka bertiga tertawa lebar di sebuah taman bunga. Yoga dalam foto itu tampak begitu percaya diri, seolah-olah ia memiliki dunia di telapak tangannya. Kini, ia menyadari betapa rapuhnya genggaman itu.
Setiap sudut rumah ini berteriak memanggil nama Anindya. Aroma parfum melati istrinya masih tertinggal di udara, mengejeknya dengan kenangan akan pelukan hangat yang kini telah mendingin.
Di dapur, gelas bekas minum Anindya masih berdiri di atas meja, meninggalkan jejak lingkaran air yang mengering—seperti sisa-sisa kehidupan yang tertinggal dari sebuah kapal yang tenggelam.
"Aku punya segalanya," bisik Yoga pada kegelapan. "Aku punya rumah ini, aku punya rumah sakit itu, aku punya nama besar... tapi aku tidak punya siapa-siapa."
Ia kemudian menangis. Bukan tangisan kemarahan, melainkan tangisan sunyi yang menggetarkan bahu. Suara isaknya tertelan oleh luasnya ruangan yang kini tak berpenghuni. Malam itu, Yoga tidak tidur di tempat tidur mereka yang luas. Ia meringkuk di lantai kamar Arya, memeluk selimut kecil putranya yang masih berbau bedak bayi, sementara di luar, hujan Surabaya mulai turun dengan deras, seolah ikut meratapi runtuhnya istana sang dokter.
Inilah awal dari penderitaannya. Sebuah kesadaran pahit bahwa takhta yang ia bangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun ternyata hanyalah tumpukan kartu yang hancur hanya dalam satu malam karena kelalaian hatinya. Yoga tahu, perjalanannya ke Jakarta bukan lagi soal karier, tapi soal menyambung kembali benang-benang nyawa yang telah ia putus sendiri.
*****
Ruang kerja Dokter Yudha di kantor pusat Yogyakarta terasa begitu tenang, dengan aroma kayu jati dan kopi hitam yang pekat.
Namun, ketenangan itu terus terusik oleh suara napas Yoga yang memburu. Di hadapan sang Presiden Direktur Rumah Sakit Sehati itu, Yoga meletakkan sebuah amplop putih bersih di atas meja kaca.
"Apa ini, Yoga?" tanya Dokter Yudha, meski ia sudah bisa menebak isinya dari guratan lelah di wajah sahabatnya itu.
"Surat pengunduran diri saya sebagai Direktur Utama dan CEO Aditama Group, Yud. Saya ingin melepas semua takhta ini," jawab Yoga dengan suara rendah namun penuh keyakinan.
Dokter Yudha tidak langsung menyentuh amplop itu. Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, menatap Yoga dengan pandangan menyelidik. "Kamu gila? Kamu sudah membangun reputasi ini bertahun-tahun.
Rumah Sakit Sehati di Surabaya menjadi yang terbaik di bawah kendalimu. Sekarang kamu mau membuangnya begitu saja?"
"Aku tidak membuangnya, Yud. Aku hanya ingin menukar semuanya dengan waktu," Yoga membalas tatapan itu, matanya merah karena kurang tidur selama berhari-hari sejak kepergian Anindya. "Aku ingin menjadi dokter internis biasa. Aku ingin punya jam kerja yang jelas, pulang tepat waktu, dan bisa memeluk anak istriku setiap hari. Takhta ini... ternyata hanyalah penjara yang membuatku kehilangan mereka."
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera