NovelToon NovelToon
Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Janda / Selingkuh
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.

Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.

Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.

Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 21

MASA LALU NELSON

Kesalahan di masa lalu itu tak pernah benar-benar hilang dari ingatan Nelson. Ia terpatri kuat di benaknya—sebuah noda yang tak bisa dihapus waktu. Malam pembersihan terhadap para pengkhianat menjadi salah satu bab paling kelam dalam hidupnya.

Mereka bukan musuh dari luar. Mereka adalah orang-orang yang pernah berdiri di belakangnya, lalu diam-diam menusuknya dari sana. Pengkhianatan itu bukan tindakan spontan, melainkan sesuatu yang tersusun rapi, terstruktur, dan terorganisasi dengan matang.

Para pengkhianat tersebut bekerja sama dengan kelompok mafia lain. Secara diam-diam mereka mengalihkan dan mencuri barang-barang dagangan milik Nelson—terutama perlengkapan senjata yang menjadi tulang punggung kekuatan organisasinya.

Tanpa rasa malu dan tanpa sedikit pun loyalitas, mereka memilih berpaling. Bergabung dengan musuh, mengkhianati sumpah setia, dan merampas hasil yang dibangun Nelson dengan darah serta kekuasaan.

Itulah sebabnya malam itu tidak pernah ia anggap sebagai pembantaian semata.

Bagi Nelson, itu adalah penegasan.

Namun tetap saja—di balik alasan dan pembenaran—ada satu bayangan kecil yang tak pernah berhenti menghantuinya.

Langkah-langkah kecil itu terdengar ringan di antara derap sepatu para pria dewasa yang dipenuhi kepanikan. Asap tipis mulai membumbung dari beberapa sudut gudang tua di pelabuhan itu. Teriakan bercampur dengan suara tembakan yang memecah malam.

Bocah itu tidak menangis.

Ia hanya memanggil dengan suara lirih, “Mama…?”

Tak ada jawaban.

Nelson berdiri beberapa meter dari pusat kekacauan. Wajahnya setenang batu karang di tengah badai. Baginya, malam itu hanyalah eksekusi—penyelesaian dari pengkhianatan yang tak bisa ditoleransi. Ia sudah memberi kesempatan. Sudah memberi peringatan.

Namun pengkhianat tetaplah pengkhianat.

“Pastikan tidak ada yang lolos,” perintahnya dingin.

Anak buahnya bergerak tanpa bantahan.

Di tengah kerumunan yang didorong menuju deretan truk, bocah itu tersandung. Tubuh kecilnya jatuh ke lantai beton yang dingin. Tangannya kotor, lututnya tergores, tetapi ia tetap tidak mengerti mengapa orang-orang berteriak begitu keras.

Seorang pria dewasa yang sedang berusaha kabur hampir menginjaknya.

“Pergi dari sini!” bentaknya panik, mendorong bocah itu menjauh agar ia sendiri bisa berlari lebih cepat.

Jeritan kembali terdengar. Satu tembakan dilepaskan. Seorang pengkhianat jatuh tersungkur.

Bocah itu menutup telinganya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia berdiri perlahan, memandangi sekeliling dengan kebingungan yang menyayat.

“Mama…?” panggilnya lagi, kali ini lebih gemetar.

Perintah itu terlambat.

Di sisi lain gudang, sektor yang tidak berada dalam garis pandang langsung Nelson, tembakan sudah lebih dulu dilepaskan. Anak buahnya bergerak cepat, mengikuti instruksi awal yang jelas dan tanpa celah: bersihkan semuanya.

Tak ada pengecualian.

Tak ada jeda.

Kerumunan yang berusaha kabur dipaksa mundur. Satu demi satu tubuh jatuh di lantai beton yang dingin. Jeritan berubah menjadi sunyi, digantikan gema tembakan yang memantul di dinding besi.

Dan di antara kekacauan itu—

Tubuh anak kecil itu kembali tersandung.

Pengawal kepercayaan Nelson berteriak, “Tembak! Jangan biarkan mereka kabur!”

Satu rentetan peluru dilepaskan.

Kerumunan ambruk.

Dan bocah lima tahun itu, yang terlalu kecil untuk terlihat jelas di tengah tubuh-tubuh dewasa, ikut terjatuh bersama mereka.

Sunyi datang perlahan.

Asap tipis menggantung di udara.

Nelson berdiri beberapa meter jauhnya, wajahnya tetap tanpa ekspresi saat laporan mulai berdatangan.

“Sektor barat bersih.”

“Sektor timur terkendali.”

“Tidak ada yang lolos.”

Ia mengangguk singkat.

“Pastikan semuanya terverifikasi,” ujarnya datar.

Anak buahnya mulai memeriksa tubuh-tubuh yang tergeletak. Sepatu bot menyentuh lantai yang kini ternoda. Senter dinyalakan satu per satu untuk memastikan tak ada yang masih bernapas.

Lalu—

Salah satu pria itu berhenti.

“Tuan…”

Nada suaranya berubah.

Nelson menoleh perlahan. “Apa?”

Pria itu menunduk, wajahnya pucat. Tangannya gemetar saat menyorotkan senter lebih rendah, ke sesuatu yang lebih kecil dari yang lain.

“Tuan… ada… anak kecil.”

Dunia seakan berhenti bergerak.

Nelson melangkah mendekat. Awalnya hanya terlihat potongan kain kecil yang tidak serasi dengan pakaian para pria dewasa di sekitarnya. Lalu sepatu mungil. Lalu tangan kecil yang terkulai diam.

Dan wajah itu.

Wajah yang terlalu tenang. Terlalu tidak bersalah untuk berada di tempat seperti ini.

Mata Nelson membeku.

“Identifikasi,” perintahnya, tetapi suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Salah satu pengawal menelan ludah. “Itu… Arven, Tuan.”

Nama itu menghantamnya seperti pukulan tak terlihat.

Anak Nevari.

Satu-satunya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Bahkan angin malam terasa menahan napas.

Nelson tidak berlutut. Tidak menyentuh tubuh kecil itu. Ia hanya berdiri, menatap, seolah pikirannya menolak menerima apa yang ada di hadapannya.

“Apa dia bersenjata?” tanya Nelson akhirnya, suaranya kembali datar—terlalu datar.

“Tidak, Tuan.”

“Apakah dia dalam daftar?”

“Tidak, Tuan.”

Hening.

Tak seorang pun berani bergerak.

Perintah pembersihan besar-besaran itu adalah miliknya. Tanpa pengecualian. Tanpa jeda untuk bertanya. Dan anak itu… terjebak dalam arus keputusan yang ia buat sendiri.

“Aku tidak melihatnya,” gumam Nelson, hampir tak terdengar.

Namun fakta tidak membutuhkan pengakuan.

Ia telah membantai para pengkhianat.

Dan tanpa ia sadari, ia juga membunuh masa depan seseorang yang pernah berdiri di sisinya.

“Tidak ada yang menyebutkan ini di luar lingkaran dalam,” ucapnya tegas. “Operasi berjalan sesuai rencana. Tidak ada korban sipil. Semua para pengkhianat yang mencoba menusukku dari belakang bersama Mafia lain.

Anak buahnya saling berpandangan, tetapi mengangguk.

Perintah itu bukan untuk menutupi kesalahan.

Itu untuk menunda kehancuran.

Karena jika Nevari mengetahui bahwa anaknya tewas akibat operasi yang diperintahkan Nelson sendiri—

Bukan hanya kepercayaan yang hilang.

Seluruh fondasi kekuasaan yang ia bangun bisa runtuh dari dalam.

Nelson akhirnya berbalik.

“Bersihkan tempat ini.”

Langkahnya terdengar mantap saat ia meninggalkan gudang itu. Namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, bayangan mengikuti lebih dekat dari biasanya.

Dan malam itu, tanpa ia sadari—

Ia tidak hanya membunuh seorang anak.

Ia telah menyalakan api yang suatu hari akan membakar dirinya sendiri.

————

Kabar itu datang saat fajar belum sepenuhnya terbit.

Nevari masih duduk di ruang kerjanya ketika salah satu pengawal pribadinya masuk tanpa mengetuk—sesuatu yang tak pernah ia lakukan kecuali dalam keadaan genting. Wajah pria itu pucat, napasnya tidak teratur.

“Nona…”

Hanya satu kata, namun cukup membuat jantung Nevari berdegup tidak nyaman.

“Apa?” tanyanya tenang. Terlalu tenang.

Pengawal itu menunduk dalam. Tangannya mengepal, seolah berusaha menahan sesuatu yang berat untuk diucapkan.

“Arven… ditemukan di lokasi pembersihan tadi malam.”

Sunyi.

Nevari tidak langsung memahami kalimat itu. Otaknya menolak menyusun maknanya.

“Ditemukan?” ulangnya pelan. “Apa maksudmu ditemukan? Bukankah dia di rumah?”

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan yang menggantung seperti vonis.

Tubuh Nevari perlahan menegang. “Katakan dengan jelas.”

Pengawal itu akhirnya mengangkat wajahnya, mata berkaca-kaca. “Tuan Nelson memerintahkan pembersihan total. Arven… berada di antara mereka.”

Seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya.

“Tidak,” bisik Nevari.

Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong jatuh. Langkahnya mundur satu tapak, seakan lantai di bawahnya berubah rapuh.

“Itu tidak mungkin. Arven tidak pernah keluar tanpa pengawalan. Dia tidak mungkin berada di sana.”

“Kami sedang menyelidiki bagaimana ia bisa terlepas dari penjagaan, Nona.”

Nevari menggeleng. Tangannya mulai gemetar.

“Bawa aku ke sana.”

Bersambung

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
Umi Zein
kamu gak tau yg sebenarnya Max/Sob/, klo kamu tau tentang kebenarannya bencinya kamu pasti akan berbuah syang 0d ayahmu/Whimper//Chuckle/
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
Apa penguntit itu suruhan nevari???
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
Hanima
lanjut Maxxx
Umi Zein
ya seneng bahagia laah! wong dapet jatah dr istrinya orang😂😂
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Gas Max, Bisa jadi benihhhmu juga sdh tumbuh. Jadi tanggung jawablah, perjuangkan Zayna sampai titik darahhh penghabisan🤭🤣
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Anggap saja Max adalah obat untuk luka yang diderita zayna.
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
Semoga saja Drake segera menceraikannn Zayna. takut bangeet Zayna goyah dan dibodohiii drake. karena mereka sd impas sdh merasakan kehangatan bersama orang lain.
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
demi zayna max rela melakukan apapun🤭
Hanima
Lanjuttt Max
Hanima
semuaaaanya 🤭
Hanima
👍👍
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
gak papa drake sekarang bergaya dulu ala ala CEO yang terkenal dingin dan tak tersentuh😁🤭
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk
Anonymous
Thor kok blm update
☆𝙎𝙊𝙇𝙀𝘿𝘼𝘿☆ ⚫3
duuuuh bolak balik ngintipin up apa blom🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Umi Zein
ooh jdi si Max sengaja ngasih posisi itu ke Drakula biar dia bisa mantau trus. licik tp pinter jg si Max /Proud//Joyful//Joyful/
Achimedess
keren
Achimedess
siipp
dlups
lanjukan
dlups
upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!