Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Dendam akibat dipermalukan dengan segelas es jeruk tempo hari masih mendidih hebat di dada Putri dan Kinan.
Dua nona muda keluarga Aditama itu tidak terbiasa kalah, apalagi oleh seorang wanita yang mereka anggap berasal dari kasta rendahan yang menumpang hidup. Pagi itu, saat Putra sudah berangkat ke kantor dan Pak Aditama sedang bersantai membaca koran di teras belakang, Putri dan Kinan berbisik-bisik di ruang santai lantai dua. Sebuah rencana licik nan kotor telah mereka susun matang-matang sejak malam sebelumnya.
"Kamu yakin ini bakal berhasil, Kak?" bisik Kinan, matanya melirik waspada ke arah ujung tangga pualam.
Putri tersenyum sinis, jemarinya yang lentik mengayun-ayunkan sebuah kalung berlian keluaran Bvlgari seharga setengah miliar di tangannya. Kilau batu mulia itu memantulkan cahaya lampu gantung.
"Pasti berhasil. Papa sangat benci pembohong dan pencuri. Kalau barang mahal ini sampai ditemukan di dalam koper gembel itu, Papa pasti akan langsung mengusirnya hari ini juga tanpa ampun. Mas Putra juga pasti akan langsung menceraikannya," desis Putri penuh kebencian.
Tanpa membuang waktu, saat mereka memastikan Citra sedang sibuk di dapur membantu Bibi meracik bumbu makan siang, Putri dan Kinan mengendap-endap masuk ke dalam kamar utama yang kebetulan tidak dikunci.
Mereka tahu persis di mana letak "zona aman" Citra. Dengan gerakan cepat dan terukur, Putri membuka lemari bagian bawah tempat Citra menyimpan koper lusuhnya. Ia menyelipkan kalung berlian berkilau itu tepat di dasar koper, menimbunnya di bawah lipatan seragam pelayan catering tua milik Citra yang sudah pudar warnanya. Setelah memastikan semuanya terlihat rapi dan tak tersentuh seperti semula, kedua iblis bersaudara itu keluar dari kamar dengan senyum kemenangan yang sangat culas.
Sandiwara murahan itu dimulai tepat saat jam makan siang.
Pak Aditama baru saja duduk di kursi kebesarannya di meja makan, disusul oleh Citra yang melangkah anggun membawakan semangkuk besar sup iga sapi yang asapnya mengepul harum. Tiba-tiba, suara jeritan histeris Putri menggelegar dari lantai dua, disusul suara ketukan hak sepatu yang menuruni tangga dengan sangat tergesa-gesa.
"Pa! Papa!" Putri berlari masuk ke ruang makan dengan wajah dibuat-buat panik luar biasa dan mata yang sengaja dibikin berkaca-kaca. Kinan menyusul di belakangnya dengan raut wajah tak kalah dramatis, memegang bahu kakaknya seolah menenangkan.
Pak Aditama meletakkan sendoknya dengan keras, keningnya berkerut tajam merasa terganggu. "Ada apa teriak-teriak seperti orang kesurupan, Putri? Ini rumah, bukan hutan!"
"Kalung Putri hilang, Pa!" rengek Putri, menunjuk-nunjuk lehernya yang kosong dengan jari gemetar. "Kalung berlian Bvlgari hadiah ulang tahun dari Papa tahun lalu. Tadi pagi Putri letakkan sebentar di atas meja rias, tapi sekarang sudah tidak ada! Padahal Putri mau pakai untuk acara arisan nanti sore!"
"Hilang bagaimana? Mungkin kamu lupa menaruhnya atau terselip," sahut Pak Aditama tegas, masih mencoba berpikir logis.
"Tidak mungkin lupa, Pa! Kinan juga lihat kok Kak Putri taruh di meja rias dengan mata kepala Kinan sendiri," timpal Kinan meyakinkan, mulai mengarahkan tatapan menuduhnya pada Citra yang berdiri tenang di seberang meja. "Lagipula, di rumah ini tidak pernah ada sejarahnya barang hilang. Semua pelayan sudah bekerja belasan tahun dan sangat jujur. Kecuali... ada Mbak Citra, orang baru di rumah ini yang punya jiwa miskin dan tangannya gatal tergiur melihat barang mewah berserakan."
Ruang makan mendadak hening mencekam.
Putri menatap Citra dengan kilat kebencian yang menyala. "Geledah kamarnya! Aku yakin pencurinya ada di ruangan ini dan sedang berpura-pura polos!"
Pak Aditama menatap kedua putrinya bergantian, lalu beralih menatap menantunya. Tidak ada sedikit pun raut kepanikan, bibir yang bergetar, atau keringat dingin di wajah Citra. Gadis itu hanya membalas tatapan mertuanya dengan sorot mata yang luar biasa jernih dan tak gentar.
"Citra," panggil Pak Aditama, suaranya berat, dalam, dan mengintimidasi. "Kamu tahu sesuatu soal ini?"
"Saya tidak tahu menahu soal kalung Putri, Pa. Sejak pagi saya berada di dapur bersama Bibi," jawab Citra lugas, tanpa nada membela diri yang berlebihan.
"Pembohong! Coba geledah kamarnya, Pa! Dia pasti menyembunyikannya di antara barang-barang rongsokannya!"
Meski enggan merendahkan Citra tanpa bukti, Pak Aditama akhirnya mengangguk keras demi menyelesaikan keributan ini. "Baik. Kita periksa kamarmu sekarang, Citra. Jika kamu memang tidak salah, kamu tidak perlu takut."
"Silakan, Pa," jawab Citra sangat tenang.
Rombongan kecil yang dipenuhi ketegangan itu masuk ke kamar utama. Putri, dengan gaya sok detektif yang dibakar semangat balas dendam, langsung membongkar laci meja rias Citra, lalu beralih ke lemari pakaian bagian bawah. Dengan gerakan kasar yang sudah direncanakan sedemikian rupa, Putri menarik koper lusuh Citra dan membongkar isinya hingga pakaian-pakaian sederhana itu berserakan berantakan di atas karpet.
Kring!
Sesuatu yang berkilau jatuh membentur lantai marmer.
"Lihat, Pa!" jerit Putri penuh kemenangan yang meluap-luap, memungut kalung itu dan menunjukkannya tepat di depan wajah Pak Aditama. "Putri bilang juga apa! Mbak Citra malingnya! Dasar wanita kampungan, beraninya mencuri di rumah ini! Papa harus usir dia sekarang juga! Biar Mas Putra urus surat cerainya besok pagi!"
Kinan tersenyum sinis, melipat tangannya di dada sambil menatap Citra merendahkan. "Mental miskin memang tidak bisa diubah dengan gaun mahal, ya. Dikasih fasilitas mewah malah tangannya gatal mau merampok."
Citra menatap koper lusuhnya yang diacak-acak, lalu menatap kalung berlian di tangan Putri. Jantungnya berdetak dalam ritme yang sangat normal. Ia tidak menangis, tidak berlutut memohon ampun, dan tidak berteriak histeris membela diri layaknya pesakitan.
Di tengah keributan dan tuduhan Putri yang memekakkan telinga, suara berat Pak Aditama tiba-tiba menggelegar dahsyat, namun arah amarahnya sungguh di luar dugaan.
"Cukup, Putri!" bentak Pak Aditama, suaranya menggetarkan kaca jendela, membuat Putri dan Kinan terlonjak kaget setengah mati. Pria paruh baya itu menatap kedua anak perempuannya dengan tatapan mematikan. "Kamu pikir Papa ini orang tua bodoh yang pikun dan gampang kalian kelabui dengan trik murahan seperti ini?!"
Putri memucat pasi seketika. "Ta... tapi Pa, buktinya ada di kopernya..."
"Logika dipakai, Putri!" potong Pak Aditama murka, menunjuk keningnya sendiri. Urat di lehernya menegang. "Putra sudah memberikan Citra black card dengan limit miliaran minggu lalu, dan tagihannya masuk ke ponsel Papa juga. Kalau Citra memang rakus dan bermental maling, untuk apa dia susah-susah mencuri kalung bekasmu yang harganya tidak seberapa itu?! Dia bisa menggesek kartu itu untuk memborong sepuluh kalung baru di butik tanpa perlu mencuri dan mengotori tangannya!"
Putri dan Kinan bungkam seribu bahasa. Tubuh mereka mulai gemetar hebat karena skenario sempurna mereka hancur berantakan dalam hitungan detik. Pak Aditama ternyata jauh lebih cerdas, teliti, dan rasional dari dugaan mereka.
"Lagipula..." Suara Citra yang sedari tadi diam membisu akhirnya memecah keheningan. Nadanya begitu dingin, datar, dan tenang.
Semua mata beralih pada Citra. Gadis itu merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan ponselnya. Jemarinya menari lincah di atas layar selama beberapa detik sebelum ia menyodorkan layar ponsel itu tepat ke hadapan ayah mertuanya.
"Saya tahu hidup di rumah ini tidak akan pernah mudah, dan saya tidak punya keluarga atau kekuasaan untuk membela saya jika saya tiba-tiba difitnah," ucap Citra pelan, namun setiap kata yang meluncur dari bibirnya mengandung racun yang mematikan bagi kedua adik iparnya. "Jadi, dua hari yang lalu, saya menggunakan sisa uang tabungan pribadi saya untuk membeli kamera pengintai mini secara online dan menempelkannya di sudut rak buku seberang lemari ini. Kamera ini terkoneksi langsung dengan ponsel saya dan merekam setiap gerakan di area ini selama dua puluh empat jam."
Mata Putri dan Kinan nyaris melotot keluar dari rongganya. Jantung mereka seolah berhenti berdetak. Napas mereka tercekat di tenggorokan.
Di layar ponsel Citra, terpampang sangat jelas rekaman hitam-putih berkualitas HD dengan keterangan waktu pukul 10.15 pagi tadi. Dalam rekaman itu, terlihat tanpa celah bagaimana Putri dan Kinan mengendap-endap masuk ke kamar utama saat Citra tidak ada. Terlihat pula dengan sangat detail bagaimana tangan Putri membuka koper Citra, menyelipkan kalung berlian itu ke dalamnya, tersenyum licik ke arah Kinan, lalu merapikannya kembali sebelum kabur keluar kamar.
Pak Aditama menatap rekaman video itu dengan rahang mengeras kaku hingga giginya gemeretak. Wajahnya memerah padam, auranya berubah sangat gelap dan menakutkan. Ia menatap kedua putrinya bergantian seperti sedang melihat sepasang kriminal tak bermoral.
"Pa... itu... itu salah paham, Pa... Putri... Putri bisa jelaskan..."
Plak!
Sebuah tamparan keras dan bertenaga mendarat telak di pipi Putri, disusul satu tamparan lagi di pipi Kinan. Bunyi tamparan itu bergema mengerikan di dalam kamar.
"Kalian benar-benar sampah yang memalukan keluarga Aditama!" murka Pak Aditama, suaranya menggema hingga ke lantai bawah, membuat para pelayan di dapur saling berpandangan ngeri. "Memfitnah anggota keluarga sendiri dengan cara serendah, sekotor, dan sejahat ini?! Di mana kalian letakkan otak kalian yang sudah disekolahkan mahal-mahal ke luar negeri itu?! Menjijikkan!"
Kinan mulai menangis keras sambil memegang pipinya yang memerah panas, sementara Putri menunduk dalam-dalam dengan tubuh bergetar hebat ketakutan.
"Mulai detik ini, kartu kredit kalian berdua Papa blokir total tanpa sisa! Kunci mobil kalian Papa sita! Kalian tidak boleh keluar rumah untuk urusan apa pun selain urusan mendesak selama tiga bulan ke depan!" putus Pak Aditama mutlak, titahnya tak menerima bantahan sedikit pun. "Sekarang, berlutut dan minta maaf pada kakak ipar kalian! Berlutut di kakinya! Cepat!"
Putri dan Kinan menangis tersedu-sedu, air mata merusak riasan mahal mereka. Dengan harga diri yang hancur berkeping-keping, dan disaksikan langsung oleh kemurkaan ayah mereka, kedua sosialita angkuh itu terpaksa berlutut.
"Ma... maafkan kami, Mbak Citra," isak Kinan dan Putri nyaris bersamaan, suara mereka sangat kecil, serak, dan bergetar karena menahan rasa malu yang luar biasa mencekik.
Citra menatap dua gadis yang bersimpuh hina di bawah kakinya dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun.
"Saya maafkan," jawab Citra singkat, dingin, dan tegas. Ia berjongkok perlahan, mengambil kalung berlian Bvlgari yang tergeletak di lantai, lalu menyodorkannya kembali ke tangan Putri yang gemetar. "Simpan kalung mahalmu ini baik-baik, Putri. Sayang kalau sampai hilang sungguhan. Maling di luar sana jauh lebih pintar dan kejam daripada maling amatiran di dalam rumah."
Lanjut lagi gk nih?
yg penting uangnya lancar