Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Menyelamatkan
Lorong rumah sakit itu terasa begitu panjang dan mencekam. Wangi karbol yang menusuk hidung seolah menggarisbawahi kegentingan yang sedang terjadi di balik pintu Unit Gawat Darurat. Katya duduk di kursi tunggu dengan tubuh yang gemetar hebat. Kebaya indahnya kini tampak kusut, dan polesan di wajahnya sudah hancur oleh air mata yang tak berhenti mengalir.
Di ujung lorong, Donny berdiri mematung. Ia tidak berani mendekat. Setiap kali ia melihat Katya, rasa bersalah itu menghujam jantungnya seperti belati yang diputar-putar. Ia adalah penyebab serangan jantung Arman. Ia, pria yang dipercayai Arman untuk menjaga keluarganya, justru menjadi duri yang merusak kesehatan sahabatnya sendiri.
Pintu UGD terbuka. Rian, yang sejak tadi ikut membantu di dalam karena statusnya sebagai dokter, keluar dengan wajah lelah. Resti segera menghampirinya, disusul oleh Katya yang tertatih.
"Bagaimana suamiku, Rian?" tanya Resti dengan suara parau.
Rian menghela napas, tatapannya sempat melirik ke arah Donny yang berdiri jauh di belakang. "Kondisi Pak Arman sudah stabil, tapi beliau masih sangat lemah. Serangan jantungnya dipicu oleh tekanan psikologis yang hebat secara mendadak. Untuk saat ini, Pak Arman harus benar-benar tenang. Tidak boleh ada stres, tidak boleh ada pembicaraan yang memicu emosi."
Rian kemudian melangkah mendekati Katya, suaranya merendah. "Katya, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan... Pak Donny. Tapi sebagai dokter, aku memperingatkanmu. Jantung ayahmu tidak akan kuat menghadapi kejutan lain. Jika kamu sayang padanya, pastikan dia merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Sesuai dengan harapannya."
Katya membeku. Kata-kata Rian jelas: ia harus mengubur perasaannya jika ingin ayahnya tetap hidup.
Donny yang mendengar percakapan itu dari kejauhan, merasa dunianya runtuh. Ia berjalan perlahan mendekati kerumunan kecil itu. Saat langkahnya sampai di depan Katya, gadis itu mendongak. Mata mereka bertemu, namun kali ini tidak ada lagi binar cinta. Hanya ada ketakutan, rasa bersalah, dan keputusasaan.
"Om..." bisik Katya.
Donny menggeleng pelan. Ia menoleh pada Resti. "Resti, maafkan aku. Aku akan mengurus semua biaya rumah sakit ini. Tapi setelah ini... mungkin lebih baik aku tidak muncul dulu di depan Arman."
"Don, apa benar apa yang dikatakan Katya tadi?" tanya Resti dengan tatapan kecewa yang mendalam. "Kamu dan anakku? Kamu yang memberinya nama, Don. Kamu sahabat suamiku!"
Donny tidak menjawab. Ia hanya menunduk dalam. Diamnya adalah pengakuan yang paling menyakitkan bagi semua orang di sana. Tanpa berkata-kata lagi, Donny berbalik dan berjalan meninggalkan lorong rumah sakit itu. Langkahnya terasa berat, seolah setiap langkah yang ia ambil menjauhkan dirinya dari separuh jiwanya.
---
Dua minggu berlalu sejak malam kelabu itu. Arman sudah diizinkan pulang, namun ia menjadi sosok yang jauh lebih pendiam. Ia tidak pernah menanyakan Donny, dan Donny pun tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah itu.
Katya menjalani hari-harinya seperti zombi. Ia berangkat kerja, namun ia sengaja mengambil rute yang berbeda agar tidak bertemu Donny di lobi kantor. Ia bahkan mengajukan mutasi ke kantor cabang agar tidak lagi berada di bawah orbit pria itu. Namun, permintaannya ditolak oleh manajemen pusat tanpa alasan yang jelas. Katya tahu, itu pasti ulah Donny. Pria itu menjauhinya secara fisik, namun tetap memegang kendali atas hidupnya dari balik layar.
Suatu malam, Katya tidak tahan lagi. Ia merindukan Donny hingga ke tulang-tulangnya. Rasa rindu itu berperang dengan rasa bersalahnya pada sang ayah. Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan pendek.
“Kenapa Om menghilang? Apa cinta kita hanya sebatas kening di Bandung? Apa Om sepengecut itu?”
Pesan itu hanya berstatus centang dua biru, namun tidak ada jawaban. Donny membaca, tapi ia memilih untuk mati dalam diamnya.
Di apartemennya yang mewah, Donny duduk di balkon sambil memandangi botol wiski yang belum dibuka. Ia memandangi pesan Katya. Setiap kata di sana terasa seperti cambukan. Ia ingin sekali berlari ke rumah Arman, mendobrak pintu, dan meneriakkan bahwa ia mencintai Katya lebih dari nyawanya sendiri. Namun, bayangan Arman yang terbaring pucat di UGD menghentikannya.
"Aku bukan pengecut, Katya," gumam Donny pada angin malam. "Aku sedang mencoba menyelamatkan ayahmu. Dan menyelamatkanmu dari pria tua yang tidak tahu diri ini."
Donny memutuskan untuk melakukan tindakan ekstrem. Ia mengatur sebuah pertemuan dengan Rian. Mereka bertemu di sebuah kafe sunyi di pinggiran kota.
"Apa maksud Anda memanggil saya, Pak Donny?" tanya Rian dingin. Ia masih menaruh dendam atas kejadian malam lamaran itu.
Donny meletakkan sebuah map di atas meja. "Itu adalah rekomendasi beasiswa spesialis jantung di Berlin. Semua biaya, tempat tinggal, dan tunjangan hidup untuk Rian dan... istrinya nanti, sudah saya tanggung sepenuhnya melalui yayasan perusahaan saya."
Rian mengernyit. "Maksud Anda?"
"Dekati Katya lagi. Buat dia bahagia. Bawa dia jauh dari Jakarta, jauh dari saya," suara Donny bergetar, meski ia berusaha keras untuk tetap terdengar otoriter. "Dia butuh masa depan yang normal. Dia butuh pria sepertimu. Bukan pria yang sudah memberikan nama padanya saat bayi."
Rian menatap Donny dengan pandangan yang sulit diartikan. "Anda sedang mencoba menyuap saya untuk menikahi wanita yang Anda cintai?"
"Saya sedang mencoba memastikan dia aman," sahut Donny tajam. "Jika dia tetap di sini, dia akan terus melihat saya. Dan selama dia melihat saya, jantung Arman akan terus terancam. Ambillah tawaran ini. Jika kamu benar-benar menyukainya, ini kesempatanmu."
Donny bangkit, meninggalkan Rian yang masih terpaku. Ia berjalan menuju mobilnya, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Ia baru saja "menjual" cintanya demi sebuah kebaikan yang ia anggap benar.
---
Keesokan harinya, Rian datang kembali ke rumah Arman. Ia membawa buah-buahan dan senyum yang ramah. Arman menyambutnya dengan tangan terbuka, seolah-olah Rian adalah obat bagi segala penyakitnya.
"Katya, Mas Rian datang," panggil Arman.
Katya keluar dari kamar dengan wajah lesu. Ia melihat Rian, lalu melihat ayahnya yang tampak begitu bahagia melihat kedatangan dokter muda itu. Katya tahu, ayahnya sedang mencoba menjodohkannya kembali secara halus.
"Katya, ada yang mau aku bicarakan," ujar Rian saat mereka duduk di taman belakang.
Rian menceritakan tentang tawaran beasiswa ke Berlin. Namun, ia tidak menyebutkan bahwa itu dari Donny. Ia hanya bilang itu adalah prestasi dari rumah sakit tempatnya bekerja.
"Ikutlah bersamaku, Katya. Kita mulai hidup baru di sana. Ayahmu juga bisa kita bawa untuk pengobatan jantung terbaik di Jerman," bujuk Rian.
Katya terdiam. Berlin. Itu berarti ribuan kilometer dari Donny. Itu berarti melupakan aroma kayu manis yang selalu ia rindukan. Namun, melihat ayahnya yang sedang tertawa bersama ibunya di ruang tamu, Katya merasa ia tidak punya pilihan.
"Aku butuh waktu, Rian," jawab Katya lemah.
Malam itu, Katya nekat mendatangi apartemen Donny. Ia tahu kode aksesnya karena dulu Donny pernah memberitahunya saat Arman menitipkan barang. Ia masuk ke dalam dan menemukan ruangan itu gelap. Donny sedang duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela.
"Om jahat!" teriak Katya sambil menghampirinya. "Om yang mengatur beasiswa Rian, kan? Om mau mengusir aku?"
Donny berdiri, terkejut melihat kehadiran Katya. "Bagaimana kamu masuk?"
"Jawab aku, Om! Kenapa Om melakukan ini?" Katya memukul dada tegap Donny dengan tangan mungilnya. "Om pikir aku barang yang bisa dipindahkan ke sana kemari? Aku mencintai Om! Bukan Rian!"
Donny menangkap kedua tangan Katya, menahannya erat. "Dan aku juga mencintaimu, Katya! Sampai-sampai rasanya aku mau mati setiap kali melihatmu menangis!" teriak Donny untuk pertama kalinya. "Tapi lihat ayahmu! Kamu mau aku menjadi pembunuh sahabatku sendiri? Kamu mau kita membangun kebahagiaan di atas makam pria yang paling kita hormati?"
Tangis Katya pecah. Ia luruh di pelukan Donny. "Tapi aku nggak bisa tanpa Om..."
Donny memeluknya sangat erat, mencium puncak kepala Katya dengan kepedihan yang mendalam. "Kamu kuat, Katyamarsha. Nama yang aku berikan itu artinya kamu adalah wanita yang kuat dengan hati yang hangat. Berlin adalah masa depanmu. Rian adalah pria yang tepat untukmu."
"Enggak, Om... tolong..."
"Pergilah, Katya," bisik Donny, suaranya pecah oleh tangis yang ia tahan. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menarikmu kembali ke neraka ini."
Malam itu, di bawah temaram lampu apartemen, mereka berbagi pelukan terakhir yang penuh dengan keputusasaan. Donny melepaskan Katya, membiarkan gadis itu pergi menembus pintu, membawa separuh nyawanya pergi.
Katya melangkah keluar dari gedung apartemen dengan tekad yang hancur. Ia akan pergi ke Berlin. Bukan karena ia mencintai Rian, tapi karena pria yang ia cintai baru saja mengusirnya demi sebuah cinta yang terlalu besar untuk dijalani.
Sementara itu, di dalam apartemennya, Donny jatuh terduduk di lantai, meraung tanpa suara. Dua puluh satu tahun lalu ia menamai bayi itu karena ia ingin bayi itu memiliki hidup yang indah. Dan hari ini, ia harus menghancurkan hatinya sendiri untuk memastikan keindahan itu tetap milik Katya.